
31 Maret 2026, jam 07:17, perseteruan antara Klub Pangeran dengan Eleva telah dimulai. Aurora dan Akishima diperintahkan untuk menyingkir. Saphine tidak bisa lari dari pengepungan Klub Pangeran. Ini kesempatan bagus untuk menyergap target mereka.
Para Klub Pangeran siap untuk menghancurkan penjagaku dan mengeksekusiku dengan senapan mereka. Ini dilakukan agar aku hidup dengan tenang. Entah kenapa mereka melakukan sejahat itu untuk sebuah alasan yang tidak rasional.
Ini bisa membunuhku.
Eleva menyerang gadis Klub Pangeran. Zera dan Spinx menahan serangan mereka agar bisa membawaku kabur. Namun, sekali lagi, lawan mereka tidak bisa dihentikan lagi. Mereka tidak memberi Zera dan Spinx celah. Mereka terlalu rapat untuk lolos dari kejaran itu.
Bukannya mematuhi perintah, ketiga gadis itu mengeluarkan senjata mereka lalu melakukan tembakan pada lawan mereka. Saphine mengeluarkan Shotgun dari dalam belahan dadanya dan segera melindungiku.
Aurora dan Akishima memulai serangan mereka. Dengan peluru yang cepat, membuat anggota Klub Pangeran tidak memiliki celah bagus. Mereka tidak bisa menghindari serangan itu. Hanya mengarahkan senapan mereka untuk menangkis dengan peluru.
Eleva berhadapan dengan ketiga gadis yang memegang perisai kesal karena perintahnya diabaikan. Ia menoleh dan mengoceh sambil memarahi Aurora.
"Teme! Apa yang kau lakukan?! Kalian tidak boleh ikut campur!" Eleva memarahi Aurora.
"Kau sendiri. Apa tujuanmu? Kau tidak bisa melakukan itu dengan seenaknya!" Balas Aurora menoleh dengan sinis.
Aku terdiam melihat sebuah konflik yang jelas terpampang di penglihatanku. Zera dan Spinx menggunakan teknik mereka untuk mengeluarkanku dari kepungan itu.
"Rivandy-dono! Kita lari sekarang juga!” Spinx mengajakku untuk lari.
“Tidak mau. Aku tidak mau lari! Aku takut,” tolakku menjauh dari Spinx.
“Ayolah, Rivandy-dono! Aku akan membawamu lari sekarang juga!” Bujuk Spinx agar aku segera bisa lari dari pengepungan itu.
“Kumohon cepatlah!” Lanjut Zera menghindari peluru dari Klub Pangeran.
Aku lari dari sini. Namun, tak bisa. Peluru itu melesat dan mengenai lenganku. Mereka sangat terkejut dengan luka yang semakin membesar. Aku tidak bisa menggerakkan tanganku. Mungkin ini adalah peluru kelumpuhan.
Aku tidak berteriak sekalipun karena rasanya sakit sekali. Zera mencoba untuk menghitung agar peluru lasernya memotong peluru itu.
“Sial! Rivandy-dono! Kau baik-baik saja?!” Spinx berhadapan di depanku dan membawaku keluar dari sebuah kepungan.
“Kalau begitu, aku akan mengobatimu,” sodor Spinx mengeluarkan perbannya.
“Tidak boleh!” Larang Zera menghampiri Spinx.
“Peluru itu akan bersarang,” lanjut Zera membalas tembakan mereka.
“Kalau begitu, aku ....” Ucapan Spinx terhenti.
“Jama Suruna! Aku tidak akan membiarkan kalian untuk merebut Rivandy!” Akishima menghampiri mereka berdua dan menyerang dengan tembakan sniper.
“Zera-kun! Bawa dia pergi! Aku akan menghadapi iblis ini!” Spinx bersiaga dan memegang pedang dengan kedua tangannya.
Zera mematuhi perintah Spinx dan membawaku pergi. Namun, ada seorang gadis yang menghalangi Zera. Mereka menembak ke lantai agar Zera yang memegang tanganku terhalang dengan mudah.
“Jangan lari! Aku akan menahanmu sekarang juga!” Seru seorang gadis melancarkan serangannya ke Zera.
Zera menoleh dan terhenti langkahnya. Dia melakukan tembakan sebelum meninggalkan kepungan itu.
“Tch! Tidak bisa!” Gumam Zera berhadapan langsung dengan kelompok Klub Pangeran.
Namun, seorang gadis menghempaskan Zera ke tembok. Hempasan itu menundukkan Zera untuk sementara waktu. Kemudian, dia menahan nafasnya sebelum melanjutkannya kembali.
“Sialan kau! Aku sudah bilang pergi dari sini!” Eleva memarahi gadis yang menghempaskan Zera dan melindungiku.
Dia tidak bisa kabur lagi dengan siapapun. Ketiga gadis itu tidak bisa membiarkan Eleva kabur begitu saja. Harus berhadapan dengan ketiga gadis itu sebelum menjatuhkan Aurora. Itu cukup sulit baginya jika berhadapan dengan 2 kubu sekaligus.
“Lawanmu ada disini, Eleva!”
“Huh?! Siapa yang berani menggangguku, dasar gadis bodoh?!" Tanya Eleva dengan tatapan tajam.
Ketiga gadis itu melancarkan tembakannya pada Eleva sementara Spinx harus bertahan dari serangan dua kubu. Dia harus bisa bertahan lama karena serangan Akishima sangat cepat. Dengan tekad D, membuat Spinx kewalahan.
"Sial! Sebenarnya dia siapa?!" Tanya Spinx melindungiku dari berbagai peluru.
"Kalau begini terus, aku tidak bisa keluar dari sini," gumamnya.
Akishima tidak menjawab. Dia mengeluarkan senapan sniper ke Spinx. Namun, dengan pedang yang cepat, ia memotong peluru menjadi dua bagian.
"Argh! Marimo sepertimu akan kuhabisi sekarang juga!" Akishima menancapkan serangannya ke diafragma Spinx.
Spinx tidak bisa bertindak lebih lanjut lagi. Harus menghindar atau terkena serangannya. Namun, ia melancarkan sebuah pisau pada Akishima. Akishima terkena pisau di perut. Namun, ia masih kuat. Ia bisa bergerak karena tekad D.
"Sakit! Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan sebuah pisau, dasar Marimo?!" Tanya Akishima dengan penuh kesombongan.
"Dengan tekad seorang ksatria, aku akan membawamu ke neraka sekarang juga!" Tekad Spinx memegang pedangnya dengan dua tangan.
"Aku akan mengalahkanmu, Kono Marimo!" Akishima bersiap untuk melakukan tembakan lagi.
"Jangan harap kamu bisa Yaoi dengan Rivandy!" Akishima menarik pelatuk sniper.
“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan,” gumam Spinx.
__ADS_1
Akishima dan Spinx bertukar kerusakan. Mereka melancarkan tembakan dan tebasan ke arah musuh mereka. Mereka tidak peduli dengan itu. Mereka hanyalah menyerang lawan mereka.
Ini membuatku stres. Banyak yang saling serang. Mereka tidak memberi ruang pada diri mereka masing-masing. Aku seperti seorang prajurit yang linglung pada sebuah pertempuran dahsyat itu.
Aku tidak mengerti. Kenapa? Apa salahku?
Kenapa mereka melakukan ini?
Aku tertunduk sambil menjatuhkan kakiku ke lantai. Mataku menjadi rusak akan pertempuran sengit. Aku sampai tidak merasakan keberadaan mereka. Aku hanya merasakan sebuah kegelapan yang cukup merasukiku.
Aku rasa … aku akan mati.
Aku hanya melihat mereka yang berseteru.
Sementara itu, pertarungan Eleva dengan ketiga gadis itu belum berakhir. Eleva tidak bisa menembus pertahanan mereka. Mereka terlalu erat, sehingga tidak bisa melancarkan serangannya.
“Kau tidak akan menahan semua ini!” Seru Millia menggunakan perisainya.
“Aku ingin dia dieksekusi agar dia bisa hidup tenang tanpa sebuah penderitaan. Aku akan membawanya sambil dieksekusi di depan umum,” lanjut Stephany..
“Saat ini, dia ingin mati. Kau tidak bisa melakukan apapun. Jadi, menyerahlah!” Titah Aria menatap Eleva dengan tajam.
Eleva sangat marah karena perkataan mereka yang menyakitiku meskipun memang itu kenyataannya. Eleva tidak bisa menahan amarahnya. Jadi, ia mengatakan sesuatu yang berbau sarkasme.
“Kalian! Kalian tidak akan pernah memahami perasaan Rivandy! Orang amatir seperti kalian yang ketakutan harusnya mati diperkosa olah bajingan! Kebodohan kalian akan menjadi kuburan kalian!”
“Ingat itu!”
Eleva menggertak mereka bertiga. Mereka sangat takut karena gertakan dari Eleva. Para Klub Pangeran menoleh ke Eleva dan murka atas perkataan itu.
“Kurang ajar! Aku akan menghajarmu!” Tekad Millia geram dengan perkataan Eleva.
“Rasakan ini!”
Banyak peluru yang keluar dari senapan mereka. Eleva hanya terdiam saja. Dia sudah paham apa yang terjadi selanjutnya. Ia menutup matanya dan menerima itu walaupun peluru itu tak akan pernah menembus tubuhnya.
Namun, ada sebuah pistol suara yang bereaksi cepat. Reaksi itu membuat sebuah keributan yang mengganggu. Mereka sangat paham mengenai teknik dari seorang gadis yang penuh kedisiplinan. Seorang siswi muncul di tengah pertempuran itu.
“Pistol Laser : Soundwave : Level 4!”
Teknik itu menghentikan pertumpahan. Mereka istirahat sejenak karena sudah berusaha keras untuk mengurangi peluru mereka. Nina sudah berada di hadapan mereka. Diana dan Sinta merawat Zera.
“Eh? Apa yang terjadi?” Gumam salah satu siswi Klub Pangeran.
“Semua yang ada di hadapanku! Tolong ikut aku ke Ruangan Disiplin sekarang juga! Termasuk kamu, Rivandy!” Suruh Nina dengan aura yang menyeramkan.
“Tidak ada pilihan lain. aku akan membawamu sekarang juga,” resah Nina menghampiriku yang tertunduk dan dibawa ke ruanganku sebelumnya.
Aku dibawa dengan mata kosong. Aku juga dibutakan oleh semua mimpi buruk dan trauma itu. Aku tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Jadi, Nina membawaku kemari. Dia mengajakku untuk ke ruangan yang sama.
Ini cukup sama.
Ini cukup baik untukku.
[*^*]
Jam 07:31, di ruangan disiplin, seorang gadis yang berhadapan dengan sekumpulan siswa dan siswi berdiri di lorong. Zera telah dirawat oleh Sinta dan Diana. Aku dijaga oleh Zaza dan Furumi. Mereka hanya menungguku dari luar ruangan.
Nina sudah seperti seorang komandan di hadapan sekelompok pembangkang. Dia dengan tegasnya memberikan intimidasi kepada sekelompok pelanggar aturan. Ia sudah berjanji untuk berusaha keras agar tidak terjadi keributan di akademi.
“Baiklah! Ada sebuah pelanggaran yang terjadi di sini!”
“Aku tidak akan memberi alasan lagi pada kalian. Kenapa kalian membuat kekacauan di akademi ini? Kalian pasti menjawab karena Rivandy. Iya kan?” Tanya Nina dengan tegas.
Mereka tidak menjawab pertanyaan dari Nina. Hanya terdiam berdiri dengan kaku di depan Nina yang sedang tegas. Mereka tidak menyesali perbuatan mereka. Namun, mereka tidak ingin berdebat dengan Ketua Kelas I Saintek A.
“Tidak ada yang menjawab, yah?"
“Baiklah jika itu mau kalian. Kalian sudah melanggar peraturan akademi yang sudah ditetapkan oleh Kouchou-Sensei. ia tidak ingin keributan lagi. Jadi, aku yang berkuasa di Klub Disiplin ini. Aku tidak main-main soal kedisiplinan ini.”
“Maka dari itu, … hukuman kalian adalah kalian tidak diperbolehkan pulang saat kelas berakhir. Kalian harus membantuku untuk mengisi administrasi siswa yang agak banyak itu. Masing-masing aku bagikan pada kalian.”
“Deadline sampai besok jam 05:00. Kalau sampai terlambat, kalian tidak bisa mengikuti pelajaran sampai selesai,” jelas Diana mengenai tenggat waktu dalam administrasi siswa.
“Rivandy diperbolehkan pulang dan aku akan mengantarnya pulang lalu mengawasi kalian. Zera harus dibawa ke rumah sakit karena luka yang diterima tidak sedikit.”
“Khusus untuk Klub Pangeran, aku akan memanggil Ketua Klub dan menjelaskan ini semuanya. Aku tidak mengerti kenapa Klub Pangeran semakin liar saja.”
“Apakah kalian sudah paham dengan penjelasanku?” Tanya Nina dengan tegas.
Mereka hanya mengangguk pelan. Eleva dan Spinx hanya terdiam dengan sikap Nina yang tegas dalam kedisiplinan. Mereka hanya berdiri bersama para gadis yang dihukum.
“Baiklah! Kalian boleh pergi! Kalian bisa menjalankan aktivitas akademi kalian!” Nina memperbolehkan siswa/i untuk keluar dari ruangan Klub Disiplin.
“Kalau kalian mencoba kabur, aku tidak segan lagi,” ancam Nina mengakhiri pembicaraannya.
__ADS_1
Mereka pergi dari ruangan Klub Disiplin lalu kembali ke kelas mereka. Mereka meninggalkan Nina yang berdiri dengan ketegasan karena melihat siswa dan siswi melanggar aturan. Aturan dibuat untuk mematuhi agar tercipta keamanan dan kenyamanan, bukan untuk dilanggar.
Sementara itu, Diana dan Sinta menghampiri Nina yang telah menyelesaikan tugasnya. Mereka terburu-buru dan membicarakan hal penting pada Nina. Mereka sangat panik karena ada sebuah alasan
“Gawat, Nina!” Teriak Sinta dan Diana menghampiri Nina.
“Ada apa?” Tanya Nina menoleh kepada kedua gadis itu.
"Zera tidak mau ke rumah sakit. Padahal, aku memohon padanya," keluh Sinta karena tidak bisa membujuk Zera.
"Zera ingin dihukum juga," lanjut Diana cemas.
"Sudah! Aku akan membujuknya sekarang juga. Kalian bisa kembali ke kelas dulu."
"Baiklah!" Terima kedua gadis itu meninggalkan kelas.
Mereka meninggalkan ruangan. Nina menghampiri Zera dan memberitahunya untuk pembahasan sesuatu lalu menyuruh Zaza dan Furumi untuk kembali ke kelas mereka. Aku dibiarkan di ruangan yang sama seperti sebelumnya ketika trauma akibat dikejar Aurora. Aku merasa deja vu dengan itu.
Setelah Nina mengantarkan Zera, dia kembali ke kelasnya tanpa aku. Aku dibiarkan sendirian di ruangan yang tidak diketahui itu.
Jadi, ini menjadi sebuah mimpi buruk yang ku alami saat itu.
[*^*]
Jam 15:04, jam pelajaran akademik telah berakhir. Mereka yang terkena masalah dipanggil oleh anggota Klub Disiplin atas perintah Nina dan mereka dikumpulkan untuk menjalani hukuman mereka. Aurora dan Akishima diberi tugas administrasi, sehingga memakan waktu mereka.
Nina menghampiriku dan mengajakku pulang pada saat mereka sedang diawasi oleh Diana dan Sinta. Mereka juga memperhatikan Zera yang menjalani hukuman karena membuat kekacauan akademi. Klub Pangeran harus menjalani hukuman yang sama seperti lainnya.
Nina membawaku pulang dan berjalan bersamaku. Kami meninggalkan akademi dan menjadi pembicaraan hangat oleh siswa dan siswi akademi. Aku tidak peduli. Aku tidak bisa berbicara pada Nina lagi. Aku pantas ditinggalkan.
Sesampainya di apartemenku, aku masuk dan Nina meninggalkanku lalu memesan taksi untuk ke akademi. Aku ditinggalkan di sebuah apartemen yang sepi. Tidak ada seorang pun yang tinggal di sana selain aku. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk merubah semua takdir ini.
Ini cukup bagus.
Cukup bagus untuk mengaktifkan air mata secara sendirian. Aku melanggarnya lagi. Aku ke kamar dan menunduk lalu tidak mengganti pakaian akademi. Aku hanya termenung sambil mengeluarkan ketakutanku. Aku sudah tidak pantas untuk hidup lagi.
Aku takut.
Aku tidak bisa ditemani lagi oleh mereka. Padahal, aku tidak memintanya. Aku hanya meminta ini berakhir. Aku tidak ingin meneruskannya lagi. Dengan perselisihan itu, membuatku teringat dengan jelas luka yang aku terima.
Aku sendirian. Tidak ada yang menemaniku. Aku hanya sendirian di sebuah kegelapan.
Pada saat itu, ada seorang gadis yang datang kepadaku. Dia adalah Rin.
[*^*]
Jam 16:01, Rin sudah tiba di apartemenku. Dia melihat ada nomor apartemen 301. Nomor 303 milik Aurora dan 305 milik Akishima. Ia mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Namun, ketukan itu tidak direspon. Rin dengan rambut terurai masih belum menyerah. Ia mengetuk dan menekan bel apartemen. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padaku. Namun, Rin harus menjengukku dengan sebuah tujuan.
"Rivandy?! Apakah kamu di dalam?" Tanya Rin.
"Kalau ada, jawablah!"
Namun, tidak ada jawaban. Ia tidak mengerti dengan jawaban yang cuek. Itu membuat Rin menghentikan aktivitas pemanggilan itu. Tidak ada jawaban yang aku respon. Ini sedikit hening.
Rin dengan kesal menggembungkan pipinya karena tidak ada jawaban. Jadi, ia menggunakan pilihan terakhir sebelum memasuki apartemenku. Itu adalah membuka pintu dengan kunci pintu yang ia sudah salin jika ada darurat.
Rin membuka pintu setelah membuka kunci pintu yang sudah dikunci. Rin memasuki ke apartemenku dan mencariku. Mencari keberadaanku di semua ruangan. Ruangannya cukup bersih dan simetris. Sama seperti sebelumnya.
Dapur, ruang tengah, ruang tamu, dan kamar mandi semuanya bersih. Tidak ada yang kotor. Tidak ada yang aneh. Ini membuat Rin merasa tidak enak dengan kondisiku. Jadi, Rin mencari keadaanku meskipun Sheeran akan memarahinya.
Namun, ketika Rin membuka pintu kamarku. Ia sangat terkejut dengan pemandangan kamar yang bersih dan cuaca Moskow yang mendung karena kondisiku yang sangat tidak baik. Dengan pemandangan yang menyedihkan itu, membuat Rin segera menghampiriku.
"Rivandy! Ada apa denganmu?!" Tanya Rin mendekatiku.
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menangis keras. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Rin. Aku juga tidak mendengar suaranya. Aku tidak merasakan keberadaan Rin. Aku tidak melihat Rin.
"Hei! Kenapa kamu menangis? Aku sangat cemas padamu," tanya Rin berusaha menenangkanku.
Aku masih tidak menjawab, tidak bisa berhenti menangis. Aku sudah terlalu banyak menderita, sehingga tidak ada yang memahami perasanku. Itu pun hanya Akishima dan Aurora. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi padaku.
Rin sangat tertekan dengan tangisan itu. Ia tidak tahan dengan suara tangisan itu dan tidak tenang karena kecemasanku. Ia juga tidak mengerti dengan itu. Jadi, ia harus membuatku lebih tenang dan tidak menangis lagi.
Dengan itu, Rin bertekad untuk melakukan sesuatu. Ia menghampiriku lalu memelukku agar aku berhenti menangis.
"Tidak ada pilihan lain. Aku akan melayanimu. Jadi, jangan menangis lagi!"
Rin memelukku. Aku menghentikan tangisan karena pangkuannya. Aku merasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Namun, aku memberontak. Aku ingin menghindari pelukan itu. Namun, Rin tidak membiarkanku menghindar darinya. Ia memaksaku membalas pelukannya.
Aku mengingat tubuh ini. Dengan dada Rin yang cabul, membuatku ketakutan. Aku merasakan kehinaan dalam tubuh ini. Aku sangat takut kalau Rin meninggalkanku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku sendirian saat ini. Jadi, Rin memelukku sambil menahan tangisannya.
Aku menangis keras di pangkuan Rin dengan keras. Aku tidak mengerti. Aku takut kalau Rin meninggalkanku. Setelah pelukan itu, Rin membawaku ke ranjang dan segera memelukku. Ia juga tidak membiarkanku menderita karena masa lalu dan trauma yang dialami. Aku hanya berhadapan dengan Rin, sehingga tubuhnya sudah terlihat dengan jelas.
Jadi, dia akan melakukan sesuatu.
__ADS_1
Rin memelukku dan melakukan ciuman padaku. Aku ingin memberontak.Tidak ada pilihan lain. Setelah menghabiskan waktu bersama Rin di ranjang, aku tertidur pulas karena sering menangis.
Ia pergi ke ruangan lain untuk menjalankan aktivitas sebagai kekasihku.