
Jam 16:10, di sebuah bangunan yang terbengkalai. Situasi yang cukup menegangkan dimana Cherry-neesan akan menceritakan sesuatu. Aku hanya terdiam dengan pandangan lurus ke depan dengan bangunan yang sudah terbengkalai dengan tanaman paku. Pada saat itu, Cherry-neesan memulai cerita.
“Bangunan ini adalah salah satu bangunan yang dulunya ditempati oleh kalangan tertentu. Mereka datang ke sini untuk melakukan pesta yang mereka selenggarakan selepas mereka meyelesaikan pekerjaan mereka. Mereka berkumpul di sini, di Klub Malam.”
“Aku merasa ini seperti kemarin. Aku merasa aku merasa tersiksa karena mengingat ruangan ini. Ini rasanya seperti membakar hatiku. Tidak hanya aku, Rita juga terkena getahnya. Dia juga korban dari tempat ini,” jelas Cherry-neesan dengan menahan tangisannya.
“Klan kami dirugikan pada tempat ini. Kami merasa tempat ini adalah tempat penyiksaan. Kami tidak bisa mengetahui apa yang telah terjadi, merasa direndahkan oleh seorang pejabat yang tidak bertanggung jawab. Mereka membuat kami tersiksa. Namun, kami tidak dapat melawan mereka.”
“Aku juga mengingat apa yang mereka lakukan padaku. Mereka menjadi bos yang penting sementara kami menjadi kaum proletar harus menerima perintah mereka meskipun kami tidak bisa lari dari mereka. Mereka menggunakan kekuasaan mereka agar kami tetap berada disini.”
“JIka kami melawan mereka, kami akan dikurung di penjara. Kami menjadi tahanan penjara hanya karena itu. Kami hanya berpikir dunia ini menjadi tidak adil. Kami tidak memiliki harapan pada saat itu. Kami hanya merenungkan nasib kami yang sungguh malang itu.”
“Kami bekerja dengan upah yang cukup rendah dan tinggal di tempat yang cukup kotor. Kami tinggal di ruang bawah tanah yang gelap dan sepi. Aku merasakan hal yang seperti ini pada sebelumnya. Aku hanya bersekolah di akademi dan pulang ke rumah yang gelap itu.”
“Namun, suatu hari ada seorang anak yang trauma dengan perlakuan seperti itu. Dia tidak bisa menahan penderitaannya lagi karena ia sudah menanggung semuanya. Rasa memberontaknya tumbuh di dalam hatinya, sehingga dia akan mengakhiri ini semuanya. Kami hanya terdiam dan tidak membantunya untuk memberontak. Kami sama seperti penduduk Korea Utara.”
“Karena itu, dia berniat untuk mengakhiri ini semua sendirian. Ia mengambil senjata pisau dan mencurinya untuk memulai pemberontaknya. Ia tidak meminta siapapun ia hanya melakukannya sendiri. Pada saat jamuan besar, ia datang ke perjamuan itu dan mengacaukan semuanya karena tidak ada penjaga keamanan yang menjaga tempat itu.”
“Dia mencongkel mata salah satu pejabat, sehingga mereka mengalami ketakutan dan segera pergi dari sini. Namun, hasilnya berbanding terbalik. Aku malah di perintahkan mereka untuk membunuhnya. Tidak ada pilihan lain, aku menghajarnya dengan dinginnya, sehingga dia membenciku selamanya. Dia yang mencongkel pejabat itu adalah … Denis Spyxtria.”
“Sejak saat itu, Presiden Rusia, memberikan sanksi kepada pejabat dan menteri yang berpartisipasi dalam Klub Malam itu. Lalu, Ia juga memberikan peringatan pada kami untuk tidak melakukan kejahatan lagi. jadi, bangunan ini ditutup dan terbengkalai selama 5 tahun lamanya.”
“Kami keluar dari bangunan yang hanya kami tinggali dan kedinginan pada malam hari. Tidak sedikit dari mereka yang terpapar virus Corona. Kami mencari apartemen untuk ditinggali. Namun, kami ditolak karena kami tidak memiliki tanda pengenal. Sementara itu Denis menghilang entah kemana.”
“Kami bertahan hidup dengan uang yang rendah pada hasil kerja Klub Malam itu. Namun, semua itu berakhir setelah aku lulus akademi. Aku menjalankan misi yang cukup keras pada tahun 2021. 2 tahun kemudian, aku sudah mengumpulkan uang sebanyak $100.000 dari menjalankan misi PBB dari seluruh penjuru dunia.”
“Sementara itu, Denis diurus oleh seseorang yang sangat baik setelah aku mengetahui informasi lebih lanjut, sehingga trauma yang ia idapi itu perlahan menghilang. Ia hanya membutuhkan setidaknya 2-3 bulan untuk kembali pulih. Meskipun ia membenciku karena insiden itu.”
“Pada tahun 2023, Denis sudah menjadi lebih baik. Ia juga sudah berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan, ia sudah tinggal bersama Bibi Rita pada saat itu. Dia memang sudah bahagia karena aku sudah memberi mereka kehidupan yang layak. Tidak hanya itu, aku memberikan ¾ dari penghasilanku untuk mereka agar mereka bisa hidup bahagia.”
“Begitu ceritanya. Sayang.”
“Kamu mau tahu siapa yang membuatmu lupa ingatan pada insiden kapal pesiar di Norwegia, membawamu ke rumah sakit, dan memberi nama padamu, dan tinggal bersamamu untuk menghilangkan semua trauma itu?”
Aku hanya terdiam dengan pertanyaan itu. Aku merasa mengingat semuanya. Aku pernah mengalami hal yang sama ketika aku membunuh 4 pelaku human trafficking itu. Semuanya begitu jelas ketika Cherry-neesan menjelaskan itu semuanya.
“Dia adalah … Roman Spyxtria. Dia adalah orang yang baik.” jawabnya saat aku terdiam.
“Dia pamanmu, lho,” lanjut Cherry-neesan dengan pose MILF-nya
“Nee-san. Apa yang kau katakan?” Tanyaku dengan mata yang melebar.
“Aku … tidak mau … mendengarnya,” lanjutku menahan semua penderitaan itu.
“Eh, Maafkan aku! Apa aku berlebihan?” Tanya Cherry-neesan.
“Tidak. Hanya saja … aku … kau tahu,” jawabku tiba-tiba menjadi feminin.
Cherry-neesan tertawa dengan sikap feminim. Ia menjawab, “Ara-ara. Kenapa kamu tiba-tiba menjadi perempuan?” Dengan teknik rayuan miliknya.
“Ini semua salah Neesan. Neesan yang membuatku seperti ini,” ocehku seperti seorang Tsundere.
__ADS_1
“Jadi, Neesan. Aku merasakan hal yang aneh pada Denis. Aku merasakan hal yang aneh padanya seolah-olah aku ingin meninggalkannya,” jawabku dengan pelan.
“Oo. Kau tidak perlu khawatir. Ini semua tergantung padanya,” rayu Cherry-neesan sambil mendekatiku.
“Apakah aku boleh mengecek tempat ini? Aku ingin menyelidikinya. Jadi, ….”
“Boleh! Kamu boleh mengeceknya asalkan … aku .... berada .... di-si-si-mu,” gombal Cherry-neesan sambil menyentuh dadaku.
“Neesan! Tidak boleh! Aku malu,” larangku dengan wajah yang semakin memerah.
“Paman Roman adalah seorang yang bekerja sebagai anggota IMO (Organisasi Maritim Internasional) dan bekerja sebagai Komandan KGB. Dia, ....”
“Jangan cerita lagi, Neesan!” Cocorku menghentikan Cherry-neesan agar ia tidak cerita.
Setelah kejadian yang mengungkapkan semua itu, aku memutuskan untuk mencari ruangan yang cukup untuk mengetahui semua rahasia itu. Aku yang ditemani oleh Cherry-neesan harus menerima dengan terpaksa.
Aku harap aku tidak terangsang karena tubuhku semakin memanas karena tubuh Cherry-neesan selalu menyentuh tubuhku.
Aku dan Cherry-neesan segera menuju ke ruang bawah tanah dengan menggunakan senter yang kugunakan. Handphone dengan mereka Ulefone Armor 7 yang digunakan sebagai senter untuk menerangi tempat yang gelap
Banyak furniture yang ditinggalkan. Benda yang tidak bertahan lama karena ditinggalkan zaman.
Ini seperti kunjungan ke Pripyat salah satu kota Ukraina yang mengalami Insiden Chernobyl pada tanggal 26 April 1986. Hanya saja ini bisa ditinggali karena tidak ada zat radioaktif yang sedang menyebar ke bangunan ini. Ini hanya dibuat oleh seseorang untuk menghancurkan tempat ini.
Jangan Khawatir! Tidak ada hantu di sini. Tempat ini akan sangat horor jika Aurora meminum alkohol secara tidak sengaja. Aku akan lari ketakutan.
“Nostalgianya!” Gumam Cherry-neesan mengingat kejadian yang buruk itu.
Aku masih terfokus dengan bangunan yang terbengkalai itu. Aku sedang melihat sekeliling untuk melihat kondisi bangunan yang rusak itu. Aku hanya terpaku dengan foto yang terkesan gelap. Aku juga melihat berbagai macam informasi yang tersimpan dalam ruangan itu. Aku ingin sekali melaporkannya ke Detektif Alan. Namun, aku mengurungkan niat itu.
Aku segera berjalan menuju ke ruangan yang gelap dan segera memeriksa ruangan itu secara terperinci. Kemudian, aku mengambil beberapa barang bukti untuk bisa didiskusikan kepada Detektif Alan nanti.
“Neesan pernah berkomunikasi di lingkungan sekitar?” Tanyaku sambil melihat banyak ruangan yang cukup gelap.
“Tidak,” jawab Cherry-neesan yang segera.
“Lalu, berapa orang yang tinggal disini?” Tanyaku seperti seorang detektif.
“Kalau dari semuanya itu … sekitar 20-30 orang,” jawabnya dengan santai.
Pada saat pencarian berlanjut kami mendapatkan pesan dari seseorang yang asing di handphone milik Cherry-neesan. Ia segera mengangkat handphone miliknya itu dan segera mengangkat telepon itu. Aku hanya melanjutkan sambil menyimak pembicaraan itu.
“Halo?” Panggil Cherry-neesan dengan menyalakan sistem telepon biasa.
“Ini Cherry Spyxttria, bukan?” Tanya penelpon itu.
“Iya. Memang kenapa?” Tanya Cherry-neesan penasaran dengan penelpon itu.
“Cherry! Tolong aku!” Suara teriakan wanita sampai pada audio telepon itu.
“Diam kau! Aku sedang menelpon,” gerutu penelpon itu membuat sandera terdiam.
__ADS_1
Raut wajah Cherry-neesan menjadi gelap. Ia mendengar sebuah teriakan sandera yang cukup keras. Aku menghampirinya dan sedang mendengar pembicaraan itu dengan penuh konsentrasi.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Cherry-neesan dengan murung.
“Sederhana saja. Bukan aku yang menelpon. Dia akan mengatakan sesuatu padamu,” balas penelpon itu memberikan handphone ke seseorang.
Cherry-neesan terdiam dengan hal itu. Dia tidak menyangka bahwa ia bertemu dengan seseorang.
“Yo! Cherry! Bagaimana dengan harimu? Aku dengar kau sudah menjadi Kepala Sekolah sekarang,” sapa penelpon dengan akrab namun menjijikkan.
“Kami tidak berurusan denganmu. tapi, kami memiliki urusan yang sangat penting kepada orang yang sudah mencongkel mataku. Kau ingatkan?” Tanya penelpon itu sambil memakan pizza.
“ ....” Cherry-neesan hanya terdiam dengan balasan itu.
Aku yang sedang melihat Cherry-neesan yang murung akibat telepon itu hanya terdiam. Aku ingin sekali memanggilnya. Namun, aku memutuskan untuk diam karena itu akan mengganggu Cherry-neesan.
“Neesan. Ada apa?” Tanyaku dalam hati.
Cherry-neesan tidak menjawab. Dia hanya terdiam dengan itu. Tidak ada respon darinya mengenai apa yang mereka bicarakan. Aku menunggu sebentar sambil memotret sesuatu.
“Begitu ceritanya. Aku harap kau datang kemari dengan Denis di sampingmu. Kalau kau memanggil polisi atau apapun, transaksi dibatalkan. Mengerti?” Tanya penelpon itu dengan tatapan menjijikkan.
“Iya, aku mengerti.” jawab Cherry-neesan dengan tanda mengerti.
“Bagus. Semoga harimu menyenangkan,“ pamit penelpon itu segera mematikan teleponnya.
Cherry-neesan menutup teleponnya dan menyimpannya di belahan dadanya agar handphone miliknya tetap dan tidak dicuri oleh pencuri seperti Swiper.
Aku yang sudah memotret beberapa foto segera bertanya pada Cherry-neesan mengenai pembicaraan melalui telepon dati. Aku mendekati Cherry-neesan sambil bertatapan langsung kepadanya.
“Neesan. Ada apa?” Tanyaku dengan penuh kecemasan.
“Rita. Bibinya Denis telah diculik. Aku haru”
“Eh?! Kalau begitu, aku punya rencana untuk penyelesaian ini. Dengarkan akU!”
Aku dan Cherry-neesan berdiskusi untuk menjalankan rencana itu. Kami sedang membuat rencana untuk menyelamatkan sandera. Cherry-neesan memberikan kode bunga padaku agar tidak dilacak oleh para gangster itu. Lalu, aku memberikan pesan pada Zhukov, Eleva, Saphine, Hammer, dan Yudha mengenai kode yang kusampaikan.
Aa. Aku lupa. Aurora akan mencariku dan mengira bahwa aku disandera. Lupakan saja! Aku akan menghubunginya nanti.
Hanya 10 % rencana ini berhasil. Namun, tidak ada salahnya untuk mencobanya.
[*^*]
Jam 19:20, Dr. Cherry dan Denis bertemu di suatu jalan. Mereka tidak saling menyapa dan berjalan bersama di jalanan yang gelap itu. Mereka juga memalingkan wajah mereka sambil menahan rasa kebencian mereka.
Setelah sampai di lokasi yang dikirim oleh penyandera itu, mereka bertemu dengan segerombolan gangster yang berada di hadapan mereka. Mereka yang sudah bersenjata lengkap dan pistol yang mereka sembunyikan untuk berjaga-jaga.
Lalu, bos dan ketua gangster itu muncul tak lama kemudian sambil berjalan tegak di hadapan mereka. Ketua gangster itu sudah menafsir medan perang sebelum pertemuan ini.
“Kau datang juga, Denis dan Cherry. Kau tidak melapor pada polisi, kan?” Tanya bos itu.
__ADS_1
Dr. Cherry dan Denis hanya terdiam. Lalu, bos itu menjawab, “Anak pintar. Kita akan menyelesaikan ini pada tahun yang lalu,” dengan senapan di tangannya.
“Ayo! Selesaikan ini sekarang juga!” Dr. Cherry dengan serius.