
22 September 2025, jam 07:50, pertempuran dengan Klub Pangeran telah dimulai. Klub Militer membubarkan diri dan segera menuju ke markas mereka untuk mengikuti Kelas Militer. Klub Pangeran tetap melakukan serangan yang menimbulkan kehancuran akademi.
Denis dan Zhukov melakukan tembakan jitu mereka untuk menghabisi lawan mereka. Akishima dan Evelyn melakukan cosplay dari anime untuk menghadapi Klub Pangeran. Hammer melindungi mereka dengan teknik “Shield : Level 2!” dan “Shield : Level 3!”
Stephany, Millia, dan Aria menggunakan pertahanan mereka dan mempergunakannya sebagai pertahanan dari anggota Klub Pangeran yang sedang terluka. Paramedis segera mengobati mereka yang sedang terluka.
Farah dan Dina sedang mengintai dan tidak akan muncul begitu saja. Mereka melihat pertarungan yang akan segera berakhir karena bel akademi akan berbunyi pukul 08:00. Mereka melihat pertarungan sambil memakan popcorn dan soda sebagaimana menonton bioskop.
Evelyn dan Akishima berusaha untuk menerobos pertahanan yang Stephany, Aria, dan Millia ciptakan. Tidak hanya itu, Denis dan Hammer mencari celah. Zhukov hanya membidik Aria dan Millia agar Akishima dan Evelyn bisa menghancurkan tembok pertahanan.
Namun, percuma. ketiga gadis itu bisa bertahan dari serangan yang beragam arah itu. Mereka yang mencari cara untuk bisa keluar situasi yang mendesak itu.
“Sial! Pertahanan mereka sangat kokoh. Andai saja punya celah untuk masuk,” pikir Akishima yang sedang melakukan tembakan sniper itu..
“Iya. Aku harap mereka tidak bertahan lama agar kami bisa masuk kelas militer sekarang juga,” lanjut Zhukov dengan pemikiran yang cukup matang.
“Tersisa 9 menit 11 detik lagi,” lanjut Denis sambil bersembunyi dari tanaman.
“Kita harus mundur atau bagaimana?” Tanya Hammer sambil menahan serangan dari anggota Klub Pangeran.
“Kita harus menyerang pada saat tertentu dan kita akan mundur secara bersamaan. Setelah itu, kita harus kembali ke kelas kita masing-masing. Aku sudah mengirim pesan kepada Aurora untuk ke Kelas I Saintek C untuk menunggu,” jelas Zhukov sambil menunggu kesempatan yang tepat.
“Baiklah. Berapa lama lagi kita akan mundur?” Tanya Hammer yang sudah terpojok.
“Tapi, ada halangan yang cukup berat, yaitu … Evelyn,” resah Zhukov melihat kondisi Evelyn yang menjadi Gundam.
“Aku akan membuatnya berhenti. Aku sudah tahu caranya untuk mematikan Gundam,” usul Akishima dengan tersenyum kecil.
Zhukov hanya membalasnya dengan senyuman. Ia tidak akan khawatir lagi dengan Evelyn. Ia hanya membuat kesempatan untuk mundur.
[*^*]
Di sisi Stephany, Aria, dan Millia, mereka bersembunyi dan menembak lagi. Kemudian, ia bersembunyi dan menembak lagi. Tiada habisnya. Mereka melakukan itu bersama dengan anggota Klub Pangeran yang masih memiliki tenaga untuk bertempur.
“Tidak ada habisnya,” umpat Aria sambil menembak ke Hammer.
“Aria, apakah kita harus mundur?” Tanya Milia sambil merawat anggota yang lainnya.
“Stephany. Kita harus mundur. Kita harus mengikuti kelas militer 9 menit lagi,” usul Aria sambil bersembunyi dari peluru.
“Kita tidak boleh membiarkan yang lainya untuk tetap disini,” usul Millia sambil mengobati anggota Klub Pangeran.
“Kalau begitu, kita hanya bisa bertahan saja,” usul Aria dengan mutlak.
“Baiklah! Aku akan mengirim sesuatu pada lainnya.” Millia membuka ponsel dan segera mengirim pesan melalui Telegram.
Setelah itu, mereka menunggu pesan balasan untuk mundur.
[*^*]
Kembali di sisi semula. Akishima memasuki robot Gundam dan mematikan sistemnya. Evelyn tertidur pulas dengan matinya sistem Gundam. Kemudian, Akishima menggendong Evelyn dan keluar dari robot Gundam. Zhukov dan Denis membalas tembakan yang mereka lancarkan.
Tapi, hanya satu yang menghambat mereka.
Kehabisan amunisi. Ini sering terjadi pada pertempuran dimana pun.
“Sial! Peluruku habis,” umpat Denis menyimpan senjatanya dan segera mengambil pistolnya.
“Aku juga,” lanjut Zhukov mengganti senjata utamanya dengan pistol.
“Hei! Aku punya amunisi disini. Tapi, aku tidak bisa memberikannya kepada kalian. Amunisi ini akan dipakai untuk kelas militer nantinya,” jelas Hammer sambil berlindung dan melakukan serangan dengan amunisi terakhir.
__ADS_1
“”Bukankah ini saatnya mundur?” Usul Akishima menggendong Evelyn.
“Tidak secepat itu,” cekal Zhukov.
“Kita harus mundur pada saat yang tepat. Atau kami akan ditembak lagi,” lanjutnya sambil membidik dengan pistolnya.
“Kalau begitu, aku akan ke kelas dulu. Tolong sampaikan kemenangan kalian padaku,” pamit Akishima lari menuju ke kelasnya sambil menggendong Evelyn.
“Akishima! Jangan kabur! Pertarungan masih berlanjut!” Zhukov memarahi Akishima yang kekanak-kanakan itu.
“Dasar anak kecil! Seenaknya kabur saja,” umpat Zhukov sambil menghela nafasnya.
“Biarkan saja. Kita akan menghukumnya nanti,” saran Denis kepada Zhukov yang menghela nafasnya.
“Iya. Aku akan menyuruhnya makan spaghetti dengan hidung,” canda Hammer dengan guyonannya.
Zhukov tertawa dengan guyonan itu. Ia membalas, “Tidak ada gadis yang memakan spaghetti dengan hidung.”
Dengan guyonan itu menandakan tidak ada tembakan balasan. Banyak peluru yang berserakan di taman. Tidak sedikit kerusakan yang mereka buat selama pertempuran di taman akademi.
Melihat itu kedua kubu segera menghentikan serangan mereka yang sia-sia dan segera kabur ke kelas mereka. Zhukov, Denis, dan Hammer segera bergerak menuju ke kelas mereka.
Begitu juga dengan Klub Pangeran. Sebelum itu, mereka harus membawa anggota mereka yang terluka menuju ke Klub Pangeran untuk diobati. Mereka yang terluka akan diberikan surat izin oleh Chelsea Arslan untuk tidak mengikuti pelajaran secara langsung.
Dengan ini pertarungan sudah berakhir dengan taman akademi mengalami kerusakan akibat pertarungan mereka yang.cukup lama itu.
[*^*]
Di unit kesehatan, sebuah kamar dengan anggota PMR yang menemani pasiennya. Anggota itu merawat pasien dengan senang hati. Sepertinya, ia jatuh cinta dengan pasien itu.
Pasien tersebut adalah … aku.
“Rin … ?”
“Apakah kamu sudah sadar, Rivandy?” Tanya Rin dengan penuh kasih sayang.
“Iya. Aku sudah sadar,” jawabku dengan singkat.
“Ini dimana?” Aku bertanya tentang keberadaanku.
“Ini di unit kesehatan,” jawabnya dengan singkat.
“Bagaimana dengan …,” ucapanku terpotong oleh sebuah nasehat.
“Kamu jangan banyak bicara! Kamu harus tenang dulu,” nasehat Rin memotong ucapanku.
“Maafkan aku!"
“Anak pintar,” puji Rin sambil mengelus kepalaku.
“Ini sudah jam berapa?” Jawabku sambil menatap ke atas.
Rin yang mendengar ocehanku itu segera mencubit pipiku. Aku menjerit kesakitan dengan cubitan itu. Cubitan Rin sama seperti cubitan seekor kepiting yang cukup keras. Dia agak mutung karena aku melakukan hal yang salah kepadanya.
“Rin. Apa yang kau lakukan?” Tanyaku sambil dicubit oleh Rin.
“Sudah kubilang untuk diam. Tapi, kamu tidak bisa diam, yah!” Jawab Rin dengan nada kesalnya.
“Baiklah, aku akan melakukan sesuatu agar kamu diam,” desah Rin sambil melakukan hal nakal kepadaku sambil melepas cubitannya.
“Iya. Aku akan diam. Jadi, janganlah berbuat hal yang aneh!” Aku memohon kepada Rin untuk tidak melakukan hal yang aneh.
__ADS_1
“Anak pintar,” puji Rin sambil tersenyum nakal.
Aku tidak bisa berkata apapun. Rin sedang tidak stabil sekarang. Mungkin aku akan mengobrol dengannya nanti.
[*^*]
Kelas militer dimulai. Aku diberi surat izin oleh dokter akademi kepada Pak Stephany untuk tidak mengikuti pelajaran. Aurora dan Evelyn masih mengikuti pelajaran walaupun kondisi mereka yang tidak terlalu baik.
Denis dan Hammer dilatih khusus oleh Pak Terry agar mereka bisa mendapatkan kemampuan yang cukup bagus untuk pertempuran nanti. Mereka mengasah kemampuan menembak mereka masing-masing.
Zhukov dan Akishima datang tepat waktu. Aurora sudah memberikan seragam dan meminta maaf kepada Akishima sepenuh hati. Ia juga berterima kasih karena membawa Evelyn kembali. Jadi, Akishima mendapatkan seragam dan segera mengikuti pelajaran bersama Zhukov.
Takeda dan Lisa diobati di ruangan Klub Militer. Ketua klub memberikan tanggung jawab penuh untuk memberi keterangan kepada Bu Anvelia dan guru lainnya mengenai kondisi Lisa. Bu Anvelia menerima hal itu dan membiarkan LIsa untuk istirahat, sedangkan guru bimbingan Kelas I Saintek C mengizinkan Takeda untuk istirahat.
Shiori dan Bella masuk kelas seperti biasanya. Mereka melatih diri lebih keras agar mereka lebih kuat. namun, itu akan membebani psikologi Shiori secara mental. Bella tidak terlalu mengetahui apa yang dirasakan oleh Shiori. Shiori hanya tenang dan tersenyum seperti biasanya. Diana dan Sinta sangat kebingungan dengan kedua gadis itu.
Sheeran dan Saphine harus izin untuk tidak mengikuti pelajaran karena mereka harus berada unit kesehatan. Begitu juga dengan Wulan dan Kotori. Mereka merawat pasien mereka karena mereka adalah anggota Klub PMR. Guru bimbingan militer mengizinkan mereka untuk mengobati pasien mereka.
Rin dan aku sedang berada di unit kesehatan dengan intim dan romantis. Kami sering bercerita sambil membuat sesuatu yang cukup aneh. Setelah Rin merawatku, aku berpegangan tangan dengan sebagai pasangan. Rin memelukku dengan cukup romantis. Jika mereka tahu aku melakukan hal itu, mereka akan membawa kartu Poker dan memaksaku bermain.
Sial! Sudah tahu aku payah dalam Poker. Mereka menyiksaku dengan Royal Flush.
Aku ingin tertawa dengan Rin. Aku ingin tersenyum dengan Rin. Namun, itu hanya sia-sia.
Itu sebuah dosa dan larangan yang aku lakukan.
Mimpi buruk dan trauma masih menghantuiku.
Cherry-neesan sudah mengetahuinya terlebih dahulu, sehingga aku harus lulus akademi untuk menghadapi mimpi buruk itu.
Sudahlah! Aku tidak terlalu memikirkannya.
Aku butuh istirahat dari pikiran itu.
Ini merupakan suatu kutukan bagi orang yang memiliki IQ sebesar 168 sepertiku. Tidak ada yang mencapai angka itu selain Cherry-neesan. Ia sudah melampauiku dengan jauhnya. Jadi, aku tidak tahu IQ-nya berapa. Itu tidak terlalu penting bagiku.
IQ just number ~ Rivandy Lex.
[*^*]
Jam 12:59, aku dan Rin pulang terlebih dahulu atas rekomendasi dari dokter. Aku harus istirahat dengan tenang. Sheeran, Saphine, Kotori, dan Wulan peluang terlebih dahulu. Jadi, aku tidak bertemu dengan Sheeran pada saat itu. Dia akan marah pada Rin jika aku bersama dengannya.
Sesampainya di apartemenku, aku memutuskan untuk mandi. Rin membersihkan apartemenku seperti seorang calon istri yang baik. Aku cukup bangga dengan itu. Tapi, sama saja. Aku tidak bisa tersenyum. Aku tidak tahu caranya dan tidak tahu rasanya seperti apa.
Biarkan saja! Aku bebas pelajaran sekarang. Mungkin aku harus menyetel ulang agar mereka tidak bisa berbuat seenaknya lagi.
Jam 18:23, aku dan Rin makan malam yang dimasak di dapur sebagai melatih kemampuanku dalam memasak. aku cukup ahli, tapi belum cukup.
Setelah itu, kami membaca buku dengan pelukan dan pangkuan. Kami merahasiakan pertemuan ini agar mereka tidak perlu tahu dengan hubunganku dengan Rin. Aku tidak mau kabar ini akan tersebar di seluruh penjuru akademi. Itu akan membunuhku.
Jam 21:23, kami memutuskan untuk tidur. Rin tidur dalam pelukanku. Aku membalasnya dengan pelukannya. Aku mengharapkan Akishima tidak mendobrak pintu apartemen ini. Aku takut ini akan semakin memburuk.Tapi, sudahlah! Aku tidak ingin memikirkan hal itu.
Konflik dengan Klub Pangeran sudah membuat kekacauan yang cukup parah. Banyak pertarungan yang sengit di sana. Aku yang menjadi korban yang sangat menyeramkan. Soalnya, aku selalu dimanfaatkan oleh mereka terus-menerus.
Aku menutup mataku dengan cukup perlahan. Rin yang sedang berada di sampingku tidak membiarkanku terluka parah. Aku yang sudah menutup mata tertidur pulas sambil bermain sedikit dengannya.
Rin memelukku dengan erat dan begitu pula denganku. Kami yang sedang romantis itu sedang berada dalam suasana malam Kota Moskow yang masih ramai mengingat Moskow merupakan ibukota Rusia. Kami tertidur pulas tanpa melakukan hal nakal pun.
Kami hanya memeluk saja. Tidak ada hal yang lain. Aku mengharapkan aku bisa menikah dengan Rin seusai akademi nanti. Rin pasti akan senang mendengar hal itu. Hanya saja, Rin harus lulus agar kami tetap bersama selamanya.
Malam yang cukup indah. Tanpa bintang dan hanya sebuah bulan yang menyinari kota Moskow. Jam 23:23, kota Moskow menjadi sepi dan gelap. Namun, banyak bangunan yang masih terang bernderang seperti cahaya yang menyerang kegelapan.
__ADS_1