Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Makanan : Semifinal


__ADS_3

“Lomba akan dimulai dari … sekarang!” Fillia-Senpai membunyikan pistol suara untuk memulai lomba.


Para peserta semifinal akan segera menuju ke dapur dan mengambil bahan yang sudah tertera di dapur pribadi. Mereka, termasuk aku segera menghidangkan kepada seorang peserta dari mantan BLUE (Bishoku Leading Under-25 Entrance).


Bella dan Nona Claveriska sudah mulai membuat bahan mereka. Aku dan Nina bertanding untuk membuat sementara Nona Claveriska dan Bella membuat bahan untuk membuat spaghetti. Mereka mencampurkan bahan makanan untuk membuat adonan untuk melanjutkan tahap berikutnya.


Aku dan Nina membuat adonan untuk membuat bahan untuk membuat dessert. Kami berkompetisi untuk membuat lebih cepat dan tepat. Kami tidak boleh terlambat karena juri sedang menunggu untuk menyantap makanan kami.


Pada kompetisi yang berlanjut, Fillia-Senpai segera menyalakan microphone miliknya dan segera mengomentari pertandingan yang semakin memanas ini. Dia juga sudah menyerahkan semuanya dan segera meramaikan acara.


“Ok, sekarang saya akan mengomentari lomba ini agar terlihat ramai disini. Ini sudah sepi seperti kuburan.”


“Kita lihat ada Pangeran yang sedang menyiapkan adonannya, lalu dia mengaduk dengan elegan. Nona Claveriska dengan cepat segera mengaduk adonan dengan susah payah. Dia bisa menjadi pemenang disini.”


“Sementara itu, Anivesta Bella sedang mencampurkan dengan garam dapur dan lainnya. Setelah itu, dia membiarkan adonan itu dan segera membuat bayam menjadi bubuk untuk mencampurkannya ke adonan.”


Di tengah ramainya acara ini, Fillia-Senpai terus berkomentar dengan semangatnya. Riana, Asahi, dan Reika, mantan peserta BLUE segera berdiskusi mengenai semangat mereka.


“Riana. Sepertinya, mereka bisa menjadi potensi untuk balas dendam,” panggil Asahi melihat kemampuan peserta semifinal.


“Iya. Kita bisa memanfaatkan mereka untuk membalas kekalahan kita,” lanjut Riana sambil memakan potongan kecil ke dalam mulutnya.


“Aku rasa mereka bisa memuaskan lidah juri yang menyeramkan itu.”  gumam Reika dengan sedikit tertekan.


“Apa maksudmu, Reika?” Tanya Asahi menanggapi ocehan Reika.


“Kau lupa? Kita gagal gerbang ketiga. Seandainya, juri itu bukan dia, kami bisa mencapai babak berikutnya. KIta bisa saling berkompetisi saat itu,” jawab Reika sambil melihat peserta lomba.


“Lihat dia! Dia bisa menjadi potensi untuk balas dendam. Bahkan, gadis loli berambut orange bisa membuat masakan yang menarik,” jelas Reika sambil menunjuk dan Bella yang sedang sibuk dengan adonan.


“Kita bisa memanfaatkan mereka. Contohnya, mereka akan bekerja keras untuk lolos di gerbang 3, ketika mereka membuat juri merasakan keenakan, kami bisa menambahkan sesuatu untuk menghajar juri itu dengan makanan. Setelah kami lulus, mereka akan mengundurkan diri dan kami bisa bersaing untuk siapa yang menang,” jelas Riana dengan rencana jahatnya.


“Kalau dia menjadi peserta, ini akan membahayakan semua peserta ujian BLUE,” desis Reika sambil menatap ke panggung.


“Iya. Dengan teknik Ara Ara dan MILF darinya, membuat peserta gugur dengan mudahnya,” lanjut Asahi dengan santai.


“Kita harus membuatnya terkesan atau tidak sama sekali,” tekad Asahi dengan tatapan mata warna birunya kepada seorang peserta yang menjadi incarannya.


“Sudahlah! Kita harus menikmatinya,”


”Riana benar, kita hanya menunggu makanan mereka. Aku harap Fillia sialan itu tidak mengganggu rencana kita.” Reika menatap Fillia-Senpai dengan tajam.


“Aku harap kau tidak memandang dadanya yang membesar itu,”  oceh Riana.


“Aku tidak memandangnya seperti itu!” Cela Reika


“Sudah! Lagipula, Fillia sudah memberi peluang untuk kita.” sanggah Asahi sambil melihat kebaikan dari Fillia-Senpai.


“Waduh! Para juri sedang menggosip apa? Aku ingin mendengarnya,” komentar  Fillia-Senpai melihat para juri sedang menggosip.


“Jangan ikut campur kau!” Oceh Reika membentak Fillia-Senpai.


“Tidak usah repot-repot! Kami menerima pertanyaanmu. Kamu mengajak kami ke Moskow. Jadi, kami bisa jalan-jalan ke sana sebelum kembali ke Milan,” ujar Asahi dengan santai.


“Aku datang kesini untuk menghancurkan Chelsea Arslan itu, Dia mempermalukanku di BLUE dan segera menuju ke babak final,” lirih Riana mengingat kejadiannya kepada Chelsea.


“Jangan begitu! Kamu akan menyesal jika berhadapan dengannya, Dia sudah mengalahkanmu sebanyak 10 kali,” cekal Fillia-Senpai pura-pura polos.


“Sial! Karena dia, aku harus berpose nakal di hadapannya, lalu aku mengenakan pakaian renang wanita yang seksi dan memalukan itu,” oceh Riana ingin menangis mengingat kekalahannya.


“Hohoho. Aku mengerti perasaanmu. Aku juga mengalami hal yang seperti itu.” respon Fillia-Senpai.


“Memangnya apa yang ia lakukan padamu?” Tanya Riana menghentikan tangisannya.


“Dia mengintipku saat tidur dan memotretku dengan wajah yang manis. Setelah itu, aku mengenakan pakaian penguin dan berperilaku seperti penguin,” jelas Fillia-Senpai tanpa rasa malu.

__ADS_1


“Sama saja!” Teriak Riana kepada Fillia-Senpai yang sengklek.


“Hoi! Kamu lupa mematikan microphone mu. Lihat penontonnya!” Reika memberitahu kepada Filia-Senpai mengenai mic headphone yang masih menyala.


“Wah! Maafkan aku! Aku lupa mematikan micnya. Silahkan lihat pesertanya! Ok?” Filliq-Senpai meminta maaf dan segera mengomentari peserta lomba lagi.


“Sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit di Swiss,” komentar Riana melihat tindakan Filia-Senpai yang sengklek itu.


“Aku setuju denganmu, Riana,” lanjut Reika.


[*^*]


Waktu tersisa 20 menit lagi, aku yang sudah menyiapkan pangganganku segera menyiapkan kismis anggur untuk menggugah selera, Nina membuat adonan puding dan menambahkan sesuatu untuk bisa mengalahkan masakanku.


Aku dan Nina sedang lomba untuk waktu. Kalau terlalu lama, itu bisa membuat juri melakukan vote kepada Nina. Kami  saling bertatapan dan segera mengakhiri persaingan ini.


Namun, pada saat ingin menyelesaikan pangganganku, aku melihat Nona Claveriska dan Bella yang segera menuju ke tempat juri untuk menyantap masakan mereka. Aku dan Nina yang melihat mereka segera menyelesaikannya juga.


Pada saat Bella dan Nona Claveriska mengumpulkan hidangan mereka. Asahi, Riana, dan Reika menyantap spaghetti milik Nona Claveriska sebelum menyantap milik Bella. Spaghetti milik Bella berwarna hijau, telur dan sayur yang lainnya.


“Wah! Apa ini? Ini seperti hidangan Italia,” komentar Riana sambil menyantap masakan Nona Claveriska.


“Iya. Ini rasanya cukup enak,” puji Asahi sambil memakan spaghetti segara pelan.


“Bahan yang dipilih juga sangat selektif,” lanjut Reika sambil menyantap spaghetti.


“Terima kasih,” ucap Nona Claveriska


“Wah! Kamu sopan sekali. Bagaimana kamu diajari seperti itu?”


“Aku berasal dari bangsawan. Jadi, aku sudah mendapat pendidikan itu sejak kecil,” jelas Nona Claveriska dengan singkat.


“Kamu bangsawan rupanya. Aku salut padamu." puji Asahi.


“Whoah! Masakan apa ini? Kenapa sangat enak?” Tanya Asahi.


“Asahi. Kamu terlalu berlebihan,” tegur Riana dengan Asahi yang aneh.


“Aku akan membawamu ke rumah sakit lebay sekarang juga,” sindir Reika sambil menyeruput spaghetti.


“Itu adalah Spaghetti Lemonilo. Aku memasukkan Lemonilo ke spaghetti. Nikmatilah! Aku akan senang dengan itu, Onii-chan.” Bella melancarkan serangan loli kepada juri yang membuat Asahi pingsan.


“Asahi. Kamu kenapa?” Tanya Riana mengecek kondisi Asahi yang mimisan itu.


“Dia pingsan. Karena panggilan Onii-chan, membuatnya tumbang. Dia harus ke rumah sakit sekarang juga,” tekad Reika.


“Oo! Juri yang tercinta, Asahi pingsan karena serang loli yang tidak ada otaknya. Dia harus ke rumah sakit Swiss untuk mendapatkan perawatan intens.” komentar Filliq-Senpai melihat Asahi pingsan.


“Jangan komentar lagi, Fillia!” Bentak Reika.


Dengan kejadian itu, juri yang tersedia hanya dua lagi. Asahi otomatis memilih Bella karena serangan loli. Asahi sedang pingsan karena mimisan itu harus dibawa ke rumah sakit Swiss untuk mendapatkan perawatan khusus untuk lolicon seperti Asahi.


Bella dan Nona Claveriska sangat terkejut melihat itu. Bella otomatis mendapatkan 1 poin, Nona Claveriska kesal dan berharap ia mendapatkan dua poin. Bella melakukan gestur yang memalukan itu mengepal tangannya untuk memukul seseorang.


“Bella. Kamu harus menggunakan teknik loli untuk mengalahkan Pangeran. Kalau tidak, kamu tidak akan menang,” kata Andika yang terngiang di kepala Bella.


“Andika. Aku akan menghajarmu setelah ini,” gumam Bella menatap Andika dengan tajam.


“Kau tidak bermain curang, kan?” Tanya Nona Claveriska mencurigai Bella.


“Tentu saja tidak! Itu adalah teknik Lemonilo khas Loli. Jangan salah paham!” Cekal Bella dengan wajah Tsundere-nya.


Para juri mulai menilai setelah membawa Asahi ke rumah sakit. Mereka memilih siapa yang menjadi finalis. Mereka menekan tombol yang menurut mereka prefer. Riana menekan tombol untuk Asahi untuk memilih Bella, sehingga perolehan nilai itu sudah diumumkan lebih awal.


Setelah perolehan nilai itu, Fillia-Senpai yang terdiam melihat hasil yang diperoleh oleh kedua juri itu. Ia terkejut dengan hasilnya, langsung bersuara dengan keras sambil mengumumkan hasilnya.

__ADS_1


“Whoa! Perolehan nilai sudah berlanjut  Bella mendapatkan 2 poin Claveriska hanya mendapatkan 1 poin. Artinya, Bella memasuki ronde final.”


[Anivesta Bella vs Claveriska Bonaparte]


[A \= 2 vs C \= 1]


Bella otomatis menuju ke final. Nona Claveriska yang tidak mengakui kekalahannya pamit, “Lihat saja nanti! Lain kali aku akan mengalahkanmu,” lari dari panggung dan menahan tangisannya meninggalkan aula panggung akademi.


Bella tidak tahu apa yang Nona Claveriska pikirkan. Ia menunggu seseorang yang akan melawannya di babak final nanti. Ia harap Nina akan berhadapan dengannya, bukan aku.


Sementara itu, 10 menit sebelum acara dimulai, aku dan Nina menyajikan kepada juri. Aku memanggang Muffin, sementara Nina menyajikan Puding Coklat kepada juri. Mereka segera melahap Muffin lalu Puding. Lalu, mereka tidak menyangka ada aneh disini.


Muffin yang dimakan oleh mereka mengeluarkan cairan coklat dan vanila untuk menggoda selera. Mereka tidak terlalu peduli dengan rasa puding. Nafsu mereka hanya tertuju pada Muffin yang kubuat. .


Maafkan aku, Nina. Sepertinya, aku terlalu berlebihan.


“Apa ini? Kenapa rasanya sangat enak? Apa yang kau lakukan?” Tanya Reika berbinar-binar melahap Muffin buatanku.


“Kombinasi yang dapat merayu para gadis, Pantas saja kamu dipanggil Akademi Pangeran,” puji Riana.


“Rahasia. Kau bisa menanyakan pada Neesan. Neesan memang hebat dalam memasak,” balasku dengan panjang lebar.


“Neesan?” Tanya para juri itu dengan kebingungan.


“Kalian tidak tahu? Kepala sekolah akademi ini mengajariku beberapa teknik,” jelasku memberikan kode pada mereka.


“Pantas saja. Dia terlalu hebat,” balas Reika dengan murung.


“Kau berpihak padanya, kan?” Tanya Riana mengancamku..


“Eh? Tidak! Aku tidak berpihak padanya. Meskipun ia merayuku dan mengajakku ke ranjang, aku tidak berpihak pada siapapun,” cekalku dengan wajah Tsundere.


“Aku merasa kasihan padamu.” sesal Riana mendekat dan memelukku dengan erat.


“Aku juga,” lanjut Reika memelukku sambil menangis.


Dengan empati mereka, mereka langsung memilih masakanku. Sementara Nina tidak dipilih siapapun. Ia angguh menerima kekalahan itu dengan sportif dan senyuman. Ia akan mencobanya lagi kali.


Maafkan aku, Nina! Aku tidak bisa berbuat apapun lagi pada mereka.


“Apa ini?! Whoah! Aku tidak tahu tapi, Pangeran Rivandy memenangkan dengan mudah. Mengalahkan Nina yang sempurna itu. Luar biasa!” Komentar Filia-Senpai melihat skor akhir dari babak semifinal ini.


[Rivandy Lex vs Nina Alpenliebe]


[R \= 2 vs N \= 0]


Dengan skor itu menandakan babak semifinal berakhir. Aku dan Bella akan bersiap untuk berkompetisi demi memenangkan uang dan piala. Aku masih dipeluk oleh para juri sebagai tanda empati mereka. Mereka tidak membiarkanku diperalat oleh Neesan lagi.


Bella makin kesal dalam hatinya dengan hasilnya. Ia akan lebih serius dalam babak final yang diadakan nanti, tidak akan membiarkanku untuk menang. Entah apa di pikirannya.


Aku tidak terlalu ingin menang, tapi aku akan menghadapinya dengan serius. Bersiaplah Bella!


[*^*}


*Yosh! Selamat datang di babak final yang akan merebutkan hadiah kali ini. Kini ada dua peserta yang akan bertanding untuk memenangkan kompetisi ini. Langsung saja, pemanggilan peserta.”


“Sambutlah peserta pertama, Pangeran Akademi dari Rusia dan Kelas I Saintek A, Rivandy Lex!”


“Kemudian, peserta kedua dari Indonesia, Kelas I Soshum A, Anivesta Bella.”


“Mereka sudah bersiap untuk memasak kali ini. Aku ingin tahu siapa yang akan menang pada tahun ini. Jadi, saksikanlah lebih lanjut.”


“Siapakah yang menang? Pangeran atau Loli?”


“Kita akan lihat saja di lomba kali ini.”

__ADS_1


__ADS_2