
19 September 2025, jam 07:11, suasana kota Moskow dengan dedaunan yang berwarna-warni, pepohonan yang meranggas, dedaunan yang berguguran, suhu yang semakin menurun sehingga kabut kelabu.
Musim ini terkadang suram dengan berkurangnya sinar matahari, perubahan suhu yang signifikan, dan cuaca mendung yang menimpa kota Moskow. Ini sedikit lebih dingin. Kalau suhu udara sampai 0 derajat, itu akan membunuhku.
Aku berjalan bersama keempat gadis yang selalu menempel di sisiku. Mereka memegang tubuhku karena mereka merasa kehangatan jika aku berada disampingnya. Aku berjalan bersama mereka dengan syal yang dikenakan di leher. Aku membelinya dari aplikasi Amazon 2 hari yang lalu dan tiba di apartemenku kemarin malam.
ini untuk jaga-jaga agar cuaca besok akan terus memburuk. Benar saja. Cuaca semakin memburuk. Aku sudah melihatnya di handphone ku.
Sepertinya aku bisa membuat harem disini.
Ayolah! Aku tidak bisa berjalan bebas jika begini terus.
Untung saja aku bersama mereka. Jika aku berada 50-100 gadis di sekitarku, aku akan mati.
Setibanya di akademi, Akishima dan Sheeran bergegas menuju ke kelasnya. Aurora dan Evelyn masih melekat padaku. Ini membuat gadis lainnya iri pada mereka. Apalagi, Stephany, Aria, dan Millia.
Pelajaran dimulai dengan bel akademi berbunyi. Semua siswa dan siswi masuk ke kelas mereka dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.
[*^*]
Jam 12:12, kami berlima makan di tempat duduk yang sama. Akishima dan Sheeran berada di sampingku dan tidak membiarkanku untuk lolos.
“Rivandy, cuaca ini semakin ekstrim, kan?” Tanya Aurora sambil menyantap Roast Meats ukuran kecil.
“Ah. Ini karena pemanasan global yang semakin memburuk,” jawabku sambil menyantap Sashimi.
“Sayang, aku kedinginan. Bolehkah aku tidur di sampingmu?” Rengek Sheeran menahan dinginnya suhu Kota Moskow.
“Tidak bisa. Aku menolak permintaan itu,” tolakku mencicipi Sashimi.
“Eh?! Kenapa?” Tanya Sheeran terkejut dengan penolakanku.
“Habisnya orang mesum sepertimu akan terus ditolak oleh Rivandy,” elak Akishima sambil menyantap semangka miliknya.
“Blang sekali lagi aku akan menghajarmu, dasar Pelakor!” Hina Sheeran sambil mengarahkan pistolnya kepada Akishima.
“Hah?! Kalau begitu, aku akan …” Akishima mempersiapkan senjatanya.
“Kau juga, Akishima,” tambahku.
“Kenapa aku juga?” Keluh Akishima dengan penolakan itu.
“Kalian ini seperti kucing dan anjing, desu,” jawab Evelyn yang mengenakan beanie miliknya
Ilustrasi Beanie milik Evelyn
“Evelyn, kebetulan kamu mengenakan beanie."
“Soalnya, cuaca sekarang sedang tidak bagus, desu. Jadi, aku harus mengenakan beanie, desu,” jelas Evelyn sambil memotong makanan dengan pisau.
“Rivandy saja mengenakan syalnya, desu,” tambahnya sambil memakan Keju Cheddar.
“Arctic Warfare : Teleportation!”
Aku memegang piring kosong dan melakukan teleportasi menuju keluar meja. Mereka yang melihatku merasa terkejut bahwa aku punya teknik yang seperti ini.
“Aku sudah selesai. Aku mau mencuci piring dulu,” pamitku bergerak menuju ke wastafel.
“Hei! Curang! Kami belum selesai, tahu,” cocor Akishima tidak terima.
Karena aku sudah selesai makan, Aurora menghabiskan makanannya dan pamit, “Aku sudah selesai, cepatlah! Kelas sudah mau mulai,” meninggalkan mereka yang masih makan.
"Porsinya sangat sedikit. Wajar saja langsung habis,“ desis Akishima memakan semangka secara perlahan.
“Aku juga, desu,”
__ADS_1
Akhirnya, Akishima dan Sheeran menghabiskan makanannya dan segera kembali ke kelas mereka. Aku, Aurora, dan Evelyn segera menuju ke kelas. Dengan terpaksa aku menggendong Evelyn dan dipeluk Aurora dari belakang.
[*^*]
Jam 15:00, pelajaran biologi tema “Plantae” telah selesai. Ada tugas yang diberikan oleh guru untuk dikumpulkan secepat mungkin. Aku sudah menyelesaikan tugas itu 3 menit yang lalu. Jadi, aku bisa mengumpulkannya besok.
Tidak seperti biasanya. Aurora dan Evelyn segera meninggalkan kelas. Aku yang melihat itu segera memesan taksi di aplikasi Uber untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat. Jika saja suhuku turun 34 derajat, aku akan mati.
Jam 16:00, mobil taksi warna kuning tiba di apartemen Aku turun dari taksi setelah melakukan pembayaran sambil membawa barang belanjaanku. Ketika aku memasuki apartemen, aku terkejut dengan keempat gadis yang berada di dalam apartemenku.
Aku yang terkejut langsung bercocor, “Apa yang kalian lakukan disini?”
“Bibi Anita menyarankanku untuk ke apartemenmu. Listriknya mati di apartemenku,” jelas Sheeran berbohong.
“Kalau aku bosan, desu. Jadi, aku diajak Aurora untuk ke apartemenmu, desu,” jelas Evelyn sambil tersenyum jahat.
“Lalu, … Aurora dan Akishima?” Lirihku menoleh kepada kedua gadis.
“Apartemenmu sangat menarik. Jadi, sangat sulit untuk tidak kesana,” jawab Akishima dengan enteng.
“Punyamu sangat rapi dan elegan. Aku dirayu oleh apartemenmu,” jelas Aurora dengan wajah polosnya.
Rasanya percuma bertanya kepada mereka. Aku bertanya lagi, “Bagaimana bisa kalian masuk ke apartemenku begitu saja?”
“Aku meretas keamanan apartemenmu, desu. Soalnya, aku mendapatkan ilmu itu dari Klub Robotik dan Klub Programmer,” jelas Evelyn.
“Jangan gunakan ilmu yang kau dapat untuk melakukan hal itu,!”
“Aku mau keluar. Jemuranku belum diambil,” Aku bergegas keluar dari apartemenku.
“Tunggu, pintunya terkunci. Apa yang kalian lakukan?”Aku tidak bisa membuka pintu..
“Evelyn menggunakan sistem ‘Lubang Hitam’ dimana jika kamu masuk, kamu tidak bisa keluar lagi,” jelas Aurora dengan Teorema Fisika.
“Aku lupa pakaian gantiku, desu. Kita tidak bisa keluar, desu,” resah Evelyn karena kelupaan sesuatu.
“Rivandy, bagaimana ini, desu?” Evelyn hampir menangis karena tidak bisa keluar.
[*^*]
Setelah kejadian itu, aku harus hidup bersama di tengah cuaca mendung. Aku harus tetap di rumah sampai besok karena sistem “Lubang Hitam” akan mati sampai besok.
Jemuranku yang malang. Aku tidak bisa mengambilmu karena tingkah Evelyn itu.
Aku membersihkan apartemenku, Aurora dan Evelyn berbaring di kasur sambil bercerita sesuatu. Akishima nonton Cartoon Network, Sheeran membersihkan kamar mandiku. Padahal, aku tidak memintanya untuk membersihkannya. Dia melakukannya karena ia ingin menjadi istriku.
Aku ingin mandi. Tapi, aku tidak bisa melakukannya karena Sheeran dan Akishima akan ikut bersamaku. Lalu, Aurora dan Evelyn melakukan aksinya untuk membuatku tidak bisa mandi.
Kehidupan yang memalukan.
[*^*]
Jam 19:34, aku sudah mengenakan pakaian lengan pendek dan celana panjang. Namun, keempat gadis malah menggunakan handuk kimono dengan pakaian dalam yang diberikan oleh Sheeran tadi.
Aku akan muntah dengan pemandangan itu. Sudah terjebak dengan keempat gadis selama 3 jam 23 menit. Lalu, mereka semua mengenakan handuk kimono. Huft!
“Yosh, kalian semua berkumpul! Aku ingin mengumumkan sesuatu pada kalian, terutama Rivandy,” umum Akishima berdiri di atas ranjang.
“Ada apa?” Tanyaku dengan nada datar.
“Waktunya main Ousama Game!” Seru Akishima.
“Ousama Game?! Apa itu?!” Kami bertanya dengan nada bingung.
“Ousama Game adalah permainan dimana satu pemain akan dipilih sebagai Raja secara acak, dan kemudian dia memikirkan tantangan lucu ataupun aneh lalu sang raja akan memberikan 'Order' atau 'Perintah' yang harus dilakukan oleh pemain lain,” jelas Akishima mengenai Ousama Game.
“Intinya, jika kamu menjadi raja, kamu bisa memerintahkan kepada pemain lain walaupun permintaan yang aneh.”
__ADS_1
“Tapi, untuk menjadi sang raja, kamu harus memenangkan permainan Poker terlebih dahulu. Begitu.” Akishima memberikan syarat.
“Kalau begitu, aku akan menjadi raja,” gumam Sheeran tertawa jahat.
“Aku akan membuatnya jadi milikku,” isyarat Aurora.
[*^*]
Setelah penjelasan itu, permainan poker dimulai. Akishima membagikan poker itu pada pemain lainnya. Aku mengambil kartu dan melihat kartu secara seksama. Setelah ada yang janggal, aku berkata, “Akishima, 2 kartu,” lalu Akishima memberikan 2 kartu kepadaku.
Setelah melihat kartu di tanganku, Sheeran tiba-tiba berseru,“Royal Flush! Aku menang.” Yah ... Sheeran memenangkan pertandingan. Aurora dan Evelyn mendapatkan Two pair. Aku hanya mendapatkan Flush, dan Akishima mendapatkan kartu yang jelek.
Sebagai hukumannya, aku terpaksa mencium Sheeran yang membuat gadis lainnya iri dengannya. Namun, Sheeran tidak bisa melanjutkan permainan karena wajahnya semakin memerah. Bisa gawat jika dilanjutkan.
Permainan kedua dimulai lagi, aku seperti biasanya mengganti kartu dan menyusun kartu. Begitu juga dengan pemain yang lainnya. Ketika semua kartu dikeluarkan, Aurora menang. Ia mendapatkan Straight Flush, aku Full House, Evelyn dan Akishima mendapatkan Flush.
Sebagai hukuman, aku harus masuk ke Klub Saintek. Evelyn cemburu karena kemenangan Aurora yang mutlak. Akishima dan Evelyn harus menjadi budak Aurora selama 10 menit.
Permainan kedua dimulai lagi. Lagi-lagi aku harus melakukan sesuatu agar aku bisa selamat. Jika seperti ini terus, ini akan semakin gawat. Ketika semua kartu dikeluarkan, Evelyn yang menang. Ia mendapatkan Full House, sedangkan yang lainnya mendapatkan kartu yang jelek..
Sebagai hukuman, Aurora dan Akishima harus berfoto seperti kucing. Aku harus memuaskan hasratnya lagi. Kalau tidak, aku harus mandi bersama Evelyn besok.
Permainan keempat dimulai. Sheeran ikut lagi. Aku harus memenangkan permainan ini. Ini memutarkan otak dan pikiranku. Kartu dikeluarkan secara bersamaan. Akishima menang. Ia mendapatkan Royal Flush, aku dan Evelyn mendapatkan Full House, Aurora dan Sheeran mendapatkan Two Pair.
Sebagai hukuman lagi, aku harus menjadi beruang untuk menerkam Sheeran. Sheeran keluar dari permainan lagi karena ia tidak tahan dengan goncangan hatinya. Aurora dan Evelyn harus memperlihatkan ****** ******** kepada Akishima.
Permainan ini mempermalukan semua teman.
Permainan kelima. aku bertekad untuk menang. Kalau kalah lagi, aku harus menanggung malu. Jika Cherry-neesan mengikuti permainan ini, aku akan menjadi suaminya. Dia akan melampiaskan nafsu birahinya kepadaku.
Kesempatan emas berpihak kepadaku. Aku mengambil kesempatan emas itu dan membuat kemenanganku lebih besar. Keempat gadis itu mendapatkan kartu jelek mereka. Aku mendapatkan kartu yang lebih besar dari mereka, Royal Flush.
“Aku menang dari peluang yang ada,” ujarku memperlihatkan Royal Flush kepada mereka.
“Sebagai hukumannya, aku perintahkan kalian untuk …,” pintaku terpotong oleh mereka.
“Tidur bersamaku,” ucap keempat gadis itu secara serentak.
“Hei, tunggu! Apa yang kalian katakan?” Aku terkejut dengan perintah itu.
“Seorang raja tidak boleh menarik perintahnya. Harus melaksanakan perintah yang ditetapkan,” Cekal mereka berempat dengan pose nakalnya.
“Tapi …,”
“Aku mengantuk. Sudah jam 22:00. Ayo tidur!” Cela Akishima sambil menidurkanku.
“Jangan tidur!” Cocorku yang dibaringkan oleh Akishima.
“Permainan berakhir, waktunya tidur!” Aurora menguap dan tidur di sampingku.
“Tidak bisa! Aku ingin pertandingan ulang.” Aku tidak mau tidur.
“Sayang! Aku mau tidur,” pamit Sheeran.
“Hei! Dengarkan aku dulu!”
“Rivandy, jangan nakal, desu! Kamu tidak boleh melucuti kami, desu,” pesan Evelyn memelukku.
“Siapa juga yang melucuti anak kecil sepertimu?”
“Hei, dengarkan aku dulu!”
“Jangan tidur!”
Alhasil, aku tidur bersama mereka berempat dengan pakaian yang terbuka. Bau aroma Sakura dan Rose menghasutku untuk tidur. Alhasil, aku tertidur dengan pelukan keempat gadis itu.
Keesokan harinya, jam 07:00, aku terbangun, mereka masih tertidur. Karena itu, aku segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Namun, mereka mencegahku untuk bangun. Aku mencium bau klorin yang ada di tubuh mereka.
__ADS_1
Aku terpaksa berbaring di ranjang bersama mereka. Padahal, sejam lagi, aku terlambat ke akademi dan membersihkan kamar mandi wanita.
Sial! Kalau mereka semua hamil, bisa gawat.