Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Agen Rahasia : BND 1,2


__ADS_3

Masih pada pertanyaan yang meragukan. Frankfurt (agen badut), Tiger (agen pekerja kantoran), dan Panzer (agen Tentara Nazi) masih berpikir keras. Satu jawaban mengubah segalanya.


Antara Rekan Terbaik atau Musuh Terburuk. Pilihan mereka berada dalam masa depan. Sama seperti karakter pendukung yang memberikan dukungan atau karakter antagonis yang menghalangi tujuan karakter utama.


"Kami mencoba berbicara dengan Rivandy dan Shiori baik-baik. Kami datang dengan damai, sehingga tidak terjadi konflik yang berlarut." Tiger menjawab dengan profesional.


"Kami disini tidak menghalangi mereka berdua. Kami bukan orang egois lagi sejak kekalahan yang terjadi pada negara kami. Negoisasi adalah pilihan terbaik." Panzer melanjutkan.


"Aku akan mengajak mereka ke Borrusia Dortmund dan Bayern Muenchen. Sepak bola liga Jerman adalah permainan yang menyenangkan." Frankfurt mengeluarkan kertas Bundesliga.


"Itu tidak sebanding dengan EPL (English Premier League). Aku bosan menonton semua pertandingan ini. Seharusnya, kompetisi ini harus memiliki persaingan yang ketat jika mereka bisa mengatur manajemen yang baik." Dr. Cherry berkomentar tentang Bundesliga.


"Aku kasihan pada Invoker. Harusnya aku harus menghiburnya di sana." Frankfurt masih melakukan juggling.


"Invoker terlalu naif. Aku ingin menghajarnya dengan peluruku." Panzer menunjukkan pistol modern yang sudah dimodifikasi.


"Untung saja aku tidak mendapatkan misi yang merepotkan ini." Tiger menghela nafas memainkan kerah bajunya.


"Bagaimana dengan McDonald's gratis?" Tanya Frankfurt mengeluarkan kotak McDonald's dengan juggling satu tangan.


"Tentu saja! Aku tidak pernah menolaknya." Dr. Cherry mendapatkan kotak McDonald's tanpa bayar.


"Selain itu, kami akan bertanya lagi. Ini untuk terakhir kalinya." Tiger menghela nafas.


"Tanyakan saja padaku! Kalau dirasa sensitif, jangan sungkan-sungkan!" Dr. Cherry meladeni mereka bertiga.


Pertanyaan terakhir. Mereka berharap mendapatkan jawaban yang tepat. Mencari informasi dari pertanyaan itu terlalu sulit. Tidak ada pilihan lain selain bertanya.


"Apa hubunganmu dengan Regen? Dia sepertinya cukup dekat denganmu." Pertanyaan pertama dari Tiger.


"Kau tahu bagaimana kondisinya sekarang? Dia sama seperti seorang pemimpin yang sadis " Pertanyaan kedua dari Panzer.


"Bagaimana dia bereaksi denganmu? Apakah dia bersikap dingin kepadamu juga?" Pertanyaan ketiga dari Frankfurt.


Pertanyaan yang rumit lagi. Dr. Cherry harus merahasiakan semua tentang Regen. Kalau sampai jatuh ke tangan yang salah, Regen tidak akan memaafkan Cherry.


"Yang pertama, aku dan Regen hanyalah rekan agen. Tidak dekat maupun jauh. Kami jarang bertemu setelah aku ditunjuk sebagai kepala sekolah."


"Kedua, dia masih saja dingin kepada orang lain. Tidak peduli dengan pengalaman akademi, dia masih saja tidak berubah. Sama seperti tidak ada character development."


"Ketiga, setidaknya dia tidak menolak masakanku. Kalau iya, akan menimbulkan kekacauan yang hebat. Banyak kebencian yang akan dilancarkan ke Regen."


"Sepertinya kau tidak berbohong. Kau memberikan informasi tanpa kelebihan dan kekurangan." Tiger menerima jawaban dari Dr. Cherry.


"Aku pernah mendengar bahwa Regen telah mengusir Israel dari Moskow karena Israel sudah tidak tahan dengan rasisme. Mereka menarik Mosaad dari Moskow karena tidak tahan dengan pembantaian Regen."


"Seolah-olah Regen adalah Adolf Hitler yang kedua." Panzer masih berdiri dan menganggap Regen sebagai Adolf Hitler yang kedua.


"Kau tahu kan apa yang terjadi jika Agen PBB Israel saat ini? Mereka sudah tidak ada di sini. Dendam mereka membawa mereka ke jurang. Agen PBB dari Israel, Yezekiel, tewas termutilasi oleh Regen saat berada di kelas 2." Panzer membuka topi sedikit.


"Aku kasihan sekali dengan Israel. Mereka mendapatkan perlakuan yang buruk karena Kamp Konsentrasi. Regen sangat membenci Yahudi tanpa sebab yang jelas."  Frankfurt menghentikan juggling karena isu yang serius.


"Karena itu, dia selalu meneror situs Israel dan menggantinya dengan gambar kamp konsentrasi. Aku tidak tahu darimana Regen mendapat video penyiksaan kamp konsentrasi dengan video 1080p dan berwarna." Panzer melihat kasus situs Israel yang diretas 2 tahun yang lalu.


"Alhasil, PBB mengecam Regen untuk tidak melakukan rasisme atau langsung dikeluarkan dari akademi ini. Tapi, percuma saja.  Regen malah menambah masalah lagi dengan membahas rasisme Israel terhadap Palestina." Tiger mengingat perdebatan pengadilan PBB dengan Regen.


"Tidak hanya itu, ia malah membuat rasisme pada India dan menyebutkan bahwa India adalah negara yang bodoh. Tidak peduli apapun hal positif yang diraih, kesejahteraan di sana sangat minim. Alhasil, Regen menyebutkan India adalah negara yang paling buruk." Tiger melanjutkan kasus kebencian Regen terhadap India.


"Bahkan dia mengganggap bangsawan Inggris  sebagai orang gendut yang lemah dan tidak berdaya. Ironis sekali. Dia punya dendam kesumat." Frankfurt menyayangkan sesuatu.


Dialog telah berakhir. Saatnya mereka meninggalkan ruangan karena sudah puas dengan pertemuan. Hasilnya, mereka bisa menemui Shiori dan Rivandy.

__ADS_1


"Baiklah, kami puas dengan pertemuan ini. Entah kenapa kami harus menyelesaikan misi kami secepatnya." Tiger menutup pertemuan.


"Tidak apa-apa. Aku senang berbicara dengan kalian." Dr. Cherry tersenyum lebar.


"Soal kotak McDonald's, jangan lupa dimakan yah! Kalau tidak enak, silahkan protes ke McDonald's!" Frankfurt membahas kotak McDonald's seolah-olah tidak ada racun atau semacamnya.


"Ah! Aku sudah pernah ke pabriknya. Tidak ada yang mencurigakan. Rupanya kamu bekerja sama dengannya." Dr. Cherry mengingatkan memori yang indah.


"Kami pamit dulu, Nona. Aku tidak ingin lama-lama berada di tempat ini." Panzer memberikan penghormatan pada Dr. Cherry.


"Iya. Setelah bertemu mereka, jangan lupa pulang yah!" Pesan Dr. Cherry melanjutkan pekerjaan dokumen.


"Kami akan pulang begitu, Piala Dunia 2026 akan dimulai."


Agen Intelijen BND tidak ada lagi. Mereka sudah meninggalkan ruangan Dr. Cherry. Alhasil, Kepala sekolah harus bekerja lagi sebelum memakan McDonald's.


[***]


Jam 10:15, ketiga cewek sudah selesai makan. Mereka berjalan sambil membicarakan sesuatu. Bella terlalu perfeksionis, selalu saja memeriksa kondisi orang lain setiap hari.


"Shiori. Tumben sekali kamu makan McDonald's. Ada apa?"


"Itu ... Rahasia."


"Rahasia terus. Kalau kamu gak kasih tahu, aku bilang ke Rivandy bahwa berat badanmu naik."


"Jangan seperti itu! Untuk apa aku menurunkan berat badanku tapi ujung-ujungnya kelaparan juga?" Wajah Shiori menjadi memerah karena urusan berat badan.


"Kalian ini. Berat badan saja diperdebatkan. Aku kasihan pada Rivandy yang terlalu kurus." Kotori menampakkan dahinya karena kedua gadis itu.


"Emangnya kenapa?" Tanya Bella matanya tertuju pada Kotori.


"Benar juga. Aku pengen tahu apa yang dimakan Rivandy." Bella mulai berpikir keras.


"Kau pasti memikirkan masakan apa yang cocok untuknya. Kamu kan istri idaman Rivandy." Shiori mulai menggoda Bella.


"Berisik, 2-0!"


"Masih mending. Timnas Indonesia tidak ada apa-apanya."


"Nanti tahu sendiri. Andika bakal mengalahkan Jerman 3-0."


"Bermimpi terus! Kalau Indonesia, langsung nangis."


"Berisik kau! Aku akan ...."


Tiba-tiba ada serang baut yang menghampiri kami bertiga. Kotori bersedia untuk menyerang badut


"Halo anak-anak! Apakah kalian mau bermain denganku?"


"Aku bukan anak kecil!" Seolah-olah Bella dihina.


Shiori tertawa kecil. Ia merespon,"Lucu sekali. Badut ini memang menarik."


"Tidak ada yang mencurigakan di sini." Kotori mulai menyimpan piring hitam.


"Mau Balon? Aku memberikannya untukmu." Badut itu memberikan sebuah balon biru pada Shiori.


"Tidak. Terima kasih. Aku sudah dewasa, kok." Shiori menolak dengan halus.


"Jangan berbohong! Kamu masih sebanding denganku." Bella menatap Shiori sinis.

__ADS_1


"Bukan. Ini bukan balon biasa. Lihatlah!" Badut itu melenturkan badut sampai dibuat jadi boneka  salju.


"Tara!"


"Wah! Hebatnya! Aku tidak menyangka balon bundar jadi boneka salju. Danke!" Shiori menerima hadiah badut itu.


"Shiori von Zuckerberg!" Sebuah panggilan menyebalkan Shiori menoleh ke sumber suara.


"Iya?!" Shiori menoleh pada orang yang di depan matanya, mengabaikan badut itu


"Wah! Bukankah ini Pasukan Nazi yang menyerang Belanda?" Bella melirik Cosplay Tentara Nazi dari atas sampai bawah.


"Ada harimau yang berpakaian seperti pekerja kantoran." Kotori melirik dan memeriksa harimau berkostum pekerja kantoran.


"Kalian siapa? Aku tidak mengenal kalian." Tanya Shiori.


"Izinkan kami memperkenalkan diri. Aku adalah Panzer. Ini Tiger, dan badut bodoh di belakangmu adalah Frankfurt." Panzer memperkenalkan diri dengan sopan.


"Ayolah! Jangan panggil aku bodoh!" Frankfurt protes dibilang bodoh. Wajah putihnya tidak berubah meskipun marah.


"Tiger. Panzer. Aku hafal." Bella sudah menghafal nama.


"Kalian anggota mata-mata kan? Kalau begitu, apa hubungan kami dengan kalian?" Tanya Kotori tidak lengah.


"Kita bisa membicarakan ini di tempat lain. Di lorong terlalu ramai." Panzer mengusulkan membicarakan di tempat lain.


"Bagaimana denganku?" Tanya Frankfurt.


"Kau di sini saja, badut bodoh!"


Frankfurt mulai menangis. Shiori memeluk Frankfurt agar menghentikan tangisannya.


"Sudah yah! Jangan menangis! Ayo! Kita saling berpelukan dan lain sebagainya. Bagaimana?" Shiori mulai merayu Frankfurt.


"Shiori-chan!" Frankfurt memeluk Shiori dengan


"BTW, namaku Bella. Tapi, jangan panggil aku anak kecil!" Bella memperkenalkan diri sambil mengepal tangannya.


"I'm Kotori." Kotori memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.


"Dan cewek yang kayak emak-emak nafsuan Rikutarou adalah Shiori. Dia sedikit menyebalkan. Tapi, aku tidak keberatan." Bella menghela nafas ketika memperkenalkan Shiori.


"Kami sudah tahu itu adalah Shiori. Kami hanya mencari Rivandy setelah ini." Panzer mulai membahas sesuatu.


"Emangnya Rivandy kenapa?" Tanya Bella masih polos.


"Apa tujuan kalian untuk menemuinya? Bukan berarti aku curiga dengan kalian." Kotori menanyakan dengan tegas.


"Jangan bermimpi buruk! Kami akan kembali ke Munich sebelum Piala Dunia 2026." Tiger menjawab.


"Kita bisa bahas di taman. Sambil jalan-jalan. Soal Shiori dan badut aneh itu kita lupakan saja." Kotori mengajak Agen BND untuk jalan-jalan.


"Dari tadi, kek!" Bella mulai mengikuti Kotori.


"Jangan khawatir! Kami tidak akan menyakiti remaja itu." Tiger memberikan keyakinan pada Kotori.


Mereka berempat jalan-jalan ke taman untuk membicarakan sesuatu. Seperti masa depan, perekrutan, dan lain sebagainya.


Sementara itu, Shiori dan Frankfurt pergi ke tempat lain untuk membahas yang penting.  Ia juga menjelaskan bahwa Rivandy adalah lelaki yang tampan dan datar. Tidak bisa tersenyum karena masa lalu yang kelam.


Akhirnya, mereka adalah rekan, bukan lawan.

__ADS_1


__ADS_2