
Setelah kericuhan di dalam aula hanya karena wanita yang anggun dan seksi itu, gadis itu sedang kesal dengan wanita yang sombong itu harus terdesak oleh kerumunan dengan tubuhnya yang kecil ini. Setelah kerusuhan ditangani oleh panitia cukup lama, dia akhirnya bisa bernafas di luar aula dan menuju ke pembagian kelas.
Rambut yang terurai panjang sampai ke punggung warna coklat muda dicampur dengan warna maroon, mata yang besar dan imut warna coklat yang menandakan keimutan dan keluguannya. Dan tubuh kecilnya yang seukuran dengan siswa SD kelas 1. membuatnya dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.
Itulah dia, Evelyn Emily, seorang gadis yang mengira ia adalah anak kecil.
[*^*]
Setelah semuanya dikumpul, Evelyn dan siswa lainnya sibuk mencari kelas dengan papan kelas yang sangat besar dipenuhi oleh banyak nama yang terpasang disana. Mereka pun segera mencari kelas kami secara berdesakan lagi. Semoga saja dia bisa sampai di papan nama yang besar itu.
Evelyn yang sudah dekat di papan nama itu langsung. Ia tidak menemukannya dimanapun. Ini cukup melelahkan. Bagaimana cara ia bisa mencari 12 kelas dengan 288 nama murid itu? Ini akan sangat lama beresnya. Namun saat Evelyn mengecek Kelas I Saintek A, akhirnya dia menemukannya juga.
"Ketemu, desu,"
Kelas I Saintek A. Itulah kelas yang ia masuki. Dia kerahkan semua tenaganya untuk menuju ke Kelas I Saintek A. Namun,setelah Evelyn keliling selama 15 menit, dia tidak menemukan kelas yang dituju Karena dia tidak bisa menemukannya, akhirnya dia memutuskan untuk menangis di lorong.
Ketika Evelyn sedang menangis hanya karena dia tersesat, ada seorang siswa yang tinggi dan seperti pangeran mendekatinya yang sedang menangis.
"Hei, kau tidak apa-apa?" Terdengar suatu suara pangeran yang mendekat
"Aku tersesat, desu," jawabnya sambil menangis keras.
"Oo, begitu. Aku akan mengantarmu keluar dari akademi ini. Atau aku akan mengantarmu ke kantor polisi mengenai anak tersesat. Iya 'kan, anak kecil?"
"Jangan panggil aku anak kecil, desu!" Evelyn melarang untuk memanggilnya anak kecil sembari menangis.
Siswa pangeran itu menghela nafasnya melihat perbuatan Evelyn sedikit aneh padanya. Ia pun pasrah dan terpaksa menatapnya dengan penuh tanggung jawab. Evelyn berhenti menangis dan mulai menyeka air mataku.
"Jangan khawatir! Aku akan mengantarmu keluar dari sini. Jadi, kamu aman dari penculikan anak disini. Jadi, aku akan mengantarkanmu ke suatu tempat. Mau kemana, anak kecil?" Tanya siswa pangeran itu menenangkan tapi merendahkan martabaknya.
"Kelas I Saintek A," jawabnya dengan raut wajah cemburu.
"Eh? Tunggu sebentar! Kau bilang Kelas I Saintek A?" Siswa pangeran itu bingung apa yang Evelyn ucapkan.
"Tentu saja, desu. Kamu memanggilku anak kecil padahal aku sudah berumur 13 tahun, desu," protesnya kepada siswa pangeran itu.
"Kau benar," imbuh siswa pangeran itu membenarkan ucapannya yang dipenuhi dengan rasa cemburu.
__ADS_1
"Itu … sudahlah, desu! Kita harus ke ke kelas secepatnya, desu. Atau kita akan dihukum berdiri di lorong!" Evelyn berjalan menjauhi siswa pangeran itu.
"Kau benar. Kita akan kesana secepatnya," imbuh siswa pangeran itu membenarkan ucapannya yang dipenuhi dengan rasa cemberut.
Setelah berjalan lama di cukup lama di lorong akademi, Evelyn dan siswa pangeran itu tidak mengobrol karena dia selalu membuat Evelyn kesal. Siswa pangeran itu berjalan sambil membaca buku kecil, sehingga ia menandakan tanda cuek. .
Evelyn pun mempunyai rencana untuk menjahilinya. Dia berniat untuk menanyakan hal yang tidak-tidak mengenai dirinya.
"Anu … siswa pangeran," panggilannya kepada sebelah pangeran.
"Kau memanggilku? Kalau iya, ada apa?" Sahut pangeran membaca buku kecil.
"Saat kamu dipanggil kepala sekolah, kamu diajak olehnya menuju ruang guru, 'kan?" Tanyanya dengan pembicaraan mengenai kerusuhan di aula pada saat masa orientasi siswa akademi berlangsung.
"Terus?" Balas pangeran dengan singkat.
"Terus kau dan kepala sekolah akan bermesraan di ruang kepala sekolah agar tidak menghalangi kegaduhan dari siswa yang lainnya, desu,"
"Terakhir, kau berpelukan dengannya dengan romantis lalu kau membalas ciuman itu dan terjadilah adegan hangat. Setelah itu, dia akan memintanya lagi besok harinya. Artinya, kau sudah tidak perjaka lagi, desu," paparnya seperti seorang Sherlock Holmes.
"Apa yang kau bicarakan, anak kecil?" Tanya siswa pangeran itu tidak percaya dengan apa yang Evelyn ucapkan.
Evelyn berjalan cepat dan memperkenalkan diri dengan aura mengintimidasi, "Namaku Evelyn Emily, desu. Bukan anak kecil, desu," sambil mengancam siswa pangeran itu jika dia dipanggil anak kecil.
"Iya iya. Aku paham, Evelyn," sahut siswa pangeran itu mengalah.
"Aku … " ucapnya terpotong.
"Aku sudah tahu namamu. Kau pasti Rivandy," tebaknya dengan penuh keyakinan
"Oo begitu. Kita akan sampai di kelas 2 menit. Kita harus ke kelas secepatnya," sahut Rivandy merespon tebakannya.
Evelyn hanya menggerutu dengan respon yang dilancarkan oleh Rivandy.
[*^*]
Akhirnya, mereka sudah sampai di Kelas I Saintek A. Evelyn pun segera mencari tempat dudukku sementara Rivandy hanya berjalan sebentar dan menemukan tempat duduk itu. Dia dan Rivandy bersebelahan. Apa-apaan ini? Kenapa dia harus duduk bersama orang yang meremehkannya? Dia menyesal punya teman seperti Rivandy.
__ADS_1
Sebelum kekesalannya memuncak, Rivandy mulai membuka suara, "Maaf telah memanggilmu anak kecil, Evelyn. Kau cukup dewasa sekarang," sambil menoleh padanya.
"Benarkah, desu? Kau tidak berbohong, desu?" Tanyanya yang mendengar ucapan Rivandy.
"Mana mungkin aku melakukan seperti itu," balas pangeran sambil menutup buku dan menatap Evelyn
Evelyn agak senang mendengarnya. Baru kali ini dia dipanggil dewasa. Sepertinya pangeran bukan orang jahat. Rivandy memang pangerannya..
Setelah berbicara sedikit dengan Rivandy, bel berbunyi menandakan kelas dimulai. Para siswa dan siswi segera memasuki kelas dengan rapi.
Terlihat seorang guru yang cukup galak di akademi. Ia memiliki tampang yang mengerikan, sehingga banyak orang yang menjauh darinya.
Dia menjelaskan tentang aturan akademi dan menyuruh mereka untuk memperkenalkan diri. Namun, Saat giliran Rivandy tiba, dia berdiri dari kursinya dan memperkenalkan diri yang menyebabkan terjadinya kericuhan yang merusak keheningan kelas.
Dia diajak wanita yang seksi itu, sehingga popularitasnya meningkat di kelas. Seorang guru yang tidak terima keributan itu langsung memegang rotan dan menghempaskannya ke papan tulis, sehingga para siswa tersebut terdiam.
Setelah penjelasan dari seorang guru mengenai aturan dan sistem akademi, bel pun berbunyi untuk istirahat. Evelyn memutuskan untuk mengajaknya ke kantin. Namun, dia menolak karena ada urusan penting yang harus dia kerjakan.
Semoga saja Rivandy tidak berurusan dengan wanita seksi itu. Itu membuatnya muntah.
[*^*]
Setelah menjalani aktivitas masing-masing, semua siswa akademi masuk ke kelas karena mereka mendengarkan bunyi lonceng itu. Evelyn dan Rivandy duduk secara bersamaan dan kelas dimulai dengan pelajaran matematika.
Ketika guru matematika memberikan soal yang sulit, mereka tidak bisa mengerjakan soal itu. Akhirnya, ia menunjuk seseorang untuk maju ke depan.
Orang itu adalah Rivandy. Rivandy maju ke depan dan mengerjakan soal. Sesaat kemudian, mereka dikejutkan dengan berbagai soal yang sangat rumit itu yang tertulis di papan tulis, Evelyn yang melihatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Evelyn ingin menangis melihat pengerjaan soal yang memenuhi papan tulis itu.
Setelah Rivandy duduk di kursinya, dia menjadi pusat perhatian. Evelyn sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia seperti seorang pangeran matematika.
[*^*]
Akhirnya, kelas pun berakhir. Para siswa dan siswi pun pulang menuju rumah. Evelyn yang sudah mengemaskan barangnya mengajak, "Ayo, Kita pulang bersama-sama!" Sambil mengambil tasnya.
Rivandy pun mengangguk. Dia membawa semua tasnya dan pulang ke rumah.
Mereka pun keluar dari akademi dengan perasaan sedikit lelah. Mereka pun berjalan di trotoar ditengah sibuknya para pekerja di Moskow. Mereka bekerja keras untuk mendapatkan gaji mereka.
__ADS_1
Mereka berpisah di ruang. Tak ketinggalan Evelyn mengucapkan selamat tinggal kepadanya sambil melambaikan tangan dan bergerak pulang sekarang.
Ini sangat menyenangkan. Keseharian bersama pangeran memang lebih baik. Evelyn sudah punya teman sekarang.