Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Episode Spesial : Perawatan VIP


__ADS_3

Sebuah ilusi yang kejam. Ilusi yang membuat mental hancur begitu saja. Ilusi itu menghilangkan nyawa seseorang dengan pembunuhan.


Kali ini, gadis di depanku tewas di depan mataku, membuatku menderita dengan banyak darah yang berceceran di lantai, dan bajuku.


Pisau yang dilumuri darah tergelak di lantai gang. Sebuah kejadian kematian bersama turun hujan yang membasahi tubuhku.


Trauma itu akan menjadi bekas yang sangat sulit dilupakan. Terasa gelap seperti malam yang pekat.


Tak lama kemudian, mereka berdua mendatangiku, terkejut karena kematian seseorang. Karena aku, aku membunuh gadis itu. Terpaksa seorang gadis itu menyodorkan senapannya dan menembakkan padaku. Itu yang menghilangkan kesadaranku.


Aku terbangun dengan paksa karena mendapatkan pengalaman yang begitu menyakitkan. Selimut yang dipakai telah menjauh dari badan, terasa menakutkan karena tekanan itu terasa menyakitkan.


Setelah melihat sekitar, tatapanku tertuju ke depan, menatap dua gadis di depanku, dengan simpati dan rasa bersalah. Shiori dan Bella sudah bersiap untuk menanyakan keberadaan Kotori padaku.


"Aku dimana? Tempat apa ini?" Aku mengajukan pertanyaan, menelusuri ruangan dengan penglihatanku.


"Ini ruangan Shiori, kamarnya. Aku membawamu ke sini." Bella menjawab, ekspresinya berbeda dari sebelumnya. Shiori juga.


Kedua mataku terasa gelap karena darah yang melekat di tanganku. Lupakan tentang kesehatanku! Aku perlu mencari Kotori sekarang juga.


"Dimana Kotori?! Dimana? Ini pasti mimpi bukan?" Aku langsung reflek bangkit dan mendekati dua gadis itu dengan penuh tekanan.


"Maaf, Rivandy. Kotori ... sudah tewas. Kamu membunuhnya lalu kami menguburnya di suatu tempat. Setelah itu, kamu tidak bangun selama empat hari. Jadi, aku merawatmu." Shiori menjawab, sambil memegang keuda tangannya di bawah payudara.


Ternyata benar. Kotori sudah tiada semenjak aku menusuk perutnya.  Darahnya berceceran dimana-mana. Ini menyebabkan trauma yang tidak akan hilang dan pudar.


"Itu tidak benar! Aku merasakan mimpi buruk. Kotori seharusnya tidak mati. Dia pasti masih hidup dan bersembunyi di suatu tempat."


Mereka tidak menjawab, memilih untuk diam dan tidak membahas Kotori lagi. Bukannya mereka membencimu, mereka hanya gadis yang tidak berdaya.


Nada bicaraku semakin lama semakin meninggi. Mereka masih diam, malah menghiraukanku karena mereka tidak bisa melakukan apapun, hanya mengubur Kotori di tempat yang tidak diketahui siapapun.


"Kenapa kalian diam saja?! Kalian tidak marah padaku dan menyalahkanku, kan?"


Aku masih berbaring, menyuruh mereka melihat keputusasaanku.


"Kalau saja Kotori masih hidup, aku tidak merasakan penyesalan ini. Kalau dia tidak ada, aku tidak akan ada disini dan menjadi budak ****."


"Kalau saja aku tidak membunuh, dia masih hidup dan aku tidak akan mendapatkan semua penyesalan ini."


Dari semua nada keras itu, suaraku mendadak mengecil. Tenaga untuk meluapkan emosi menjadi tidak ada. Mereka mendengar emosi dan isi hatiku meskinya tatapan mereka mengabaikanku.


"Ini semua salahku! Harusnya aku tidak membunuhnya. Aku takut. Aku ..."


Tiba-tiba, sebuah tamparan yang melesat cepat dan mengenai pipiku. Tamparan yang keras berubah suasana menjadi diam dan tegang. Bella hanya diam melihat seseorang menamparku.


Shiori sudah masuk ke dalam ranjang, berniat membujukku agar memenuhi perintahnya. Orang yang berputus asa tidak boleh dibiarkan begitu saja. Perlu ajakan dan simpati agar tetap hidup.


"Sudah cukup, Rivandy! Ini semua bukan salahmu. Aku yang membuatmu seperti ini. Kau terpaksa membunuh Kotori agar CIA tidak menangkapnya. Itu sudah lebih dari cukup." Tatapan Shiori berubah menjadi seorang ibu.


"Hentikan! Jangan dekati aku! Aku pembunuh!" Aku memperingatkan Shiori untuk menjauh, tidak boleh mendekatiku.


Karena ucapan keras kepala itu, Shiori langsung menamparku, menimbulkan bekas tamparan yang kuat. Ini menyebabkan orang sepertiku harus menuruti Shiori.

__ADS_1


"Sudah! Aku tidak ingin membiarkanmu karena membunuh orang. Aku ingin memberikan perhatian padamu. Jadi, jangan pernah bicara lagi!"


Shiori menjadi marah bukan karena keegoisanku, melainkan merasa kasihan akibat menghilangkan nyawa Kotori.


"Tidak! Aku membunuhnya. Aku membuat kalian kehilangan sahabat kalian." Aku terasa panik, memegang kepala dengan kedua tangan.


Shiori mengusap kepalaku, ingin


"Istirahat dulu. Nanti malam, aku akan tidur denganmu. Ayo, Bella!" Tanpa basa-basi, Shiori meninggalkan kamarnya lalu mengajak Bella keluar.


Meskipun disuruh istirahat, aku tidak akan istirahat. Ini sama seperti rumah sakit jiwa. Terpaksa aku harus berdiam diri di ranjang Shiori selama 8 jam.


[*^*]


Jam 20:43, 9 Mei 2026, lampu kamar Shiori meredup, agar menghemat listrik. Ruangan menjadi rapi karena Shiori yang membersihkan kamar itu. Ruangan itu terasa hening, tidak ada suara sekalipun.


Seharusnya aku keluar dari kamar Shiori. Tapi tidak bisa karena Shiori akan memarahiku dan menyuruhku untuk kembali ke kamar. Soal makanan, aku tidak menyentuh sama sekali.


Tak lema kemudian, Shiori datang ke kamarku, menggunakan lingerie hitam miliknya agar bisa menggodaku setiap hari. Dia bisa saja menganggapku sebagai pasangan yang harus dirawat setiap hari.


Aku pantas mendapatkan perawatan VIP.


"Maaf menunggu lama. Kamu agak lebih baik. Tapi, aku ingin merawatmu agar kamu bisa melupakan Kotori untuk sementara waktu."


Shiori menggodaku, dia mencolekku dan berniat meraba tubuhku. Tatapannya sama seperti wanita dewasa. Tubuhnya tumbuh lebih baik semenjak tidak menggunakan Iron Maiden.


"Bisakah kita memulai malam ini? Aku ingin melahap tubuhmu agar lebih baik."


Aku mengangguk, membiarkan Shiori mencium bibirku dan meninggalkan kissmark di bibir dan leherku.


******* terus meluap, tubuh Shiori merasakan panas yang membara, membuatku gairah meskipun tidak mengeluarkan suara *******.


Sementara itu, Bella hanya terdiam di kamar mandi, melirik pakaian dalam yang dikenakan. Terlihat seperti orag dewasa, tapi tidak dengan ***********.


Ia meraba tubuhnya sejenak, mengingat kejadian yang cukup menyedihkan. Kini, ia harus membuat sebuah pilihan. Lakukan atau tidak.


Ia keluar dari kamar mandi dan menuju ke kamar Shiori. Setelah itu ia masuk ke ranjang dan melihat Shiori sedang tertidur lelap karena sudah memainkan 4 ronde. Shiori membuang lingerie hitam di selimut, tidur tanpa busana.


Aku sudah siap untuk meluapkan hasrat para gadis. Tanganku diborgol oleh Shiori agar tidak kabur. Ini giliran Bella untuk melepaskan mahkotanya padaku.


"Bella. Giliranmu. Aku mengunci Rivandy agar dia tidak kabur. Kau boleh memperkosanya sampai kau puas."


Bella mengangguk, merasakan penyesalan karena telah melukai lelaki sepertiku. Karena itu, Bella harus menghukum dirinya sendiri, menghilangkan keperawanannya.


"Maafkan aku! Aku menganggapmu pembunuh. Aku menghajarmu dan menembakmu sampai kau menangis kesakitan. Sekarang, aku akan menghukum diriku. Aku akan menghilangkan keperawananku mulai saat ini."


Tanpa pikir panjang, Bella langsung melancarkan aksinya, membuka pakaian dalam dan menjadi gadis pemuas hasrat. Gerakan Bella semakin cepat meskipun menyakitkan. Air mata Bella menetes ke perutku, terus menggerakkan pinggul dengan jeritan.


"Maafkan aku! Aku akan menjagamu. Aku tidak akan membiarkanmu menderita selamanya."


Setelah bergerak dengan cepat, Bella merasakan lebih liar. Tubuhnya merasakan kepuasan untuk pertama kalinya. Lidahnya menjulur dan matanya memejam. Tubuhku terasa lebih baik dari sebelumnya. Rasanya seorang Lolita menghajarku di ranjang.


Setelah 3 ronde lamanya, Bella memilih untuk menidurkan dirinya ke pangkuanku. Bau harum yang menyengat membuat Bella tertidur pulas.

__ADS_1


Akhirnya, Bella dan Shiori tertidur lelap.


[*^*]


Keesokan harinya, mereka tertidur dengan pulas.


Tak lama kemudian, Andika memasuki kamar Shiori untuk membayar uang sewa apartemen. Namun, ia melihat dua gadis tidur bersama dengan seorang pangeran.


Dia mempunyai niat iseng untuk


"Wah! Bella tidur bareng sama Pangeran. Rasanya romantis banget." Andika berteriak, membuat semuanya terbangun tiba-tiba.


Bella langsung terbangun dan membuang selimutnya, memperlihatkan tubuh mungil yang dipenuhi dengan cairan panas.


"Apa sih? Ganggu banget." Bella mengucek mata sebelum melihat Andika.


Bella langsung terkejut ketika Andika melihat tubuhnya. Selain Bella, Andika melihat tubuh Shiori yang menggoda.


"Andika! Kenapa kamu disini? Setidaknya ketuk pintu dulu, kek!"


"Maafin aku! Aku gak sengaja. Tapi, aku mau-" Andika menjawab sebelum amarah seorang loli memotong kata Andika.


"Tidak akan kumaafkan! Aku akan menghajarmu!" Percuma, Bella tidak mau mendengarkan Andika.


"Kabur!" Andika langsung lari, ke luar apartemen Shiori.


Sementara Bella mengejar Andika, Shiori membangunkanku dengan pelukan, sekaligus menciumku. Kemudian, dia mengajakku mandi sambil meraba tubuh, sama seperti pasangan kekasih.


Bella langsung masuk ke apartemen dan menutup pintu. Sudah tahu tidak bisa keluar apartemen karena memalukan.


Ia berniat mandi di kamar mandi karena cairan hangat itu memenuhi tubuhnya. Setelah itu, ia berniat mengajakku jalan-jalan.


Namun, begitu sampai di ruang tamu, Bella terkejut bukan main. Ia melihat Shiori memelukku sambil mencium bau tubuhku, terasa harum seperti Lavender.


"Shiori. Apa yang kau lakukan dengan pacarku? Lagian kamu pake handuk" Bella marah karena Shiori sering merayuku setiap saat.


Shiori memelukku, masih menggunakan handuk putih yang melilit tubuhnya. Sedangkan aku, sudah mengenakan kaos dan celana pendek.


"Ara-Ara. Ini bukan pacarmu. Dia tidak berbicara semenjak kejadian kemarin." Shiori menjawab, senyumannya kembali membara, kembali memainkan dadaku.


"Gak gitu juga kali. Aku mau mandi bareng sama dia. Biar dia tidak boleh dipeluk terus menerus." Bella memarahi Shiori agar melepaskan pelukan dari belakang.


"Oh! Bolehkah aku melepaskan handukku? Payudaraku terasa sesak." Shiori melonggarkan handuknya agar bisa merasakan tubuhku tanpa handuk.


"Tidak boleh! Lepaskan dia!" Tangan Bella mengepal, menyuruh Shiori untuk melepaskan pelukannya agar aku bisa bergerak bebas.


Setelah itu, kami pergi ke restoran dulu agar bisa menghabiskan waktu sebelum kembali bersekolah. Seragamku sudah berada di tangan Shiori. Jadi, dia akan mengurus semua keperluanku.


Shiori dan Bella mengenakan tanktop, di bawahnya celana pendek. Sementara aku mengenakan celana panjang dan baju berlenggak pendek.


Sesampainya di restoran dan mendapatkan pesanan, Bella dan Shiori menyuapiku, aku ingin membalas suapan itu kepada mereka. Namun, tidak bisa karena mereka ingin memanjakanku.


Meskipun aku tidak bisa bicara, mereka membantuku agar mentalku menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


Mereka tidak ingin membuat situasi menjadi lebih buruk. Sebisa mungkin kami melupakan Kotori selamanya.


__ADS_2