Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Kehidupan Sehari-hari : Rivandy, Stephany, Aria, Millia


__ADS_3

21 September 2025, jam 06:00, ada suatu pergerakan yang cepat sehingga tidak ada seorangpun yang bisa melihat mereka. Mereka yang menggunakan kerjasama dan keahlian mereka membuat mereka menjadi lebih baik dalam menjalankan misi. 


Mereka adalah ketiga gadis itu. 


Mereka sudah sampai di apartemenku dan melepaskan penyamaran mereka. Terlihat ada gadis kacamata dengan tubuh seksi, Millia Sylphia, dengan rambut pendek hitam dan warna mata hitam.


Kemudian, ada gadis berambut terurai coklat kehitaman, Stephany Rieka, dengan kulit pucat dan sedikit berisi. Lalu, ia berada di depan pintuku.


Terakhir, ada seorang gadis yang melepaskan Beanie Sinterklas nya, Aria Veronica. Terlihat warna yang aneh pada rambutnya. Gaya rambut sedikit ikat di samping kepalanya dan panjang sepunggung. Warna langka. Hanya 1 dari 1.000.000 warna yang ada di dunia. Warna matanya pun demikian. Tubuhnya sangat atletis dan kulitnya mulus seperti kristal. 


Mereka dari Klub Pangeran.


Mereka bersiap dengan perlahan dan menekan tombol secara perlahan. Ini sedikit mengganggu tetangga. Tapi, sistem sudah dibuat untuk menyelesaikan masalah itu. Sistem sudah dibuat dimana hanya ruangan tertentu yang bisa mendengar bel apartemen, sedangkan ruangan yang lainnya masih diam, dimana terdapat sebuah peredam suara untuk mencegah suara mengganggu itu masuk.


Jadi, tetangga tetap nyaman dan tenang.


Aku masih tertidur lelah segera terbangun dari ranjang. Aku yang sudah beranjak dari ranjang dengan rambutku sedikit berantakan itu segera menuju ke pintu dan melihat ada 3 gadis yang sedang menungguku. 


Aku membuka pintu dan mereka menyapa, "Yahoo, Pangeran! Kami datang," sambil memelukku dengan erat.


"Kalian, ada yang bisa kubantu?" Aku bertanya dengan kesadaranku yang belum pulih.


"Kami datang kesini untuk mengajakmu ke suatu tempat yang menyenangkan," jawab Millia dengan gerakan genitnya


"Rivandy, kamu baru bangun?" Tanya Stephany sambil memasuki apartemenku.


"Yah … begitulah. Masuklah, aku mau mengambil handuk ku dan segera mandi," jawabku sambil mengambil handuk dan segera mandi 


"Bolehkah aku mengintipmu?" Tanya Aria dengan memegang ponselnya.


"Tidak boleh. Aku malu."


"Ayolah, Rivandy! Aku ingin melihatmu mandi," rayu Millia sambil mengelus tanganku.


"Um. Baiklah," jawabku mengalah dengan rayuan itu.


Aku membiarkan mereka mengintip. Sebenarnya, aku tidak terlalu keberatan jika Aurora dan Evelyn mengintipku mandi. Hanya saja aku sangat terganggu dengan Sheeran. Dia bisa saja melancarkan aksinya untuk melepas keperawanannya. Akishima tidak membiarkanku mandi. Dia akan senantiasa menempelku jika aku mengambil handuk ku.


Setelah aku mandi mereka yang sibuk bercerita terkagum dengan tubuhku yang tinggi dan sixpack. Alhasil, mereka bergerak cepat dan segera memelukku.


"Tunggu! Apa yang kalian lakukan?" Aku tidak nyaman dengan pelukan tiba-tiba.


"Tubuhmu sangat langka. Aku tidak tahan lagi," jawab Stephany sambil meraba dadaku.


"16 Juni 2013. Tidak ada yang semuda itu," sahut Millia sambil mengelus perutku.


"Jangan disitu! Aku mulai terangsang," keluhku sambil menahan malu dan nafsuku.


"Kamu memang tampan dan nakal, Pangeran Rivandy," rayu Aria ambil mengelus tanganku.


[*^*]


"Lalu, apa yang membuat kalian kemari?" Tanyaku mengenai kedatangan mereka.


"Aku disini untuk mengajakmu kencan," jawab Stephany dengan singkat.


"Kalian mengajakku kemana?" Tanyaku.sambil mengenakan kaos.


"Kami akan mengajakmu ke restoran, ke taman, ke mall, dan ke hotel," jawab Millia sambil memperlihatkan ponselnya kepadaku.


"Kalau bisa, aku akan mengajakmu keluar kota dan melamar di sana. Sihihihi," sambung Aria tertawa kecil.


"Jika saja Aurora dan Akishima mengetahui ini, mereka akan mengutukku jadi batu," pikirku mendengar kata hotel.


"Kalian bisa menunggu selama 10 menit? Aku harus membersihkan dapur dulu sebelum pergi," tanyaku sebelum menuju ke dapur sambil mengenakan celanaku.


"Aku bisa menunggu," jawab Stephany.

__ADS_1


"Bisa, sayang," jawab Millia dengan penuh kasih sayang.


"Aku menunggumu 10 menit. Jika lari, kamu harus menikahiku," lontar Aria sambil menggunakan stopwatch di handphonenya.


"Aku tidak akan lari, kok," gumamku mendengar lontaran Aria itu


Setelah aku membersihkan dapurku, aku mengenakan jaket dan mengajak mereka untuk makan di restoran. Dengan pelukan dari tiga gadis, dua dari samping dan satu dari belakang. 


Bau aroma yang mereka lontarkan benar-benar menghasutku untuk menikahi mereka dan mempunyai anak yang lucu. Aku harus menahan aroma itu sekitar 20 menit agar aku tidak mematuhi hasratku. Jika saja orang lain di posisiku, dia akan menjadi liar dan memangsa 3 gadis polos itu.


Sesampainya restoran yang direkomendasikan pada Piala Dunia 2018 di Moskow, kami masuk restoran itu dan sedikit cibiran penghuni restoran menyerangku. Kami duduk di hadapan dan sebelah. Lalu, pelayan itu muncul dan segera menulis pesanan.


Aku dan Aria memilih masakan spageti, Millia dan Stephany memilih masakan sayur. Setelah itu, pelayan itu segera bergerak dan memasang pesanan ke koki. 


Aku sedang dipeluk oleh Millia dan Stephany. Aria sibuk mengutak-atik handphone untuk mengurus pernikahan. Jadi, aku harus menahan aroma wangi mereka. Sepertinya mereka bangun lebih awal agar mereka mendapatkan hal yang seperti ini. 


Setelah pesanan siap, aku dan ketiga gadis itu berswafoto bersama. Mereka menikmati pagi hari yang cerah karena sebelumnya cuaca mendung yang menyerang kota Moskow 2 hari yang lalu.


Aku juga menikmati momen ini meskipun aku tidak bisa tersenyum hanya karena mimpi buruk dan trauma menyerangku.


Setelah sarapan, aku membayar tagihan mereka semua sebagai pria sejati. Mereka semakin menyukaiku dengan perbuatanku. 


Jam 08:21, mereka mengajakku ke taman untuk bisa melakukan hal romantis seperti sepasang kekasih. Jika Sheeran melihatku bersama gadis lain, taman itu akan hancur seketika. Aku tidak ingin terjadi hal seperti itu hanya karena masalah sepele. Mereka masih polos dan belum tahu yang namanya perselingkuhan. 


Jika mereka benar menikahiku, aku akan mengajari mereka tentang rumah tangga dan lainnya. 


Tapi, ini bertentangan dengan akademi. Cherry-neesan membeberkan rahasianya kepadaku bahwa penyebab 70% gagal dalam akademi salah satunya adalah kawin lari. Jadi, aku harus berpikir 100 sebelum melakukan itu. 


Kenapa tidak tunangan selama 3 tahun? Setelah lulus akademi, baru bisa menikah walaupun ditempatkan misi yang berbeda oleh PBB. 


Ini lebih baik daripada kawin lari. 


Setelah itu, mereka mengajakku ke mall untuk melihat barang yang mereka beli. Aku yang dipeluk oleh mereka bertiga yang nyaman itu merasa terganggu karena banyak rasa cemburu yang mereka lontarkan padaku. Namun, ketiga gadis itu merayuku agar tidak mendengarkan mereka.


Setelah membeli beberapa barang, aku membayar dengan kartu kredit, mereka mengajakku ke hotel. Namun, karena ini masih jam 14:02, mereka mengajakku ke apartemen milik Aria dan menyiapkan rencana mereka untuk meluapkan hasrat mereka. 


Setelah tiba di apartemen Aria, kami membuka pintu dan melihat ruangan Aria sangat rapi. Ia berkata bahwa ia sering membersihkan ruangannya sebagai bukti calon istri idaman. Aku sangat terkesan dengan itu. Hanya saja, aku ingin menirunya.


Aku berpikir sejenak dan menjawab, "Aku pilih ikan salmon"


"Kalau aku Scshi," jawab Stephany dengan penuh semangat.


"Sama," jawab Millia mengikuti pesanan Stephany.


"Makanan siap dalam 30 menit. Siapkan obrolan kalian untuk menunggu!" Pamit Aria sambil mengenakan celemeknya.


Aku, Stephany, dan Millia menunggu sambil membantu mereka mengerjakan tugas mereka. Aku sedikit bertanya kepada mereka mengenai rencana mereka saat lulus nanti. Mereka tidak terlalu mengetahui hal itu. Sudahlah! Mereka akan tahu nantinya.


Setelah Aria memasak, Aria menyajikan masakannya di atas meja. Kami yang menunggu segera kesana dan makan dengan lahap. 


Namun, 2 menit setelah makan, aku merasa ada yang aneh dalam diriku. Aku merasa kehilangan konsentrasi. Lalu, tubuhku kaku dan tidak bisa digerakkan. Setelah itu, aku memejamkan mataku dan pingsan dalam pangkuan mereka. 


Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. 


[*^*] 


Jam 23:23, aku terbangun dari silumanku dan melihat di sekitar. Aku melihat mereka melakukan ritual mereka agar mereka semakin cinta padaku.


"Aku mencintaimu, Rivandy."


"Setelah ini, aku akan menjadi istri Rivandy."


"Rivandy memang hebat, dia kuat selama berjam-jam. Aku harus pakai pil biar sama dengannya."


Sial! Aku mulai lagi dengan mereka. 


Mereka dengan liar menghisap cairanku dengan usaha mereka. Mereka yang sudah kerasukan akan cinta tidak membiarkan orang lain merenggutnya. Aku yang dihisap oleh mereka terpaksa menerima hal itu. 

__ADS_1


Aku tidak bisa mencurigai, melawan, membantah, memberontak, dan menyakiti wanita 


Itu semakin mendekati mimpi burukku.


Aku yang berada di ranjang bersama mereka harus memuaskan mereka. Mereka ingin menjadi suamiku. Namun, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa berpikir bagaimana cara mendapatkan jalan keluar yang terbaik. 


Cherry-neesan menyuruhku untuk lulus akademi. Kalau tidak, mimpi buruk dan trauma akan terulang lagi. 


Mereka ingin menjadi suamiku tanpa alasan yang jelas. Tapi, harus menunggu 3 tahun untuk bisa melakukannya. Karena mereka takut aku direbut oleh yang lain, aku tidak bisa bersama mereka terus jika aku direbut Aurora, Akishima, Evelyn, Sheeran, Bella, Kotori, Shiori, dan Rin. 


Mereka akan menjadi ancaman bagi ketiga gadis itu dan akan menganggap mereka sebagai perebut lelaki orang lain. Oleh karena itu, mereka harus melepaskan mahkota mereka agar mereka menjadi lebih aman.


Setelah ritual itu berakhir, mereka memamerkan kecantikan mereka agar aku bisa menerkam mereka. Aku terpaksa melakukannya. Permainan ranjang dimulai lagi.


"Rivandy. Kamu memang nakal."


"Kya! Jika begini terus, aku akan hamil."


"Pangeran! Aku ingin mempunyai 3 anak. Tolong kabulkan, ya!" 


Begitu yang mereka lontarkan. Mereka terus mengoceh seolah mereka milikku. Mereka tidak akan membiarkan gadis lain mendapatkan ini. 


Mimpi buruk semakin lama semakin mendekat.


Aku tidak bisa melawan. Aku hanya punya dia pilihan, menyerah atau lari.


Aku harap ini bukan nyata. 


Aku harap ini hanya mimpi.


[*^*]


Jam 06;00, aku mendengarkan teriakan dari Aria.


"Rivandy, Bangun! Kita ke sekolah, nih." 


Aku melihat sekitar terlebih dahulu. Aku bernafas lega. Ini hanya mimpi. Mereka tidak sejahat itu. Lalu, Millia dan Stephany mempersiapkan peralatan sekolahku dan senjata yang digunakan telah bersih mengkilap.


Aku bergegas menuju ke kamar mandi dan membiarkan mereka mengintipku mandi. Lalu, aku mengenakan pakaian akademi dan segera menuju ke meja makan. 


Banyak pikiran yang menghantuiku. Namun, pikiran itu pecah dengan sebuah suara.


"Ada apa?" Aria melihatku sedang melamun.


"Kamu dari tadi melamun," lanjutnya.


"Tidak. Aku hanya ... memikirkan mimpi buruk," jawabku.


"Kamu mimpi apa semalam?" Tanya Millia penasaran.


"Aku bermimpi kita melakukan ... ini," isyaratmu dengan menahan malu.


Mereka tertawa dengan reaksiku. Stephany merespon, "Aku tidak pernah melakukan itu,'


"Kami bisa melakukannya jika kami sudah menikah denganmu," jawab Millia.


"Aku terkejut karena kamu tiba-tiba pingsan. Jadi, aku membawamu dan membaringkan mu," jelas Aria cemas padaku.


"Makanya istirahat yang cukup!" Tegur Millia dengan aura keibuannya.


"Begitu." Aku lega dengan itu.


Itu hanya mimpi saja. Mimpi yang menyerangku.


Setelah sarapan, kami pergi ke akademi dengan pelukan yang hangat. Setiba di akademi, mereka bertemu dengan 4 gadis yang menghadang jalan. Mereka sudah siap dengan senjata mereka untuk merebutku kembali.


Aku tidak bisa melakukan apapun dengan konflik ini. Ini sudah terlambat. Ini akan menjadi peperangan yang sengit antar kubu.

__ADS_1


Sial!


Konflik ini akan terjadi lagi.


__ADS_2