Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Episode Spesial : Catur Hexagon


__ADS_3

25 September 2025, jam 10:00, pelajaran militer berakhir. Semua siswa dan siswi Kelas I Saintek A bernafas lega karena pelajaran militer yang cukup berat berakhir juga. Aku yang berpartner dengan Nina Alpenliebe segera menghentikan aktivitas pelatihan kami.


Pak Stephan mengumumkan, “Baiklah! Pelajaran militer telah berakhir. Sekarang, kalian bisa istirahat dengan tenang. Aku segera ke kantin untuk membeli makanan. Selamat tinggal,” membuat siswa dan siwi bergegas menuju ke kantin.


Aku dan Nina berpisah sambil melakukan jabat tangan sapaan kami. Aku dan Nina sudah menghafalnya. Kami selalu melakukan itu.


“Rivandy. Aku akan mengajak Zera untuk ke kantin. Kamu bisa ikut bersama Aurora dan Evelyn,” ajak Nina dengan ramah.


“Iya. Tapi, mereka tidak ada. Aku harus ke perpustakaan dulu untuk mengembalikan buku,” jelasku sambil menampilkan buku kepada Nina.


“Jangan lupa segera kesini! aku akan melakukan sesuatu pada senjata ini,” nasehat Nina sambil memperlihatkan senjatanya kepadaku.


“Baiklah, aku akan pergi. Bye! Nina!” Aku pamit undur diri dengan jabat tangan sapaanku.


“Bye! Rivandy!” Nina membalas dengan teknik yang sama.


Setelah itu, aku menuju ke perpustakaan sementara Nina menuju ke kelas Saintek F untuk mengajak Zera yang suka tidur di kelas tanpa alasan yang jelas.


[*^*]


Di koridor akademi, aku merasakan aura yang cukup sial. Aku melihat kedua siswa yang sedang menatapku dengan tajam. Aku tidak terlalu khawatir dengan itu. Itu bukan anggota Klub Pangeran yang akan menangkapku. Mereka adalah Denis dan Hammer.


Denis dan Hammer mempercepat langkah mereka dan melakukan pelukan pada tubuhku. Aku sudah terbiasa dengan pelukan itu. Itu lebih baik daripada dipeluk oleh anggota Klub Pangeran.


Tak lama kemudian, Zhukov muncul di belakangku dan memanggil, “Rivandy. Kamu dipeluk lagi?” Menahan tawanya.


“Iya,” jawabku sambil menoleh ke atas dengan sesaat.


“Ri-chan! Ayo main Catur Hexagon!” Ajak Denis sambil memperlihatkan catur miliknya.


“Iya, Ri-chan. Permainan ini seru, lho,” lanjut Hammer.


Ilustrasi Catur Hexagon.



“Tidak! Aku tidak bisa main. Aku harus mengembalikan buku di perpustakaan sekarang juga,” tolakku sambil menjauh dari mereka.


“Ayolah, Ri-chan! Ini tidak akan lama, kok,” rayu Hammer agak aku terperangkap dengan godaan itu.


“Tidak usah cemas! Aku yang mengembalikan bukumu. Setelah itu, kita akan bermain, Oke?” Zhukov mengambil bukuku dan mengajakku bermain.


“Ok.” Aku mengalah dengan ajakan Zhukov.


Setelah itu, Zhukov pergi ke perpustakaan dan segera mengembalikan buku yang kupinjam. Kemudian, ia kembali menuju ke tempatku berada dan mengacungkan jempol sebagai tanda selesai.


Kemudian. kami berjalan menuju ke tempat tongkrongan kita agar kami bisa bermain permainan tanpa gangguan.


Setelah sampai di tempat yang kami tuju, aku melihat ada dua orang yang sedang menghampiriku dengan mata yang berbinar-binar.


“Wah! Ada pangeran!” Puji siswa berambut merah semangat di hadapanku.


“Iya. Dia ganteng banget. Pasti dia punya pacar,” lanjut siswa yang lainnya.


“Pangeran! Kamu sudah punya berapa pacar? Aku yang jomblo ngenes ini salut sama kamu,” puji Andika yang memegang tanganku dengan erat.


“E ...” Aku berpikir mengenai kedua remaja itu.


“”Oh iya. Kenalin. Namaku Andika Prasetyo,” jawab Andika memperkenalkan dirinya sambil memegang tanganku dengan erat.


“Namaku Yudha Rizki Nugraha,” jawab Yudha memperkenalkan dirinya.


“Andika, Yudha,” gumamku menghafal nama mereka agar aku tidak lupa.


“Denis. Mana caturnya? Aku mau main, dong,” tanya Andika sambil menghampiri Denis.


“Hammer. Aku akan mengalahkanmu,”

__ADS_1


Sebelum permainan dimulai, aku menghampiri Zhukov yang sedang terdiam santai melihat persahabatan Denis, Andika, Yudha, dan Hammer. Aku berbisik, “Zhukov, apa kamu mengenal mereka?”


Zhukov menjawab, “Sebelumnya tidak. Tapi, semenjak Denis dan Hammer kenal dengan mereka. Jadi, aku kenal mereka,” dengan santai.


Aku lega dengan itu. Aku pikir mereka adalah orang asing yang akan menculikku. Setelah pengenalan yang cukup akrab, kami segera berkumpul di meja besar dan meletakkan catur segi enam bersama dengan alat virtual.


Sebelum bermain, kami harus menggunakan alat virtual di mata kami. Lalu, kami tertidur di kursi yang sudah disediakan oleh Andika sebelum permainan dimulai.


Kesadaran kami berpindah ke sebuah dunia paralel dengan monitor yang berada dalam di hadapan kami. Aku menuliskan namaku sebelum memainkan permainan catur virtual itu. Cara memainkannya cukup mudah. Ini seperti catur pada umumnya. Hanya saja, ini dimainkan oleh enam orang.


[Hallo, Rivandy! Selamat Bersenang-Senang Dengan Permainan Ini, ya!]


[Kamu Diundang oleh Denis untuk Bermain Secara Menyenangkan]


[Semoga Harimu Menyenangkan!]


Setelah notifikasi itu, aku dibawa oleh main server oleh Denis. Masing-masing kami memilih warna kesukaan kami yang tertera pada monitor di hadapan kami.


[Nama] | [Warna]


[Rivandy Lex] | [Hitam]


[Andika Prasetyo] | [Merah]


[Denis Spyxtria] | [Hijau]


[Hammer Rizka] | [Kuning]


[Zhukov Rekovic] | [Putih]


[Yudha Rizki Nugraha] | [Biru]


Setelah itu, kami dihadapkan dengan catur bentuk Heksagonal dan bidak catur dengan warna yang telah dipilih oleh masing-masing pemain. Aku berhadapan dengan Hammer, Andika berhadapan dengan Zhukov, dan Denis berhadapan dengan Yudha.


Permainan pun dimulai. aku memulai dengan memajukan bidakku untuk ke depan. Mereka menggerakan bidak catur mereka seolah-olah mereka merencanakan sesuatu. Aku hanya menggerakkan bidak secara perlahan. Denis dan Andika membuat pola mereka, sehingga mereka dapat menjalankan kuda mereka.


Hammer dan Yudha menggerakkan bidak mereka agar mereka bisa membuka peluang untuk menggerakkan gajah. Zhukov hanya membuat pertahanan agar mereka tidak bisa menerobos markas musuh.


Aku pikir ini adalah sistem saling serang. Ternyata tidak. Mereka bekerjasama untuk menjatuhkanku. Bidak milik Zhukov hanya terdiam sambil melakukan formasi untuk mencari celah.


“Tunggu dulu! Bukankah ini curang?” Aku berpikir ada keanehan di sini.


“Kenapa mereka semua mau menyerangku?”


“Kalau begini, aku pasti kalah,” lanjutku sambil menggigit jariku.


Aku menggerakkan gajah ke depan untuk memakan kuda milik Andika. Namun, gajahku dimakan oleh benteng milik Denis. Aku mencoba menggerakkan kudaku untuk menyerang. Namun, kudaku dimakan oleh menteri milik Hammer. Ini membuat peluang mereka semakin meningkat untuk mengalahkanku.


Denis tertawa dengan aku yang terpojok. Ia mengejek, “”Kau butuh 100 tahun untuk mengalahkanku, Ri-chan!” Kemampuan caturku.


“Ri-chan tidak bisa mengalahkanku yang sangat hebat ini,” pujinya pada diri sendiri.


“Kamu tidak hebat. Kamu membantu lawanmu untuk menjatuhkanku,” sindirku dengan kemampuan Andika yang hebat itu.


“Sebelum itu, kamu harus kalah terlebih dahulu untuk menjalin persahabatan kami,” gombal Hammer biar aku kalah dalam permainan ini.


“Zhukov, lakukan sesuatu!” Aku mencocor kepada Zhukov yang masih fokus bertahan.


“Maaf, Rivandy! Sebenarnya, aku kalah dalam permainan ini untuk pertama kalinya,” jawabnya dengan jujur dan santai.


“Sial! Tidak ada yang bisa kulakukan. Kecuali …,” pikiranku tertuju pada kelemahan strategi ini.


Aku segera memajukan menteriku untuk memancing mereka Aku kabur menuju ke tempat raja Hammer dan melakukan skatmat, sementara yang lainnya bertahan untuk mengulur waktu mereka.


Pada saat itu juga, Zhukov melakukan polanya untuk melakukan serangan yang tidak terduga, sehingga ia mengandalkanku agar aku bisa memenangkan pertarungan ini.


Karena raja Hammer di-skatmat .ia memindahkan rajanya aku bergerak cepat untuk membuat Andika skatmat. Benar saja, Andika tidak bisa menyerangku. Ia mundur ke belakang untuk menjaga raja.

__ADS_1


Zhukov melakukan skatmat kepada Denis, agar Denis harus mundur untuk menjaga raja. Tinggal Yudha yang menyerangku. Aku menghabisi dengan cepat, yakni membunuh bidak menteri milik Yudha dengan bidakku. Ini kesempatanku untuk menyerang.


Dengan teknik yang kupelajari dari buku, aku memakan bidak Andika dan Hammer secara bersamaan. Andika dan Hammer yang terpojok itu segera menyatukan kekuatan mereka untuk menghentikan kekuatan manuver menteriku yang sangat cepat itu.


Setelah itu, bidakku yang sedang bertahan segera menyerang Yudha yang sedang lemah itu. Peluang kemenangan ada di tanganku. Aku yang tidak disangka akan ini terjadi. Aku menghabiskan bidak Andika dan Hammer, sehingga mereka keluar dari permainan karena raja mereka tidak bisa dilindungi lagi.


Denis masih bertahan dan menyerang balik Zhukov. Setelah aku menghabiskan bidak milik Yudha, aku menyerang Zhukov dengan bidakku yang kecil. Zhukov dan Denis memilih bekerja sama untuk mengalahkanku.


Percuma saja. Dengan IQ 168, aku bisa mengalahkan mereka dengan polaku yang tidak bisa ditembus. Denis dan Zhukov berusaha untuk mencari celah untuk menjatuhkanku. Mereka melakukan serangan gabungan mereka untuk membuatku terjauh dengan kesombonganku.


Aku tidak terlalu ingin menang. Hanya saja, aku mengharapkan permainan yang menyenangkan.


Dengan teknik catur yang kubaca di PDF, aku melancarkan serangan yang cukup fatal, sehingga kekalahan mereka ada di depan mata mereka.


Namun, karena kesalahan fatal yang kubuat, mereka bisa menembus pertahananku dan aku membuat menteriku dimakan oleh kuda milik Zhukov.


Zhukov yang berada dalam kesempatan emasnya menantang, “Coba kamu kalahkan kami, Rivandy! Aku sudah tahu kelemahanmu.”


Aku yang mendengar tantangan itu mencekal, “Hmph! Coba saja kau bisa. Aku memang melakukan sedikit kesalahan,” dengan cukup santai.


Aku dan Zhukov melakukan serangan mati-matian untuk menentukan kemenangan kami. Kami saling memakan bidak kami agar bisa mengakhiri permainan ini.


Aku dan Zhukov menguras otak kami agar kami bisa mengakhiri permainan ini. Aku menghabiskan waktu di dunia paralel ini untuk mengalahkan semua orang yang ada di hadapanku. Namun, itu belum seberapa dengan orang yang sudah master dengan permainan ini.


Jika mereka mengetahui bakatku dalam catur hexagonal, aku akan direkrut oleh team Esports (Virtus.pro, Liquid, dan Natus Vincere) untuk memenangkan lomba ajang internasional.


Namun, sesuatu yang menjanggal telah merasuki kami. Kami memikirkan sesuatu di tengah pertempuran kami yang cukup sengit. Kami menghabiskan bidak kami, sehingga kami menyisakan bidak kami yang mungil itu.


“Kena kau! Ri-chan dan Zhukov! Aku akan menang!” Tekad dari seorang pemain yang sedang tertawa kecil.


Denis melancarkan serangan rajanya. Ia memakan bidak kami dengan lahap. kau dan Zhukov terkejut dengan itu. Bagaimana bisa dia menyerang hanya dengan raja? Jika dia hanya memiliki raja, maka dia akan keluar sebagai kalah. Namun, ini tidak. Ternyata, selama ini di bersembunyi di belakangku sehingga, aku dinyatakan kalah.


Zhukov yang melihat itu harus menahan serangan Denis. Namun, karena ia hanya memiliki bidak saja, ia tidak mungkin menahan serangan itu. Denis pasti menang.


Ia membiarkanku dan Zhukov untuk bertarung. Lalu, setelah kami terlena dengan pertarungan sengit itu, dia bersembunyi di belakang dan menerkam kami di belakangku.


Sial, aku lengah lagi! Jika aku membantai bidak Denis terlebih dahulu, aku tidak akan kalah begini.


Beberapa saat kemudian, Zhukov dinyatakan menyerah. Ia tidak bisa mengalahkan Denis yang menjadi Impostor pada Game Among Us.


[Hasil Pertarungan]


[Denis Spyxtria {Winner}]


[Zhukov Rekovic (Lose)]


[Rivandy Lex (Lose)]


[Yudha Rizki Nugraha (Lose)]


[Andika Prasetyo (Lose)]


[Hammer Rizka (Lose)]


Setelah hasil yang terpampang di notifikasi oleh semua pemain, mereka langsung keluar dari permainan dan kesadaran kami menuju ke dunia nyata.


Setelah itu, kami membuka alat virtual kami dan segera untuk membereskan permainan. Karena jam menunjukkan pukul 10:25, kami harus bergegas menuju ke kelas kami masing-masing.


Setelah berpamitan dengan mereka, aku berlari ke perpustakaan untuk meminjam buku lagi. Lalu, aku bergegas menuju ke kelas dengan teknik “Arctic Warfare : Stealth!” agar aku tidak ketahuan oleh anggota Klub Pangeran. Namun tidak dengan Aurora mode agresif.


Sesaat aku kembali ke kelas, aku bertemu dengan Nina dan siswa yang lainnya. Kami melanjutkan pelatihan militer kami dari bimbingan Pak Stephan yang ramah itu.


Kami mengasah teknik kami agar kami bisa direkrut oleh PBB untuk menjalankan misi perdamaian.


Jam 15:00, semua siswa akademi diperbolehkan pulang. Aku berpisah kepada Nina dan segera pulang. Aurora pasti menungguku.


Namun, sebelum itu terjadi, aku melihat seorang gadis dengan nuansa gelap di gang yang sempit. Ia tidak mau memunculkan diri karena suatu hal.

__ADS_1


Aku menyadari sesuatu yang janggal.


“Akishima?”


__ADS_2