
22 September 2025, aku mendapatkan situasi yang memanas pada saat memasuki gerbang akademi. Ada 3 gadis dengan 4 gadis yang saling berhadapan. Konflik mereka akan semakin memanas. Dua kubu dengan satu tujuan,
Akishima melalui berbicara. Ia mulai berucap, “Hoho. Kita lihat apa yang ada disini,” dengan pose menyombongkan diri.
“Ada yang bisa dibantu? Aku tidak mau melawan kalian,” jawab Stephany dengan bijak.
“Aku ingin Pangeranku kembali. Dia harus berada di sisiku,” tegas Aurora mempersiapkan Koch UMP-nya.
“Hmm. Aku tidak percaya denganmu, dasar sok manis,” tegas Aria sambil memelukku dengan erat.
“Lepaskan Pangeran Rivandy, desu! Atau aku akan menembak kalian, desu!” Ancam Evelyn sambil mengarahkan senjatanya kepada mereka.
“Aku sudah menyantap Pangeran Rivandy dengan nikmat. Cairannya yang sangat kental dan enak itu membuat kami kecanduan. Kalian tidak bisa bersama dengannya. Dia sudah menjadi milik kami, ” jelas Milia dengan pikiran mesumnya.
“Tch! Aku benci orang mesum sepertimu. Sayangku tidak akan bersama orang mesum sepertimu. Kalau kamu hamil, dia akan meninggalkanmu dan berselingkuh denganku. Lalu, kamu menjadi janda yang tidak berguna,” ejek Sheeran dengan aura psikopatnya sambil tertawa.
“Katamu sangat sarkas, Sheeran,” komentarku mengenai ucapan Sheeran.
“Coba saja kalau berani, dasar mesum!” Balas Millia yang dihina oleh Sheeran.
Akishima mulai bertransformasi, “Kalau begitu, Power Ranger : Berubah!” Akishima berubah menjadi Power Ranger, sementara seragam akademinya dijaga oleh Aurora. Jika Sheeran mengambilnya, ia akan menyita seragam itu.
Aurora dan Evelyn sudah mengisi senjatanya untuk melakukan peperangan untuk merebutku. Sheeran mengeluarkan Five Seven dan pil kuat agar libidonya meningkat drastis.
Stephany, Aria, dan Millia mempersiapkan senjata mereka. Senapan serbu dengan pelindung di depannya. Pelindung itu bisa dilepas kapan saja. Ini seperti turret senapan.
Mereka pun menyerang ketiga gadis itu secara bersamaan. Akishima dan Aurora maju untuk maju di garis depan. Evelyn menembak minigun secara cepat dan terpusat. Sheeran menyusup agar bisa menangkapku dan membawaku ke semak-semak biar bisa melakukan penetrasi.
Aku yang terdiam kaku hanya melihat pertarungan itu.
Aurora bergerak cepat ke depan Aria melakukan tembakan kepada Aurora. Namun, Aurora meloncat ke atas dan melakukan salto Setelah itu, ia menembak titik terlemahnya. Namun, tembakannya mengenai punggungku.
Aku yang berteriak itu segera dicium oleh Millia agar aku diam. Aurora yang sudah mendarat sangat kesal karena kau dicium oleh mereka.
“Tch! Dasar Janda Licik! Dia mencium Sayangku. Aku akan menembakmu,” tekad Sheeran sambil mengarah tembakan dari samping.
“Aku akan membunuhmu, Janda!” Sheeran melepaskan tembakan dan menuju ke Millia. Namun, aku terkena tembakan dari samping. Peluru Sheeran hampir mengenai organ dalamku.
Sheeran yang melihat itu berkata, “Maafkan aku, Sayang! Aku menembakmu,” sambil menahan tangisannya.
“Apa yang kalian lakukan? Kalian hampir membunuhnya."
“Gadis licik seperti kalian yang membuatnya menderita."
“Rasakan ini! Power Ranger : Gomu-Gomu no Sniper!”
Akishima menembak dengan sniper dan pelurunya melesat menuju Stephany. Namun, Millia mengangkatku dari udara dan aku terkena tembakan di bagian perut.
“Aaa!!”
“Dasar bebal! Kau akan membunuhnya, kau tahu,” cocor Millia sambil menurunkanku ke bawah.
“Seharusnya aku berkata begitu,” cekal Akishima mendarat di lantai.
Pertarungan semakin memanas dengan banyak peluru yang melesat.
[*^*]
Di tengah pertarungan, ada dua gadis yang mengintai pertarungan ini Gadis itu menonton pertarungan itu. Sepertinya mereka kalah jumlah. Farah Fadillah dan Mei Dina.
“Dina, kirimkan pesan segera!” Pinta Farah yang sedang mengenakan teropong dua mata.
“Siap!” Dina mengambil handphonenya dan membuka aplikasi Telegram untuk memanggil bantuan.
Dia mengirimkan pesan kepada semua anggota Klub Pangeran untuk memanggil bantuan. Dengan pesan itu, semua anggota Klub Pangeran yang berkisaran 65 orang segera berbondong untuk memojokkan mereka.
[Telegram]
[Klub Pangeran Akademi Militer Spyxtria]
[Darurat! Camelia 1 Meminta Bantuan! Segera Menuju ke Gerbang Akademi!]
Anggota Klub Pangeran segera mengambil senjata mereka dan segera bergegas menuju gerbang akademi. Mereka membiarkan ketiga gadis itu bertarung dulu sampai titik penghabisan. Lalu, menyerang mereka secara bersamaan.
Tidak hanya itu, anggota Klub Pangeran yang mengikuti Klub Militer segera beraksi. Mei Lisa, gadis berambut emerald dan mengenakan monokel segera berlari dan berharap ia tidak menabrak orang lagi.
Setelah sampai ia segera mendekatiku. Namun, ada gadis yang menggunakan piring hitam mencegah Lisa. Gadis bermasker dan berambut coklat sudah berhadapan dengan Lisa. Sepertinya takdir mempertemukan mereka untuk bertarung kembali.
Iya, dia adalah Kotori Andromeda.
“Kau lagi,” keluh Lisa.
“Sepertinya kita bertemu lagi, Klub Militer, Mei Lisa,” panggil Kotori dengan nada sombong.
“Tch! Jangan menghalangi jalanku, Lolita!” Pintanya sambil menembak Kotori.
__ADS_1
Tembakan Lisa merambat ke arah Kotori sambil membuat tembakan berpola agar Kotori tidak bisa menyerang. Benar saja. Kotori menghindar serangan itu dan beberapa tembakan mendarat ke lututnya. Kotori tidak memikirkan hal itu Ia hanya menahan serangan yang berpola itu dengan kekuatan piring hitamnya.
Namun, sebuah tembakan yang cepat melesat ke perut Lisa dan membuat Lisa menjerit kesakitan. Lisa yang menjerit kesakitan menahan lukanya dengan plnya.
“Sail! Apa yang kau lakukan? Kau menembakku dari perut,” Geram Lisa menahan luka dari perutnya.
“Kali ini, aku tidak sendirian. Karena … aku sudah mempunyai teman. Tidak sepertimu, Loser!” Ejek Kotori membalikkan jempolnya kepada Lisa sambil menari Dubstep.
Ada dua gadis yang sedang bersembunyi di samping Kotori yang sedang menari. Kedua gadis itu sedang menunjukkan diri dan terlihat, gadis MVP Kelas I Soshum A dan gadis berambut orange di samping Kotori. Anivesta Bella dan Shiori von Zuckerberg.
“Pantas saja. Ada orang lain disini,” duga Mei Lisa benar sambil tersenyum tipis.
“Kau sudah kalah, Mei Lisa.” Bella memperingatkan Lisa untuk mundur.
“Kau sendirian. Kau tidak bisa mengalahkan kami,” lanjut Shiori sambil memegang senjatanya.
Lisa tertawa dengan ocehan itu. Ia tidak berpikiran bahwa ada orang lain yang ikut campur. Ia tertawa sekencang-kencangnya karena ia merasa diremehkan.
“Jangan remehkan aku, dasar amatir! Aku akan menghabisi kalian semua dan merebut Pangeran Rivandy. Lalu, aku akan menghisap semua cairannya dan menjadi milikku seorang,” ucapnya sambil mengeluarkan suatu rencana liciknya.
Ilustrasi Lisa tertawa
“Cari aku … atau aku menang!” Pesan terakhir Lisa.
Lisa menghilang bagaikan ilusi. Ketiga gadis itu terdiam dengan menghilangnya Lisa. Mereka sama sekali
“Teman-teman. Kita harus mencari Rivandy dan mengamankan agar Lisa tidak menangkapnya,” ajak Shiori untuk beranjak.
“Baik!” Bella dan Kotori menerima ajakan itu dan segera mencariku.
[*^*]
Pertarungan semakin berlanjut. Sheeran melakukan tembakan secara tepat agar pelurunya tidak melesat padaku. Aurora yang belum menggunakan mode Langit Malam Hitam segera melakukan tembakan beruntun.
Akishima yang mengenakan pakaian Power Ranger tanpa mengenakan pakaian dalamnya mengalami stagnan dalam performanya. Ia tidak bisa melakukan tembakan karena ketiga gadis selalu menggunakan tubuhku sebagai tameng.
Evelyn yang sedang memusatkan targetnya segera menembak perisai milik Aria. Aria tidak bisa menyerang balik karena tekanan tembakan Evelyn yang beruntun itu.
Saat perisainya pecah akibat tembakan Evelyn, Evelyn menggunakan tekniknya untuk menembak Arira dengan cepat.
“Program A : Link Target, desu!”
Namun, Aria melakukan trik liciknya, yaitu mengganti posisinya padaku dan membuatku tertembak di bagian dada. Ia mendesah, “Kena kau!” Menggunakanku sebagai perisai.
Aku yang terkena tembakan di bagian dada mengeluarkan darah dari dadaku. Aku tidak bisa bergerak lebih lama lagi. Aku bahkan tidak bisa teriak kesakitan.
“Evelyn! Hentikan!”
Evelyn yang sudah menembak terkejut dengan sasarannya. Ia berteriak, “Kya! Rivandy! Maafkan aku, desu!” Sambil menahan tangisannya.
Aurora, Akishima, dan Sheeran terkejut dengan kondisiku. Aku yang masih sadar segera menahan rasa sakitku. Seketika itu, kesadaranku mulai kabur dan hanya mengeluarkan kata hatiku yang penuh penderitaan.
Apakah aku akan mati?
Rasa sakit ini … aku pernah mengingatnya.
Darah yang mengalir ke tubuhku adalah … darah yang penuh kemalangan.
Aku tidak bisa … melakukan apapun.
Aku terjebak.
Apakah hidupku hanya sebatas ini?
Apakah aku hanya sebuah… alat?
Ya. Aku hanyalah alat. Tidak ada yang lain.
Tapi, setidaknya … aku berterima kasih kepada Evelyn … untuk membunuhku.
Terima kasih, Evelyn. Kau sudah membebaskanku … dari semua … penderitaan ini.
Eve-lyn. Sampaikan aku kepada … yang lainnya.
Maaf, Sheeran. Aku tidak bisa menepati janjimu.
Aku hanya … membuatmu menyesal.
Sudah saatnya aku … menuju ke angkasa.
Sementara kesadaranku masih kabur, ketiga gadis yang berusaha menyelamatkanku itu mulai menyalahkan Evelyn.
“Evelyn, apa yang kau lakukan? Kau akan membunuh Rivandy,” geram Akishima sambil menyalahkan Evelyn.
__ADS_1
“Kalau sayangku mati, aku tidak akan memaafkanmu, Pembunuh!” Tangisan Sheeran ditahan melihatku yang sudah terkapar.
“Aku pikir kita teman. Tapi, aku mengkhianati kami,” sesal Aurora sambil menahan tangisannya.
“Apa yang kau lakukan, dasar pembunuh?” Tekanan Aria membuat Evelyn menjadi mematung.
Evelyn berdiri kaku dengan tuduhan yang mereka lontarkan padanya. Ia tidak berniat untuk menembakku. Padahal, aku ingin mati dan terbebas dari penderitaan itu. Ia menghela nafas dengan raut wajah yang gelap dan menghembuskannya dengan perlahan.
“Ini bukan salahku, desu! Gadis licik itu menggunakannya sebagai perisai untuk selamatkan diri, desu! Jadi, jangan salahkan aku, desu!” Teriak Evelyn menegakkan kebenaran.
Teriakan itu membuat pertarungan semakin memanas. Aurora, Akishima, dan Sheeran tersadar dengan teriakan Evelyn. Mereka semakin liar dengan senjata mereka. Dengan itu, Aurora berubah menjadi Langit Malam Hitam yang agresif.
“Jangan remehkan aku, dasar pembunuh!”
“Aku akan merebut Rivandy dan segera mengobatinya,” tekad Sheeran sambil mengarahkan pistolnya kepada Stephany.
[*^*]
Pertarungan di gerbang masih berlanjut. Seseorang yang menonton itu segera menelpon yang dipadukan dengan aplikasi Zoom. Ada 3 orang yang ia panggil Lalu, ia menyalakan sistem hologram dan mulai berbicara dengan mereka.
Zhukov : “Denis, Hammer, Saphine.”
Saphine : “Zhukov. Ada apa memanggil kami?”
Denis : “Kamu mengganggu saja.”
Hammer : “Iya, betul itu.”
Zhukov : “Tidak ada waktu bercanda. Sekarang, Rivandy dan lainnya sedang dalam bahaya.”
Saphine : “Benarkah?”
Saphine : “Kalau begitu, aku ingin membantunya.”
Denis : “Aku akan membantu Ri-chan.”
Hammer : “Ri-chan sudah membantu kita di Klub Memasak. Saatnya balas budi!”
Zhukov : “Baguslah! Kita harus membuat rencana.”
Zhukov : “Begini, .... ”
Denis :”Oh, begitu. Ok. Aku akan menjalankan rencanamu.”
Hammer :”Aku akan membawa sesuatu yang menarik.”
Saphine : “Terima kasih, Zhukov. Aku akan merawatnya setelah ini.”
Zhukov : “Baiklah, rencana ini akan dimulai 10 menit lagi. Jadi, bersiaplah!”
Saphine : “Baik!”
Denis : “Baik!”
Hammer : “Baik!”
Zoom pun dimatikan. Ia hanya menonton sambil menghitung kemungkinan keselamatanku. Ini akan menjadi sulit.
Pertaruhan akan dimulai. Aku yang sudah kehilangan kesadaranku hanya berharap akan kematianku. Namun, mereka menolak kematianku. Zhukov hanya menunggu kesempatan untuk membawaku lari. Satu kali kesempatan. Jika gagal, maka tidak bisa dikembalikan.
Apakah aku akan kembali … atau tidak?
Apakah aku dapat diselamatkan atau … tidak?
Apakah aku akan mati … atau tidak?
Apakah aku akan ….
Aurora, Akishima, Evelyn, Sheeran, Zhukov, Denis, Hammer, Saphine, Bella, Shiori, Kotori, Rin, Stephany, Aria, Millia, Neesan, dan Paman.
Apakah aku diinginkan?
Jawablah aku!
Aku akan segera meninggalkan kalian.
Bintang yang indah menungguku di luar sana.
Pemandangan yang indah akan merayuku untuk segera ke sana.
Sepertinya, aku tidak diinginkan.
Aku hanya alat bagi mereka.
Aku hanya mesin.
__ADS_1