
@/@@
#/##
Aku membuka pintu ruangan yang cukup familiar, sudah melihat keadaan apartemen Shiori penuh dengan penderitaan. Aku melihat ruangan penyiksaan yang berada dalam di hadapanku. Iron Maiden yang sudah berlumuran darah berada dalam penglihatanku. Aku menghampiri Iron Maiden itu dan mencari darah yang memprihatinkan. Apa yang telah terjadi pada Shiori? Menurut Kotori, Shiori sudah menyiksa diri dan menunggu kematiannya.
Aku berpikiran Shiori sudah menyiksa dirinya. Aku adalah orang yang akan melihat isi perasaan Shiori. Dengan itu, aku mencari Shiori dengan pandangan bila mataku, mencoba mencari keberadaanya agar bisa membuatnya menjadi lebih baik. Aku harus menemani Shiori yang kesepian dengan darah yang bercucuran itu
Inggin sekali berharap bahwa Shiori baik-baik saja. Aku tidak ingin ia menderita terus. Aku juga memarahi Shiori kemarin. Jadi, harus meminta maaf kepadanya dan tidak ingin mengulangi kejadian yang sama. Shiori akan memaafkanku setelah ini.
Aku mencarinya dan mencarinya. Namun, tidak ada tanda Shiori. mencari benda yang lain juga tidak bisa. Aku juga mencari yang bisa mengantarkanku pada Shiori. Aku tidak terlalu ingin Shiori berhasil merencanakan kematiannya. Kalau ia mati, aku akan menyesal seumur hidup.
Aku mencarinya di semua sisi ruangan. Bahkan, memasuki tempat itu. Aku harap pintu Iron Maiden tidak terkunci dan tidak terkena jebakan. Tapi, aku bukan orang bodoh. Aku sudah membuat Iron Maiden tidak tertutup lagi, sehingga aku bisa keluar dari sana.
Shiori! Dimana kamu? Aku mencarimu.
Apakah aku terlambat?
Kau pasti bercanda. Hanya satu alat penyiksaan yang berada di hadapanku. Lalu, alat yang lain itu apa? Aku tidak mengerti lagi. Apa yang seharusnya aku lakukan? Apakah aku menjadi orang yang gagal?
Namun, Kotori percaya padaku. Ia sedang bertarung dengan Valhalla. Tidak ada boleh mengecewakan dirinya. Shiori adalah teman yang sudah dipercaya. Ini berbeda dengan Andika dan lainnya. Bukan berarti aku menganaktirikan mereka. Aku hanya ingin Shiori hidup bahagia. Itu saja yang kupikirkan.
[*^*]
Pada saat aku mencari Shiori, Kotori dan Valhalla saling mengoceh dengan ucapan pedas mereka Mereka berdebat di tengah kegelapan. Kotori sudah terbiasa dengan kekuatan itu. Ia hanyalah seorang gadis yang cukup familiar dengan dimensi lain.
Dengan kata lain, Valhalla dan Kotori berdebat di dimensi kegelapan. Dimensi yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat manusia.
[Jangan halangi aku! Kau tidak bisa membiarkanku menuju ke tempat yang sesat. Akulah yang akan menang - Valhalla]
"Setidaknya kau belum mengetahui lawanmu sebenarnya. Kau adalah roh yang berada di 0,000034% untuk menjadi terkuat. Kau tidak akan bisa menggapai semua itu."
[Yang benar saja! Kau hanyalah sebuah semut yang tidak berdaya! Aku akan membunuh Shiori dan mendapatkan kekuatan untuk balas dendam - Valhalla]
"Hmph. Kamu tidak bisa melakukannya. Red Lily akan mengalahkanmu. Aku hanya membimbingnya saja."
[Aku tidak akan terhasut oleh omongan yang rendahan itu. Aku bukanlah orang yang akan ketakutan dengan mudahnya dengan recehan itu - Valhalla]
"Kau hanya lari dari … Python Angel … Thomas Fallen. Aku benar kan?" Kotori menyebutkan nama Thomas Fallen, sosok yang berada dalam mimpi buruk.
Mendengar nama Thomas, Valhalla semakin marah, mengingat pertarungan dengannya di dimensi lain. Ia juga tidak bisa mengalahkannya meskipun 10.000.000.000 pasukan telah bergabung untuk mengalahkan Thomas.
[Diam! Aku tidak mau mendengar nama itu lagi! Karena dia, aku dibunuh olehnya dan tidak bisa keluar dari sini. Aku sudah muak dengan 14.797.757.788.756.852 kekalahan. Dan aku disiksa olehnya meskipun aku mati. Dia menggunakan Death Penalty Requiem. Aku sudah lolos ke sekian kalinya dan akan membalas dendam - Valhalla]
"Sudah cukup! Aku akan memanggil Thomas kemari dan kau tidak bisa lari darinya."
[Tch! Jutaan Dewa bekerja sama untuk menghancurkan Thomas. Namun, tidak ada kemenangan. Planetmu akan hancur seketika. Tidak hanya itu, dia akan menyiksa roh yang mati dan tidak ada yang bisa kabur darinya. Ia adalah Ultimate Death Angel! Dia pembunuh Dewa! - Valhalla]
"Oh. begitu. Terima kasih atas ceritanya. Aku harus melakukan yang harus kulakukan." Kotori meninggalkan dimensi kegelapan.
[Ini belum berakhir, Kotori Andromeda. Aku akan mengincar Klan Andromeda dan segera menghabisinya. Kalau Shiori mati, aku akan membunuh semuanya dan kau yang terakhir - Valhalla]
"Coba saja kalau bisa. Kau tidak bisa membunuh mereka. Mereka adalah yang terkuat. Sampai jumpa," pamit Kotori meninggalkan dimensi kegelapan dan menuju ke apartemen Shiori.
Valhalla hanya menunggu kesempatan untuk membunuh Kotori dan mengambil nyawa Shiori untuk balas dendam. Ia dengan rencana liciknya digunakan untuk dendam kesumatnya.
"Aku akan membalas dendam padamu, Thomas!"
[*^*]
Aku menemukan sesuatu yang cukup membingungkan, melihat tembok yang menarik perhatianku. Aku melihat pola dinding yang tidak beraturan. Aku mengutak atik pola yang merupakan teka-teki itu dan semuanya terbukti dengan jelas. Aku melihat dinding itu bergerak. Dengan itu, memasuki ruangan itu adalah tindakan selanjutnya.
Ini memang aneh. Aku tidak mengerti dengan apa isi ruangan itu. Apakah tersambung dengan apartemen yang lainnya atau tidak? Aku mencari sesuatu untuk memastikan kebenaran. Tidak ada. Aku belum menemukan sesuatu lalu berusaha sekuat tenaga mungkin. Percuma saja. Aku tidak menemukan apapun. Ini tidak tersambung. Aku seolah-olah diseret ke dunia lain.
Aku sudah mengetahuinya bahwa supernatural itu sangat nyata. Bukan sebuah fiksi.
Itulah sebabnya ini menjadi sebuah supernatural.
Tidak ada yang tahu pasti mengenai ini. Aku hanya berfokus untuk menyelamatkan Shiori. Aku akan menjadi Red Lily. Ini nama lebih baik daripada Shiva yang dipanggil oleh Onii-chan. Ini membuatku muak. Aku harus mencari sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini.
Setelah sampai di suatu tempat, aku melihat ada lingkaran yang dipenuhi oleh duri. Aku melihat Shiori yang tertidur dengan berbagai macam tusukan. Aku menelusuri dengan mata kepalaku sendiri. Aku terharu bisa bertemu dengannya lagi. Maka dari itu, aku mengejar jejaknya.
"Shiori!" Teriakku menghampirinya dengan cemas.
"Shiori! Bangunlah! Aku mohon! Aku menyesal memarahimu. Aku juga menyesal membuatmu teringat masa lalu. Apakah kamu mendengarku?" Aku mendekati Shiori dan berusaha membangukannya walaupun ia telah pergi.
Namun, ketika menahan air mataku. Ada sebuah pisau yang mendarat di tubuhku. Aku menahan air mataku membuat luka di bagian punggung. Aku tidak bisa melakukan apapun, hanya mengeluarkan darah yang bersih dan menumpahkannya ke Shiori.
"Dasar orang Indonesia! Aku sudah bilang padamu untuk menjauh dariku, tapi kau malah mendekat. Semakin dilarang, maka semakin ingin dilakukan. Aku memaafkanku. Aku salut padamu. Jadi, … ayo kita mati bersama, Bella," ajak Shiori agar Bella mati juga.
"Shiori?! Kenapa?! Kenapa kamu menyiksa dirimu?!" Tanyaku mengeluarkan darah bersih dan murni kepada Shiori.
"Aku tidak ingin kamu menjadi seperti ini. Ini bukan yang ku inginkan. Aku … aku membuatmu menyiksa diri. Aku membuatmu menderita," lanjut Bella dengan teknik curhatnya mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Maafkan aku, Shiori! Kau adalah penyendiri. Bukan berarti … kau tidak sendirian. Aku … egois, anak kecil, lolita, dan main hakim. Aku … tidak tahu menjadi remaja. Aku hanyalah … seorang gadis yang … kesepian juga. Jadi, tolong hiduplah! Aku akan melakukan ... apa yang kami mau."
"Sekali lagi. Beri aku kesempatan lagi. Untuk menemanimu. Kalau bisa selamanya. Tidak apa-apa kita menikah. Asalkan, kau bahagia bersamaku. Habisnya, aku mencintaimu."
Dengan curhatan Bella, Shiori menjadi luluh. Ia mengucurkan air matanya yang terakhir. Sebelum itu, ia berterima kasih padaku dan segera mengatakan sesuatu yang penting. Ia tersenyum di tengah penderitaannya.
"Kau benar, Bella. Kita akan terus bersama. Aku tidak sendirian lagi. Jadi, … ayo kita mati bersama! Kau harus menemaniku di neraka. Karena itu, aku … tidak kesepian lagi," jawab Shiori menekan tombol untuk membunuh kami.
"Shiori! Jangan!"
Shiori melancarkan perintah untuk melakukan bunuh diri. Aku tidak bisa menghindar lagi karena sudah banyak luka. Namun, aku tidak diam saja. Aku yang beragama Kristen Protestan akan memohon untuk keluar dari sini.
"Aku mohon, Yesus. Tolong selamatkan kami! Aku dan Shiori membutuhkanmu. Jadi, selamatkan kami!" Doanya dalam hatinya.
Dengan doa itu, aku dan Shiori terlempar menuju ke kamar Shiori. Aku merasa lega bisa kembali. Begitu juga dengannya. Aku juga bersyukur atas nikmat kepada-Nya.
Namun, wajah Shiori menjadi suram dengan itu. Ia ingin mati bersamaku. Namun, rencananya telah gagal oleh sebuah curhatanku itu.
"Kenapa kamu … lakukan itu, Bella?" Tanya Shiori ingin menangis.
"Eh? Shiori, kamu …" Aku sadar dengan perilakuku.
"Bella bodoh! Kita harusnya mati bersama. Kenapa kamu melakukan itu? Aku ingin mati bersamamu Tapi, kenapa? Kenapa kamu menyelamatkanku?"
"Aku tidak ingin hidup lagi. Aku melakukan itu karena aku … takut. Aku menjadi korban. Tidak ada yang menjadi temanku. Aku hanya bahan olokan mereka. Aku hanyalah seorang yang percuma. Aku bukan seorang MVP. Aku bukan seorang yang hebat. Aku …."
"Sudah! Shiori! Aku sama sepertimu. Aku kehilangan kedua orang tuaku. Mereka menembak kedua orang tuaku, sehingga aku merasa kesepian. Aku tidak tahu siapa yang disalahkan. Tapi, aku bersyukur bertemu dengan Andika, dan lainnya. Aku juga bersyukur bertemu denganmu. Apa kamu masih kesepian?" Aku memeluk Shiori yang sedang menahan air matanya.
"Lalu, aku juga bersyukur hari ini. Walaupun aku kesal dengan perilaku Rivandy. Dia membuat tugas yang cukup rumit, sehingga satu kelas menjadi frustasi karena soalnya yang tidak bisa selesai itu. Namun, aku tetap bersyukur dan mencari cara meskipun aku merasa frustasi. Aku juga ingin membuatmu lebih baik."
__ADS_1
"Jadi, Buanglah semua masa lalumu dan menangislah! Karena kamu wanita, aku akan melayanimu. Tidak apa-apa. Aku disini untukmu. Kau boleh curhat padaku jika perlu. Aku akan menerima tolakmu itu. Jangan khawatir! Aku akan berada disini selamanya."
Jangan lupa bersyukur! ~ Anivesta Bella.
Shiori menjadi luluh dengan pelukanku. Ia tidak bisa berkata apapun lagi. Karena itu, ia tidak bisa menahan tangisan lebih lama lagi. Ia sudah mengerti. Aku tidak akan meninggalkannya sebelum semua. Ini selesai.
Akhirnya, Shiori memeluk Bella dengan perlahan dan mulai meluapkan semua tangisan itu menangis sekeras-kerasnya di dalam perisai pelukan. Aku tersenyum dengan Shiori. Aku merasa bersyukur dia mengerti, memeluknya dengan erat meskipun luka yang dihadapi dibanjiri oleh air mata.
Di tengah tangisan itu, Shiori mengungkapkan, "Maafkan aku, Bella! Aku tidak menyadari itu semua. Aku hanya penyendiri dan penakut. Aku tidak bisa bersosialisasi. Bahkan, aku juga jadi korban pelampiasan orang tuaku. Karena itu, aku berhenti sekolah dan dibuang ke sini. Aku tidak bisa menjadi gadis yang normal. Aku hanya menyakiti diriku."
"Aku hanya sebuah beban bagi mereka. Bella. Aku tidak tahan lagi. Aku sudah mengorbankan nyawaku pada Valhalla. Aku ingin mati karena aku tidak diinginkan. Karena itu, aku hanya ingin tidak ada disini."
Dengan curhatan itu, aku mengerti. Aku sudah mendapatkan jawaban dari Shiori. Aku bersyukur bisa mendapatkan banyak luka di sisiku Aku tidak peduli lagi. Luka Shiori lebih penting daripada aku. Ini hanya luka di dada. Jangan khawatir! Ini akan sembuh, kok.
Tapi, aku salah.
Setelah tangisan Shiori, tubuh ini mati rasa. Kami tidak bisa bergerak lagi karena kami kehabisan darah. Darah berhenti keluar, sehingga kami idak bisa bergerak lagi.
Akhirnya, kami terbujur kaku dengan sebuah pelukan. Kami kehilangan kesadaran dan tidak tahu apa yang terjadi. Kami kehabisan darah, namun tidak mati. Hanya perasaan lega di dalam hati. Hanya saja, kami butuh istirahat terlebih dahulu sebelum kembali ke dunia ini.
Yah … ini lebih baik daripada tidak sama sekali.
3 menit kemudian, Kotori dan lainnya menghampiri mereka. Mereka membawa tandu yang sudah disiapkan oleh Kotori untuk dibawa ke rumah sakit. Aku dibawa oleh Wulan dan Farah. Shiori dibawa oleh Andika dan Yudha. Kotori memberikan instruksi untuk mengantarkan kami ke rumah sakit.
"Hati-hati! Kalian bisa membunuh mereka," pinta Kotori sambil mengecek badan kami yang sudah terkulai lemas.
"Siap!" Andika menerima dengan senang hati.
"Kita harus membawanya kemana?" Tanya Yudha mengangkat tandu.
"Ke rumah sakit! Kita harus cepat dan jangan sampai mereka mati!" Perintah Kotori kepada keempat temanku.
Mereka menerima perintah Kotori dan membawa kami ke rumah sakit. Kami di tandu oleh mereka dan segera mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi. Aku dan Shiori masuk ke rumah sakit dan menjalani operasi yang intens. Dengan itu, kami bisa selamat lagi.
Ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Kami mendapatkan Shiori dan mencegahnya untuk menghilangkan nyawanya sendiri.
Sementara itu, Valhalla yang menunggu kematian Shiori merasa kesal dengan momen mengharukan itu. Ia berada dimensi kegelapan mengumpulkan kata kepada Bella.
[Terkutuklah kau, Bella! Kau sudah menghalangi jalanku. Tidak lama lagi, tepatnya satu tahun kemudian, kamu akan menjadi gadis yang hina. Ada bibit haram yang akan tumbuh di dalam dirimu. Jadi, bersiaplah untuk menjadi lebih buruk, Anivesta Bella - Valhalla]
Setelah itu, Valhalla pun menghilang dan tidak diketahui lagi keberadaanya. Hanya sebuah titik yang semakin mengecil dan beralih ke dimensi yang lain.
[*^*]
@@/@@
##/##
Keesokan harinya, jam 10:20, di rumah sakit, Shiori terbangun dari tidurnya. Ia bergegas melihat pemandangan Moskow yang hampir memasuki musim dingin.
Namun, Shiori terkejut dengan seorang remaja yang berada di hadapannya. Ia baru tahu ada seorang remaja yang sedang membaca buku sambil menunggu kesadaran Shiori.
"Kamu sudah sadar, Shiori. Aku menunggumu, lho," suara remaja itu menunggu Shiori.
"Ri-Rivandy? Kenapa kamu disini?" Tanya Shiori blak-blakkan.
"Bukankah kamu berada di akademi?"
Ketika aku menceritakan sesuatu, Shiori tertawa melihat itu. Ia merespon, "Neesan? Kamu punya kakak sekarang? Ara Ara. Aku iri denganmu. Dia sangat seksi dan menggoda. Aku ingin menjadi sepertinya," dengan rayuan yang nakal itu.
"Eh?"
"Bukan berarti aku dan Neesan itu … kau tahu. Aku dan Neesan begitu akrab … dan intim. Jadi, aku menganggapnya sebagai kakakku. Makanya, jangan bilang seperti itu!" Aku mengeluarkan wajah Tsundere-ku.
Shiori malah tertawa karena perilaku. Ia mengejek, "Kamu seperti Bella saja,*
"Hah? Jangan samakan aku sama Shiva!" Elakku memalingkan wajahku dari Shiori.
"Lagipula, apa yang membuatmu bisa disini? Apa kamu terjadi sesuatu?" Tanyaku pada Shiori.
Dari wajah cerianya, Shiori menjadi suram mendapatkan pertanyaan dariku. Ia mengingat kejadian yang kemarin. Ia juga tidak melupakan curahan hati yang dilontarkan oleh Bella itu. Karena aku mirip Bella, Shiori memutuskan untuk melakukan sesuatu.
"Rivandy. Aku ingin memohon sesuatu padamu."
"Apa itu?" Tanyaku dengan serius.
“Kemarilah dan putar badan! Aku ingin melakukan sesuatu padamu,” pinta Shiori mengajakku untuk mengatakan sebuah kata untukku.
Aku menjalankan perintah itu, mendekati Shiori dan berbalik badan. Kemudian, aku menunggu respon yang akan terjadi pada Shiori. Aku mendapatkan sseuatu yang berasal dari luar tubuhku.
Shiori mendekatkan kepalanya dan segera memelukku dari belakang. Aku dipeluk tanpa merasakan apapun. Aku merasa bahwa pelukan itu adalah pelukan Aurora, Denis, atau Hammer.
“Nee. Rivandy. Aku ingin menangis lagi. Bolehkah … kamu membiarkan aku seperti ini saja? Aku sangat ...ingin sekali memelukmu. Aku ingin memelukmu,” minta Shiori padaku.
“Iya. Aku tidak keberatan. Aku ….”
“Soalnya, tubuhmu sangat hangat. Aku jadi terangsang. Aku harap aku bisa lari kawin denganmu. Habisnya, kamu adalah Bella,” ungkapnya sambil menangis tersedu-sedu.
“Iya. Aku juga berharap begitu,” responku
“Aku sedang luang sekarang. Jadi, silahkan saja!” Aku menanggapi hal itu dan segera membaca buku materi yang belum diajarkan oleh guru akademi.
Shiori mengeluarkan air matanya untuk kedua kalinya. Ia sebelumnya mengeluarkan sisa air matanya pada Bella. Kali ini, ia mengeluarkannya di punggungku. Entah apa yang terjadi pada Shiori. Tapi, tidak apa-apa. Aku memakluminya.
Aku berharap Aurora tidak ada disini. Ini akan menjadi pertempuran hebat di rumah sakit.
Setelah Shiori menangis dengan kecil, ia melepaskan pelukannya padaku. Aku juga menutup e-book dariku. Sepertinya waktu di rumah sakitku sudah habis. Aku ingin sekali kembali ke rumah dan istirahat.
Aku ingin pergi dari sini. Namun, Shiori menghentikan langkahku untuk meninggalkan ruangannya Aku mengarahkan pandanganku kepadanya dan menanyakan sesuatu pada Shiori. Ia menanyakan sesuatu yang tidak ia mengerti.
“Rivandy! Kamu membuat soal itu, kan?” Tanya Shiori berubah menjadi bahagia.
"Iya. Aku membuatnya. Aku juga disuruh oleh Bu Minerva untuk membuat soal. Entah kemana soal itu ditugaskan ke siapa,” jawabku dengan menceritakan pengalamanku.
Shiori tertawa kecil. Ia sudah menduga bahwa Bu Minerva yang membuat sesuatu yang membuat siswa dan siswi tertekan dengan soal yang ia berikan. Shiori bertekad, “Habisnya semua siswa dan siswi di kelasku mengeluh karena soal yang kau buat,” candanya ambil menahan tawanya.
“Benarkan?” Tanyaku dengan ragu.
“Jangan khawatir! Aku sudah tahu caranya. Tapi, sebelum itu, aku mau kamu disini seharian. Tolong jangan sampai Bella tahu tentang ini. Ok?” Bujuk Shiori sambil mengibaskan bajunya.
Aku menerima tawaran itu. Aku menerimanya karena aku memiliki waktu luang. Musim dingin akan tiba. Aktivitas akademiku akan menurun. Ok. aku akan menemaninya langsung.
Shiori sangat senang dengan penerimaan itu. Ia mengajakku ke ranjang dan ingin melakukan hal yang mesum padaku. Aku mengakrabkan diri dengan Shiori dan melakukan selingkuh denganku. Rasanya aneh jika Shiori menikah dengan Bella. Itu mendukung ideologi Yuri.
__ADS_1
Maka dari itu, Shiori merayuku di ranjang dan segera mengatakan, “Ich liebe dich, Rivandy!”
Aku tidak tahu apa yang ia katakan. Tapi, sudahlah. Aku menerimanya. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan lagi. Kami belajar matematika dan membahas soal yang aku buat. Shiori langsung memahaminya dengan sebentar dan menyelesaikan tugas yang cukup berat itu.
Setelah itu, kami saling mencium satu sama lain karena aku harus menghangatkan diriku. Rasanya tidak lucu kalau aku ingin sekali pulang ke apartemen. Namun, aku harus menunggu pagi dulu biar hangat. Aku juga meminta izin pada perawat untuk merawat Shiori. Kotori dan lainnya pulang ke apartemen mereka dan segera mengerjakan tugas semester.
Bella masih belum sadar. Aku mendengar itu dari dokter dan segera bermalam di rumah sakit. Yah … ini lebih baik daripada pulang dengan udara dingin.
Aku tidak mau keluar dari rumah sakit itu sampai besok pagi. Kalau Aurora dan Akishima mengetahui hal itu, mereka akan menangkapku dan menyandera.
Tidak ada pilihan lain. Aku ingin menginap di ruangan Shiori saja. Aku ingin melanjutkannya. Soalnya, aku mau merasakan kehangatan darinya saat aku menciumnya.
Tidak ada pilihan lain. Aku merawat Shiori. Kami tidur bersama dan saling memeluk agar tubuhku tetap hangat. Aku terpaksa melakukan itu. Jangan bilang aku adalah Pangeran Brengsek!
[*^*]
27 November 2025, aku pamit menuju ke akademi setelah mandi dan sarapan bersama Shiori. Aku sudah melihat bekas luka yang berada di tubuh Shiori. Jadi, aku akan mengunjunginya nanti.
Shiori menjadi luluh pada hatiku. Dia mengira bahwa aku adalah Bella. Padahal, bukan. Aku lebih tenang dan selalu menerima ajakan orang lain. Sementara Bella mengajak seseorang dan blak-blakkan.
Meskipun begitu, Shiori jatuh cinta padaku. Sheeran, Akishima, Diana, Claveriska, dan Shiori. Mereka menjadi sasaranku kali ini. Aku tidak terlalu mengerti dengan cinta itu. Aku hanya menghangatkan tubuhku. Neesan menyesatkan ku. Dia bilang kepadaku bahwa, jika aku mencium gadis, tubuhku akan terasa hangat. Jadi, aku melakukan itu agar aku bisa hidup.
Aku meninggalkan rumah sakit yang selalu jadi langgananku dan segera menuju ke akademi terlebih dahulu agar Aurora dan lainnya tidak curiga padaku.
[*^*]
Jam 12:12, Shiori mengunjungi ruanganku dengan infus yang ada di tangannya. Ia membangunkanku. Sejak saat itu, aku bangun dari tidurku. Aku melihat sekitar sebelum melihat Shiori. Karena penglihatanku masih blur, aku tidak tahu siapa yang ada di hadapanku itu.
"Ada apa?" Tanyaku penglihatanku masih samar.
"Aku punya berita bagus untukmu, Bella." Shiori mengungkapkan rahasia nya dengan semangat.
"Apa?" Tanyaku mengucek mataku.
"Soal matematika. Aku sudah mengerjakan semuanya. Aku sudah mengalahkan Rivandy. Soal matematika yang ia buat bukan apa-apa bagiku," jelas ya dengan sombong.
"Karena Rivandy kalah 7 kali dalam mengerjakan soal, aku mencium bibirnya agar ia terangsang," lanjutnya mengalami kejadian kemarin.
"Oo. Kamu mengalahkannya dan menciumnya?" Aku mendengar itu dan terkejut.
"Eh? Kamu menciumnya? Kenapa?" tanyaku.
"Habisnya, dia Tsundere seperti kamu. Lalu, sifatmu seperti dia. Aku memanfaatkannya dan membuatnya terangsang," jawab Shiori dengan percaya diri.
"Jangan samakan aku dengan Onii-chan!" Bella mencocor kepada Shiori yang usil.
"Apakah aku harus melampiaskan nafsu birahiku padanya lain waktu?" Tanya Shiori dengan polos.
"Jangan lakukan itu!” Aku melarang Shiori.
“Aku hanya bercanda. Aku akan mengajarimu,” jawab Shiori memberikan bukunya padaku.
“Anone. f(x) \= ….”
Shiori mulai mengajarkan sesuatu padaku. ia menyampaikan materi seperti seorang guru yang dapat dimengerti. Aku segera mempelajari apa yang Shiori ajarkan padaku. Aku mengetahui dengan pembelajaran yang cukup mudah. Meskipun materinya lebih sulit, dengan Shiori menjadikan matematika itu seperti anak kecil. Aku bukan anak kecil
Kalau dia menjadi tutor Ruang Guru, aplikasi Ruang Guru akan meningkat dengan drastisnya. Sedangkan aku bisa masuk ke Universitas Indonesia pada tahun 2021. Ini sedikit curang. Lebih baik aku mengambil akademi daripada universitas. Soalnya, aku sudah memiliki Shiori.
Dengan adanya Shiori yang berada di sampingku, aku tidak khawatir lagi.
Aku tidak akan pindah kemana pun selama Shiori berada di sampingku. Setelah mengerjakan soal matematika, kami berencana untuk melakukan sesuatu yang gila.
Namun, ada seorang remaja yang mengintip suasana itu Ia melihat Bella dan Shiori mendekatkan wajah mereka dan berniat untuk melakukan hal bejat. Akibatnya, Andika beraksi. Ia masuk ruangan secara tiba-tiba dan segera berteriak.
“Cie. Yuri tuh. Hai semuanya! Bella menyukai sesama jenis!” Seru Andika.
“Parah! Dia mau mengajaknya ke ranjang dan mengeluarkan cairan hangatnya,” lanjut Yudha datang tiba-tiba.
“Sembarangan! Aku hanya mengerjakan tugasku, tahu!” Cocorku melihat kelakuan mereka.
“Wah! Aku akan bikin cerita dengan cinta dua cewek di Jakarta,” tekad Andika segera membuka ponselnya dan segera mengetik.
“Bakal asyik tuh,” lanjut Yudha melihat Andika menulis di ponsel miliknya.
“Hentikan itu, dasar teman gak ada akhlak!” Aku memarahi Andika yang sengklek itu.
[*^*]
Keesokan harinya, jam 06:12, kami diperbolehkan pulang ke apartemen kami. Kami diantar pulang oleh keempat temanku. Kami berenam sarapan di restoran terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemen.
Kami memesan makanan dan menunggu 30 menit sambil berbincang dengan ramainya. Andika dan Yudha tidak bisa diam. namun, ini lebih baik daripada hening. Mereka seperti es krim di atas garam. Walaupun manis kadang mengesalkan.
“Pesanan nomor 5. Theodoric Alknight. Nomor 6, Kosuke Arashi. Silahkan diambil!” Seru pelayan itu memanggil nama Theodoric dan Arashi.
Mereka segera mengambil pesanan mereka dan segera makan di meja mereka. Kami segera menunggu pesanan kami. Setelah pesanan tiba, kami makan dengan lahap dan diselingi oleh obrolan manis.
Setelah makan, kami segera kembali ke apartemen kami. Kami berpisah dengan keempat temanku karena mereka ingin bersantai di apartemen mereka. aku ingin istirahat bersama Shiori.
Tapi, sesampainya di apartemen, aku melihat Rivandy dan Kotori yang sedang menunggu. Mereka membawa setumpuk kertas kepadaku dan Shiori. Aku tidak mengerti apa yang Oniii-chan pikirkan. Aku memiliki firasat buruk mengenai ini.
“Yosh! Karena kalian sudah datang, sekarang, aku memberikan tugas kepada kalian. Sinta dan Diana menitipkan tugas kepada kalian selama kalian tidak ada. Jadi kerjakan dan kumpulkan hari Senin!” Pinta Rivandy memberikan tugas padaku dan Shiori.
“Kenapa aku harus mengerjakan tugas ini? ini terlalu banyak,” protesku tidak tahan dengan tugas yang menumpuk itu.
“Baiklah, kalau begitu. Aku akan melaporkan ini ke Bu Minerva.” Rivandy berniat untuk menelpon Bu Minerva.
Mendengar ancaman dari Rivandy, aku segera mengerjakan tugas. Shiori tertawa melihat itu dan mengerjakan tugasnya secara bersama-sama. Kotori membeli makanan untuk kami jika kami kelelahan. Onii-chan dengan ketatnya tidak membiarkan kamu melalaikan tugas yang memberatkan murid.
Sial! Aku ingin bersantai dan tidak ingin mengerjakan tugas. Namun, gara-gara Onii-chan, aku tidak bisa santai lagim Terpaksa menerima takdir yang sial itu. Namun, aku tidak sendirian. Bersama dengan Shiori saja sudah cukup.
Aku akan menghajar Diana dan Sinta. Lihat saja nanti.
Kumenangis. Membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku.
Haduh! Aku malah menyanyi.
Sudahlah! Tidak baik mengeluh. Lagipula aku dan Shiori sudah dekat. Lalu, aku tidak membiarkan Onii-chan merayu Shiori lagi.
Aku akan menghajarnya seperti Andika dan Yudha.
Setelah tugas berakhir dengan melelahkan, kami menikmati akhir pekan yang cukup menyenangkan. Ini adalah hari terakhir musim gugur.
Dua hari lagi musim dingin akan tiba sebentar lagi. Aku ingin tahu suasana esoknya.
__ADS_1