
“Aurora. Aku ingin mengatakan sesuatu,”
:”Tidak ada yang bisa kau jelaskan, dasar Playboy!” Aurora meneriakiku sambil menembak dadaku.
Aku merasakan sakit dari sebuah tembakan itu. Tembakan itu dicampur dengan perasaan yang gelap dan suram. Aku berusaha untuk tidak jatuh. Aku juga melihat aura kegelapan dari tatapan Aurora.
Apakah aku melakukan kesalahan?
Sepertinya iya. Aku membuatnya suram.
Aku membuat perasaan yang hancur pada Aurora.
Tapi, terdapat luka memar di dada dan wajahnya, pakaian yang berantakan dan tidak simetris, dan sebuah senjata yang disembunyikan Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Aurora. Aku tidak percaya perbuatan yang dicium oleh Shiori membuat kausalitas yang terburuk.
“Aurora. Dengarkan aku dulu! Aku ..."
Aurora tidak mendengarkanku. Dia melakukan tembakan beruntun pada dadaku. Aku mencoba menahan tekanan peluru yang bersarang di dalam tubuhku. Aku tidak bisa membayangkan betapa kerasnya tekanan itu.
Dengan luas penampang yang kecil dan gaya tekanan yang besar membuat sebuah tekanan yang membuatku terluka parah. Jika peluru itu mengenai jantungku, aku … tidak akan bertahan lebih lama lagi.
“Aurora. Setidaknya, ….”
“Playboy sepertimu pantas untuk mati!” Aurora melemparkan senjatanya ke kepalaku.
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Peluru yang bersarang di dadaku membuatku tidak bisa bergerak lagi. Aku mencoba untuk berdiri dan mengatakan sesuatu. Namun, Aurora dengan cepat menginjak perutku.
Aku menahan diri untuk berteriak. Aku tidak mau Sinta dan Diana mengetahui keberadaanku hanya karena teriakanku terdengar kembali. Kalau sampai ini terjadi, Aurora akan ditahan di ruangan disiplin.
Untung saja aku menggunakan trik untuk mengelabui Sinta dan Diana. Trik ini tidak bisa dijelaskan oleh orang amatir. Jadi, aku urungkan saja niatku.
“Orang sampah sepertimu pantas untuk dihancurkan!” Aurora menginjak badanku dengan keras. Aku tidak bisa berkata apapun.
Aku hanya membiarkan diri diinjak dan disakiti Aurora. Aku pernah merasakan ini sebelumnya. Namun, ini lebih berbeda dari Aurora. Aurora bukan orang yang seperti sebelumnya. Ia juga merasakan hal yang sama denganku. Aku tidak menyalahkan Aurora atas semua penderitaanku. Aku hanya membiarkannya lewat begitu saja.
Apakah aku mengulangi kejadian yang sama?
Aku tidak tahu.
Aku bukan orang yang cukup ceroboh dan gegabah. Aku memikirkan sesuatu sebelum bertindak. Aku mendapatkan pelajaran saat aku berhadapan dengan Akishima. Dan itu terus berlangsung sampai ke Sheeran.
Setelah Aurora melampiaskan amarah dengan menginjakku, Ia memukulku dengan tangannya dan meninggalkanku yang terkapar sambil membawa senjata dan kapaknya.
Aku mencoba untuk menahan diri untuk menahan penderitaan di perutku. Aku ingin sekali muntah darah dari dalam perutku. Namun, apa boleh buat. Aku menahan itu agar Sinta dan Diana tidak melakukan kesimpulan yang salah.
Aku mencoba untuk menghampirinya lagi. Namun, gagal. Tubuhku terlalu rapuh untuk berdiri. Di tambah lagi ini masih musim dingin. Jika, aku sendirian di tengah udara yang dingin, maka aku akan mati dengan penuh luka.
Aku ingin sekali bangkit dan segera menyusul Aurora. Aku mencoba untuk memfokuskan diri untuk berdiri. Namun, tidak bisa. Tenagaku semakin melemah. Ini masih belum cukup.
Kuharap, anggota Klub Disiplin tidak menemukanku.
[*^*]
Jam 19:23, aku sadar kembali dengan pandangan yang sama. Langit lorong akademi yang masih indah walaupun sudah malam. Aku masih tergeletak di lorong akademi.
Sepertinya mereka tidak menemukanku.
Aku mencoba berdiri dan melakukan suatu hal untuk mencari informasi mengenai Aurora. Aku berpindah ke tembok lorong untuk mencari bersandar. Aku memeriksa kondisi tubuhku yang penuh luka. Aku membuka kancing untuk melihat luka yang ada di tubuhku.
Rupanya luka ini belum membeku.
Dengan itu, aku mengambil ponselku yang memiliki baterai di 50%, aku membuka aplikasi Zoom dan memanggil Akishima. Kebetulan ia juga memanggilku secara bersamaan. Ia memanggilku dengan alasan yang sama.
Rivandy : “Akishima. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Akishima : “Aku juga ingin mengatakan sesuatu untukmu.”
Rivandy : “Eh? Kenapa?”
__ADS_1
Akishima : “Aku memanggilmu karena itu.”
Akishima : “Aku melihat hantu yang akan menyerangku.”
Rivandy : “Hantu?”
Akishima : “Tentu saja hantu. Ada hantu yang akan menyakitiku di depan apartemen. Jadi, aku mengunci pintu dengan sensor dan bersembunyi di balik pintu.”
Rivandy : “Setidaknya, kau memberiku petunjuk yang lebih baik.”
Rivandy : “Lalu, siapa hantu itu?”
Akishima : “Aurora!”
Rivandy : “Aurora?”
Akishima : “Iya. Dia masuk ke apartemen miliknya dan tidak akan keluar lagi.”
Rivandy : “Itu sama seperti yang kamu lakukan saat itu.”
Akishima : “Berisik! Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
Akishima : “Kamu apakan dia? Berselingkuh dengan gadis lain?”
Akishima : “Selain itu, kenapa kamu tidak pulang juga? Kamu harus melakukan sesuatu!”
Rivandy : “Aku tidak selingkuh! Aku dicium secara paksa.”
Akishima : “Sama saja. Apakah kamu membiarkan dirimu diperkosa oleh gadis mesum lalu mereka membuangmu di jalanan seperti yang aku alami sebelumnya?”
Rivandy : “Aku rasa tidak. Aku … merasa ….”
Akishima : “Lupakan apa yang aku katakan! Sekarang, kamu harus pulang dulu dan segera selesaikan Aurora! Aku akan menelpon seseorang sekarang.”
Rivandy : “Siapa itu?”
Akishima : “Shoujo yang mengincarmu untuk menjadi istrimu dan ada loli yang selalu lengket padamu.”
Akishima : “Sudah! Aku mau tutup pembicaraan ini dan usir hantu itu. Kalau kamu sudah melakukannya dengan baik, aku akan memberikanmu hadiah.”
Rivandy : “Aku tidak terlalu ingin hadiah darimu.”
Akishima : “Lakukan saja!”
Aku menutup aplikasi Zoom. Ini sedikit menguras energi. Dengan tingkah Akishima yang kekanak-kanak itu, aku menjadi sedikit terbebani. Setidaknya dia melakukan itu untukku. Dia membelikan kotatsu padaku di Akihabara, Jepang, sehingga Akishima membuang alat penghangat ruangan yang ku beli.
Aku baru tahu. Ini bukan bukuku. Akishima yang memberikan ini padaku agar aku sembuh. Dia juga menjagaku pada saat yang terakhir. Sheeran berkompetisi agar aku tidak dijaga oleh Akishima. Maka dari itu, mereka bertengkar lagi.
Dia memberikan buku itu padaku. Dan buku itu adalah … Final Fantasy XV: The Dawn of the Future. Aku baru ingat itu. Aku pikir aku membelinya. Ini karena ingatanku masih kabur.
Itu pun dibeli di Akihabara.
Entah kenapa Akihabara itu ramai sekali setiap tahunnya.
Aku berdiri dengan pelan dan berniat untuk meninggalkan akademi itu. Aku tidak ingin membiarkan diriku diam begitu saja. Aku menyakiti hati Aurora dengan sebuah masalah perselingkuhan.
Sepertinya, Aurora terlalu sering menonton film drama percintaan. Dia tidak memaafkan orang yang tidak setia. Entah kenapa aku muak dengan drama itu. Paman itu akan menertawakanku lagi.
Kalau dia tahu Sheeran mengaku menjadi istriku, dia akan merayakannya. Menyebalkan sekali.
Jam 19:30, aku keluar dari akademi dengan memegang tembok dan menahan lukaku lalu mencoba untuk berjalan sendirian. Aku ingin sekali menaiki taksi untuk pulang. Tapi, aku harus menutupi semua lukaku sebelum taksi itu datang.
Aku segera bersandar di pagar dan segera memanggil taksi. Aku membuka ponselku dan segera memanggil taksi di aplikasi Uber. Aku menunggu sesuatu sambil membaca beberapa paragraf yang belum kubaca untuk menunggu kesempatanku dengan kedatangan taksi. Setelah menunggu beberapa saat kemudian, taksi itu datang.
Aku membaca beberapa paragraf dan menyembunyikan lukaku menaiki taksi lalu segera memperlihatkan rute perjalanan menuju ke apartemenku. Sopir itu menerima dengan senang hati dan melajukan mobilnya menuju apartemenku.
Aku mengenakan mantel yang ku simpan di tasku untuk menyembunyikan identitasku. Aku tidak menggunakan teknik "Arctic Warfare : Costum Arc 1" karena aku tidak ingin menggunakan teknik itu. Teknik itu membuang waktu saja.
__ADS_1
Di dalam perjalanan, aku segera memikirkan kata untuk memperbaiki Aurora. Masalah ini perlu aksi dan kerja keras untuk membawa Aurora kembali. Aku tidak tahu mengenai apartemen Aurora. Dia selalu berada di apartemenku dan menjengukku. Aku tidak pernah menjenguk apartemen Aurora sebagaimana dengan Apartemen Akishima pada saat itu.
Aku mengecek uang saldo yang ada di kartu kredit. Aku tidak tahu bagaimana caraku agar bisa menghasilkan uang sendiri. Aku tidak terlalu mahir dengan keahlian bekerja sampingan. Karena itu, aku selalu menguntungkan niat itu.
Semoga saja, saldo kreditku masih ada.
[*^*]
Aurora sudah berada di dalam kamarnya. Ia memandangi apartemen gelap dengan tatapan matanya. Tidak hanya kamar, ruangan yang lainnya dipenuhi dengan kegelapan dan kerusakan furniture. Ia sudan mengayunkan sebuah kapaknya ke arah furniture yang sudah rusak itu. Ia ingin merusaknya lagi dan lagi.
“Takkan ku maafkan kau!”
“Takkan ku maafkan kau!”
“Takkan ku maafkan kau!”
“Takkan ku maafkan kau!”
Aurora berteriak dengan keras sambil mengayunkan kapak miliknya untuk menghancurkan orang yang ia benci. Ia juga menghancurkan tembok dengan kapak untuk melampiaskan kemarahannya. Ia tidak bisa melihat melakukan apapun lagi karena ia sudah tidak bisa mendapatkan kepercayaan lagi.
Aurora menghancurkan kayu yang menjadi furniture dan barang yang terbuat dari kayu. Ia menghancurkan barang elektronik yang ia beli. Padahal, ruangan yang lainnya, tidak ada kerusakan apapun.
Setelahmelampiaskan kemarahannya, membuka semua pakaiannya dan membiarkan pakaian miliknya tergeletak di lantai. Ia hanya mengenakan pakaian dalamnya dan mengambil selimut untuk melindungi diri dari kenyataan. Setelah Itu, ia bersembunyi di samping nakas dan mulai mengalirkan air matanya.
Ia berteriak sekaligus menangis. Ia juga tidak mempedulikan lingkungan sekitar dengan furniture yang dihancurkan dengan kapak. Ia membuang kapak di atas ranjang dan tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Kamarnya menjadi berantakan dan tidak dapat tertolong lagi.
Tidak ada yang tahu dengan kondisi apartemen yang cukup parah itu
Tak lama kemudian, Aurora merasakan perubahan yang tidak diinginkan. Ia merasa tinggi badannya semakin tinggi, lalu dada Aurora menjadi lebih besar sedikit. Rambut twintailnya tidak berubah. Warna rambutnya menjadi hitam dan mata Aurora mulai menyala.
Ia duduk termenung di depan gorden yang tidak pernah ia buat. Ia tidak bicara sekalipun dan tidak bergerak satu mil pun. Ia hanya menatap tubuhnya yang hanya berpakaian dalam dan luka memar yang sebentar lagi menghilang. Ia tidak mau meninggalkan sebuah kegelapan yang ada dalam perasaannya.
“....” Aurora hanya terdiam dengan renungannya.
Ia tidak memikirkan hal yang menyenangkan, mengingat sebuah kejadian yang menimpanya itu. Ia juga mengingat bahwa ia merasakan hal yang sama sebelumnya. Menghancurkan barang yang ada di kamarnya dan bersembunyi di bawah selimut. Tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan.
Ia merasa ketakutan pada saat ia merenungkan ingatan kembali. Dengan itu, Aurora tidak akan mempercayai siapapun dan tidak pernah merasakan hal yang familiar dalam dirinya. Ia selalu menyembunyikan semua itu karena suatu keadaan yang tidak ia inginkan.
Setelah berhenti menangis, ia bangkit dari tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi. Ia membuka pintu dan segera menuju ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, dia membuka semua pakaian bikininya dan segera memasang air panas untuk tubuhnya.
Di tengah pemandian yang gelap dan suram, dia berpikiran negatif mengenai kejadian yang tadi. Ia juga mengingatku dicium oleh Shiori. Ia sangat terpukul dengan momen itu. Sebuah momen yang mengingatkan sebuah masa kelam yang ia alami pada saat ia berada di London.
Setelah mengeluarkan air matanya, ia segera pulang. Namun, ia bertemu Shiori dan segera mengajarnya. Ia menyeret Shiori ke aula itu dan segera menghabisinya. Namun, karena Shiori merasa lebih tenang, ia bisa mengalahkan Aurora dan memperlakukannya seperti korban bullying.
Setelah meninggalkan ruang aula, ia melampiaskan kemarahannya padaku dan menginjak perutku dengan keras.Setelah itu, ia pulang ke apartemen dan mengancam Akishima yang menghampirinya. Sejak saat itu, ia menjadi tidak terkendali dan menghancurkan furniture yang ada di kamarnya itu. Bahkan ia akan menggila setiap detiknya.
Setelah mandi, ia mengenakan pakaian bikini miliknya dan segera menuju ke kamarnya. Setelah sampai di kamarnya, ia mencari fotoku dan segera menghancurkannya. Ia melakukan hal yang sama sebanyak-banyaknya agar ia ingin membunuhku dengan persiapan mentalnya.
Karena perbuatanku, Aurora merasa ingin membunuh orang. Ia juga berniat untuk keluar malam dan membunuh orang yang sedang romantis. Ini mirip sekali dengan seorang psikopat pembenci romantika.
Setelah menghancurkan foto yang terpampang di tembok, dia melemparkan kapak miliknya lagi dan membuat lubang yang cukup besar di dalam dindingnya itu. Ia juga berteriak sekencang-kencangnya agar bisa meluapkan kemarahannya karena hidupnya telah dihancurkan.
“Ku hancurkan kau, Rivandy!"
“Ku hancurkan kau, Rivandy!”
:Ku hancurkan kau, Rivandy!”
“Aku akan menghancurkanmu, Rivandy!”
Aurora kembali tidak terkendali lagi. Ia terus menghancurkan perabotan apartemen. Ia sudah membeli senjata untuk menghancurkan kamarnya. Bahkan ranjang bisa jadi korban penghancuran barang oleh Aurora.
Bagi orang Rusia, Aurora melakukan itu untuk melepaskan stres. Biasanya ada sebuah ruangan penghancuran untuk melampiaskan kemarahannya.
Aurora semakin tak terkendali. Ia tidak bisa dihentikan. Polisi memilih untuk menghindar darinya daripada berurusan dengannya.
Setelah itu, Ia kehilangan amarahnya dan tanpa sengaja memilih tidur di ranjang yang ia rusaki. Ia berbaring dengan mata yang masih terbuka. Ia perlu menunggu beberapa saat untuk meluapkan emosinya pada barang furniture itu.
__ADS_1
Ia mengingat sesuatu yang membuat kausalitas ruang penghancuran. Ia juga mengingat kejadian yang cukup kelam bagi dirinya sendiri. Ia merasa tidak diinginkan dan berniat mengakhiri hidupnya dengan seorang psikopat.
Masa lalu Aurora akan dimulai saat ini. Cerita mengenai masa kelam gadis imut, Aurora Sentinel.