Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Rivandy Lex 1,6


__ADS_3

Aku datang, Rivandy!


Akishima membuka pintu dan melihat ruangan apartemen yang cukup biasanya. Ia melihat ruangan apartemen yang cukup rapi dan tidak ada yang berantakan. Ruang tamu, dapur, dan kamar mandi masih normal. Tidak ada yang berantakan.


Tidak ada seorangpun yang tahu apakah ruangan ini ada orng atau tidak. Hanya satu orang yang masuk ke apartemen ini. Yang pasti itu adalah … aku. Akishima tidak menyadari keanehan dari apartemen yang masih rapi ini.


Tidak ada keanehan.


Hanya ruangan yang rapi dan simetris.


Satu persatu ruangan itu diperiksa dengan ketelitian. Akishima sangat tidak menyadari dengan keadaan kamarku. Dia hanya mencari dan menemukan keberadaanku. Aku tidak menutup bukti yang ada. Aku hanya membiarkannya saja.


Sudah beberapa menit kemudian aku tidak ditemukan. Akishima sudah mengecek semaunya. Namun, tidak ada siapapun yang akan menemukanku. Aku tidak bisa ditemukan begitu saja. Dia harus mencariku dan mencariku.


Ini mirip sekali dengan hide and seek. Permainan petak umpet. Namun, petak umpet ini adalah petak umpet hidup atau mati. Jika aku tidak ditemukan, aku tidak akan kembali lagi.


“Tidak ada. Aku harus mencarinya segera. Kalau tidak, aku tidak akan menemukannya,” tekad Akishima segera mencari keberadaanku.


Akishima mencari keberadaanku yang tidak diketahui. Ia tidak tahu keberadaanku sudah di depan mata. Namun, aku tidak terlihat. Dia masih belum bisa menemukanku.


Akishima mencari dan menelusuri ruangan yang ada dalam keberadaanku. Ia sudah mengecek semuanya. Namun, aku tidak bisa ditemukan. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku.


Permainan ini cukup melelahkan. Namun, ia belum menyerah dan akan melakukan tekad menjadi Naruto. Ia akan menemukanku dengan teknik ninja miliknya itu. Entah apa jurusnya. Namun, ia masih belum bisa. Itu karena masih belum menguasainya .Jadi, ia menunda itu.


Kamar mandi, dapur, ruang tamu, dan teras beranda tidak ditemukan. Ia masih mencari keberadaanku yang mustahil ditemukan. Dia tidak tahu kapan permainan ini berakhir. Yang pasti ia akan menemukanku.


Saatnya ia mengecek kamarku!


Ia memasuki kamarku yang gelap dan menyalakan lampu kamar apartemenku. Setelah lampu dinyalakan, aku tidak ada. Dia mencari di segala sisi. Dia membuka lemari, melihat kolong ranjang, dan melihat sisi yang lainnya. Namun, aku tidak ada. Tidak ada reaksi yang muncul.


Itu hanya keheningan.


“Dia pergi kemana? Aku yakin dia ada disini. Namun, aku tidak melihatnya. Dia pasti bersembunyi di suatu tempat.”


“Aku akan membayar perbuatanmu, Rivandy! Kau mungkin bisa sembunyi dariku. Tapi, aku akan menemukanmu dan menjadi Raja Bajak Laut!” Tekad Akishima menjadi-jadi.


Dia membanting pintu dengan keras dan segera mencari ide untuk menemukanku.  Dia memulainya dari awal dan memakan waktu. Dia mengetahui ini semua. Tapi, dia harus memulainya dari awal.


Dia tidak sadar … bahwa aku sudah menggunakan “Arctic Warfare : Stealth” atau “Arctic Warfare :Camouflage” untuk bersembunyi darinya.


Jika aku menggunakan itu terus menerus dalam jangka waktu 3 jam, maka … aku akan menghilang … selamanya secara permanen.


[*^*]


Aku sudah berada dalam kegelapanku. Aku bersembunyi dengan kemampuanku dan termenung sambil menahan tangisanku itu. Aku tidak menyadari akan mendapatkan perulangan yang sama juga.


Aku termenung dekat ranjangku dan berada dibawah. Aku tidak akan kembali lagi. Aku berada disini dan berniat menghilangkan diri dengan kemampuan diriku. Aku tidak bisa lari lagi. Ini sudah buntu. Tidak bisa kemana lagi.


Semuanya sudah jelas. Tidak ada yang bisa kusembunyikan.


Aku hanyalah pembunuh bangsawan yang kotor.


Aku adalah buronan dari mata-mata MI6.


Aku bukan siapapun yang akan menjadi sebuah keberhasilan.


Aku hanyalah termenung di dalam kegelapan yang akan menghantuiku selamanya. Mimpi buruk dan trauma akan mengerumuniku dan tidak akan lepas selamanya. Ini sudah terjadi sebelumnya. Aku bukan remaja yang dikelilingi oleh seorang teman.


Beberapa saat lagi, .... aku akan menghilang.


Tak lama kemudian, ada lampu yang menyala. Aku tetap termenung. Dia mencariku dengan mata miliknya. Dari sudut kamarku, dia terus mencari. Namun, dia tidak bisa menemukanku. Mata yang sangat jeli itu tidak akan bisa menemukanku.


Seseorang mencariku. Namun, dia tidak menemukanku. Dia dengan peduli segera mencariku dan dengan kesalnya, dia meninggalkanku dan segera mematikan lampunya lalu dia menutup pintu dan segera pergi dari kamarku.


Itu sudah jelas bahwa dia tidak akan bisa menemukan keberadaanku.


Tidak ada yang bisa kulakukan.


Yang hanya bisa kulakukan adalah … menunggu beberapa saat lagi untuk menghilang untuk … selamanya.


Ketika mengucurkan air mataku. Aku terkejut.dengan kemampuannya, dia menemukanku. Padahal, aku sudah menggunakan taktik biar aku tidak ditemukan. Aku tidak tahu bagaimana cara dia menemukanku. Aku tidak tahu kenapa


Aku tidak percaya dia menemukanku.


Kenapa?


Kenapa dia bisa tahu keberadaanku?


Padahal, aku ingin menghilang selamanya.


Aku tidak akan bertemu siapapun lagi.


Kau membenciku.

__ADS_1


Kau membuatku tersiksa


Kau sudah membuatku ingin mati!


Kali ini, ….


Aku akan menghancurkanmu!


[*^*]


Akishima meninggalkan kamarku. dia menutup pintu kamar dengan keras dan keluar dari apartemenku. Ia menuju pintu keluar dan segera kembali ke akademi dan segera mengulangi pencariannya.


“Yosh! Ini dia.”


“Tateyama Ayano : Observation Haki : Active!”


Akishima menyalakan teknik rahasia darinya. Dia menjadi seorang pencari yang sangat handal. Dengan mata merah darinya, membuat Akishima tidak terkalahkan. Ia akan menemukan seseorang yang akan menghilang.


Dalam Dunia One Piece, ada sebuah Haki yang bisa memprediksi serangan pada dasarnya. Haki itu adalah Kenbunshoku no Haki. Haki itu berguna untuk melihat dan memprediksi serangan yang akan terjadi.


Haki yang berada di tingkat Advanced adalah Haki yang bisa memprediksi masa depan. Haki itu dilatih keras oleh Charlotte Katakuri kemudian Luffy mempelajari Haki itu dan mengalahkan Katakuri di Whole Cake Island.


Haki ini sangat berbeda dengan milik Akishima. Kenbunshoku no Haki milik Akishima sudah berada di tingkat Advance. Dia bisa melihat orang menghilang.


Maka dari itu, dia melihat titik warna hitam. Titik itu menandakan kegelapan yang akan mencapai titik maksimal. Semua perasaan yang aku hadapi terdapat pada titik hitam. Dia sudah tahu semuanya. Ia tinggal beraksi untuk tidak membiarkan Nakamanya tersakiti.


"Yosh! Aku menemukanmu, Rivandy! Aku akan membawamu kembali sekarang juga!" Tekad Akishima masuk ke dalam apartemen.


Ia segera masuk ke apartemenku dan mencari sesuatu yang cukup mencari perhatiannya. Ia menemukanku di kamar.


"Rivandy! Aku menemukanmu! Kau pasti berada di depanku. Aku tidak akan kubiarkan kau untuk tersakiti sekarang juga!" Akishima menggelar di hadapanku.


Dengan itu, aku tidak bisa bersembunyi lagi. Kemampuanku mati seketika karena aku tidak bisa lari lagi. Aku bukan diriku lagi. Aku hanyalah remaja yang sedang mengalami trauma yang lebih parah.


Aku sangat takut padanya karena melihat kondisiku yang cukup mengenaskan. Aku ketakutan karena dia sudah menemukanku dengan kondisi seperti ini.


Jadi, …


Terpaksa aku membunuhnya.


Aku mengambil senapan pistol milikku dan segera melakukan tembakan kepada Akishima. Peluru itu segera melesat dengan cepat dan menargetkan Akishima yang sedang berada di hadapanku


Akishima menghindar peluru itu dengan kekuatan Haki miliknya. Dengan enteng, ia menghindari peluru itu dan mencoba mendekatiku walaupun aku ingin membunuhnya.


"Lagipula kau tidak bisa menembakku! Aku punya Kenbunshoku no Haki, kau tahu," lanjut Akishima dengan santai.


"Berisik! Aku tidak peduli!" Aku berteriak sambil memegang pistol ku.


"Rivandy. Ada apa? Kamu kelihatan tidak baik!" Tanya Akishima dengan ramah.


"Apa yang kau lakukan?! Seharusnya kamu menjauh dariku!" Aku berteriak dan menjawab semuanya.


"Berhentilah bermain-main! Aku mencemaskanmu. Aku pikir kamu datang kepada kami. Tapi, kamu pergi setelah membunuh bangsawan itu," lanjut Akishima.


"Kenapa kau tahu itu, huh?!" Aku menarik pelatuk agar aku bisa menghancurkan Akishima.


Akishima mengelak dengan mudah. Aku tidak mengerti kenapa Akishima bisa menghindari peluru yang aku tembakkan. Padahal, aku menembak kepalanya. Tidak mungkin peluru itu bisa dihindari dengan mudah. Bahkan, orang profesional saja akan mati dengan jarak sedekat itu.


"Aku sudah tahu itu. Bahkan, tanpa diberitahu pun, aku sudah tahu kamu menderita," respon Akishima


"Kamu! Kenapa kamu tidak membiarkanku mati?!" Aku berusaha menembak Akishima dan menginginkan ia meninggalkanku.


"Karena aku tidak mau kehilanganmu. Kau sudah membuatku ingin menjadi Naruto saja," ocehnya sambil mengomeliku.


"Kenapa kau tidak mati saja?!* Aku semakin ketakutan setengah mati berusaha untuk mengisi peluru dan menembaknya lagi.


"Aku tidak mau membuatmu menderita lagi. Kau selalu melukai dirimu setiap menyelesaikan masalah," omel Akishima berakting seperti Naruto.


Aku semakin kesal dengan omelan Akishima. Aku tidak perlu dipahami. Aku ingin menghancurkan Akishima dan membunuhnya seperti bangsawan kotor itu.


"Sial!"


Aku menembak Akishima yang mengungkapkan Kenbunshoku no Haki miliknya. Dia mengetahui semua jalan serangan dariku, kapan aku menembak, dan peluru itu menuju ke kepala Akishima. Jadi, dia sudah bisa mendapatkan semua itu.


Aku tidak punya harapan lagi.


"Rivandy. Sudahlah! Aku tidak ingin melawanmu. Kau tidak akan bisa menembakku dengan pistol itu. Aku audah memprediksi semuanya."


"Soalnya, Kenbunshoku no Haki bisa membuatku menghindari serangan dan tembakanmu. Jadi, percuma saja!" Bujuk Akishima agar aku berhenti menembak.


Aku menolak,"Tidak mau! Aku tidak mau berhenti sampai kau mati seperti bangsawan kotor itu!" Dengan mentah-mentah, aku menganggap Akishima seperti seorang bangsawan kotor itu.


Akishima merasa serius dengan perasaan ini. Ia melihat air mataku yang keluar dan segera mengarahkan pistol itu padaku.

__ADS_1


"Sekarang, aku yang bertanya. Bagaimana dengan masa lalumu yang kelam itu? Apakah mereka melakukan hal yang jahat padamu?!" Tanya Akishima mendekatiku.


Aku takut kalau Akishima mendekatiku. Aku akan disakiti lagi seperti sebelumnya. Aku sudah menjadi korban pemerkosa dari Neesan. Ini membuatku depresi dan bunuh diri.


"Jangan mendekat! Kau takkan pernah memahami perasaanku!" Aku menjerit sambil mengisi peluru terakhir untuk menembak Akishima.


Akishima tidak menjawab. Ia mengabaikanku dan mendekat. Ia berada di siisku dan segera melakukan sesuatu yang cukup ia lakukan untuk Oneesan.


Aku tidak mengerti kenapa dia memperlakukanku dengan baik. Dia membuatku berdiri dari renungan itu. Aku hanya terdiam tidak mengerti.


Dia memegang tanganku dengan lembut dan hangat. Ia melakukan ini untuk melakukan pendekatan pada seorang iblis sepertiku. Aku sudah mengecewakan semua orang. Apalagi Sheeran dan Neesan. Aku tidak akan kembali lagi.


"Menjauh dariku!" Aku mengayunkan pisau itu ke arah Akishima.


Akishima terdiam. Ia tidak sadar aku sudah mengalami kehancuran dalam mentalku. Aku tidak membiarkan diriku diperlakukan seenaknya. Aku akan membunuhnya.


Namun, Akishima masih belum menyerah. Keras kepala demi mengembalikan semuanya. Ia memelukku dengan hangat. Dengan pelukan hangat itu, membuatku semakin liar. Aku tidak tahan lagi. Aku ingin membunuhnya. Aku tidak mau dipeluk oleh Akishima.


"Kenapa kau tidak pernah mengerti?!" Aku berteriak dengan kencang dan memulai menusuk dada Akishima.


"Habisnya, kamu terlalu banyak menanggung rasa sakitmu. Kamu sudah membuat dirimu terluka dengan keras. Aku sangat prihatin dengan rasa sakit yang kamu rasakan. Aku sangat terharu karena kamu melakukan itu untuk orang lain."


"Kamu menyelamatkanku dari kegelapan ini. Kamu yang sudah membuatku seperti sekarang. Kalau kamu tidak ada, aku sudah tidak ada di pelukanmu."


"Aku tidak akan ada disini. Jadi, aku akan membalas sekarang juga." Dengan itu, curahan hati Akishima sudah tersampaikan.


Aku malah tidak mendengarkannya. Aku memilih untuk menusuk dada Akishima dengan pisau milikku. Aku menekannya agar ia menjauh dariku.


"Berhenti bicara dan biarkan aku membunuhmu!"


Aku meronta-ronta dan ingin melancarkan serangan ke dadanya. Aku tidak ingin dia menyelesaikan curahan hatinya. Aku akan membuat Akishima menyesali perbuatannya.


"Rasakan ini!"


Aku menusuk dada Akishima saat ia memelukku. Aku melakukan itu terus sampai dada Akishima mengeluarkan darahnya. Namun, Akishima tidak menjerit kesakitan. Ia hanya terdiam dan memelukku dengan posisi badanku di dadanya.


"Kuhancurkan kau!"


"Kuhancurkan kau!"


"Kuhancurkan kau!"


"Kuhancurkan kau!"


Aku menusuk Akishima dengan pisau dan berharap dia akan mati. Namun, aku salah besar. Aku tidak bisa membunuhnya. Dengan ketakutanku yang menghantuiku, pisau yang kupegang dilepaskan dari tanganku dan jatuh ke tanah.


Akishima masih mengeluskan kepalaku dengan lembut seakan-akan memberikan kasih sayang padaku. Dia melakukan itu karena sudah memahami perasaanku


"Sudahlah! Kau tidak perlu membunuhku. Pada saat itu, aku berencana untuk membunuhmu. Tapi, kamu memelukmu dan membuatku terharu. Sekarang, aku akan memelukmu dengan lembut dan cinta."


"Jadi, menangislah! Aku akan merahasiakan untukmu." Dengan aura Oneesan, membuatku tidak tertahankan.


Aku masih menahan tangisan itu. Aku masih belum mengucurkan air mataku. Kenapa dia melakukan sejauh ini?


"Yosh! Yosh! Aku akan meladenimu kali ini. Jadi, tidak apa-apa! Kami boleh menangis. Aku akan menyediakannya untukmu. Jadi, kamu ... tidak perlu menangis sendirian lagi." Akishima memojokku untuk mengucurkan air mataku.


Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti. Dia melakukan sejauh ini … hanya untukku?


Aku tidak tahan lagi. Kenapa dia melakukan ini? Padahal, aku … aku adalah … seorang buronan pembunuh.


Aku merasa ketakutan dan tidak ingin sendirian lagi. Karena dia sudah di hadapanku, aku ingin sekali melakukan apa yang ku inginkan. Jadi, aku akan … menangis.


"Akishima. Kamu …." Aku tidak bisa menahan air mataku lagi.


Dengan itu, aku bisa merasakan air mata dan penderitaan yang kurasakan.


Akhirnya, aku mengalirkan air mataku sambil memeluk Akishima. Aku merasakan kehangatan dari tubuh Akishima meskipun dadanya mulai mengalirkan darah merah akibat perbuatanku yang menusuk dadanya dengan pisau.


"Aku takut. Kau membenciku. Karena kebencian itu, membuatku ketakutan. Aku tidak bisa kembali lagi. Aku hanyalah sampah!" Aku mengungkap semua ketakutanku dan trauma yang aku miliki.


"Tidak perlu takut. Aku tidak akan pernah membencimu. Aku sudah tahu semuanya. Kamu hanya perlu menangis. Itu sudah cukup bagiku. Aku sudah terbantu denganmu. Sekarang, aku akan menjadi sosok yang penting untukmu, yaitu Kareshi."


"Maafkan aku. Aku membuatmu kesulitan. Aku ...." Aku mengatakan di sela tangisanku.


"Sudah! Yang penting, aku berada di sampingmu. Aku tidak akan meninggalkanmu," bujuk Akishima memelukku dengan penuh luka dan derita.


Dengan pelukan itu, membuatku ingin mengalirkan air mataku dengan keras. Dengan pelukan hangat Akishima, membuatku ingin melepaskan semua derita yang aku peroleh. Aku tidak akan menangis selain pelukan itu.


Setelah pelukan itu, dia melepaskan pelukan itu lalu mengelus kepalaku. Aku memintanya karena tekad D Akishima tidak bisa diremehkan.


Setelah Akishima mengelus kepalaku, Akishima menidurkanku dengan pelukan yang membuatku ingin menangis lagi.


Aku tertidur lelap secara perlahan dan tidak ingin kembali bersama orang lain. Akishima saja sudah cukup.

__ADS_1


__ADS_2