Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Aurora Sentinel


__ADS_3

Hari Kamis, 15 Januari 2026, jam 15:23, Aurora dan Evelyn pulang dari akademi dan segera pulang. Sheeran dan Akishima menemaniku di rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter mengenai gejala hipotermia. Mereka juga menjagaku dari gadis yang akan menggodaku. 


Aurora dan Evelyn sedang berbincang dengan baik. Namun, Evelyn tidak tahu mengenai latar belakang dan perasaan Aurora. Jadi, ia tidak tahu apa yang menyebabkan Aurora menjadi seorang gadis yang misterius.


“Sampai disini saja, desu. Aku akan menjemputmu besok, desu,” beber Evelyn pada Aurora.


“Iya. Di sini kita akan berpisah dan akan bertemu besok,” balas Aurora.


“Kalau begitu, sampai jumpa, desu. Aku pergi dulu. Tolong sampaikan ke Pangeran, desu,” pamit Evelyn berlari seperti anak kecil.


“Good Bye, Evelyn!” Aurora mengucapkan selamat tinggal pada Evelyn.


Setelah Evelyn meninggalkan Aurora, wajah Aurora menjadi suram. Tidak ada yang tahu pasti apa penyebab murungnya Aurora, Tidak ada yang menemani. Ia hanya berjalan sendirian menuju kehidupan yang rapuh itu. Tidak ada yang tahu, gadis manis dan imut seperti Aurora terdapat perasaan yang rusak dalam lubuk hatinya itu.


Setelah sampai di apartemen Aurora, Aurora membuka pintu apartemen dan segera memasuki apartemen yang telah ia beli. Ketika memasuki apartemennya, ia melihat sebagian besar furniture yang sudah hancur lebur.


Sesampainya di kamarnya yang penuh dengan kegelapan, ia mengambil kapak dan segera menghancurkan furniture yang sudah rusak oleh perbuatannya. Ia mengayunkan kapak dengan keras, sehingga benda yang terkena kapak itu hancur seketika.


“Takkan Kumaafkan!”


“Takkan Kumaafkan!”


“Aku akan menghancurkanmu!”


Aurora selalu melampiaskan perasaannya yang buruk pada lingkungan sekitarnya. Ia merusak semua furniture yang ada di sampingnya itu sebagai pelampiasan kemarahannya. Ia sudah tidak tahan lagi dengan kehidupan semu yang mengintainya.


Setelah menghancurkan furniture untuk melampiaskan amarahnya, ia mengambil selimutnya dan mengeluarkan air matanya dengan keras. Ia membuka semua pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian dalam warna hitam gelap itu.


“Aku benci kamu!”


“Aku tidak ingin melihatmu lagi.”


“Kalau kamu memaksaku, aku akan membunuhmu."


[*^*]


16 Januari 2026, Aurora terbangun dari tidurnya di ranjang. Ia tidak mengenakan apapun selain pakaian dalamnya. Ia menyiapkan diri untuk ke akademi. Setelah berpakaian rapi, Aurora menatap cermin yang sudah rusak dengan sesaat. Dengan detik yang berlalu, kepribadian Aurora telah berubah. Dari suram menuju yang biasanya.


Setelah beberapa saat, Aurora keluar dari apartemen sambil membawa tasnya dan pergi menuju ke padaku dan Akishima. Kami terlihat romantis karena Akishima selalu lengket padaku. Itu yang membuat Aurora tidak bisa melakukan sesuatu.


"Aurora. Aku menunggumu disini," sapaku melihat Aurora yang menghampiriku.


"Aurora. Aku sudah menunggumu. Kamu dari mana saja?" Tanya Akishima penasaran.


"Tidak ada. Ayo ke akademi sekarang!" Ajak Aurora melewati kami.


Kami bingung dengan sikap Aurora. Aurora menyembunyikan sesuatu yang tidak kami sadari. Tidak ada yang boleh melihatnya dengan kepribadian yang lainnya. 


Sesampainya di akademi, aku dan Aurora segera memasuki ke Kelas I Saintek A dan berpisah dari Akishima. Evelyn sudah berada di kelas duluan sebelum kedatangan dan Aurora. Nina yang berada dalam kelas Disiplin harus segera bertugas sebelum kembali ke kelas. 


Aurora duduk bersama dengan sedikit suram. Ia hanya menatap pemandangan Moskow dengan suram. Ia juga membuka buku dan mempelajari sesuatu. Sesuatu yang cukup kompleks baginya, yaitu hubungan asmara.


Aku tidak terlalu mengerti dengan sikap Aurora itu. Biasanya, dia sering mengajakku bicara. Namun, kali ini dia ingin sendiri dan tidak ingin diganggu. Aku melakukan sesuatu agar Aurora menjadi lebih baik lagi, yaitu membiarkannya sendiri.

__ADS_1


“Rivandy. Kamu tidak mengajak Aurora, desu?” Tanya Evelyn tidak mengerti apa yang terjadi.


Aku menjawab, “Aurora sedang tidak sehat. Lebih baik kita biarkan saja,” menoleh ke Evelyn.


“Iya, desu. Lihat! Aku tidak bisa mengerjakan matematika, desu,” unjuk Evelyn memperlihatkan dengan tugas matematika.


“Kerjakan sendiri!” Aku cuek pada Evelyn.


“Ayolah, desu! Pangeran Matematika bisa melakukan ini,‘ bujuk Evelyn dengan rayuan anak kecil yang manja.


“Baiklah! Aku akan membantumu. Tapi, berjanji untuk tidak menjadi anak kecil yang manja,” tekadku untuk membantu Evelyn.


“Sudah kubilang aku bukan anak kecil, desu!” Cocor Evelyn dengan menggembungkan pipinya.


Aurora hanya fokus saat membaca sesuatu. Ia melihat ada hal yang berbau akrab. Tidak ada yang peduli dengannya. Tidak ada yang mengetahui Aurora. Aku dan Evelyn melakukan hubungan romantis kami meskipun sudah di depan Aurora. Dan itulah yang akan membuat masalah semakin kompleks.


[*^*]


Jam 10:01, jam pelajaran akademik telah berakhir. Ini Minggu pertama setelah liburan panjang pada musim dingin. Aurora meninggalkan kelas duluan dan pergi ke tempat yang tidak diketahui. Aku dan Evelyn malah semakin romantis. Entah kenapa Evelyn sangat menyukaiku. Apalagi, dia selalu memintaku dengan sebutan Pangeran Matematika. Itu menggelikan.


Aurora pergi ke sebuah tempat untuk melampiaskan kekecewaannya. Ia merasa kecewa karena suatu kondisi yang membuatnya seperti itu. Ia tidak bisa berada dalam di sisi ku untuk sementara waktu. Entah apa masalah yang harus dihadapi. Ia merasa hancur kalau melihat sebuah percikan cinta.


Ia melihat sebuah kebohongan yang ada di sekitarnya. Banyak gadis yang jatuh hati pada Pangeran Akademi. Entah kenapa para gadis itu tergila-gila dengan Pangeran Matematika di kelas yang sama dengannya.


Akhirnya, ia memutuskan untuk berdiam diri di taman untuk sementara waktu. Ia menghindari para gadis yang meluapkan hasrat cintanya pada Pangeran. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan pangeran. Suasana Aurora semakin memburuk. Bahkan, hampir sama dengan suasana cuaca Kota Moskow. Belum ada matahari yang menyinari Kota Moskow. Ini masih musim dingin.


"Kenapa semuanya menjadi seperti ini?" 


"Apakah aku memang gadis yang terkutuk?"


"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu lagi."


"Hati semakin gelap dan berat. Aku tidak bisa melakukan ini."


"Tidak ada yang peluang."


"Aku hanya …."


Setelah merenungkan apa yang terjadi, Aurora segera kembali ke kelas dan segera mengikuti pelajaran. Aku dan Evelyn yang sedari tadi melakukan hubungan romantis tidak menyadari akan menjadi lebih buruk. Jam pelajaran dimulai dan para siswa dan siswi mulai belajar lagi. Ini adalah kelas Biologi. Pelajaran yang membuat Aurora antusias untuk mendengarnya. 


Mulai dari Plantae, Animalia, Fungi, dan Ekosistem lingkungan. Bahkan, ada biologi khusus untuk dokter. Biologi untuk dokter harus mengetahui tubuh manusia secara kompleks. Mulai dari fungsi organ tubuh, istilah nama latin, sampai penyakit yang diidapnya, salah satunya adalah penyakit Hipotermia.


Pada saat pelajaran berlangsung, Aurora tidak merasa lebih baik lagi. Ia terganggu dengan pikiran yang menghantuinya. Entah kenapa Aurora tidak bertanya pada guru biologi. Apakah dia malas atau tidak. Ini masih menjadi misteri. Tidak ada yang tahu apa yang jadi penyebab yang kuat. Aku tidak bisa membayangkan Aurora lagi.


Aku yang melihat Aurora yang aneh menarik perhatianku. Evelyn juga. Nina juga yang sedari tadi tidak mengerti merasa lega sekaligus cemas dengan Aurora. Ia lega kalau pertanyaan Aurora terbilang sulit sekali dan cemas dengan kondisi Aurora yang sedang memburuk.


Kebetulan Aurora tidak bertanya dengan pertanyaan yang menginginkan seisi kelas. Bahkan, aku dan Nina tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Misalnya, spesies apa yang punah hari ini, sebutkan perbedaan spesies, dan keuntungan dan kerugian spesies secara intensif . Bahkan, pertanyaannya dimulai dari buku Campbell. Pihak akademi langsung pusing dan akan menjadikan pertanyaan Aurora yang paling sulit dengan skor tinggi.


Jam 12:13, Aurora duduk termenung di dalam suatu tempat. Ia sudah tidak menahan lagi. Ingin sekali melampiaskan amarahnya kepada suatu benda. Namun, tidak ada benda yang bisa digunakan untuk melampiaskan hasratnya. Tidak ada kapak atau beda tajam lainnya. Ia hanya menggunakan Koch UMP miliknya untuk bertahan dari serangan musuh. 


Bel akademi kembali berbunyi. Aurora kembali ke kelas dengan tenang dan suram. Ia mengabaikanku dan Evelyn yang bersentuhan tangan. Evelyn selalu ceria dan manja di hadapanku. 


Aku dan Evelyn sedang berdekatan satu sama lain. Evelyn juga merayu semakin sering. Entah kemana Sheeran berada. Jika dia istriku, dia harus melindungiku dari rayuan para gadis. Apa dia sedang sibuk? Sudahlah! Aku tidak terlalu memikirkan itu lagi. Itu membuatku pusing.

__ADS_1


Pelajaran terakhir dimulai dengan kondusif. Para guru memberikan tugas terlebih dahulu sebelum memulai pelajaran. Dengan teknik kecurangan ku, aku bisa mengerjakan dan menyelesaikan dalam 3 menit. Evelyn tidak sadar kalau aku sudah selesai. Dia akan menyelesaikannya nanti. Aurora mengerjakan dengan normal. Nina mencatat pertanyaan dulu dengan handphone miliknya. 


Setelah tugas itu diberikan, guru mengumumkan bahwa sebentar lagi ada sebuah acara yang akan dicanangkan untuk memberi pengalaman untuk siswa. Ia mengumumkan bahwa sebentar lagi, musim panas 2026, ada acara yang sangat besar yang akan ditunggu 4 tahun sekali. Itu adalah … Piala Dunia 2026. 


Ini membuat para siswa dan siswi tidak ketinggalan lagi dengan acara itu. Hampir semua negara yang dilirik PBB mengikuti akademi militer mendapatkan grup yang layak untuk dipertandingkan. Tidak ada yang tahu grup mana yang akan bersaing untuk mendapatkan juara pada saat itu.


Setelah pengumuman itu, pelajaran dimulai dengan rotan dan kapur. Padahal, pembelajaran sekarang menggunakan presentasi. Ada orang yang menggunakan alat virtual untuk menunjang pembelajaran. Ini lebih baik karena mengikuti tren masa depan. Ini membuat manfaat yang lebih baik pada masyarakat milenial.


Jam 15:01, pelajaran akademik berakhir, pelajaran minggu depan berubah menjadi pelajaran militer. Klub yang dikumpulkan pada Hari Jumat membuat siswa dan siswi berkumpul pada hari Jumat. Mereka melakukan aktivitas Klub mereka. Klub Teater kumpul pada hari yang sama. Jadi, Akishima dan Sheeran harus ikut dulu. Aku yang masih penyakitan harus dititipkan oleh Aurora dan Evelyn.


Jam 15:04, entah kenapa Aurora semakin menjauh dariku. Tidak tahu apa penyebab dari semua ini. Evelyn malah kabur entah kenapa. Katanya, Klub Robotik kumpul lagi. Padahal hari Jumat, tapi sudahlah! Anak kecil memang begitu.


Jam 15:07, aku disuruh Aurora untuk menunggu di kelas dan mencari sesuatu. Aku harus menunggu di luar kelas sambil membaca buku Final Fantasy XV bab selanjutnya. Namun, ada seorang gadis yang akan menghancurkan Aurora. Dia kebetulan lewat. Bella dan Kotori sedang pulang untuk memperbaiki PS5. 


"Ara-Ara. Kamu sendirian, Sayang?" Tanya Shiori dengan mata cintanya. 


"Shiori. Iya. Aku menunggu seseorang yang meninggalkan barangnya," balasku tanpa menoleh ke Shiori.


Karena sendirian, Shiori mendapatkan peluang emas untuk melancarkan aksinya. Ia tidak berpikir lebih jauh apakah aku dijaga seseorang. Sejauh ini tidak ada yang menjagaku. Dengan momen itu, ia bisa menjadi seorang istri yang nakal dan mesum. Padahal, Sheeran dengan seriusnya mengatakan aku suaminya kepada orang tuanya. 


Ia mendekatiku dan menyelinap dalam pandanganku. Aku masih fokus dalam kejadian epik dalam suatu cerita Final Fantasy XV. Entah kenapa aku menyukai cerita ini. 


Shiori mengambil buku itu dan menyitanya di belahan dadanya setelah memasukkan bukunya ke dalam baju akademinya. Aku merasa kesal karena bukuku diambil secara paksa.


Aku membentak, "Hei! Kembalikan bukuku! Aku masih belum menyelesaikan bab yang penting."


"Sayang. Aku ingin bertanya. Apakah kamu masih kedinginan?" Tanya Shiori sudah mulai mesum.


Aku terpaksa menjawab, "Tidak. Sejauh ini aku baik-baik saja. Suhu tubuhku masih normal. Jadi, kembalikan bukuku!" 


Shiori dengan sigapnya melancarkan sesuatu yang sangat dipersiapkan. Ia merespon, "Aku akan mengembalikannya. Asalkan kamu menjadi lebih hangat dengan tubuhku. Aku tidak bisa menahan libidoku selama ini," dengan senyuman dan pipi yang mesum.


"Aku tidak tahu apa maksudmu, Shiori. Jadi, …." Mulutku dicium oleh Shiori.


Shiori melancarkan rasa cintanya padaku. Aku yang dicium Shiori mendesah karena ciuman yang mesum itu. Dia juga memelukku agar aku tidak bisa lari darinya. Aku ingin memberontak, tapi tubuhku semakin hangat dan tidak terkendali.


"Shiori! Hentikan! Aku semakin hangat," Desakku menghentikan Shiori.


"Tidak apa-apa. Ayo lakukan ini bersama!" Ajak Shiori memperlihatkan dadanya dengan membuka kancing bajunya.


Kami saling berciuman satu sama lain karena aku menikmatinya. Padahal, aku ingin merebut buku Final Fantasy XV dari belahan dadanya. Namun, aku malah menerima godaan itu. Alhasil, aku ingin sekali menjadi pangeran yang mesum.


Shiori membalas serangan dengan meraba tubuhku yang sixpack itu. Aku ingin sekali memegang dadanya untuk merebut buku itu. Tapi, Shiori malah memberikan ciuman leher padaku, sehingga aku mendesah lebih keras.


"Shiori! Jangan! Aku mendesah." Aku ingin berteriak dan mendesah karena Shiori melayaniku dengan baik.


Ketika Aurora luar dari kelasnya, ia melihat suatu mimpi buruk yang menghasutnya. Ia mengingat suatu adegan panas yang membuatnya perasaan hatinya jauh lebih buruk daripada sebelumnya.


Saat aku menoleh ke kiri, aku terkejut dengan ekspresi Aurora yang semakin memburuk. Ini seperti ditikung oleh pasangan sendiri. Kalau tahap lebih serius, aku berselingkuh dengan Shiori karena Shiori bisa melayaniku dengan baik.


Amarah Aurora semakin meningkat. Ia tidak menyadari aku melakukan perselingkuhan itu. Padahal, aku tidak melakukan apapun. Shiori yang memulai duluan. Aku hanya menjadi korban seorang alat untuk memuaskan hasrat mereka.


Pada saat itu, masalah akan dimulai. Dengan amarah Aurora.

__ADS_1


__ADS_2