Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Cinta : Perselisihan Cinta Dekagonal 1,2


__ADS_3

Jam 15:12, para gadis membuat posisi untuk menyerang. Mereka mengisi peluru di senjata mereka dan menyiapkan pedang milik mereka. Mereka menyusun strategi agar dapat menyerang penjaga itu dan menculikku. Mereka harus mencurigai satu sama lain karena tidak ada yang percaya pada mereka.


Anggota Klub Pangeran memperlihatkan cinta mereka sebelum melakukan tembakan. Mereka menunggu kesempatan untuk menyerang. Entah berapa banyak gadis yang akan mengincarku. Mereka akan menculikku dan melakukan hubungan intim agar aku menjadi milik mereka.


Ku harap Neesan tidak mengikuti Perang Cinta ini.


Sementara itu, Zera, Eleva menjagaku dari ancaman. Aurora dan Evelyn mendekatiku dan memperlakukanku seperti suami dan anak. Mereka tidak.membiarkan wanita pelakor yang akan merebut suami Aurora. Bibi Kotori, Paman Eleva, dan Paman Zera tidak akan membiarkanku disakiti oleh mereka. Mereka menjaga sampai pulang akademi.


“Oi! Aku pernah melihatmu sebelumnya,” panggil Eleva menatap Kotori dengan tajam.


“Benarkah?” Tanya Kotori menoleh ke Eleva.


“Aku tidak tahu. Mungkin Pecundang Sialan mengetahui itu semua. Dia selalu mencampuri urusanku,” keluh Eleva menahan amarahnya


“Yah … dia itu memang orang yang sangat baik. Dia juga memberikan harapan pada panti asuhan,” jelas Kotori.


“Jangan main-main denganku! Apa yang kau rencanakan?” Eleva mengenggam baju kerah Kotori dan mengintimidasinya.


“Tidak ada. Aku hanya ingin lulus dan mencari Siren,” jawab menatap Eleva dengan  penuh keyakinan.


“Tch! Jangan harap kamu menemukan Pecundang itu! Kalau aku bertemu dengannya, aku akan menghajarnya,” ancam Eleva melepaskan genggamannya


“ ….” Kotori hanya terdiam dengan ancaman itu.


“Ada apa, Eleva?” Tanya Zera menoleh ke Eleva.


“Tidak ada. Aku hanya ingin melindunginya saja. Dia rentan diperalat,” jelas Eleva melirik padaku.


“Um.” Zera paham dengan Eleva dan mulai berpatroli.


Aurora dan Evelyn tetap melekat padaku. Ia menggunakan tubuhnya agar aku tidak bisa lolos begitu saja. Wajahku memerah karena selalu menyentuh tubuh Aurora. Evelyn tidak kalah dengan itu dan selalu memanggilku Papa. Jiwa lolicon berkibar.


Tiba-tiba, ketika kami berjalan, … “Berhenti!”


“Huh?!” Eleva menoleh ke Kotori dengan bola matanya.


Sebuah bom asap mengenai di sekitar mereka. Para penjaga tidak bisa melanjutkan perjalanan dan menghentikan langkah kakinya dan bersiaga membentuk formasi.


“Siapa yang melakukan itu?” Tanya Eleva marah kepada orang yang melempar bom asap.


“Sepertinya ini bom asap buatan Klub Saintek. Semuanya tinggalkan aku! Aku akan menahan mereka Jadi, ….” Kotori memerintahkan penjaga lain untuk lari.


Namun, mereka tidak ada. Kotori ingin mencari keberadaan mereka dengan kekuatan supernaturalnya. Namun, tidak ada tanda-tanda dari sana. Ia harus mengeluarkan suaranya karena asap itu menghilangkan penglihatannya.


“Sial! Dimana mereka?”


Kotori berusaha untuk mencari semua penjaga. Dia tidak melihat di lingkungan sekitar dan memanggil nama penjaga. Namun, tidak ada yang bisa ditemukan. Kotori merasakan hal yang buruk. Oleh karena itu, dia menahan lawan yang kuat di sini.


Tak lama kemudian, ada seorang gadis memunculkan dirinya. Dia adalah seorang gadis yang mengenakan jas putihnya. Dia adalah gadis yang hampir memperkosaku. Berjalan dengan lurus dan memanggil Kotori sambil menahan nafsunya.


“Kamu datang juga,” sapa Rivera-Senpai.


“Kau yang akan akan memperkosa Rivandy. Aku tidak akan memaafkanmu,” sahut Kotori dengan amarah.


“Apa yang kau lakukan pada Kouhai-ku yang manis itu?” Tanya Rivera-Senpai dengan dadanya yang besar.


“Jangan merayunya! Aku tidak suka kalau kau menakut-nakutinya. Kau tidak akan mendapatkan cinta darinya," tegur Kotori pada Rivera-Senpai.


"Kau memiliki kekuatan supernatural. Iya kan?" Tebak Rivera-Senpai.


"Kenapa kamu bisa tahu?" Tanya Kotori menatap lawannya dengan sinis.


"Saat aku ingin merasakan sensasinya, aku melihat aliran waktu yang terhenti. Kemudian, melihat sebuah aliran waktu yang kosong dan kerusakan pada atom dan molekul. Molekul Kouhai-ku merasa terpecah dan menghilang. Saat kamu memutarkan musikmu, kamu mentransformasikan molekul Kouhai ke arah yang lebih aman."


"Ini seperti teleportasi. Hanya saja terdapat unsur supernatural. Dengan teknik itu, orang bisa tidak bisa memprediksi hal yang terjadi. Tapi, aku selalu mengetahui apa yang kau lakukan," jelas Rivera-Senpai mengenai logika sains.


"Kau ini sebenarnya siapa? Apa tujuanmu?" Tanya Kotori mempersiapkan senjatanya.


"Tidak ada. Aku ingin mencarinya dan menikmati perasaan cinta dalam sains. Aku ingin tahu apa reaksi dari logika itu. Cinta itu tidak bisa diprediksi. Maka dari itu, aku akan menemukan arti dari cinta itu dan segera membawanya ketika dia sudah lulus.

__ADS_1


“Aku akan menikahinya. Kemudian, aku menyantap cairan itu dan akan meneliti setiap tubuhnya. Aku akan menghitung peluang kehamilanku."


"Masa depan Saintek akan bergantung padanya. Dia adalah harapan dari sebuah prestasi. Dia adalah seorang remaja yang akan memenangkan Olimpiade Internasional. Peluang kau menghentikanku adalah 0,45%."


"Kau tidak bisa mendapatkannya. Kau takkan mengetahui perasaannya," tegur Kotori memperingatkan Rivera-Senpai yang jatuh cinta.


"Ayo! Lawan aku! Aku harap aku mendapatkan lawan yang sepadan," harap Rivera-Senpai memakai senapan militer-sains.


Kotori melawan Rivera-Senpai dengan teknik musiknya. Dengan perhitungan fisika, Rivera-Senpai bisa menghindar dan mulai melakukan serangan dengan senapannya. Kotori dengan tarian selalu menghindar dengan mudah dan menyerang lagi.


Tapi, itu tidak akan bertahan lama.


[*^*]


Jam 15:23, aku, Aurora, dan Evelyn tiba di sebuah lorong akademi. Aku merasa pusing mengenai asal itu. Bom asap itu membawa kami ke suatu tempat. Ini mirip seperti teleportasi. Tapi, dalam skala kecil. Aurora dan Evelyn segera mundur beberapa langkah dan segera menoleh padaku.


"Papa. Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Aurora perhatian padaku.


"Papa. Aku mau gendong, desu,"


"Ayo! Aku akan.menggendongmu,"


"Wah! Papa. Papa memang …." Aurora melihat ada sebuah tembakan.


Tembakan itu melesat menuju kepadaku. Dengan cepat, Aurora mendorongku ke bawah dan membuatku dan Evelyn terjatuh ke lantai. Kepala Evelyn terbentur ke arah kepalaku. Aku terjatuh dan melihat tubuh Evelyn yang imut dan lucu.


Aku merasa kesal dengan dorongan Aurora itu. Aku membentaknya, "Apa yang kau lakukan?"


"Hati-hati, Papa! Wanita lain akan merebutmu. Dia juga akan memaksamu menikah dengan mereka," jawab Aurora kecanduan film drama.


"Papa. Apakah Papa ingin menyentuh tubuhku, desu? Tidak boleh, desu. Hubungan ayah dan anak itu tidak boleh, desu," tanya Evelyn merasakan kenikmatan atas tubuhnya.


"Aku tidak sengaja meraba tubuhmu. Maafkan aku!" Aku menyesal meraba tubuh Evelyn.


Ada sekelompok gadis yang muncul di hadapan kami. Dia adalah gadis yang hampir setinggi denganku. Dengan sifat agresifnya dan menggoda, membuatku merinding ketakutan. Ini lebih menyeramkan daripada Aurora. Kalau dia meminum alkohol, aku akan menangis sekencang-kencangnya.


"Ara Ara. Kamu sudah datang ke sarangku?" Tanya Aura yang sedang memegang pisau.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," gumam Aura merasa bingung dengan lakonan Aurora.


"Dengarkan aku, Maniak Drama! Aku datang kemari untuk berurusan dengannya. Kalau kau tetap menghalangi, aku akan menghadapimu, dasar perawan!" Ejek Aura karena Aurora belum pengalaman.


"Ayo sini! Aku tidak akan membiarkanmu merebut Rivandy darimu. Aku akan membuatnya melarikan diri sekarang juga," tekad Aurora mengganti senjatanya Koch UMPnya menjadi Kapak Ferium.


"Aku akan melayanimu," bas Aura memperlihatkan ketajamannya.


"Evelyn. Papa. Pergi dari sini! Aku akan menghabisi Wanita Janda ini!" Pinta Aurora pada kami.


"Aku mengerti, desu. Ayo, Papa!" Evelyn mengajakku untuk pergi dari sini.


Ketika ingin kabur, ada seorang gadis yang menghalangi jalan. Dengan tubuhnya yang seksi dan otak genit, membuatku ketakutan setengah mati. Gadis yang di depan Aurora membuatku ketakutan. Apalagi, di depanku.


"Ara Ara. Ketemu juga, Pangeran!" Andela menemukan kami.


"Jadi ini yang membuat Eleva melindungiku? Dia juga menceritakan padaku mengenai gadis mesum ini. Kalau sampai dia meminum alkohol, aku akan menangis ketakutan," gumamku berpikir keras.


"Tch! Dasar Bibi Genit! Dia akan merayu Papaku, desu!" Evelyn mengumpat karena melihat payudara Andela yang besar sementara Evelyn seperti papan cuci.


"Eh? Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti," tanya Andela.


"Jangan pura-pura, desu! Dengan payudara yang besar itu, kamu akan mendapatkan cairan Papa, desu! Aku tidak terima kamu menjadi Mamaku, desu!" Evelyn berteriak dan menunjuk Andela.


"Andela. Aku sudah bersiap, nih,"


"Farah. Dina. Wulan. Urus anak kecil ini! Aku akan menculik Pangeran!" Usul Andela pada ketiga gadis itu.


"Sudah kubilang aku bukan anak kecil, desu!" Protes Evelyn karena dipanggil anak kecil.


Namun, tiba-tiba.ada sebuah suara yang keras. Suara itu membuatku dan Evelyn terdiam sementara lawan hanya bisa menghentikan rencana mereka.

__ADS_1


"Tidak secepat itu! Kalian yang selalu penggoda suami orang akan menyesali semua ini!" Sebuah suara menggelegar di lorong itu.


Aurora dan Aura sedang bertarung dengan jarak dekat. Ada dua gadis yang memakai seragam Power Ranger. Mereka berwarna coklat dan Violet. Menyusul kami setelah mengerjakan tugas Klub Teater. Mereka menyelesaikan dengan api rivalitas dan bergerak untuk menyelamatkanku dari ancaman para gadis yang akan mengambil cairanku seperti Neesan. Neesan selalu membuatku terangsang. Jadi, Aurora dan lainnya harus melindungiku.


"Siapa kalian?" Tanya Para gadis itu melihat kelompok Klub Teater.


"Aku adalah Power Ranger Coklat," sahut Alishima bergaya seperti Power Ranger.


"Dan aku adalah Power Ranger Ungu/Violet," sambung Sheeran berperan sebagai Power Ranger.


"Kami disini akan menghajar kalian, wahai Janda Durjana!" Ejek mereka dengan teknik sandiwara.


Dengan sandiwara itu, membuat para gadis itu merasa terhina. Padahal, mereka masih suci. Namun, karena masalah harga diri yang sudah dicoreng oleh anggota Klub Teater itu, membuat mereka menaikkan darah mereka dan berniat untuk menghabisi mereka.


Akhirnya, Andela, Farah, Wulan, dan Dina terpancing oleh sandiwara mereka dan menyerangnya. Akishima dan Sheeran mulai mengeluarkan senjata mereka dan mulai menghabisi lawan mereka.


"Ayo, Papa! Para Bibi itu menghalau para Janda Murahan itu, desu. Kita harus lari, desu!" Ajak Evelyn meninggalkan area pertempuran.


Aku menuruti kata anakku (Evelyn). Dipegang tangan oleh Evelyn dan pergi dari sini. Aku berencana agar bisa pulang dengan selamat. Aku tidak membiarkan diriku ditangkap oleh para gadis itu.


[*^*]


Jam 12:26, Eleva dan Zera diseret ke sebuah lorong dekat taman. Eleva frustasi karena ada bom asap itu menyeret mereka ke tempat lain. Ini membuat Zera menoleh ke sekitar dan merencanakan sesuatu agar bisa keluar dari sini.


"Tch! Kita diseret oleh Yarou itu. Aku akan menghajarnya nanti," tekad Eleva memukul tangannya.


"Musuh." Zera mulai mengeluarkan pistol lasernya.


"Ada apa?" Tanya Eleva merasakan sesuatu dari Zera.


"Ada musuh," ulang Zera mengarahkan pistolnya.


"Dimana? Aku tidak …." Ucapan Eleva terpotong.


Ada sebuah misil mengarah ke Eleva. Namun, Zera membiarkan dirinya ditargetkan untuk dihancurkan oleh misil itu. Setelah misil bereaksi, Zera tergeletak di lantai akibat kerusakan misil itu. Eleva melihat sahabatnya yang terkena misil itu. Alhasil, Eleva khawatir sahabatnya terluka.


"Oi! Zera! Kau tidak apa-apa?" Tanya Eleva panik dan menyadarkan Zera.


"Jawab aku!" Ulang Eleva meneriaki Zera sambil menggoyangkan tubuh Zera sadar kembali..


Zera tidak merespon apapun. Hanya merasakan luka yang kuat di dadanya. Dia merasakan sesuatu yang keras, sehingga ia terkulai tak berdaya. Tidak ada yang bisa Eleva lakukan dengan Zera.


"Wah! Wah! Si Beban itu membiarkan dirinya untuk disakiti. Dia memang alat yang bagus untuk perisai," sapa gadis yang memegang perisai.


"Aku tidak akan memaafkanku, Amatiran!" Marah Eleva dengan sorot matanya yang tajam.


"Kita bertemu lagi, Eleva," sapa Stephany.


"Aku akan menghancurkanmu dan memperlihatkan video porno padamu," ancam Milia dengan mempersiapkan ponselnya untuk merekam.


"Teme! Kau tidak akan mengerti dengannya. Kau akan menyakitinya," tegur Eleva memperingatkan dengan perasaanku.


"Kita bertaruh, jika kau kalah, Pangeran Rivandy akan menjadi milikku," tantang Aria memegang senapannya.


"Kebetulan sekali. Aku ingin sekali menghabisimu." Eleva tersenyum lebar dengan tantangan itu.


[*^*]


Jam 15:30, pertarungan Kotori dengan Rivera-Senpai berakhir. Rivera-Senpai mengalahkan Kotori dengan mudah. Alhasil, Kotori melemah di tembok dengan tubuh sekarat dan tidak bisa bergerak lagi.


"Dasar lemah! ,Kau tidak bisa mengalahkanku. Ini balasan tadi," oceh Rivera-Senpai meremehkan Kotori.


"Kau akan menyesal. Kau tidak akan mengerti penderitaannya," tegur Kotori memperingatkannya.


"Teruslah mengoceh! Aku pergi dulu." pamitnya meninggalkan Kotori.


"Satu lagi ... sampaikan salamku pada Siren," pesannya


"Si-Siren? Kenapa? Kau siapa? Kenapa kamu tahu? Jawab aku ..."

__ADS_1


" .... Enchanted Geniuses!"


__ADS_2