
Jam 10:47, aku berjalan di kota Moskow dengan banyak darah dan luka membasahi tubuhku. Berjalan terus tanpa henti dan tidak memperdulikan siapapun lagi. Aku sudah muak dengan semua mimpi buruk dan tidak akan kembali ke akademi lagi karena mereka semua membenciku.
Aku tidak membawa apapun. Aku hanya menyimpan pisauku di saku celanaku. Senapan AWM dan Pistol Deagle disimpan di saku celanaku. Aku masih menyimpan pistol milikku agar bisa membunuh orang yang mendekatiku. Tidak ada yang boleh mendekatiku. Kalau terpaksa, aku akan membunuh mereka semua.
Tidak ada yang tahu perasaanku.
Aku hanya berjalan di tengah musim semi yang akan hujan pada beberapa jam kemudian. Menatap sekujur tubuhku yang penuh luka itu. Aku merasakan tubuhku semakin berat untuk berjalan.
Namun, aku terus berjalan untuk menuju apartemenku dan mencari tempat untuk menghilangkan ingatan ini.
Jam 11:02, hujan dI Kota Moskow telah turun. Banyak penduduk Moskow yang menghindari hujan pada musim semi itu. Aku hanya berjalan di tengah rintik musim hujan. Aku diguyur hujan dan merasakan kepedihan pada tubuhku. Tatapanku seolah mati.
Ini mengingatkanku pada sesuatu. Aku merasa dibenci dan tidak bisa melupakannya. Dengan guyuran hujan ini, membuatku ingin mati. Tidak ada yang bisa memahami luka ini. Ini bukan luka fisik. Ini lebih menuju ke luka mental yang sudah rusak. Rusak seperti Evelyn.
Aku mulai lari dengan guyuran hujan itu dan berusaha melupakannya. Tidak mau berhenti lari dari kenyataan. Aku bukan yang diinginkan. Aku hanyalah seorang … pembunuh bangsawan.
“Aku membencimu.” Suara itu terdengar dari sebuah guyuran itu.
Sial! Aku ingin menangis keras. Namun, tidak ada. Tidak ada yang mengerti. Tidak ada yang ….
Kenapa?
Kenapa mereka ….
Mereka semua!
Mereka semua!
Aku …
Aku tidak bisa berkata apapun lagi. Karena lari, aku terjatuh di guyuran hujan dengan trotoar dekat taman. Ini cukup sepi. Tidak ada yang tahu aku terluka. Tubuhku tidak bisa bergerak lagi. Hanya terkapar di jalanan dekat taman. Aku terpaksa berdiri dan berjalan penuh perjuangan. Berjalan pincang di tengah musim hujan itu. Aku membiarkan diriku terkena penyakit seperti COVID 19 sebelumnya.
Aku merasakan kegagalan yang sangat pahit. Kegagalan yang tidak bisa dimaafkan.
Sesampainya di apartemen, aku masuk dan membuka pintuku. Aku
berlalu menuju ke kamarku dan mengunci apartemenku. Tidak lupa, aku mencegah orang lain masuk. Aku tidak akan membiarkan mereka tahu. Lebih baik, aku mengurung diri seperti yang Evelyn lakukan.
Aku tertunduk sambil mengucurkan air mata yang sudah ditahan. Aku tidak bisa menahan lagi. Aku tidak bisa kembali. Aku hanya lari dari mereka. Aku ...
Aku sendirian.
Tidak ada yang paham dengan perasaanku.
Biarkan aku sendiri selamanya!
[*^*]
Jam 12:01, pelajaran akademi dimulai. Aku tidak ada di kelas. Nina menanyakan kondisiku pada Aurora. Aurora tidak menjawab apapun. Mereka sangat cemas dengan keberadaanku. Namun, tidak ada yang tahu aku pergi kemana.
Mereka tidak akan bisa menemukanku lagi.
Aurora keluar dari kelas dan bertemu dengan Akishima. Begitu juga dengan Sheeran. Saphine dan Zhukov berkumpul di dekat Kelas I Saintek C. Mereka segera berkumpul dan mendiskusikan sesuatu.
“Akishima. Apakah kamu melihat rombongan itu?” Tanya Zhukov dengan serius.
“Umu. Aku melihatnya. Rivandy membunuh mereka semuanya,” jawab Akishima dengan wajah gelapnya.
“Aku tidak percaya Rivandy membunuhnya,” gumam Aurora menundukkan kepalanya.
“Sayangku. Kenapa dia menjadi seperti ini? Apakah aku bertemu dengan monster yang telah aku percaya padanya?” Tanya Sheeran menahan perasaan takutnya.
“Nee. Apa yang terjadi pada Rivandy? Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya,” tanya Saphine merasa khawatir padaku.
“Aku akan ceritakan dengan pandanganku. Jadi, dengarkan aku!” Akishima akan bercerita dengan serius.
Akishima menceritakan kejadian itu pada Zhukov. Mereka mendengarkan semua cerita dengan baik dan benar. Lalu, mereka mengetahui apa yang terjadi padaku dan ketiga bangsawan itu.
“Sudah kuduga dia kabur. Kenapa kamu tidak menghentikannya?” Tanya Zhukov pada Akishima.
__ADS_1
“Tidak ada pilihan lain. Tidak ada yang bisa kulakukan,” jawab Akishima dengan dinginnya.
“Tapi, kalau begini terus, kita akan kehilangan Rivandy!” Saphine mulai cemas dengan kondisiku.
Sheeran masih terdiam dengan ketidakpercayaan itu. Aurora kasihan padaku. Dia mencoba untuk menghampiriku dan melindungiku. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan padaku sebab tidak ada yang akan menyelamatkanku lagi.
“Akishima. Apa yang harus kita lakukan pada Rivandy? Aku tidak mau dia seperti ini terus,” resah Aurora merasa tidak enak dengan penderitaanku.
Akishima terdiam dengan setiap keluhan yang ia dengar. Semua yang berada di dekatnya itu membuatku ingin berpikiran sesuatu. Ia mengingat aku sudah berusaha keras untuk membawa Akishima keluar dari kegelapan itu.
“Hei! Kenapa kamu diam saja?! Katakan sesuatu!” Keluh Saphine merasa cemas.
“Akishima. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah berjanji padanya untuk tetap bersama. Habisnya, aku … aku percaya dengannya. Tapi, aku tidak mengerti.” Aurora mengutarakan soal cincin itu.
Akishima hanya terdiam. Ia harus melakukan sesuatu secara sendirian. Tanpa campur tangan orang lain. Dia akan menjalankan aksinya untuk menyelamatkanku.
Itu semua karena ia percaya padaku.
Waktunya Akishima melakukan aksinya untuk membawaku pergi dari kegelapan!
“Kalian. Jalani aktivitas seperti biasanya!”
“Aku ingin bolos sebentar! Aku tidak terlalu ingin mengikuti pelajaran militer dulu. Jadi, aku ingin bolos sebentar. Jadi, titip salam pada guru militer nanti," pesannya segera pergi dari hadapan mereka.
"Akishima. Kau yakin dengan ini?" Tanya Zhukov menatap Akishima dengan tajam.
“Ini untuk Rivandy. Aku tidak akan membiarkan dia menderita terus menerus. Aku sudah berada disini hanya karena dia selalu menderita. Aku tidak mau meninggalkannya lagi. Itu …"
“.... Karena ia adalah Nakama-ku!" Lanjutnya menoleh pada mereka sesaat dan segera melakukan sedikit transformasi.
Mereka memiringkan kepalanya mereka dengan perintah Akishima. Mereka tidak tahu Akishima memiliki perasaan yang kuat kepadaku. Jadi, dia melakukan sesuatu untuk melindungiku.
“Tateyama Ayano : Berubah!”
Akishima melepaskan seragam akademinya. Bahkan, pakaian dalamnya. Ia berubah menjadi gadis SMP di Jepang dengan pakaian warna hitam dan syal merah. Banyak yang tidak menyadari bahwa Akishima mirip dengan Tateyama Ayano. Bahkan, tidak ada perbedaan apapun yang mencolok.
"Akishima. Kamu sebenarnya siapa?" Tanya Zhukov.
"Ini mungkin memakai waktu. Kalian bisa menunggu sampai jam pelajaran berakhir. Aku akan kembali besok dan membawa dia kemari."
"Aku akan ke kelasnya dan mengambil beberapa barang, lalu akan pergi meninggalkan akademi. Itu saja,"
Sebelum pergi, Akishima dicegat oleh Aurora. Aurora tidak akan membiarkan Akishima untuk bolos untuk mengeluarkanku dari kegelapan. Aurora ingin membantu Akishima karena ia sudah menganggapku sebagai kekasih.
"Tidak mau. Aku ingin ikut juga! Aku tidak mau dia menjerit kesakitan. Biarkan aku membantumu! Aku akan melakukan apapun untuk menyembuhkannya." Aurora memohon pada Akishima untuk menolongku.
Akishima terdiam dengan permintaan yang egois. Aurora malah mengatakan hal yang sama seperti seorang istri. Itu membuat Akishima menoleh kepada Aurora dan menghentikan langkahnya. Dengan aura Oneesan dari Ayano, Akishima menjadi lebih mengerti situasi daripada yang lainnya.
Akishima menolak,"Tidak boleh! Kau tidak boleh ikut campur, Aurora. Kau hanya menggangguku. Ini untuk Rivandy. Kalau kau ikut campur urusan ini, Rivandy akan semakin menjauh darimu."
"Kau mungkin menganggap bahwa kau percaya padanya. Bahkan, kamu menganggap Rivandy sebagai kekasihmu."
"Tapi, Rivandy tidak demikian. Dia sekarang tidak peduli denganmu. Kau tidak akan bisa membawanya kembali. Dia bersusah payah untuk memaksa kalian untuk keluar dari masa lalu. Dia rela melukai dirinya dan selalu dibawa ke rumah sakit hanya karena menyelamatkan kalian."
"Aku, Saphine, Denis, Hammer, dan Aurora. Itu sudah cukup untuk membuatnya terluka. Kalau dia kehilangan mentalnya, dia akan mati secara permanen. Kalian tidak akan menyadarinya."
"Kalian tidak bisa melakukan apapun dan menyesalinya. Tidak tahu apa yang harus kalian lakukan. Tapi, aku bisa melakukan ini sendiri. Setelah kematiannya, kalian melupakannya dan menjalani hari yang baru."
"Itu sebabnya, kamu tidak akan paham dengan perasaan Rivandy." Akishima menatap Aurora dengan mata merahnya.
Mendengar itu, Aurora dan Saphine terdiam.. Sheeran tidak percaya pada Akishima karena Akishima menjadi lebih serius. Zhukov hanya mengolah semua penjelasan dari Akishima.
"Aku pergi dulu. Jangan ikut campur urusanku!" Akishima berjalan meninggalkan mereka.
Aurora tidak percaya pendapat dari Akishima. Kenapa Akishima menjadi serius tentang aku? Dia sampai mengubah dirinya menjadi Tateyama Ayano hanya untuk membawaku keluar. Sheeran meninggalkan mereka yang masih berkumpul dan menuju ke Kelas I Soshum E.
"Aku ke kelas dulu. Pelajaran akan dimulai," pamit Sheeran menundukkan kepalanya.
Aurora dan lainnya segera berpisah. Mereka meninggalkan Zhukov yang sedang berdiam diri di kelas. Sesampainya di kelas, Zhukov duduk dan membuka laptop miliknya. Di menyalakan dan membuat monitor laptop muncul.
__ADS_1
Ia membuka program di komputernya dan membuat Power Point 360° untuk membuat bukti yang ia sampaikan pada seseorang. Seseorang yang menurutnya ia curiga.
Sebentar lagi.pelajaran militer akan dimulai.
[*^*]
Akishima segera menuju ke kelasku. Ia berjalan seakan-akan mengetahui keadaanku. Ia segera memasuki kelas dengan Santi dan meminta Ketua Kelas I Saintek A, Nina Alpenliebe untuk menitipkan tasku pada Akishima.
"Apakah kau ingin menitipkannya? Aku yakin kamu melakukan hal yang seperti ini," tanya Nina merasa heran kepada Akishima.
"Jangan khawatir! Aku akan mengembalikan ini pada Rivandy. Dia harus dibawa kembali," tekad Akishima dengan serius.
"Tapi, aku tidak tahu kamu peduli dengannya secara mendadak. Ada apa?" Tanya Nina makin heran.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menyelesaikan urusanku saja. Nakamaku tidak boleh dibiarkan begitu saja. Itu sebabnya aku beraksi," jawab Akishima menatap Nina dengan keibuan.
"Baiklah, kalau begitu. Aku harap kamu bisa membawanya kembali. Jadi, aku ke kelas dulu. Pelajaran akan dimulai. Aku menunggu Aurora di kelas," pamit Nina menuju ke tempat duduknya.
"Baiklah. Sampai jumpa," pamit Akishima meninggalkan kelas
Akishima membawa tas milikku dan membiarkan miliknya. Ia menenteng tas itu sambil berjalan di lorong. Ia menyembunyikan diri sambil mencari sesuatu untuk keluar dari akademi. Ia teringat pertemuan pertama denganku. Menerobos pagar akademi agar bisa bolos sekarang juga.
Setelah melewati pagar akademi, ia berjalan di trotoar dengan perlahan agar tidak diketahui oleh penjaga pintu akademi. Berjalan di trotoar sendirian. Ia menenteng tas seperti anak SMP pada umumnya. Dengan pakaian seperti anak SMP Jepang, membuat penduduk Moskow heran kepadanya.
Mereka pikir ada Tateyama Ayano di Moskow. Bagi penggemar Mekakucity Actors (Anime) atau Kagerou Daze (Light Novel), karakter Tateyama Ayano merupakan karakter yang menarik perhatian. Dengan itu membuatnya menjadi karakter Oneesan idaman.
Hujan di Moskow sudah reda. Namun ada kemungkinan untuk hujan pada jam berikutnya. Penduduk Moskow menjalankan aktivitas sebelum hujan kembali turun.
Akishima mengingat sebuah kata yang membuatku depresi. Dengan perkataan dan kebencian Akishima, membuatku tidak akan hidup lagi. Dia berpikiran aku sudah menyakiti diriku sendiri untuk menyelamatkan Akishima dari kegelapan dan masalah psikologinya. Bahkan, membawaku ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan pada luka yang cukup parah
Karena ingatan yang menghancurkanku dan melampiaskan kebencian pada bangsawan, membuat tekad Akishima menjadi menggelora. Ia membiarkan dirinya tersakiti olehku dan membuat tekad D untuk menyelamatkanku.
Hujan mengguyur Moskow kedua kalinya, tekad D dari Akishima menjadi baja untuk membawaku kembali. Dia sudah mengetahui dimana aku sembunyi. Tatapan mata merahnya tidak bisa menghentikan Akishima..
Setelah sampai di apartemenku, Akishima melihat keberadaanku yang termenung dalam kegelapan. Dengan melihat aku yang tersakiti, membuat Akishima berubah menjadi Monkey D Luffy.
Ia berada di depan pintu sambil menggunakan syal seperti handuk. Kepalanya menjadi kering karena usapan dari syal yang basah itu. Entah kenapa syal yang basah bisa mengeringkan rambutnya. Ini menentang hukum logika.
Tapi, dia sudah mempersiapkan rencana. Memegang kunci apartemen di tangan kanannya. Ia mencuri kunci itu dari nakas kamarku dan menyalinnya. Ini digunakan untuk darurat saja.
Entah kenapa sikap Akishima berubah menjadi karakter One Piece. Ia memasukan kunci itu walaupun sistem apartemenku sudah canggih. Ini digunakan untuk berjaga-jaga saja. Dia melakukan itu semua agar membawaku kembali.
Setelah membuka kunci pintu apartemenku, dia lega dengan pintu yang sudah terbuka. Padahal, ada beberapa sistem apartemen yang bisa digunakan hanya untuk pengguna apartemen. Namun, itu tidak menjadi masalah bagi Akishima. Ia akan membuatku paham dan segera membawaku kembali ke akademi.
"Yosh! Sekarang, aku bisa membuka pintu ini. Tunggu saja kau, Kaido! Aku akan membalas perbuatanmu!" Tekad Akishima berkhayal seperti pada adegan One Piece.
"Karena perbuatan kamu, kau menjatuhkan penderitaan kepada Rivandy! Kau juga membuatku menjadi wanita yang kotor dan hina. Rivandy sudah menyelamatkanku dari rencana busukmu itu!" Akishima mengancam Kaido.
"Aku adalah seorang bajak laut yang tidak akan membiarkan nakamaku terluka. Karena banyak yang mengincarnya, aku bersumpah untuk melindunginya."
"Kau mungkin bisa menyakitiku, Kaido. Tapi, kalau kau menyakiti Nakamaku, … aku tidak akan memaafkanmu!" Akishima bercosplay menjadi Luffy sebelum memasuki apartemenku
Akishima masuk ke apartemen dan memahami perasaanku. Dengan pintu terbuka, ia membuat langkah yang tepat untuk memahami semua masa lalu yang kelam. Masa lalu yang sulit dipahami.
Aku sudah membuat Akishima tidak terpaku lagi dengan masa lalu yang kelam. Aku membuatnya terharu dengan iPhone 14 yang aku berikan pada Akishima. Dia bahkan senang hati melindungiku dari gadis Klub Pangeran walaupun kalah dalam pertarungan. Dia lebih dijadikan sahabat daripada pacar.
Dia senang hati untuk menemaniku ke rumah sakit untuk mengambil obat untuk terapi hipotermia. Ketika itu, Akishima tertolong dengan tugas matematika dan fisika yang sulit.
Namun, ia menghadapi semua rintangan menanti. Kali ini, ia tidak membiarkanku meninggalkan akademi dan semua kenangan indah. Akishima tidak mau membiarkanku tewas karena mimpi buruk dan trauma yang selalu bersamaku.
Dengan sikap yang berubah drastis menjadi ramah, ia akan menenangkanku. dan memahami semua rasa sakit yang aku rasakan selama hidupku.
Aku termenung akibat tidak akan bisa melupakan semua masa lalu itu. tidak sadar Akishima akan datang kemari dengan keras kepala. Ia akan menyelamatkanku karena ia sudah menganggapku sebagai Nakama.
Akishima sudah siap dengan mental bajanya memasuki apartemenku.
こてが時です...あたしはは行動を起こしました。中間を傷つけない - (秋島蓮司) Akishima Renji.
Bersiaplah kau, Kaido! Aku akan menghajar kepalamu!
__ADS_1
Aku datang kepadamu, Rivandy!