
20 Oktober 2025, jam 05:56, sebuah ruangan yang hening dan sepi. Ruangan sempit namun rapi. Berbagai peralatan dokter yang terpampang di dinding. meja yang diisi oleh alat pribadinya dan matahari mulai terbit dari timur mengisi pemandangan jendela.
Seorang gadis yang sedang tidur segera bangun dengan pakaiannya yang lusuh dan banyak cairan. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dengan susah payah. Ia membereskan dan pakaiannya yang lusuh.
Ia segera menuju ke kamar mandi dengan pincang. Ia berusaha berjalan menuju ke kamar mandi. Namun, terjatuh, tidak bisa berdiri karena guncangan tubuhnya yang menekannya untuk tidak berdiri.
Tidak ada pilihan lain. Ia memutuskan untuk merangkak menuju kamar mandi. Ia membangkitkan diri dan membuka pintunya. Kemudian, ia berusaha berdiri dengan tenang dan segera bergerak perlahan.
Di kamar mandi yang cukup luas, ia membuka pakaiannya dan segera menuju ke ruang bathtub. ia mengecek tubuhh dengan murung. Ia memandang ke cermin dekat bathtub dengan sesaat. Lalu, ia menyalakan air di bathtub dan memasang dabun di dalam bathubnya.
Ia masuk ke bathtub dan merenungkan kejadiannya semalaman. Ia mengingat kejadiannya dengan betul. Dia ingin sekali meneteskan air matanya di melihat dirinya yang sedang berkaca di air.
“Apa yang telah kulakukan?” Gumamnya.
[*^*]
Jam 07:12, gadis itu berjalan menuju ke akademi sambil menghindari kerumunan. Ia menenteng tas miliknya sambil berpandangan ke bawah. Namun, ada sebuah panggilan yang membuatnya kehilangan fokus.
“Yo. Saphine,” sapa Zhukov membuat Saphine sedang murung di jalanan.
“Zhu-Zhukov,” sahut Saphine terbata-bata.
“Saphine. kamu sendirian saja? Mau aku temani?” Tawar Zhukov sambil menenteng Saphine.
“Um,” jawabnya sambil mengangguk.
Mereka berjalan bersama agar Saphine tidak kesepian. Suasana kota Moskow sedang mendung karena masalah lingkungan yang ekstrem. Pemanasan global membuat cuaca semakin tidak terkendali. Mereka berjalan kaki sekitar 30 menit untuk sampai ke sekolah.
Namun, beberapa saat kemudian, mereka melihat ada seorang empat gadis yang sedang merantai seseorang agar tidak kabur dari mereka.
“Zhukov!” Panggil seorang gadis dengan syal merahnya merantai seseorang.
“AkIshima, Aurora, Evelyn, Sheeran,” sahut Zhukov dan Saphine.
Ketika Zhukov melihat seseorang yang dirantai Ia melihatku yang tidak bisa kemana-mana. Dengan tingkah konyol mereka, Zhukov tidak bisa menahan tertawanya, sehingga Zhukov tertawa keras.
“Rivandy. apa yang kau lakukan, sehingga kau dirantai oleh mereka?” Di tengah tertawaan itu, ia bertanya padaku.
“Kasihan sekali,” lanjutnya mengejek nasib sialku.
Aku yang mendengar tertawaan itu sedang tidak bagus kondisi hatiku. Aku mendesah, “Tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa melepas rantai ini. Ini terlalu kuat,” dengan perasaan murung.
Saphine tidak tertawa sekalipun. Ia hanya melihat sekitar dengan murung. Ia tidak memandang langit yang sedang mendung itu. Ia mengabaikan lingkungan sekitar.
“Ini cara yang efektif agar Rivandy tidak bolos,” ucap Aurora sambil memegang rantai yang kuat.
“Sudah 2 kali dia bolos kelas, sehingga aku memutuskan untuk merantainya, desu,” lanjut Evelyn sambil memegang rantai.
“Aku merantainya agar Sayangku tidak selingkuh denganku,” lanjut Sheeran.
“Setelah pulang akademi, aku harus menjaganya agar tidak bisa lari dariku. Dia harus memuaskan hasratku dengan menjadikanku seorang ratu,” lontar Akishima sambil tertawa seperti putri bangsawan.
“Ayo, kelas akan dimulai 30 menit lagi. Jika terlambat, kita akan mendapatkan masalah,” ajak Zhukov agar kami berjalan menuju akademi.
“Saphine, ayo!” Ajak Zhukov membuat konsentrasi Saphine pecah.
“Iya,” jawabnya sambil menyusul Zhukov.
Kami berjalan menuju ke akademi sambil berbicara dengan akrab. Saphine hanya diam saja mengenai obrolan mereka. Aku hanya pasrah dengan ini, sehingga memilih untuk diam dan hanya mendengarkan obrolan mereka.
Aku menoleh pada Saphine yang murung untuk sesaat dan menghindari obrolan mereka. Aku melirik padanya. Namun, tidak bisa. Aku dirantai oleh mereka berempat karena aku selalu bolos akademi karena ksatria itu.
Maka dari itu, aku dihukum selama seminggu oleh mereka berempat dengan cara dirantai, sehingga aku tidak kabur lagi. Ini sama saja dengan seorang buronan kelas kakap.
Sial sekali punya gadis seperti mereka.
Tidak biasanya dia terdiam. Biasanya ia bisa mengobrol dengan Zhukov dan Denis. Namun, tidak dengan hari ini. Aku mencoba untuk membuatnya bicara. Namun, ada sebuah suara yang memecahkan konsentrasiku.
“Rivandy, bagaimana menurutmu?”
__ADS_1
Aku masih bisa merasakan aura yang mengerikan itu. Aku mengingatnya saat ia tidak sengaja meminum alkohol. Aku tidak bisa menghindari darinya. Dia sangat agresif.
“Kamu kenapa ketakutan?” Tanya Aurora melihatku ketakutan.
“Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya … yah … begitulah,” jawabku mencoba merahasiakan perasaan takutku.
“Sayangku. Kamu tidak usah takut. Aku disini untukmu,” rayu Sheeran mendekatiku yang sedang dirantai.
“Aku akan menghabisi orang yang menakutimu, desu,” tekad Evelyn sambil mengambil senapannya
“Dia ada di dekatmu,” lirikku ke Aurora sebagai isyarat untuk Evelyn.
“Kebetulan kamu ketakutan. Apakah kamu ingin bantuanku? Aku akan membantumu lebih takut lagi,” canda Zhukov sambil menahan tawanya.
“Aku mengharapkan itu,” liriku ke Zhukov yang sedang menjahiliku.
Kami sudah sampai di akademi pukul 07:50 dan segera memisahkan diri menuju ke kelas. Saphine menuju ke kelasnya. Aku dirantai oleh Aurora dan Evelyn untuk menuju ke kelas dan tidak membiarkanku untuk lari dari mereka.
Yah … setidaknya aku mendapatkan hukuman itu dan menjalaninya dengan santai.
[*^*]
Jam 10:10, Saphine berjalan menuju ke taman sambil menghindari kerumunan. Dia sedang berjalan sendirian dan tidak bersama Zhukov dan lainnya. Ia berjalan ke taman untuk merenungkan dirinya.
Tiba-tiba ia dihadang oleh seorang siswa yang bergerombolan di sekelilingnya. Mereka mengelilingi Saphine dengan tatapan yang tidak mengenakan bagi Saphine.
“Halo. Nona manis,” panggil siswa yang berada di hadapan Saphine.
“Kami disini untuk mengajakmu ke ruangan sepi. Kami mau menawarkan sesuatu untukmu,” ajak siswa yang bersama siswa yang berhadapan dengan Saphine.
“Kita punya permainan yang bagus untukmu,” lanjut siswa yang merayu Saphine.
“Aku … mengerti apa yang … kalian inginkan,” terima Saphine tanpa pikir panjang.
“Anak pintar,” puji siswa yang dihadapan Saphine.
Mereka mengajak Saphine untuk ke ruangan yang sepi dan tidak diketahui oleh orang lain. Setelah sampai di ruangan penyimpanan peralatan akademi, mereka mengerumuni Saphine dan beraksi dengan tatapan jahat mereka.
Mereka akan melancarkan aksinya dan bermain dengan Saphine meskipun Saphine tidak menyukainya.
Jam 10:23, segerombolan siswa itu meninggalkan Saphine dengan pakaian yang tidak beraturan. Ia tertidur tengkurap sambil mengeluarkan desahannya. Banyak cairan yang membasahi tubuhnya.
“Sangat menyenangkan kita bermain dengannya,” puji siswa itu.
“Dia sangat patuh apa yang kita perintahkan,” lanjut temannya.
“Aku merasa stresku menghilang semenjak bermain dengannya,” sambung temannya yang lain.
“Dia sangat kecanduan, sehingga meminta ronde berikutnya, ” tawa siswa yang puas.
“Lain kali kita akan mengajaknya ke pasar malam,” ajak siswa yang puas itu.
Mereka menyetujuinya dan segera menuju ke kelasnya dengan puas, sementara Saphine menahan perasaannya dan segera berusaha berdiri dan merapikan seragamnya. Ia berjalan dan meninggalkan dengan pelan.
[*^*]
Jam 12:12, Saphine duduk di kantin sendirian. Ia menghabiskan makanan dengan pelan. Namun, mulutnya memberontak makanan yang sudah dimasukkan. Ia memaksa menelannya dan segera menyantapnya dengan terpaksa.
Rasa pahit yang ada dalam dirinya menyerangnya untuk memuntahkannya. Namun, pemberontakan itu tidak dapat terjadi. Dia memutuskan untuk menuju ke kamar mandi wanita dengan tergesa-gesa tanpa memperdulikan yang lain.
Sesampainya di kamar mandi wanita, ia menuju ke wastafel dan memuntahkan ke dalam westafelnya. Ia memandang ke cermin dengan perasaan menyesalnya.
Ia mengambil obat Naltrexone dan segera meminumnya dengan air putih. Setelah itu, reaksi yang ada di tubuhnya segera terhenti. Saphine menghela nafasnya dan segera menunggu reaksi dari obat itu untuk menghentikan kecanduan yang ia idapi.
“Sampai kapan aku harus seperti ini?”
“Aku tidak bisa menahannya.”
“Aku ingin muntah.”
__ADS_1
“Tubuhku terasa panas dan sesak.”
“Apakah aku ingin melakukannya lagi?”
“Tidak bisa. Aku tidak mau seperti ini lagi."
“Aku harus meminta obat dari dokter,”
Setelah renungan itu, ia segera menuju kelas dan meninggalkan kamar mandi wanita. Namun, secara tidak sengaja bertemu dengan Andika dekat kelasnya.
Andika menyapanya dengan semangat. Namun, Saphine menyapanya dengan sedikit kerutan yang ada di wajahnya. Ia tidak terlalu akrab dengan Andika. Jadi, Andika langsung kembali ke kelas.
Setelah kembali ke kelas, bel akademi berbunyi dan kelas militer akan dimulai dengan kondusif.
[*^*]
Jam pelajaran militer berakhir, Saphine segera membereskan peralatan militernya dan segera pulang ke apartemennya. Ia akan mengikuti Klub PMR pada keesokan harinya. Ia juga memberitahu Andika untuk menyampaikan pesannya kepada Wulan yang merupakan teman Andika.
Setelah meninggalkan kelas, Saphine mendapatkan kiriman dari pesan dari aplikasi Telegramnya. Ia berjalan di lorong kelas dan segera menyalakan handphonenya untuk melihat pesan.
[Telegram]
Zhukov : “Saphine.”
Zhukov : “Kami ingin berkumpul di rumahku. Kamu mau ikut?”
Saphine : “Tidak. Aku tidak bisa. Aku punya urusan sekarang.”
Denis :”Ah! Saphine. Kamu selalu lari. Kapan kamu berkumpul?”
Hammer :”Apakah kami ingin menemanimu?”
Saphine : "Denis. Hammer. Kau tidak boleh mencampuri urusanku. Urusanku sangat penting."
Denis : “Urusan apa?”
Hammer : “Aku dengar dari Zhukov bahwa kamu sedang murung. Ada apa?”
Saphine : “Tidak ada. Aku hanya mengikuti suasana Kota Moskow saja."
Saphine “Tidak ada yang lain."
Denis : “Saphine! Ayo, berkumpul bersama kami! Kau tidak bisa bersembunyi terus."
Saphine : “Aku tidak tahu. Aku akan berkumpul lain kali. Untuk sementara, aku mematikan smartphone dulu.”
Saphine : “Tidak baik aku berjalan dengan tatapan layar smartphone.”
Zhukov : “Oh. Kalau begitu, datanglah ke saat yang tepat!”
Denis : “Lain kali, aku akan mengajak Ri-chan untuk berkumpul.”
Hammer : “Ri-chan ingin berkumpul. Tapi, dia menolak karena ia dihukum."
Zhukov : “Aku ingin melihatnya dirantai oleh keempat gadis itu.”
Saphine : “Sudah dulu, ya! Aku permisi sebentar.”
Mereka pun meninggalkan pesan perpisahan.
Saphine mematikan notifikasi di layar handphonenya dan segera membaca buku biologinya. Ia mempelajari materi dengan penuh konsentrasi. Namun, tidak bisa membacanya. Ia membolak-balik buku dan mencari kata kuncinya.
Setelah membaca buku yang perasaan gusar, ia menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian, ia berjalan pulang menuju ke gerbang akademi untuk pulang ke apartemen secepatnya.
Sesampainya di gerbang, ia berjalan sendirian untuk meninggalkan akademi secepatnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum meninggalkan akademi
Setelah itu, dia bergerak ke gerbang dan langsung pergi meninggalkan akademi untuk segera pulang ke apartemen.
Namun, semua masalah di akan dimulai di sini.
__ADS_1