Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Akishima Renji 1,6


__ADS_3

Jam 14:01, di depan apartemen Akishima, aku menekan tombol apartemen agar bisa membangunkan Akishima dan segera membuka pintu. Karena ia tidak menjawab, aku menekan tombol untuk kedua kalinya. Ia tidak menjawab panggilan itu. Karena itu, aku menekan tombol untuk ketiga kalinya. 


Akishima tidak menjawab. Ia masih berbaring di ranjang. 


Aku yang melihat Akishima yang tidak menjawab segera berteriak di depan mikrofon. Aku menahan nafas dan menghembuskan nafasku. Setelah itu, aku berteriak, “Akishima! Bangunlah! Aku di sini!”


“Kenapa kau meninggalkan akademi tanpa seragammu? Aku membawakan seragam untukmu!” Teriakku di mikrofon dekat tombol bel apartemen. 


Akishima masih tidak menjawab. 


Aku terus menerus berteriak dan berteriak di depan mikrofon tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Aku berharap Akishima menjawab teriakanku itu. 


[*^*]


Jam 12:23, Akishima membuka matanya  Ia tidak beranjak dari ranjangnya. Ia hanya terdiam dan melihat gelapnya kamarnya itu. Ia tidak melihat apapun karena tertutup gorden. Ia hanya melihat kegelapan.


Ia meraba sedikit tubuhnya yang kotor dan hina itu. Ia tidak merasakan kenikmatan yang ada pada tubuhnya. Hanya merasakan penyesalan dan penderitaan. Kanji dan angka yang tertulis di tubuhnya menghilang sejenak. 


Ia mengingat masa lalu yang kelam dimana ia dikhianati oleh temannya dan membuangnya di gang yang kotor dan sempit. Ia juga mengingat teman masa kecilnya yang licik itu. 


“Seandainya aku tidak percaya pada Takeshi, ini tidak akan terjadi,” batinnya dengan cukup kelam.


Ia juga melakukan penetrasi agar ia terlihat seperti wanita yang hina. Setelah itu, ia menyentuh dadanya yang semakin menonjol karena pertumbuhan tubuhnya yang sedang meningkat.


Tak lama kemudian, ada suara yang menggema di kamarnya. Ia tidak menjawab. Ia hanya terdiam dan merasakan betapa hina tubuhnya itu. 


Bel kedua berbunyi. Akishima masih terdiam. Ia tidak mendengar bel itu.


Bel ketiga berbunyi. Akishima tidak bergerak sekalipun. 


Beberapa saat kemudian, ada sebuah suara yang menggema di kamarnya. Suara itu terdengar di telinga dengan keras.


“Akishima! Bangunlah! Aku di sini!”


“Kenapa kau meninggalkan akademi tanpa seragammu?” 


“Aku membawakan seragam untukmu!”


Akishima tidak bergerak. Ia menolak teriakanku dan masih berdiam diri di ranjang.. 


“Kenapa dia tahu kalau aku tertidur?” Pikir Akishima yang masih tertidur.


“Kenapa dia kemari?” 


“Jangan mendekatiku!”


“Seharusnya kau menjauhiku, Dasar Pengkhianat!”


“Kalau kau datang kemari, hancurkan aku!”


[*^*]


Setelah aku berteriak di depan apartemen, dia tidak menjawab teriakanku. Aku yang sadar dengan itu segera melakukan sesuatu tanpa merusak apartemen. Kalau aku merusaknya, aku harus menghabiskan uang sebesar ₽ 23.000 untuk mengganti kerusakan itu.


Maka dari itu, aku segera menuju ke ruangan pengurus apartemen untuk memberikan kunci cadangan untuk membuka apartemen Akishima. Setelah sampai di ruangan itu, aku segera menghampiri petugas itu dan menceritakan apa yang sedang terjadi pada Akishima.


Aku diberikan kunci cadangan kepada petugas setelah melakukan presentasi dengan objektif dan subjektif. Setelah berterima kasih kepada petugas, aku segera pergi dari ruangan itu dan berpesan kepadanya bahwa aku akan mengembalikan apartemen jika aku menyelesaikan urusanku.


Setelah menuju ke apartemen Akishima nomor 305, aku segera membukakan pintu setelah memasukkan kunci. Kemudian, melihat apartemen yang cukup gelap. Aku menutup kembali pintu itu dan segera mencari Akishima dengan menggunakan teknikku. 


Aku juga melihat banyak barang yang berantakan. Aku tidak perlu menyalakan lampu karena sudah menyetel dengan luas apartemen Akishima. Alhasil, aku bisa melihat barang yang berantakan. 


Setelah menuju ke kamar Akishima, aku melihat Akishima dan segera menonaktifkan observasi. Aku segera menghampiri Akishima sambil menyalakan lampu agar penglihatanku  masih terjaga. 

__ADS_1


“Akishima! Bangun!” Aku membangunkan Akishima yang sebenarnya ia sudah bangun.


“Aku mengembalikan seragammu. Jadi ….” Akishima melepaskan tanganku dari tubuhnya dan menghindar dariku


Ia menjawab, “Tidak perlu! Kau tidak perlu mengembalikannya. Aku sudah mencoba mengatakannya tapi tidak bisa,” dengan putus asa. 


“Apa maksudmu?” Tanyaku kebingungan.


“Kamu mau apa? Mau melecehkanku?” Ungkap Akishima mencurahkan hatinya. 


“Tidak. Aku ke sini untuk menebus kesalahanku,” cekalku dengan tatapan yang tajam.


“Apa maksudmu menebus kesalahanmu, Pengkhianat?” Akishima menghinaku sambil melakukan pukulan ke dadaku.


“Kau tidak akan memahami penderitaanku!” Teriak Akishima berada di hadapanku mengambil senjata miliknya dan melakukan tembakan ke perutku. 


Tertembak itu melesat ke arah perutku. Itu tidak menjadi masalah karena aku memiliki tubuh sixpack. Jadi, peluru itu membutuhkan kecepatan agar bisa menembus lambungku.


Aku yang bangkit jadi jatuhku segera bertekad, “Aku paham. Aku memanggilmu ‘Gadis Janda’ secara tidak sengaja. Jadi, …, ” tapi ucapanku terpotong oleh Akishima.


“Berisik! Aku tidak akan memaafkanmu!’ Teriak Akishima menolak ucapanku.


“Aku tidak bisa mengenakan pakaianku secara sembarangan. Itu karena aku dikutuk dengan alasan aku adalah wanita yang hina,” jelas Akishima mencurahkan penderitaannya.


“Aku tidak menerima pengkhianatan itu. Mereka hanya mengincar tubuhku. Mereka mengambil keperawananku dan membuangku di jalanan.” Akishima menahan tangisannya.


“Aku hanya …,”


“Aku hanya ….”


“Aku hanya …,”


“Aku hanya ….”


Aku hanya mematung di kamar berantakan bersama Akishima. Akishima menahan tangisannya dengan sesaat dan tidak bisa berbuat apapun.


“Baiklah kalau begitu yang kau mau,” desis Akishima melihatku sambil menahan tangisan kecilnya


“Lakukan sesukamu! Kau boleh melakukan apapun kepada tubuhku!” Suruh Akishima agar aku menghancurkan hatinya dan tubuhnya.


“Hancurkan aku! Perbudak aku! Kau tidak tahan dengan hidup seperti ini! Aku hanya wanita yang hina dan kotor,” desak Akishima sambil berlutut padaku dengan tatapan yang ketakutan.


Aku hanya terdiam dengan itu. Aku tidak mau mematuhi perintah Akishima yang cukup. Aku tidak mau membuatnya terluka. Sejak kekalahanku dalam permainan Poker, aku terpaksa mengikuti perintah Akishima yang aneh dan merepotkan. 


Kalau yang ini, ini sudah keterlaluan.


Aku tidak akan pernah menyakiti wanita. Apalagi, kalau dia terluka.


“OI!” Panggil Akishima menggoyangkan tubuhku.


“Kenapa kau diam saja?!” Bentak Akishima padaku yang sedang terdiam,


“Jawablah aku!” Desak Akishima.


“Hei!”


“Hei!”


“Hei!”


Akishima terus memanggilku dan berhadapan denganku. Aku tidak bergerak sedikitpun. Ia terus mendesakku agar aku bisa melupakan hasratku. Namun, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya terdiam di kamar yang terang dengan lampu LED.


Percuma saja. Aku tidak bereaksi untuk sementara waktu. Akishima tidak bisa memaksaku untuk melancarkan aksinya. Aku tidak akan pernah menerima perintah yang menjengkelkan itu.

__ADS_1


“Baiklah. Jika kau tidak bergerak, aku akan membunuhmu!" Tekadnya mengambil senapannya dan segera membidik aku yang sedang terdiam.


Sebelum membidik, aku bergerak menuju ke Akishima dan segera melancarkan seranganku. Aku melancarkan tamparanku kepada pipi Akishima, sehingga ia melepaskan senapannya tanpa sadar lalu aku segera memeluknya dengan erat agar ia tidak bisa melepaskan pangkuanku.


Akishima tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa membebaskan diri dari pangkuanku. Ia mulai mendesah, “A-Apa yang kau lakukan?”


“Tidak!” Desis Akishima yang dipeluk olehku.


“Aku perintahkan kau untuk menerima pelukanku dan menangis,” perintahku kepada Akishima yang dipeluk.


“Apa?” Lirik Akishima tidak terima dengan perintahku.


“Tidak mau! Aku tidak mau menerima ini. Harusnya kau melecehkanku dan …,” ucapnya terpotong.


“Menangislah di pangkuanku!  Aku tidak akan membiarkanmu menderita!” Teriakku memeluk Akishima dengan erat.


“Kenapa?”


“Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?”


“Kenapa kau tidak ….” Hati Nurani Akishima yang gelap mendesis di dada Akishima.


“Ini permintaanku. Aku tidak mau kau menderita. Aku ingin kau seperti biasanya,” desahku di telinga Akishima.


Akishima yang mendengar desahanku  Ia mencoba mengucurkan air matanya, namun tidak bisa. 


“Jangan tahan! Anggaplah ini adalah suatu tempat dimana kau bisa meluapkan perasaanmu dengan bebas. Kau boleh meluapkan kesedihan, kemarahan, kecemasan, kebahagiaan, dan ketakutan. Jadi, luapkan perasaanmu saat ini juga!”  Desakku sambil memeluk Akishima dan membisik di telinganya. 


“Tapi …,”


“Aku tidak ….” Akishima tidak bisa menahan tangisannya karena desahanku.


Air mata Akishima tak tertahankan. Ia menerima pelukanku dan segera mengucurkan air matanya dengan keras. Air mata telah membasahi pakaianku. Ia memelukku dengan erat dan mengeluarkan air matanya dengan deras menuju perutku.


Aku menerima pelukan sambil mencium kepalanya. Aku mencium bunga Sakura yang ada di kepalanya. Aku merasakan dua rasa yang berbeda. Bau yang harum dan rusak. Jika digabungkan, menjadi bunga Sakura yang sedang berdarah.


“Maafkan aku, Rivandy! Aku menamparmu. Aku tidak sengaja membencimu. Aku menganggapmu pengkhianat. Aku takut dikhianati. Aku takut aku sendirian,” ungkap Akishima sambil mengucurkan air matanya.


Aku mendengar curahan itu. Aku memeluknya seperti boneka dan tidak akan melepaskan pelukan itu. Begitupun dengan Akishima. kami tidak mau melepaskan pelukan itu. 


Kami berpelukan seperti sepasang suami istri.


[*^*]


Jam 15:12, di kamar Akishima yang berantakan itu. Kami melepaskan pelukan itu. Aku memutuskan untuk membereskan apartemen milik Akishima. Akishima memilih untuk menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 


Aku membuka gorden dan mematikan lampu LED. Aku segera mengambil barang yang berantakan dan segera meletakkan ke tempat yang seharusnya.


Setelah itu, aku mengambil sapu dan segera membersihkan kotoran dan debu yang di lantai. Mulai dari ruang tamu, dapur, ruang makan, dan ruangan lainnya. Aku juga membereskan barang yang tidak bisa dipakai lagi dan membuangnya di tempat sampah.


Setelah bersih, aku mengambil pel dari apartemenku dan segera mengepel dengan cepat. Kemudian, aku menjahit seragam Akishima dan segera mencucinya. Tidak lupa aku merapikan rak buku yang penuh dengan yukata, seragam akademi yang digantung sebanyak 20 buah, dan baju gamis coklat yang pendek.


Jam 17:12 sore, Akishima keluar dari akademi dan mengenakan handuk kimono. Ia ganti baju pada saat aku sudah membersihkan kamarnya. Dia tidak membiarkanku pergi karena aku harus menemaninya ganti baju yukatanya.


Jam 18:32, aku mendengar video klasifikasi Cherry-neesan dari TV / YouTube karena kesalahan jadwal akademi. Seharusnya hari ini libur, bukan pelajaran militer. Akibatnya, siswa diliburkan selama tiga hari dan guru mata pelajaran yang bersangkutan akan mengirimkan PDF mata pelajaran di Grup Telegram kelasnya masing-masing.


Dasar Cherry-neesan! Dia sengaja melakukannya.


Jam 19:12, aku dan Akishima makan malam. Aku memasak Takoyaki agar ia senang dengan masakanku. Setelah makan malam. Kami bermalam minggu di kamar Akishima sambil mendekat dan mempererat hubungan kami.


Setelah menonton TV, kami tidur seranjang sambil ia memelukku. Aku membalas pelukannya karena ia merasa nyaman pada sisiku. 


Malam yang indah dengan pelukan gadis mengenakan yukata. Bau Sakura mengelilingiku sehingga aku merasa tenang dan damai.

__ADS_1


Kalau saja Aurora dan lainnya mengetahui ini, mereka akan menggunakan senapan mereka untuk mencari dan membunuhku.


__ADS_2