Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Kotori Andromeda : Sebuah Perpisahan


__ADS_3

Gang yang sepi, langit yang mendung tanpa sebuah bintang cerah. Sudah ditutup awan. Tidak ada yang bisa terlihat indah selain awan yang menggumpal di Kota Moskow.


Aku sudah memastikan tidak ada yang tahu lokasi ini. Aku dan Kotori bisa melihat lagi, berada di gang yang sempit dan gelap.


Mereka tidak akan mengejarku saat ini. Sudah kuputuskan untuk menjaga Kotori untuk sementara waktu. Namun, ekspetasi tidak sesuai dengan kenyataan. Kotori membuatku tidak percaya.


"Rivandy!" Kotori memanggil, suara lemah akibat tenaga yang dikuras habis tersampaikan.


Kotori tidak bergerak sekalipun. Masih berada dalam pelukanku. Tubuhnya bergerak di depanku, dan menatap dengan dua mata.


"Kenapa? Ada yang bisa kubantu?"


Posisi Kotori menjadi berubah. Dia memelukku, tangan dan kakinya menggantung di badanku agar tidak jatuh. Sebenarnya, ia masih memiliki sedikit kekuatan untuk bergerak. Hanya gerakan kecil saja. Tidak ada yang lain.


"Tolong ambil pisau di sakumu!" Kotori menyuruhku untuk mengambil pisauku.


Tanpa pikir panjang, aku mengambil pisau dari saku celana bagian kanan dan menunjukkan pada Kotori. Kotori menoleh ke kiri, memastikan tanganku memegang sebuah pisau yang tajam untuk membunuh. Ini yang terakhir kalinya.


"Sekarang, kau harus bunuh aku dengan pisau yang kau pegang sebelum dia menemukanku dan membawaku ke luar kota ini."


Keputusan Kotori sangat kelewatan, tidak terima karena ingin mengakhiri hidupnya di tanganku. Padahal, aku tidak ingin membunuh orang lagi.


"Apa maksudmu? Kau tidak ingin mati, kan?" Aku bertanya, masih berdiri dan dipeluk Kotori dari depan, tidak sangka mendapatkan sesuatu yang buruk.


"Rivandy! Aku ingin kau membunuhku. Aku sudah tidak punya tujuan lagi. Kau harus membunuhku sekarang!" Kotori bersikeras, tidak ingin membuatku khawatir.


"Tidak mau! Aku tidak ingin membunuh orang lagi! Kau sudah gila?" Aku menolak mentah-mentah, tanganku mengepal dan satunya lagi memegang pisau, ingin dilepaskan.


Kotori mulai geram. Tapi, kesabarannya masih bisa ditahan lagi. Aku tidak bisa menggerakkan tanganku, terasa kaku dan mengasihani nyawa seseorang.


"Kumohon. Bunuh aku! Kalau kamu membunuhku, CIA tidak akan mencariku dan melupakanmu untuk sementara waktu." Kotori menjelaskan kenapa ia ingin dibunuh.


Aku malah menolak, keras kepala dengan keputusanku dan tangan kananku tidak bergerak sama sekali, mencegah Kotori.


"Habisnya, aku sudah tidak ingin membunuh orang lain. Ini akan membunuhku. Kalau kau tidak mau hidup, aku tidak akan membiarkanmu pergi."


Aku bersikeras untuk tidak membunuh kali ini, meskipun Kotor' akan marah padaku. Tidak ada pilihan lain. Perintah pembunuhan ini tidak boleh terjadi.


"Cukup sudah! Jangan berpikiran seperti itu! Ini tidak ada pilihan lain! Kalau kau tidak akan membunuhku, kau akan ditangkap juga. Aurora akan khawatir denganmu."


Kotori masih dalam keadaan memelukku, tidak mau di lepaskan. Tapi, dia menatapku dengan serius. Terus menerus, dia memaksaku untuk mengikuti perintahnya.


Aku terdiam, membuat mulutku tertutup rapat. Selain itu, nafasku diatur kembali agar tidak terasa sesak.


"Tolong dengarkan aku! Sekali saja! Tolong!"


Tidak ada pilihan lain. Aku membiarkan Kotori untuk berbicara. Sekali saja sebelum berakhir dengan tragis.  Ini sudah saatnya Kotori untuk berbicara untuk terakhir kalinya.


"Begini, ini adalah takdirku. Aku tahu. Aku akan mati. Hidup ini singkat. Tapi, bisa lebih singkat daripada yang diperkirakan. Ini berkaitan denganmu. Aku melakukan ini hanya untukmu. Agar kau bisa maju kedepan."


Kotori bercerita, terasa pahit di telinga. Tapi, tidak bisa dibiarkan. Aku berniat untuk mencelanya. Bibirku langsung bergerak untuk mencela lawan bicara.

__ADS_1


"Tapi, kau-" Aku mencoba untuk mencela dan memonta penjelasan.


Mulutku dihentikan oleh sebuah jari putih, jari itu memberikan kekuatan supernatural agar aku tetap diam, tidak mencela lagi.


"Tenanglah. Aku datang kesini hanya untuk mendapatkan kesempatan terakhir agar direkrut oleh perusahaan. Sekarang, aku diincar. Aku tidak bisa kembali lagi karena CIA tidak ingin membiarkanku lulus akademi dan direkrut perusahaan."


"Karena kamu, aku mendapatkan hidup yang lebih baik di kota ini. Aku juga mendapatkan teman yang indah meskipun aku bermusuhan dengannya karena suatu hal."


Kotori terus mengoceh , membuatku semakin tidak nyaman. Wajahku pucat, keringat ada dimana-mana. Sampai membuatku ingin menangis.


"Apa maksudmu? Kau tidak berniat sejauh itu kah?"


Kotori menggelengkan kepalanya,  Tidak setuju, pertanyaan yang kuajukan terlalu rumit dan tidak bisa dijelaskan. Jadi, Kotori mengabaikannya.


"Tidak, Rivandy. Aku tidak merasakan hal yang buruk. Aku juga mengucapkan terima kasih padamu karena kamu membuat hatiku menjadi lebih baik. Keseharian akademi telah mewarnai kehidupanku. Sebelumnya, aku adalah alien yang tidak punya masa depan."


"Tapi, berkat kamu dan Bella, aku sudah mendapatkan yang kuinginkan. Salah satunya adalah kebahagiaan untuk mengawali hari. Sungguh kehidupan yang indah." Mata Kotori menjadi bercahaya meskipun cuaca mendung.


"Aku sudah mengirimkan sinyal dari kepada Bella dan Shiori agar menjagamu setelah kematianku. Kau pasti akan kehilangan segalanya. Mentalmu akan rusak untuk beberapa saat kemudian. Jadi, tolong lupakan aku setelah sembuh! Aku tidak ingin menyakitimu."


Kotori kembali menatap wajahku, menunjukkan sesuatu yang penting bagiku. Kata yang penting dan terakhir untuk diucapkan.


"Hentikan! Jangan berbicara lebih jauh lagi! Aku tidak ingin kau mati di tanganku!" Meskipun percuma, aku terus menyadarkan Kotori agar tidak membuat perkataan yang menghawatirkan.


"Tidak heran Aurora akan menjadi pasangan yang indah untukmu. Tapi, aku yakin dia akan menjagamu setelah lulus." Kotori menyahut, ingin berharap Aurora menemaniku.


Pembahasan itu tidak bisa dihentikan. Kotori terus mengoceh sambil melakukan tindakan rahasia, yang digunakan untuk melakukan sesuatu yang terakhir.


Air mata Kotori masih ditahan, namun beberapa air mata tidak bisa ditahan, membuatku semakin cemas karena air mata itu.


Sudah saatnya, Kotori mengungkap semuanya. Identitas yang disembunyikan tidak boleh dirahasiakan sebelum meninggal. Ini dilakukan sebelum mati.


"Maafkan aku! Aku memang bukan manusia. Aku menang bisa menangis. Hanya saja, aku tidak bisa karena ...." Kotori langsung menggunakan kekuatan terpendam, menggerakkan benda tanpa menyentuh.


Kotori membuka masker melalui kekuatan supernatural. Hoodie dan masker terbuka, memperlihatkan wajah Kotori seutuhnya.


Ini membuatku tercengang, sekali lagi keputusasaan menjadi meningkat pesat. Kotori kembali tersenyum. Wujudnya bukan manusia. Terdapat antena alien yang melekat di kepalanya, fungsinya hanyalah mengirimkan sinyal.


"Maafkan aku. Sebenarnya aku adalah alien dari Galaksi Andromeda. Itu sebabnya nama belakangku menjadi Andromeda."


"Aku selalu pakai masker karena mulutku cukup bermasalah. Tidak apa. Aku terlahir mendapatkan kanker mulut. Jadi, masker ini bertujuan agar menyembunyikan kanker mulut."


"Kalau sudah dewasa. Aku tidak perlu menggunakan masker lagi."


"Kotori! Kau ... membuatku takut." Mataku melebar mengalihkan perhatian agar tidak melihat mengontrol tanganku, kesempatan yang bagus bagi Kotori untuk mengendalikan tanganku.


Kotori langsung memerintahkan tangan kananku untuk bersiap, untuk menusuk perut Kotori ke atas, agar Kotori tidak bisa diselamatkan lagi.


"Kotori. Kumohon. Kamu jangan-"


Pisau yang dipegang langsung menusuk ke perut Kotori. Selain itu, pisau itu menusuk ke atas dan dalam.

__ADS_1


"Keluarkan! Keluarkan!" Aku berusaha untuk mencabut pisau yang dipegang dari perut Kotori. Percaya, darah Kotori mengalir deras, menyebabkan darah berceceran di tanganku dan bajuku.


Namun, setelah pisau dicabut, Kotori tersenyum. Senyuman itu adalah pemandangan terakhir yang kulihat. Seolah-olah, dia membuat pesan terakhir padaku.


"Terima kasih, Rivandy! Aku sangat menikmati hari ini. Aku harap kau bisa hidup lebih lama." Kata terakhir Kotori sebelum meninggal.


"Terima kasih, Siren! Aku menjadi manusia yang lebih baik lagi." Dalam hati, Kotori mengucapkan terima kasih pada seseorang.


Setelah senyuman terakhir itu, Kotori kehilangan nyawanya. Selain itu, di melepaskan pelukannya. Terpaksa, aku memeluknya setelah membuang pisau ke depan.


Kotori sengaja mengeluarkan darah dari tubuhnya agar mempercepat kematiannya. Ini akan membuat seorang dokter cerdas pun tidak bisa menyelamatkan nyawa Kotori. Sudah terlambat.


"Kotori!" Panggilan pertama, aku memanggil Kotori dengan pelan.


"Kotori! Bangun! Kumohon!" Panggilan kedua, aku memanggil sambil menggerakkan tangannya.


"Tidak! Kotori! Jangan mati! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku sudah mati kalau kamu tidak menyelamatkanmu sebelumnya." Permintaan ketiga, air mata menetes dan membasahi pipiku.


"Tolong bangunlah!" Aku memohon untuk terakhir kalinya


[^°^]


Sementara itu, Creator Near, Wolverine sudah datang menghampiri Near, memberikan laporan padanya karena merasakan insting yang tidak biasa.


"Tuan Near. Aku sudah mencari targetnya. Tapi, kami tidak menemukan apapun. Aku rasa Kotori sudah mati karena


"Kau benar. Titik Koordinat Kotori sudah berubah menjadi warna putih. Jadi, dia telah mati dibunuh oleh Rivandy. Tidak apa. Dia pantas mendapatkan hadiah itu." Near tetap tersenyum sinis, walaupun gagal menjalankan misi. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Itu adalah misi perusahaan.


Near langsung menutup tabletnya dan langsung memanggil semua Creatornya untuk pergi ke tempat lain.


"Semuanya! Kita harus pergi dari kota ini! Kita harus melakukan pekerjaan di Pakistan."


"Siap, Tuan!" Para Creator langsung menuruti Near dan pergi ke Pakistan dengan teleportasi.


[^°^]


Bella dan Shiori berlarian mengikuti sinyal yang diberikan seseorang. Berkat sinyal itu, mereka bisa mencari Kotori dengan mudah dan menjelaskan apa yang terjadi dengannya.


Setalah menemukan Kotori di gang dekat jalanan, Bella melihat seseorang yang memeluk Kotori dengan keadaan tidak bernyawa.


"Rivandy. Ada apa? Kau berlumuran darah?"


Pertanyaan Bella tidak dijawab. Aku masih diam dan melihat darah penuh dengan trauma.


"Rivandy! Jawab aku! Apa yang ....* Bella langsung terdiam, merasakan hal yang aneh karena banyak darah berceceran di lantai dan bajuku.


Shiori langsung menembak peluru bius agar aku tertidur untuk beberapa saat. Ini menyebabkan Bella menoleh pada Shiori sambil marah.


"Shiori! Apa yang lalu lakukan?"


"Aku tidak ingin membuatnya menderita. Kita harus membawanya ke apartemenmu sekarang."

__ADS_1


Mereka langsung membawaku ke apartemen Bella dan mendapatkan perawatan agar bisa mendapatkan informasi tentang Kotori.


__ADS_2