Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Akademi : Tidak Bisa Diandalkan


__ADS_3

Hari Senin, 13 Oktober 2025, jam 10:29, aku, Aurora, dan Evelyn  kembali ke kelas sambil berbincang sedikit. kami berjalan menuju ke kelas sambil melihat taman akademi yang indah, tapi cuaca yang mendung.


Aku tidak terlalu ingin mendengarkan obrolan mereka karena aku agak tidak bisa mencerna perkataan mereka yang kabur itu. Mereka tidak menyadariku yang sudah di belakang mereka.


Aku melihat ada seorang siswa yang sedang tertidur di bawah rindangnya pohon. Ia tidak terlalu peduli dengan hembusan angin dan suasana yang cukup suram itu. Ia cukup tenang dengan bersandar di pohon.  


Aku hanya melirik kepadanya dan mencoba untuk segera ke sana. Sesekali aku membangunkannya karena jam pelajaran akan dimulai lagi. Sebelum aku bergerak kesana, ada sebuah panggilan yang kudengar. Lamunanku terhenti seketika.


“Rivandy?” Aurora memanggilku.


“Eh?!” Aku terpanggil dan bertatapan muka dengan Aurora.


“Ada apa?” Tanyanya sambil berbalik badan denganku.


“Tidak apa-apa. Aku hanya melamun saja,” jawabku sambil memalingkan wajahku. 


“Tadi, kamu melamun apa, desu?”  Tanya Evelyn ingin tahu.


“Sesuatu,” jawabku singkat.


“Eh?!” Aurora dan Evelyn mengeluh dengan jawabanku.


“Beritahu aku, dong!” Desak Aurora.


“Iya, sesuatu,” jawabku lagi.


Kami berjalan menuju ke akademi dan segera mengikuti pelajaran matematika, pelajaran yang dibenci Akishima.


[*^*]


Jam 14:56, jam pelajaran telah berakhir. Kami bersiap untuk pulang ke gerbang akademi. Namun, aku mendengar sebuah dentuman yang cukup pelan dan aku menghentikan langkahku. Kemudian, aku menoleh ke belakang dan terlihat ada seorang teman sekelasku yang membuat langkah kakiku terhenti.


“Rivandy!” Panggil Nina.


“Oh. Nina. Ada apa? Kau terlihat cemas,” jawabu melihat Nina yang sedang dilanda kecemasan.


“Apakah kau punya waktu luang?””


“Iya. Emangnya kenapa?” Aku bertanya pada Nina sementara Aurora dan Evelyn berjalan pulang tanpa menyadari aku menghentikan langkahku. 


“Bisakah kau tolong aku? Aku … membutuhkan bantuanmu.” Nina memohon sambil membungkukkan badannya.


Kebetulan Nina meminta bantuanku. Biasanya dia membantuku untuk menyembuhkan trauma akibat dikejar Aurora dan menghentikannya. Kemudian, dia membantuku untuk mengawasiku dari Aurora setelah aku dirawat di ruangan Klub Disiplin. 


“Tolong ceritakan padaku kenapa kamu meminta bantuanku!” Aku berhadapan dengan Nina  dan menatapnya dengan serius.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo pergi!” Nina menyeretku dan membawaku ke 


Aku dan Nina segera menuju ke gerbang akademi untuk meninggalkan akademi dan segera menuju ke apartemen milik Nina. 


Aku terpaksa mengikutinya dengan cara ia menyeretku menuju ke apartemennya.


[*^*]


Jam 16:04, kami sampai di apartemen karena kami menggunakan taksi. Ini lebih cepat dan lebih murah. Entah kenapa uang di kartu kreditku bisa terisi sampai ₽ 100.000  Aku tidak tahu siapa yang melakukan transfer dengan uang sebanyak itu. Tapi, yah … sudahlah! Aku tidak terlalu memikirkannya.


Aku kembali ke apartemen dan berjalan menaiki tangga menuju apartemen Nina bersama Nina. Kami mencoba untuk memasuki apartemen dan melihat ada suatu aktivitas di dalam apartemen Nina Ada dua gadis yang sedang mengajari siswa payah untuk mengajar pelajaran akademik.


Aku pernah melihat siswa itu sebelumnya. Aku melihatnya di bawah pohon yang rindang sebelum bel akademi berbunyi. Lalu, ada dua gadis yang mengajarinya dengan papan tulis.  

__ADS_1


“Zera! Kau pasti bisa!” Sinta menyemangati Zera dengan mengenakan pakaian Cheerleadernya.


“Zera, ini tidak terlalu sulit, kok. Kamu hanya perlu menyamakan postulat 3,” lanjut Nina sambil mendekati Zera.


“ ….” Zera hanya terdiam memandangi mereka.


Aku pikir kedua gadis itu melakukan hal yang aneh. Aku merasakan ketidaknyamanan karena mereka yang menyelamatkanku telah melakukan hal yang aneh kepada Zera. 


Namun, sebelum aku meninggalkan apartemen, Nina melirik padaku dan menoleh. Lalu, ia memojokkan ke tembok dengan tangan, sehingga aku tidak sengaja melihat pakaian dalam dan ***********. Aku agak tidak nyaman karena Nina mengeluarkan aura yang jahat.


“Bantu aku atau aku akan menulis catatan hitam sekarang juga,” ancam Nina melebarkan seragamnya.


“Iya. Aku akan membantumu.” Dengan terpaksa, aku menerima ancaman itu.


Ketika Nina ingin menyapa, Zera yang sudah melihatku sambil menyandarkan kepalanya dan menyapa, “Rivandy, kau datang juga?”


“Eh?! Kau kenal dengannya?” Nina terkejut Zera mengetahui namaku.


“Aku selalu mendengar namamu,” jawab Zera singkat.


“Aku menceritakan Rivandy kepadanya. Jadi, dia mengetahui namamu,” jelas Sinta sambil kepalanya menoleh padaku.


Diana berdiri dan menghampiriku sambil menyambut, “Selamat datang, Pangeran. Terima kasih telah berkunjung kemari.”


Aku melirik, “Sebenarnya, Nina yang membawaku kemari,” sambil menatap Nina dengan datar. 


“Oh, begitu. Kalau begitu, kamu mau apa? Mau teh ? Kopi ? Atau … aku?” Rayu Diana sambil menuju ke dapur.


“Aku pilih teh Darjeeling,” putusku tanpa pikir panjang.


“Aku air putih. Untuk kesehatanku,” lanjut Sinta memesan minuman.


Sementara Diana pergi ke dapur, aku dan Nina segera menghampiri Zera dan Sinta di ruang tamu apartemen Nina. Aku tidak akan lengah dengannya. Gadis itu sedarah dengan Aurora. Karena ketakutanku masih belum pulih, aku duduk berdekatan dengan Nina dan Zera untuk menghindari hal yang diinginkan.


“Anu, Rivandy. Apa kau baik-baik saja?” Tanya SInta dengan ramah.


“Aku baik-baik saja. Kalau kau minum alkohol, aku akan berteriak sekencang mungkin,” jawabku teringat Sinta adalah keturunan Sentinel.


Aku bingung dengan mereka. Aurora, Spinx, dan Sinta. Mereka memiliki nama belakang Sentinel. Aku belum mengetahui dengan detail dengan hubungan mereka. Yang pasti, mereka memiliki keluarga yang sama.


Sementara itu, Zera hanya terdiam lesu dengan tatapan yang cukup canggung. Ia memutuskan untuk berbicara sedikit.


“Kenapa kamu disini?” Tanya Zera menoleh padaku.


“Aku kesini untuk .... ” jawabku langsung ditutup mulut oleh Nina dengan tangannya.


“Dia akan membantumu untuk mengajarimu. Jangan khawatir! Tidak ada yang bisa meragukan kecerdasannya. Iya `kan, Ri … van … dy?” Jawab Nina sambil menoleh padaku.


“Begitu?” Zera ragu dengan belasan itu.


“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu terpuruk, kok,” cetus Nina sambil menyemangati Zera.


Setelah itu, aku beranjak dari duduk dan segera melihat pelajaran yang tertulis di papan tulis. Kemudian, aku menghapus dan menulis pelajaran, sehingga hanya ada rumus yang sederhana. 


Aku mengajari Zera mengenai tema “persamaan” agar Zera bisa mengerjakan tugas. Kemudian, aku mengajarinya untuk mengerjakan soal yang dirasa cukup mudah bagiku. Zera hanya terdiam dengan pembelajaran itu. Dia hanya menatap dengan mata sayu.


“Begini caranya untuk mengerjakan matematika materi persamaan. Apakah kau sudah mengerti?” Tanyaku sambil memainkan kayu rotanku.


“Hmm.” Zera menatap papan tulis itu dengan seksama. 

__ADS_1


Setelah menatap papan tulis. Ia menatapku dan membalas, “Tidak.” 


Aku tidak terlalu terbiasa dengan itu. Aku baru tahu ada siswa yang tidak mengerti dengan pembelajaran umum dan sederhana. Nina yang sedang berada di sisi Zera segera mendukungnya. Begitupun dengan Sinta. Ia mendukung Zera sambil mengulang kata berkali-kali.


Pembelajaran umum terlalu sulit padanya. 


Mungkin aku harus merombaknya lagi. 


Aku segera menyalakan handphone ku dan mencari PDF untuk menyelesaikan masalah ini. Aku mencari halaman yang tepat pada rumus yang ditulis pada papan tulis. Setelah itu, aku memahaminya terlebih dahulu dan mencari cara agar Zera mengerti dengan soal di papan tulis.


Nina dan Sinta sedang menyemangati Zera agar Zera bisa mengerjakan soal. Namun, Zera masih belum beraksi sedikit pun. Ia masih menundukkan kepalanya.di meja dan tidak melakukan apapun.


Setelah mengajari Zera dengan usaha keras selama 10 menit, Diana membawa kedua cangkir dan segera menuju kemari. Ia memanggil, “Pangeran, Sinta. Minumannya sudah disediakan,” memberikan cangkir kepadaku dan Sinta. 


Aku merasa hal yang aneh disini. Aku segera pindah dari tempat semula untuk menghindari Sinta. Nina tertawa dengan tindakanku yang menghindari Sinta. Sinta meminumnya dengan perlahan dan menghayatinya. Aku bingung apa yang ia pikirkan. Aku hanya menyeruput teh dengan perlahan.


“Sinta, kamu minum terlalu sedikit,” protes Nina melihat Sinta minum air putih dengan secangkir.


“Oh, begitu. Aku tidak mau menghabiskan banyak air putih. Soalnya, masih ada orang yang di luar sana yang sangat membutuhkan air,” jawabnya sambil menikmati air putih dengan perlahan.


Aku merasa lega dengan itu. Aku menyiapkan hati dan mental. Aku juga menghitung rute pelarianku untuk berjaga-jaga. Jika Sinta tidak sengaja meminum alkohol, dia akan menjadi Aurora pada saat ini.


Setelah minum teh, aku segera melirik sebentar agar aku bisa menghirup udara segar pada sore hari ini. 


“Aku keluar dulu. Untuk menghirup aroma segar,” desahku sambil berdiri dan menyerahkan cangkir itu ke Diana. Kemudian, aku segera keluar dari apartemen untuk melihat pemandangan kota Moskow sambil mencari solusi untuk membantu Zera. 


Mereka hanya menerima hal itu dan segera melanjutkan perbincangan mereka, meskipun Zera tidak ikut campur dengan obrolan itu. Ia hanya menyimak perbincangan mereka. 


Pada saat aku menatap kota Moskow, Diana menghampiriku dengan jalannya yang anggun. 


“Rivandy. Bagaimana dengan traumamu? Apakah sudah lebih baik?” Tanya Diana sambil mendekatiku.


“Um.” Aku mengangguk sebagai tanda iya.


Diana mencetus, “Hei. Pangeran. Aku ingin bercerita tentang Zera. Nina dan Sinta tidak bisa memberitahumu. Jadi, aku akan menceritakan padamu,” 


“Coba, cerita padaku!” Aku mempersilahkan Diana untuk bercerita.


“Sebenarnya Zera mengidap penyakit yang sama denganmu. Pada masa kecilnya, Zera adalah seorang yatim piatu yang sama dengan kami. Dia selalu menghindari kami dan selalu tidur di luar.”


“Kami awalnya tidak terlalu mengetahui sesuatu tentang Zera. Dia dengan tenang menghindari tatapan muka kepada orang lain. Setelah bekerja di panti asuhan, aku, Nina, dan Sinta bermain di sungai. Kami tidak terlalu akrab dengan Zera yang selalu menghindari kami.”


“Beberapa waktu kemudian, Zera ….” Diana menghentikan perkataannya karena ia mengalami ketakutan. Ia tidak bisa melanjutkan ceritanya lebih lanjut. Ia memilih untuk berpelukan denganku. 


“Diana?!”


“Kamu tidak apa-apa?” Aku berbalik badan dan melihat Diana yang sedang menahan tangisannya.


“Maafkan aku, Rivandy. Aku tak bisa bercerita lebih lanjut lagi,” sesal Diana sambil menahan tangisannya.


“Kau tidak perlu repot begitu. Kau tidak usah bercerita jika kau tidak bisa menceritakannya,” usulku sambil berbalik badan.


“Tapi … kalau tidak diceritakan, Zera akan ….” Diana bertekuk lutut sambil melanjutkan ceritanya.


“Diana!” Panggilan dari suatu suara dari dalam.


Sinta segera menuju kemari. Dia memeluk Diana yang sedang bertekuk lutut. Aku hanya melihat dari instingku. Diana segera meluapkan tangisannya karena tidak bisa bercerita tentang masa lalu Zera. Aku cukup memaklumi hal itu. Suasana menjadi hening.


Sinta memulai bicara, “Rivandy. Maafkan aku. Aku yang seharusnya bercerita padamu. Diana tidak bisa melanjutkannya."

__ADS_1


"Aku akan lanjutkan cerita. Sebenarnya, Zera itu ..."


__ADS_2