Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Makanan : Klub Memasak


__ADS_3

Jam 15:30, semua anggota Klub Memasak berkumpul, aku, Denis, Hammer, Zhukov, Nona Claveriska, Bella, dan anggota lainnya sedang berkumpul dengan arahan dari ketua klub. Kami menunggunya sambil mengobrol sebentar.


Ada seorang gadis berambut panjang sepunggung sian biru dengan bando. Dia setinggi Denis dengan tubuhnya yang ramping dan atletis itu. Dia merupakan gadis yang ceria dan hiperaktif.


“Maaf menunggu lama! Aku sedang mengurus sesuatu untuk mengurus biodata untuk peserta lomba. Jadi, jika kalian protes, mari kita berbicara lebih intim agar kita bisa meraih kebersamaan.”


“Sate sate sate. Kalian datang kesini untuk mendengarkan pengumuman lebih lanjut. Lomba itu dilaksanakan pada setahun sekali untuk meriahkan akademi ini. Ini bertujuan agar memiliki acara tahunan yang dinantikan. Pihak akademi dan panitia bekerja sama untuk menjalankan acara dengan baik dan benar.”


“Jadi, kalian wajib mengikuti lomba memasak untuk mengasah kemampuan kalian. Baik dari angkatan 2024 maupun 2025. Kalian harus mengasah kemampuan kalian untuk menjadi lebih baik lagi. Kalian bisa mengikuti kompetisi BLUE (Bishoku Leading Under-25 Entrance) di Jepang jika kemampuan kalian di atas rata-rata.”


“Kalau kalian menjadi juara dalam lomba ini, aku berharap kalian bisa mengasah kemampuan kalian lebih tinggi lagi. Jangan hanya sekedar mendapatkan uang dengan piala saja!"


Tidak apa-apa kalau kalah, yang penting kalian sudah berusaha lebih keras ~ Fillia Andela


“Sampai sini, ada yang ingin ditanyakan?” Tanya Fillia menyelesaikan ceramahnya.


“Senpai. Siapa juri yang akan menilai masakan kita?” tanya Bella mengangkat tangannya.


Dengan cekatan, Filila menjawab, “Hohoho. Soal itu, rahasia. Aku tidak akan memberitahu kalian sebelum acara dimulai. Tunggu saja minggu depan,” dengan penuh antusias.


“Ada lagi?” Tawar Fillia kepada junior Klub Memasak.


“ ....” Semuanya tidak bertanya, sehingga membuat Filia melanjutkan penjelasannya.


“Baiklah. Sistem lombanya sudah aku pikirkan. Jadi, ada 20 orang yang akan diikutkan di acara lomba nanti. Jadi, dari semua peserta yang ikut, akan diseleksi untuk mendapatkan 20 kursi babak penyisihan. Kemudian, 20 peserta akan berkompetisi sesuai dengan kemampuan kalian."


“Setelah itu, babak penyisihan akan berlomba untuk mendapatkan babak semifinal. Jadi, kalian harus hati-hati. Lengah sedikit kalian akan gugur. Lawan akan menyalip kalian pada babak semifinal.”


“Di babak final, kalian akan bertarung secara epik untuk menentukan pemenang. Kalian harus menyiapkan mental kalian karena ada sebuah kejutan yang akan menghantui kalian.”


“Setelah kalian bertarung, para juri akan mengumumkan siapa yang menang. Kemudian bagi seorang pemenang akan diberikan uang dan piala untuk dibawa pulang. Kalian akan menggunakan uang sesuka kalian.”


“Sudah selesai aku sampaikan. Ada yang ingin ditanyakan?” Tawar Fillia dengan antusias.


“Aku. kenapa selesainya hanya semifinal dan final saja? Bukankah itu terlalu singkat?” Tanyaku melihat sistem lomba ini.


“Pertanyaan yang bagus. Karena acara ini harus dipersingkat. Aku merasa kasihan dengan pembelajaran kalian. Selain itu, bukan kalian saja yang mengikuti acara ini. Angkatan 2023, dan 2024 mengikuti  lomba ini. Jadi, aku usulkan ke pihak panitia untuk mempersingkat acara ini,” jawabnya dengan penuh perhitungan.


“Oh, begitu. Aku akan menulisnya di Google Keep,” responku membuka handphone dan menulisnya di aplikasi Google Keep.


Setelah itu, banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada Fillia. Namun, Fillia menjawabnya dengan santai dan mudah dipahami, tanpa menyinggung seseorang. Setelah pertanyaan yang dilontarkan, tidak ada yang bertanya lagi karena mereka sudah puas dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Filia.


“Yosh!  Segitu saja yang saya sampaikan. Kalian boleh pulang jika ada kesibukan. Bagi yang punya waktu luang,  silahkan bergabung untuk mengasah kemampuan kalian atau ikut denganku untuk mengurus administrasi peserta.”


“Sekian terima kasih,” tutupnya sambil berakting seperti seorang presiden.


Akhirnya, diskusi perkumpulan Klub Memasak telah berakhir. Sebagian dari anggota Klub Memasak memutuskan untuk pulang ke rumah. Sementara yang lainnya mengasah kemampuan mereka atau ikut dengan Filia-Senpai.


Aku memutuskan untuk mengasah kemampuanku lebih lanjut. Zhukov membantu Filia-Senpai untuk mengurus administrasi peserta lomba. Denis dan Hammer mengasah kemampuan mereka bersamaku.


Pada saat mengasah kemampuan memasakku, aku bertemu dengan Bella yang sedang mengaduk adonan. Aku menaburkan selai di atas adonan. Pembicaraan pun dimulai cukup canggung.


“Oo. Onii-chan? Kamu tidak pulang?” Tanya Bella sambil mengaduk adonan.


“Kamu juga Bella. Kamu tidak pulang. Lalu, kamu begitu tekun,” pujiku sambil merapikan adonanku.


“Sudah jelas. Di lomba nanti, aku mengalahkanmu, Onii-chan!” Tekad Bella menyodorkan penggiling adonan padaku.


Aku menoleh pada tekad Bella yang ingin mengalahkanku. Cukup menarik. Aku merespon, “Aku akan menantikannya. Tunggu saja!”


“Apa?! Responmu hanya segini saja?! Kau tidak akan menang lagi, Onii-chan!”  Protes Bella di hadapanku, namun aku fokus menyelesaikan adonan kueku.

__ADS_1


“Tunggu! Jangan abaikan aku!” Protes Bella yang menggema di telingaku.


Bella mengeluarkan suara protes padaku. Ia melakukan itu di tengah pelatihan itu. Ketika ingin menyelesaikan masakanku, Denis menghampiriku sambil meminta sesuatu yang tidak penting padaku.


“Ri-chan! Aku perlu tepungnya,” panggil Denis menghampiriku.


“Ambil saja,‘ balasku memberikan tepung kepada Denis.


“Terima kasih.” Denis menerimanya dengan penuh riang gembira.


Pada saat Denis ingin pergi, ia melihat ada seorang gadis yang telah menyelesaikan pengadukannya.  Dengan tatapan yang sekilas, Denis mengira Bella sepertiku. Tanpa pikir panjang Denis menjadi kagum kepada Bella.


“Wah! Ada Ri-chan yang kedua!” Denis melihat Bella dengan mata yang berbinar-binar.


“Peluk!” Denis memeluk Bella tanpa pikir panjang.


“Tunggu! Apa yang kau lakukan, dasar mesum?!” Bentak Bella dipeluk oleh Denis.


“Onii-chan! Lakukan sesuatu padanya. Aku malu, nih,” suruh Bella padaku untuk melepaskan Denis.


“Maafkan aku, Bella. Aku pernah mengalami hal itu,” tolakku sambil menahan kecemasanku.


“Lakukan sesuatu! Aku mohon,” mohon Bella dengan tatapan seekor kucing.


“Aku pergi dulu untuk menyajikan kepada senpai yang lainnya,” pamitku dengan gerakan yang cepat.


“Jangan pergi, Onii-chan!” Bella berteriak kepadaku yang sedang meninggalkan Bella.


“Ri-chan. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan bersamamu selamanya,” cetus Denis sambil memeluk Bella


Pada saat Denis menoleh ke depan Bella, kesannya yang kagum itu menjadi hilang. Ia melihat gadis yang dipeluk pada saat itu. Denis yang sudah memegang tepungnya segera berbalik badan sambil mengatakan sesuatu pada dirinya.


Mendengar hal itu, Bella langsung tersinggung dengan ejekan itu. Kemudian ia bergerak menghampiri Denis, lalu melancarkan tangannya kepada Denis. Kemudian, tamparan itu mengenai Denis di pipinya, sehingga Denis kembali dengan tamparan di pipinya.


Bella kembali menuju ke tempatnya dan segera menyelesaikan pengadukannya untuk memberikannya kepada senpai yang lainnya untuk dinilai. Ia memasukkan adonan itu ke dalam oven dan menunggu beberapa menit. Setelah itu, ia mengambil adonan di oven dan segera menyajikannya kepada senior.


“Aku akan mengalahkanmu, Onii-chan!”


[*^*]


Jam 16:01, aku yang sudah mengasah kemampuanku segera membereskan dapur sebelum pulang. Denis dan Hammer sudah pulang terlebih dahulu. Zhukov dan Fillia memutuskan untuk bermalam untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


Aku bertemu dengan seorang putri yang sedang melakukan hal yang yang sama. Ia berusaha dengan keras dan tenaganya yang cukup banyak untuk seorang putri. Ia cukup berbeda dengan yang lain. Dia merupakan putri yang membuatku tenang.


“Rivandy,” panggil Nona Claveriska menghampiriku sambil mengelap dapur.


“Claveriska.” sahutku menyapa Claveriska.


“Bagaimana  kemampuanku? Apakah sudah meningkat?” Tanyanya penuh semangat.


“Iya. Kemampuanmu cukup meningkat sebanyak 23 kali lipat,” jawabku dengan penuh perhitungan dari segala aspek.


“Syukurlah. Tidak sia-sia aku begadang selama 3 hari di dapur ” ungkapnnya menghela nafas bahwa usahanya tidak percuma.


“Kamu melakukan itu?” Tanyaku dengan penasaran.


“Iya. Aku melakukan itu  Aku akan cemas bahwa aku akan kalah,” jawabnya dengan pertanyaan yang dilontarkan.


“Lain kali, jangan lakukan itu! Kau akan sakit pas lomba nanti,” tegurku sambil mengelus kepalanya.


Nona Claveriska sangat tersentuh dengan elusan tanganku itu. Teguranku membuatnya malu di dalam hatinya. Hatinya meleleh seperti sebuah coklat.  Wajahnya yang memerah karena malu itu segera melancarkan serangan MILF-nya.

__ADS_1


“Ara-Ara. Kamu sudah merayuku. Aku akan membalasmu suatu saat nanti,” lontar Nona Claveriska dengan suara MILF-nya.


“Itu … kamu tahu. Aku tidak terlalu mengkhawatirkanmu. Jadi, … jangan lakukan itu! Aku marah, kau tahu.” Sifat Tsundere-ku kambuh lagi.


“Ayo. Selesaikan ini segera. Lalu, kita akan pulang.” Aku segera fokus dengan kewajibanku dan menyembunyikan wajah Tsundere.


Akhirnya, momen romantis terjadi lagi. Kam dengan usil memegang tangan kami. Kemudian, kami mencoba untuk fokus membereskan dapur. Namun, percuma saja. Kami menolak tugas dan kewajiban kami. Kami seperti sepasang kekasih dari pangeran dan tuan putri.


Aurora dan Evelyn akan membunuhku. Kemudian, Akishima akan menculikku dan memaksaku untuk mandi bersama dan tidur bersama. Dan lebih parah daripada itu, aku harus berduaan dengan Sheeran.pada akhir pekan sebagai hukuman.


Sial banget harem sepertiku. Belum lagi Diana yang jatuh hati padaku. Lalu, Stephany, Aria dan Millia selalu melekat padaku. Aku tidak terlalu tahu dengan perasaan Kotori, Bella, dan Shiori. Rin juga menyukaiku. Belum lagi dengan anggota Klub Pangeran.


Kalau begini terus, akan terjadi Perang Cinta di akademi.


Aku tidak bisa hidup tenang kalau begini terus. Aku harus memikirkan sesuatu agar Perang Cinta tidak meletus..


Setelah membereskan dapur Klub Memasak, kami keluar dari ruangan itu dan memberikan kunci klub kepada Fillia-Senpai. Kemudian, kami berjalan meninggalkan akademi dan segera menuju


Sebelum itu, kami singgah di supermarket untuk belanja. Kami membeli sesuatu untuk keperluan kami.  Aku juga membeli peralatan elektronik, yakni alat pemanas ruangan (heater), untuk menghangatkan ruangan. Aku tidak mau mati kedinginan.


Lalu, kami pergi menuju ke toko baju untuk menemani Nona Claveriska untuk memilih bajunya. Ia juga memilih beberapa baju untuk dipakai. Setelah memilih, kami menuju ke kasir dan aku membayar semuanya. Aku rasa tidak keberatan bahwa aku mentraktirnya. Aku bisa mengatur uangku. Jangan khawatir!


Lalu, kami pulang dengan pemandangan Moskow yang sedang sunset. Kami memandang dengan romantis dan saling memegang satu sama lain


Ini seperti kencan saja. Aku sudah melakukan itu berkali-kali.


Setelah sampai di mansion, kami menghentikan langkah kami di gerbang mansion. Kemudian, kami saling memegang tangan satu sama lain. Kami memandang wajah dengan cukup lama.


“Sudah sampai disini kita berpisah,” ucapnya sambil melepaskan rindunya padaku.


“Hm. Kamu bisa masuk kesana. Sampaikan aku kepada Spinx dan lainnya,” pesanku pada Nona Claveriska.


Sebelum aku berpisah dengannya, aku merasakan hawa nafsu yang sangat liar. Ia datang dengan mendadak dan datang kemari untuk mengingat mimpi burukku.


"Sepertinya aku harus pulang sekarang. Rasanya aku tidak enak disini,”


“Kenapa?” Tanya Claveriska yang kebingungan dengan tingkahku.


“Habisnya aku ….” Ucapanku terhenti dengan sebuah sosok yang muncul di belakangku.


“Ara-Ara. Kamu disini rupanya, Pangeranku,” rayu seorang gadis yang memegang tubuhku


“Kyaa! Itu dia! Dia menghantuiku semalaman.” Aku kaget dan segera melompat dan digendong oleh Nona Claveriska secara tiba-tiba,


“”Eh?! Kamu takut dengannya?” Tanya Nona Claveriska yang menggendongku.


“Iya. Kalau dia meminum alkohol, nyawaku akan terancam, kau tahu!" jawabku dengan panik.


Nona Claveriska tertawa dengan jawaban itu. Ia merayu, “Jangan khawatir! Aku akan melindungimu darinya. Jadi, tetap di sisiku, ya!” Mengelus wajahku, sehingga membuatku tenang.


Pada saat Aura-neechan dan Nona Claveriska menggombal, ada seorang remaja yang menghampiriku dan berada di dalam gerbang mansion. Ia menegur kakaknya yang menggoda itu.


“Aura-neechan. Sudah kubilang, jangan lakukan itu! Kau membuat Rivandy-dono ketakutan,” tegur Spinx.


“Oops! Maafkan aku! Aku tidak sengaja. Tehe,” jawabnya dengan usil.


Dengan teguran itu, aku bisa tenang. Aku turun dan bersembunyi dari wanita agresif itu.


Akhirnya, aku pulang bersama Spinx. setelah setengah perjalanan, kami berpisah. Lalu, aku pulang menuju apartemenku sambil menunggu pesananku.


Hari yang cukup melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2