Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Akademi : Gadis Mesum


__ADS_3

15 Oktober 2025, jam 06:12, Eleva dan Andela sudah siap untuk berangkat. Mereka sudah menyiapkan tas mereka dan seragam mereka. Mereka hanya mencari restoran untuk bisa disantap.


Mereka bergerak meninggalkan apartemen dan berjalan menuju restoran mereka. Di tengah perjalanan mereka, mereka berjalan kaki di dengan cuaca yang cukup cerah. Andela mulai memanggil Eleva agar suasana perjalanan mereka tidak sepi.


“Eleva,” panggil Andela.


“Apa?” Sahut Eleva.


“Kamu tahu? Kalau kamu punya pacar, kamu bisa melakukan apapun kepada pacarmu,” gosip Andela.


“Aku tidak terlalu ingin pacaran,” lirih Eleva sambil berpandangan lurus ke depan.


“Kamu bisa mengajaknya ke ranjang dan bermalam di sana. Kemudian, kamu bisa kawin lari bersamanya dan hidup bahagia selamanya,” oceh Andela.


“Tch! Dasar mesum,” desis Eleva mengabaikan gosipan Andela. 


Setelah mereka sampai di restoran, mereka memesan makanan seperti biasanya. Selagi menunggu pesanan, Eleva harus menahan emosinya karena Andela terus melontarkan guyonan dewasanya. 


Eleva yang cepat marah terpaksa menemani Andela.  Ia mengingat semua yang dirasakan Andela. Andela selalu lengket pada sisinya pada saat usianya 7 tahun. Ia tidak terlalu ingin bersama dengan Andela. Tapi, tidak ada pilihan lain.


Setelah sarapan di restoran, mereka berangkat lagi ke akademi.  Jam 07:24, mereka bertemu dengan seorang siswa yang mereka kenal sekaligus teman sekelas mereka. Dia adalah Andika Prasetyo. 


“Halo, Eleva,” sapa Andika.


“Andika,” lirih Eleva menyahut Andika.


“Halo, Andika. Bagaimana dengan penyelidikanmu? Apakah kamu sudah mendapatkan Pangeran? Aku ingin bertemu dengannya,” sahut Andela dengan antusias.


“Sabar dulu. Dia ada di tanganku. Tapi, dia banyak saingannya, lho,” jawab Andika sambil menggosip.


“Eh?! Jadi aku harus bagaimana?” Tanya Andela merasa disaingi.


“Tunggu dulu. Kamu kan lagi pacaran dengan Eleva. Kenapa kamu kepo sama Rivandy?” Tanya Andika


“Aduh! Aku lupa. Maafkan aku, ya!” Andela melakukan gestur tehe, sementara Eleva hanya terdiam dengan pembicaraan mereka.


“Oh, iya, Eleva. Kamu ikut Klub Olahraga. Soalnya, pelatih sepakbola butuh sama kamu. Nanti kita bisa latihan bareng,”  lontar Andika dengan santai.


“Iya, aku akan datang,” pasrah Eleva berjalan bersama Andela dan Andika.


[*^*]


Jam 07;55, Eleva, Andika, dan Andela tiba di gerbang akademi dan segera menuju ke kelas mereka. Lalu, mereka menuju ke kelas mereka untuk memulai pelajaran akademik mereka. 


Jam 08:00, bel akademi berbunyi. Semua siswa termasuk mereka memasuki kelas dan menunggu guru yang mengajar di kelas. Bu Rivera, guru sejarah, memasuki Kelas I Saintek B. 


Eleva dan Andela mengikuti pelajaran tanpa obrolan sekalipun. Andika membuka handphonenya dan membuka PDF di handphonenya. Ia juga membawa powerbank untuk berjaga-jaga jika baterainya melemah.


Setelah pengajaran yang cukup lama, Bu Rivera memberikan tugas kepada semua siswa dan siswi Kelas I Saintek B untuk mencari referensi tentang Yunani Kuno di perpustakaan. Setelah tugas itu diberikan, bel berbunyi dan istirahat untuk ke kantin dan perpustakaan untuk menyelesaikan tugas mereka lebih awal.


Eleva tidak terlalu peduli dengan tugas itu. Ia bisa menyalin tugasnya di buku catatan elektronik milik Andika. Andela mengerjakan tugasnya sendiri. Ia bisa menonton video porno setelah menyelesaikan tugasnya. 


Jam 10:11, mereka sampai di kantin dan segera memesan makanan. Eleva dan Andela memesan hotdog. Andika memesan Soto Banjar. Setelah mengambil pesanan, mereka mencari kursi yang kosong.


Setelah mendapatkan di kursi kosong, mereka duduk dan menyantap sambil berbincang sedikit. Beberapa saat kemudian, ada seorang siswa yang sedang menghampiri mereka. Ia membawa makanan dari Jepang, Udon Marugame, dan sedang bersembunyi dari seseorang. 


Andika yang sedang berbincang melihat seorang siswa berambut natural hitam yang sedang bersembunyi. Ia mengabaikan Andela dan segera berdiri dari kursinya 


“Rivandy!” Panggil Andika dengan keras sambil melambaikan tangannya.


"Rivandy? Dimana dia?" Tanya Andela sambil mencariku.


Aku yang terpanggil segera menoleh ke sumber suara. Aku menoleh ke sekitar untuk mencari sumber suara itu. Aku melihat mereka yang melambaikan tanganku itu. Kemudian, aku mendekati mereka dan segera membisik, “Stt! Jangan berisik, kalian! Kau tidak lihat aku sedang dicari?”


“Wah! Pangeran! Aku senang sekali bertemu denganmu. Kita bisa mengobrol di tempat sepi. Bagaimana? Kamu suka `kan?” Sambut Andela sampai membawaku ke tempat sepi.

__ADS_1


“Rivandy?! Kenapa kau disini? Andika, jangan panggil dia!” Cocor Eleva pada Andika yang usil. 


“Maafkan aku! Aku tidak sengaja,” jawabnya tapi bohong.


“Maafkan aku! Aku sedang bersembunyi dari mereka. Jadi, ...” Ucapanku terhenti oleh sebuah suara yang membuatku 


“Rivandy, dimana kamu? Aku mencarimu, lho,” panggil seorang gadis.


“Rivandy! Kamu dimana? Ayo minum sake," ajak Akishima sambil membawa alkohol.


“Jangan tinggalkan kami, desu! ” Evelyn dengan cemas mencariku di sekitar kantin.


“Hah?! Alkohol?” Eleva bergumam.


“Eh?! Aku mau dong!” Seru Andela wajah yang berbinar-binar dan tubuhnya yang semakin panas.


“Tidak! Jangan! Hentikan!” Aku berlari kencang sambil melemparkan Udon ke atas dan secara tidak sengaja menumpahkan Udon ke Eleva.


“Itu dia! Serang!” Seru Aurora melihatku dan segera mengejarku.


“Hiya!” Akishima dan Evelyn bergerak untuk menghentikan langkahku.


“Rivandy! Kembalilah! Jangan tinggalkan aku!” Andika menangis tersedu-sedu dengan kepergianku.


Andela dan Andika tidak menyadari bahwa Udon yang dilemparkan secara tidak sengaja telah mengenai kepala Eleva. Eleva terdiam dengan mangkuk di kepalanya. Tidak lupa Udon itu telah membasahi 


“Rivandy. Dia kabur."


“Aku akan menangkapnya lain kali,” lanjut Andela.


“Eleva. Apa yang yang kau lakukan dengan mangkuk di kepalamu?” Andika melihat Eleva yang tertutup dengan mangkok.


“Iya. Kau benar. Kamu tidak apa-apa, Eleva?”  Tanya Andela dengan cemas.


“Tidak usah malu-malu! Aku disini untukmu,” resahnya sambil dengan romantis lalu melepaskan mangkuk di kepala Eleva.


Eleva masih terdiam dengan itu  Ia tidak bisa menahan emosinya. Karena tidak mau membuat keributan, ia mengunyah hotdog dengan cepat dan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Setelah selesai, ia meninggalkan kantin.


“Aku kenyang. Terima kasih atas makanannya,”  pamitnya sambil meninggalkan Andika dan Andela.


Andika dan Andela hanya terdiam dengan perginya Eleva. Eleva memutuskan untuk pergi ke kamar ganti pria untuk membersihkan wajahnya. Setibanya di sana, ia pergi ke ruang kamar mandi dan mencuci wajahnya yang sudah terkena bau Udon. 


Tidak lupa ia menggunakan shampo agar baunya menghilang. Ia juga membuka pakaiannya yang sudah basah itu. Pada saat itu, seorang gadis memasuki kamar ganti pria dan mengagetkan Eleva, sehingga Eleva terkejut dengan momen yang terjadi.


“Eleva,” panggil seorang gadis.mengagetkan Eleva.


“Kya! Apa yang kau lakukan di sini, Gadis Bodoh?!” Eleva berteriak sambil mengenakan pakaiannya.


“Aku khawatir denganmu. Aku kira kamu marah,” jawab Andela dengan polos.


“Keluar dari sekarang juga!” Usir Eleva sambil menggunakan shampo.


“Tidak mau! Aku tidak akan keluar sampai aku merasa tenang,” resah Andela tidak membiarkan Eleva.


“Aku merasa tidak enak kalau kamu merasa gelisah,” lanjutnya mendekati Eleva.


“Aku bilang aku tidak apa-apa,” ceka Eleva berbohong.


“Aku tidak percaya dengan kebohonganmu,” balas Andela sambil membuka pakaiannya, sehingga ia hanya mengenakan pakaian dalam.


“Hoi! Pakai bajumu!” Suruh Eleva meneriaki Andela.


“Tidak mau! Aku merasa gerah selama pelajaran sekolah,”  tolak Andela sambil menutup pintu.


“Ini masih musim gugur! Kau tidak gerah sama sekali,” cela Eleva tidak membiarkan Andela berbuat seenaknya.

__ADS_1


“Ayolah! Jangan begitu, aku ingin melakukan bersamamu,” bujuk Andela ,dengan rayuannya.


“Melakukan apa? Berhubungan intim denganmu? Aku tidak mau,” tolak Eleva sambil menjauhi Andela yang sudah tidak beres.


“Sudah! Kita lakukan ini bersama agar kamu merasa tenang,” rayu Andela berada di hadapan Eleva.


“Aku sudah tenang. Kita tidak perlu melakukan ini,”  cekal Eleva berbohong.


“Jangan bohong padaku!” Pinta Andela dengan wajahnya semakin memanas.


“Aku akan menyembuhkanmu dari stres. Tenang saja,” nasihat Andela.


“Kau sudah gila, yah?” Tanya Eleva dengan nada rendah.


“Kita akan hidup di sini untuk selamanya,” oceh Andela dengan wajah mesumnya.


“Hentikan! Kalau sampai ada yang tahu, kau akan diusir dan semacamnya.” Eleva memperingatkan Andela.


Andela tertawa dengan peringatan Eleva. Ia menjawab, “Tenang saja. Aku sudah membuat pintu tidak bisa dibuka oleh siapapun.”


“Sekarang, saatnya operasi penyembuhan!” 


“Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku akan bersamamu … selamanya,” desah Andela sambil memegang dadanya yang besar.


“Jangan khawatir! Tetaplah bersamaku, Eleva.” 


“Tidak akan!” Teriak Eleva sambil mendorong Andela ke belakang. 


Dengan dorongan itu, Andela terjatuh di lantai dan kepalanya terbentur.  Eleva segera mengambil pakaiannya dan keluar dari ruang gantinya. 


“Jangan lari! Aku tidak akan menggigitmu, kok,” serang Andela memeluk Eleva dengan erat. 


“Tch!” Eleva melepaskan pelukan dengan kasar dan segera menjauhi Andela.


Eleva lari dan menuju ke pintu dengan tergesa-gesa. Andela tidak membiarkan Eleva untuk keluar dari kamar ganti pria yang sudah dikunci. Eleva menghampiri pintu sambil membuka pintu. Namun, pintu itu sudah terkunci rapat.


“Sial! Ini yang membuatnya terkunci,” umpat Eleva sambil membuka kunci pintu kamar ganti pria. 


Andela yang tidak membiarkan Eleva kabur segera memeluknya dengan mata cintanya. Ia tidak membiarkan Eleva untuk meninggalkannya. Eleva berusaha membuka kunci itu. Namun, percuma saja. Kuncinya semakin erat, sehingga tidak bisa dibuka lagi.


“Tidak ada pilihan lain,” gumam Eleva membuat pilihan terakhir.


“Rebellion : Tiger Claws!”


Teknik pisau itu membuat pintu kamar ganti pria sudah terbuka. Eleva segera keluar dari kamar ganti pria. Andela berusaha mengejarnya dan menguras stres dari Eleva. Eleva membuka pintu dan lari sekencang mungkin, Andela mengejarnya dengan cepat. Namun, pintunya membentur kepalanya, sehingga ia kembali sadar.


Eleva sudah pergi dari kamar ganti. Ia berlari kencang agar ia tidak mau melihat Andela lagi. Andela segera mengejarnya untuk menghentikan langkah Eleva. Namun, tidak bisa mengingat Eleva adalah atlet sepakbola. Jadi, ia tidak bisa mengejar Eleva.


“Eleva,” gumam Andela melihat Eleva meninggalkannya.


[*^*]


Jam 12:01, di taman akademi yang sedang mendung. Taman yang suram tanpa ada seorangpun yang menghuni taman, kecuali Eleva yang sedang termenung di pohon yang rindang. 


Eleva termenung dengan pikirannya yang semakin terbebani. Ia tidak menyangka Andela berbuat seperti itu. Ini bukan Andela yang biasanya. Andela semakin lama semakin mesum, sehingga membuat Eleva tidak nyaman dengan Andela.


Eleva bergumam, “Aku tidak tahan lagi.”


“Kenapa ia selalu mencampuri urusanku?”


“Habisnya aku ingin sendiri,” lanjutnya.


Di tengah renungan itu, ada siswa yang mendekatinya. Dengan panggilan itu, Eleva menoleh ke suara yang cukup kecil. Ia bangkit dan menoleh seorang siswa yang ada di hadapannya. 


“Eleva.”

__ADS_1


__ADS_2