
6 Desember 2020, jam 14:23, aku dan Rin sudah berkeliling mansion ini. Mansion itu sudah ku tinggali adalah mansion milik Neesan. Karena tanggung jawabnya sebagai Inspektur PBB dan Kepala Sekolah Akademi Militer Spyxtria. Buat gaji yang ia peroleh sangat besar. Ia juga pernah mengelilingi kota Eropa dan Asia untuk pekerjaannya sebagai Juri BLUE, anggota eksekutif UNESCO, UNiCEF, dan organisasi perbankan di Swiss.
Aku tidak tahu Neesan memiliki banyak pekerjaan, sehingga jam tidurnya cukup sedikit. Walaupun begitu, dia sehat-sehat saja dan terbiasa dengan itu. Aku merasa tidak enak jika aku membiasakan diri dengan keseharian Neesan.
Aku bingung Neesan lulus akademi yang aku lanjutkan. Entah lulus di angkatan 2020 atau lulus pada tahun 2020. Aku juga tidak tahu Neesan lulus pada usia 16 tahun. Mengenai cerita Neesan yang dipekerjakan dengan keras dengan upah yang kecil membuatku bingung.
Itu membuatku pusing. Siapa guru yang mengajarnya? Aku akan tahu nantinya.
Jam 15:01, dokter pilihan Neesan sudah tiba. Aku diperiksa oleh dokter itu dan segera ditemani oleh Rin. Suhu tubuh dan gejala yang akan muncul pada penderita Hipotermia. Setelah diberitahu, tidak ada gejala yang akan muncul. Aku baik-baik saja. Dokter menyarankan untuk istirahat yang cukup dan memakan makanan yang sehat, terutama masakan Neesan.
Setiap kali aku makan di mansion Neesan membuatku mendesah tidak karuan. Setelah pemeriksaan kesehatan, dokter itu pergi meninggalkan mansion dan segera kembali ke rumah sakit. Aku dan Rin kembali romantisan di mansion.
Kalau Aurora dan Akishima mengetahuinya, mereka akan membuat kekacauan di akademi.
Jam 19:00, aku duduk santai dekat perapian. Rin dan Neesan sedang mengobrol dengan aktivitas akademinya. Kebetulan Neesan sedang luang. Pekerjaan yang selesai merupakan surga bagi Neesan. Itu pun baru sebentar saja. Rin sudah menjalankan tugasnya sebentar lagi ia akan pulang ke apartemennya dan digantikan oleh seorang gadis yang lain.
"Kochou-Sensei. Apa Sensei tidak mau membebankan diri? Rivandy tidak bisa begini terus. Dia harus ke akademi untuk belajar. Aku sudah melihat tesnya dan hasilnya menurun."
Neesan melihat hasil tes akademi yang ditulis olehku. Ia khawatir dengan hasil tes yang terus menurun. Ini karena penyakit Hipotermia yang membuat otakku tidak bisa beroperasi. Maka dari itu, ia selalu menghangatkanku dengan masakannya meskipun aku selalu mendesah dan ingin meluapkan nafsu birahiku.
"Tidak apa-apa. Aku akan menyuruhnya membuat esai 800 kata untuk perbaikan tes. Dia akan membaik. Aku akan mengurus perbaikan untuknya," jawabnya.
"Bukankah tugas yang kamu kerjakan masih banyak?" Tanya Rin dengan polos.
Neesan tertawa. Ia membalas, "Ayolah! Aku sudah punya sesuatu untuknya.”
Rin hanya mengangguk pelan, merasa cemas dengan keadaan pasien yang semakin memburuk. Ia juga lebih cemas lagi kalau aku yang melemah akan mempengaruhi aktivitas akademi di musim dingin.
“Aku akan menidurkannya. Jangan bekerja terlalu keras!” Pesan Rin kepada Neesan meninggalkan ruangan pertemuan dan menghampiri perapian itu dan segera melancarkan aksi bejatnya padaku.
Dia mendekatiku yang lemah dan mengajakku ke ranjang lagi. Ia mencium leherku dan aku hanya mendesah menerima ciuman itu. Aku tidak bisa melawan Rin dan membiarkannya melampiaskan nafsu birahinya padaku. Aku hanya berbaring di tempat tidur dan melupakan itu semua. kami menghangatkan diri dengan cara yang kontroversial dan rumit.
Akhirnya, kami tertidur di ranjang dan pelukan yang hangat. Kami lebih hangat dengan ranjang lebar itu. Aku tidak perlu menggunakan perapian lagi. Musim dingin yang semakin dingin dan menyengat nyawaku. Mereka berpikir ini sangat menyenangkan di musim dingin. Namun, bagiku tidak. Itu seperti kutukan.
[*^*]
Keesokan harinya, aku terbangun dari ranjang yang luas itu. Aku tidak melihat Rin di dalam tempat itu. Hanya berada dalam ranjang sepanjang hari. Aku membangkitkan diri dari ranjang dan meninggalkan kamar itu. Namun, ketika bangun dari tempat tidurku, ada seorang gadis yang sengaja membuatku terkejut.
“Sayang!” Panggilnya mendekatiku.
Sheeran mendekati wajahku dan mendekati tubuhku. Aku hanya terdiam di ranjang dan berpikiran kosong. Entah kenapa Sheeran berada di sini.
“Kau rupanya, Sheeran,” lirikku melihat Sheeran.
“Sayang. Kemana pakaianmu? Apakah kamu telah meluapkan hasrat dengan tanganmu di ranjang dan tidur karena kelelahan?” Tanya Sheeran berpikiran mesum.
“Jangan lakukan itu! Produktivitasmu akan menurun. Lebih baik kamu salurkan nafsumu kepadaku. Aku akan melayanimu dengan baik,“ usul Sheeran sambil merayuku dan memelukku.
“ ....” Aku hanya terdiam dengan rayuannya dan keluar dari kamar.
“Jangan diam saja! Aku akan melakukan apa saja untukmu. Aku akan jadi janda untukmu saja,” lanjut Sheeran berusaha menarik perhatianku padanya.
[*^*]
Aku dan Sheeran sedang berada dalam ruang tamu. Dia menceritakan sesuatu tentang Rin. Sheeran dan Rin cukup akrab. Namun, mereka hanya membutuhkan saja.
“Oh. begitu. Rupanya kamu kenal dengan Rin. ” dugaku benar mengenai cerita Sheeran.
“Aku ingin bertanya. Apakah kamu melakukan sesuatu pada Rin?” Tanya Sheeran mengeluarkan aura posesifnya.
“Tidak ada. Aku hanya dekat dengannya,” jelasku dengan pelan.
__ADS_1
“Oh. Dekat. Kamu harus sembuh sekarang juga. Soalnya, aku rindu sama kamu, Sayang,” rayu Sheeran mendekati kontak mataku.
“Sheeran. Kamu terlalu dekat. Aku tidak bisa bernafas,” keluhku melihat tubuh Sheeran masih perawan di balik pakaian tipisnya.
“Lagipula, kamu datang sendirian. Aurora dan Akishima dimana?”
“Mereka sudah ku urus. Jadi, mereka sedang sibuk sekarang,” jelasnya.
“Sebenarnya mereka berhadapan dengan Chelsea-Senpai,” pikirnya berbohong.
“Ok. Kalau begitu. aku pergi dulu. Aku harus mengerjakan esaiku dulu. Neesan telah menungguku,” Aku segera meninggalkan Sheeran sambil melambaikan tanganku.
“Baiklah, aku akan mengelilingi tempat ini,” pamit Sheeran segera berkeliling mansion.
Kami memisahkan diri dan segera beraktivitas masing-masing. Aku menuju ke ruangan Neesan dan segera mengerjakan tugasku. Aku melihat alat tulis, kertas, dan sebuah salad. Aku memakan saladku sebelum mengerjakan esai. namun, aku tidak menyadarinya.
Salad itu malah menjebakku. Aku tidak menyadari rencana jahat Neesan akan menyebabkan tubuhku semakin memanas. Akhirnya, aku tidak dapat melakukan apapun dan terjebak dalam rencana Neesan.
[*^*]
Sheeran berjalan menuju ke mansion dan melihat hal yang aneh. Ia juga dapat berkomunikasi dengan pelayan. Pelayan itu mengurus mansion dan penjaga itu berpatroli dengan baik. Entah berapa gaji yang mereka terima dari Neesan sehingga membuat seperti ini.
Ia memotret terlebih lingkungan mansion dan digunakan agar bisa berkunjung lagi. Ia bisa melaporkannya kepada Chelsea-Senpai. Sheeran mengikuti Klub Pangeran dan Klub Teater. Akishima juga mengikuti Klub Teater. Namun, mereka sering bertengkar dan menyebut nama julukan buruk mereka.
Akishima menyebut Sheeran “Gadis Mesum” yang disamakan oleh Karakter Vinsmoke Sanji dalam Anime One Piece. Sementara itu, Sheeran memanggil Akishima “Gadis Janda” yang nilai tubuhnya menjadi murah dan hina itu.
Saat berkeliling mansion dengan ingatan peta Rin. ia mendengar sebuah aura yang menarik perhatiannya. Ia merasakan sesuatu yang menarik perhatian. Ia bergegas segera mencari aura itu.
Ketika sudah sampai di tempat aura itu, pintu terbuka dengan tangan Neesan. Ia melihat Neesan sedang menyandar di tembok, merasa sedikit kelelahan karena mengurus sesuatu. Ia membawa kertas yang ia pegang dan segera memeriksanya di meja kerjanya.
“Cherry-Sensei. Ada yang bisa kubantu?” Tanya Sheeran melihat Neesan kelelahan.
“Tidak ada. Aku hanya lelah saja. Menjadi pengawas ujian memang melelahkan,” jawabnya cengengesan.
“Rivandy lebih penting. Dia akan kedinginan jika dibiarkan begitu saja. Dia akan mati,” jelasnya mata menyala.
“Baiklah! Aku akan ke sana sekarang juga.” Sheeran segera masuk ke ruangan itu.
“Hati-hati. Dia sudah jadi liar, lho,” gumam Neesan dengan senyuman jahatnya.
Sheeran memasuki ruangan itu dan segera menghampiriku. Ia melihat kondisiku yang cukup memburuk dan mendekatiku lalu menanyakan keadaanku. Ia melihat di sekitar ruangan dan tidak ada yang aneh. Ia menanyakan informasi mengenai kondisiku.
"Sayang! Kamu kenapa? Kamu gak apa-apa?" Tanya Sheeran cemas dengan kondisiku.
Aku tidak menjawab. Hanya terdiam dengan Sheeran yang di hadapanku. Sheeran semakin khawatir dengan keadaanku. Dia tidak membiarkanku mati maupun mendapatkan kemalangan begitu saja.
"Ayo. Jawablah! Aku cemas denganmu," lanjut Sheeran menggoyangkan tubuhku.
"Sheeran," panggilku dengan pelan.
"Iya?"
Aku mengangkat kepalaku lalu memandang wajah Sheeran. Aku meminta tolong padanya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan perintahku. Aku semakin tak tertahankan. Selalu terjebak dalam rencana jahat Neesan. Hal yang aku harus lakukan hanyalah … mengikutinya.
"Tolong … hangatkan aku! Aku tidak tahan lagi," lanjutku menjulurkan lidahku dan tubuhku semakin memanas.
"Eh?! Kamu kenapa? Tidak biasanya," tanya Sheeran terkejut denganku.
"Kamu terlihat mesum," lanjutnya.
Dengan melihatku yang semakin liar, munculnya niat mesum Sheeran yang menjadi-jadi. Ia akan mengambil kesempatan untuk menjalankan rencana jahatnya. Kali ini ia akan menikmati tubuhku sendirian untuk pertama kalinya. Ia dengan sigap merencanakan sesuatu.
__ADS_1
"Kalau Sayangku mesum, tidak ada pilihan lain. Aku akan melayanimu sekarang juga," respon Sheeran mengajakku ke kamar dan membawaku
meninggalkan ruangan itu.
Setelah sampai di kamar, kami tidur di ranjang dengan selimut dan bergegas untuk meluapkan semua hasratku. Aku tidak bisa melawan nafsu itu. Hanya membiarkan Sheeran melakukan itu semuanya. Dia akan menghisap semua cairanku.
Sial! Ini semua karena salad Neesan. Kalau aku tidak memakannya, itu tidak akan terjadi.
[*^*]
Jam 19:12, malam hari menghiasi jendela. Mereka melihat ada sebuah ruangan yang penuh artistik. Aku yang tertidur lelap bersama Sheeran yang berlumuran cairan di atas wajahnya. Ia merasakan kebahagiaan yang berada di hatinya. Aura cinta yang berada dalam hatinya tidak akan terulang untuk kedua kalinya.
"Aku mencintaimu, Rivandy. Aku tidak akan membiarkanmu selingkuh," gumamnya sambil memeluk tubuhku yang sedang kepanasan.
Sesaat kebahagiaan yang tergambar pada hati Sheeran, Neesan membuka pintu.
"Ara Ara. Kamu belum menyerahkan semua keperawananku kepadanya? Soalnya, kamu banyak saingan, lho," sapa Neesan bersandar di tembok.
Wajah Sheeran menjadi suram. Neesan sudah menebak apa yang Sheeran lakukan. Ia juga curiga pada Sheeran bahwa ada suatu koneksi yang sangat dekat dengan seseorang. Seseorang yang cukup penting bagi Sheeran.
"Maaf. Ini bukan urusanmu. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan," balas Sheeran menanggapi sapaan itu.
"Eh? Kamu hanya mempunyai peluang 1/100 untuk mendapatkannya," lanjut Neesan.
"Sudahlah! Aku segera pergi dari sini. Jangan halangi aku!" Sheeran beranjak dari ranjangnya dan segera menuju keluar pintu.
"Tunggu dulu, kamu melupakan sesuatu. Lagipula, malam ini sangat dingin, lho," cegah Neesan agar Sheeran tidak pergi.
Langkah kaki Sheeran berhenti dan menoleh kepada Neesan. Ia menjawab, "Aku sudah terbiasa dengan suhu dingin. Musim dingin adalah kawanku. Aku tidak apa-apa. Justru ini akan membunuh Rivandy," jelas Sheeran.
"Aku tinggalkan dia disini. Sampai jumpa," pamit Sheeran meninggalkan Neesan dan segera menuju ke gerbang mansion.
Neesan hanya terdiam dengan pemandangan yang familiar. Ia juga melihatku yang sedang tertidur pulas.
"Saa. Aku akan melanjutkan hari ini. Tugasku sudah selesai. Aku harus merawatnya sekarang … dengan tubuhku," gumam Neesan menyantap lidahnya dan segera mendekat padaku yang sudah tertidur.
"Dia terlalu kuat. Apakah aku harus menjualnya ke gadis lain?" keluh Neesan.
[*^*]
7 Desember 2025, jam 01:00, di sebuah ruangan yang terang benderang. Ada seorang gadis senior yang telah menyelesaikan tugasnya. Ia menutup laptopnya dan istirahat dengan cukup. Ketika ingin tidur pada pemandangan yang indah, ada sebuah ketukan pintu mengganggu ketenangan gadis senior.
"Masuklah!"
Pintu terbuka. Ia memasuki ke ruangan itu. Gadis membuka pintu itu berhadapan dengan gadis senior yang duduk dengan serius. Gadis senior duduk di hadapan dengan latar belakang pemandangan kota Moskow yang dingin itu.
"Kau datang rupanya, Sheeran." Gadis itu duduk kembali dan menahan kantuknya.
"Chelsea-Chan. Aku sudah menghisap cairan Rivandy. Aku juga sudah mengambil gambarnya yang sedang mendesah itu. Apakah aku boleh meminta agar melepaskan Rivandy?" Tanya Sheeran dengan serius.
"Sedikit. Hanya saja kau harus menyerahkan semua kehormatanmu kepadanya," respon Chelsea memikirkan sesuatu.
"Tidak mau. Aku ingin menyerahkannya setelah aku menyatakan cinta padanya," tolak Sheeran dengan mentah-mentah.
"Tch! Ayolah! Pangeran itu sangat tampan, kuat, dan kekar. Masa mau diselingkuhi sama cewek lain?" Tanya Chelsea dengan gaya centilnya.
"Hentikan sifat centilmu itu! Itu menjijikkan!" Sheeran menghinanya.
"Argh! Lupakan! Aku selalu kebiasaan yang buruk itu," pinta Chelsea-Chan.
"Ok. Aku akan terima foto Pangeran mendesah. Bisa-bisanya Cherry melakukan hal itu."
__ADS_1
"Jangan harap kau mengambilnya dariku!" Pinta Sheeran dengan sinis.
"Sekarang, aku akan membuat pilihan. Kau harus menjadi janda atau direbut ... Janda Pelakor?"