Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Shiori von Zuckerberg 1,2


__ADS_3

Jam 12:25, aku dan Kotori mengakhiri suatu materi yang tidak dapat aku mengerti. Kami membubarkan diri lalu bertanya pada diri kami masing-masing. Aku berpikiran Shiori melakukan yang buruk itu untuk sesuatu. Namun, aku belum tahu apa tujuan melakukan itu.


Supernatural, ya?


Mungkin aku akan membaca buku tentang supernatural itu. Itu akan membantuku mencari informasi.


Aku kembali ke kelas dan Shiori sudah ada di depanku. Aku ingin sekali bertanya mengenai layar belakangnya. Namun, rasa canggung itu membuatku mengurungkan niat itu. Aku tidak terlalu ingin bertanya kepada Shiori karena aku tidak terlalu mengetahui mengenai supernatural. Kotori juga bilang bahwa Onii-chan memiliki kekuatan supernatural. Entah apa itu namanya. 


Kami kembali ke kelas sambil tidak mengeluarkan sepatah kata apapun dan kembali dengan suasana yang hening. Aku ingin bertanya sesuatu padanya. 


Tapi, tekanan batin selalu membuatnya tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Aku juga ingin membantu Shiori agar ia tidak menyiksa dirinya. Aku sudah mengetahui yang ia lakukan dari Kotori. Tapi, untuk apa? 


Jangan-jangan Shiori tertekan pada masa lalu atau semacamnya. Aku juga tidak bisa menebak sembarangan. Hanya 1 banding miliar alasan mengenai itu. Aku juga ingin tahu apa yang membuatmu seperti ini. 


Coba saja aku mendapatkan sebuah petunjuk yang mengenai Shiori, aku akan mengungkapkan semua rahasia ini. 


Saphine Vera. Dia mungkin bisa menjawab pertanyaan ini. Aku akan menanyakan sesuatu padanya sepulang sekolah nanti. 


Jam 15:01, pelajaran akademi pada hari Senin telah berakhir. Klub Disiplin dan Klub Saintek berkumpul untuk menjalankan aktivitas klub mereka. Aurora tidak bisa datang karena ingin menjenguk Rivandy. 


Pada saat yang sama, aku menyuruh Shiori untuk pulang duluan. Aku ingin menuju ke Kelas I Saintek B. Aku juga menyuruh Andika untuk tidak membiarkan Saphine pulang. Ini terlalu kejam sih. Tapi, tidak ada pilihan lain. 


[*^*] 


JAM 15;11, Saphine berniat untuk pulang namun Andika mencegahnya pulang dan mengajaknya bicara. Saphine merasa senang hati dan akan melayani Andika sepuas mungkin. Mereka duduk di meja dan saling berhadapan dan memulai perbincangan. 


"Dokter. Aku mau nanya. Bagaimana caramya aku punya pacar? Soalnya, Pangeran Rivandy selalu merebut semuanya," tanya Andika seakan-akan curhat pada Saphine. 


Saphine merasa tertawa karena lelucon itu. Setelah itu, ia menjawab, "Kamu harus belajar dulu. Tidak baik pacaran. Kamu juga bisa bermain sepak bola. Jadi, kamu harus berlatih diri, lalu belajar. Dengan itu. kamu bisa lulus akademi dan mendapatkan pacar."


"Tidak mau. Nanti, Pangeran sudah memiliki Harem sedangkan aku jomblo. Pas sudah lulus, Pangeran bakal nikah sama cewek dan hidup bahagia selamanya," curhatnya.


Saphine tertawa lagi. Ia menjawab, "Kamu terlalu berlebihan. Rivandy tidak pernah berbuat yang seperti itu. Habisnya, dia sangat baik padaku. Aku …."


"Cie. Kamu suka sama Rivandy, ya?" Tebak Andika sambil merayu Saphine. 


"iA-Apa yang kau lakukan?? Aku … harus menggali … impianku," jawab Saphine sambil malu.


"Habisnya, dia … sangat baik kepadaku. Jadi, aku …." Saphine menahan rasa malunya dan tubuhnya merasa seperti memanas.


Mendengar itu, Andika ingin mengerjai Saphine dan tidak membiarkannya pulang ke rumah. Dengan sikap orang Indonesia, dia akan melancarkan sebuah gombalan agar Saphine semakin malu.


"Saphine. Kenapa kamu gak berpacaran dengannya? Kamu kan sudah sama dia," bujuk Andika agar Saphine punya pacar.


"Tidak! Aku tidak terlalu bisa menjadi pacarnya. Dia sangat baik padaku. Dia mengajariku biologi.”


"Ayolah! Kamu pasti bisa, kok. Dengan tubuh seksimu dan menggoda itu, dia tidak akan menolakmu, lho," goda Andika melihat tubuhnya.


Mendengar ucapan itu, wajah Saphine semakin memerah. Ia merasa tubuhnya semakin memanas jika ia mendengar kata Rivandy dan pacaran. Ingin sekali menolak ajakan itu karena harus menjadi dokter dulu sebelum menjalani hubungan dengannya.


"Tapi, aku …." Saphine mencoba menolak bujukan itu.


"Jangan khawatir! Aku akan…." Ucapan Andika terhenti dengan sebuah pukulan yang mendarat di kepalanya.


Sebuah pukulan yang sangat keras menghantam kepala Andika, sehingga kepala Andika jadi benjol karenanya. Tak lama kemudian, ada seorang gadis dengan mata merahnya memunculkan sosoknya. 


"Apa yang kau lakukan, hah?" Aku memarahi Andika dan mengepal tanganku kepadanya.


"Tidak apa-apa, kok. Aku hanya bercanda, kok,” cela Andika.


"Selanjutnya, aku akan memukulmu. Bersiaplah!" Aku mengancam Andika dengan wajah seramku.


"Jangan pukul aku! Pukulanmu seperti Nami," larang Andika agar aku tidak memukulnya.

__ADS_1


"Sudah! Biar aku yang berbincang padanya," usulku segera beralih menuju Saphine.


Aku segera mendekati Saphine yang sedang memerah itu. Lalu, aku bertanya, "Saphine. Apakah kamu mengetahui sesuatu pada Shiori?" 


"Shiori?" Tanya Saphine sambil memikirkan sesuatu.


Aku dan Andika hanya terdiam. Saphine membuka tasnya dan mencari sebuah berkas yang ada di bukunya. Lalu, menunjukkan Shiori pada kami.


"Shiori. Aku mengenalnya. Dia siswa Kelas I Soshum A. Aku juga mengenai perilakunya. Dia lebih tenang dan santai. Tapi, mentalnya sangat buruk. Dia seakan-akan ia menyakiti dirinya sendiri," jelas Saphine dengan menunjukkan berkasnya kepadaku dan Andika.


Aku dan Andika menyimak apa yang Saphine beberkan. Aku juga memberi tahu apa Saphine mengenai keadaan Shiori belakangan ini. Saphine juga mendengarnya. Ia adalah pendengar yang baik. 


"Oh. Begitu. Aku sudah tahu apa penyakit yang mengidap pada Shiori," jawab Saphine mengetahui cerita dariku.


"Dia mengidap penyakit Self-Injury Dimana penderita menyakiti dirinya sendiri. Hal ini disebabkan oleh masalah sosial, psikologi, dan lainnya. Penyakit ini harus ditangani segera agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.”


"Pada saat lomba memasak babak seleksi, aku melihat luka tusukan yang ada di pergelangan tangannya. Aku juga melihat pahanya yang dilumuri oleh beberapa bekas tusukan. Dia tidak mau menceritakannya dan pulang begitu saja."


"Oh begitu. Aku sudah mengetahui ini. Sekarang, aku ingin bertanya. Apakah kamu mengetahui apa itu supernatural? Soalnya, supernatural itu membuatku pusing."


Mendengar pertanyaan itu, Saphine malah tertawa kecil. Ia menjawab, "Kamu seperti Rivandy saja."


Wajahku langsung memerah karena mendengar nama itu. Aku merespon, “Hah? Berisik! Aku tidak mirip dengan Onii-chan. Dia lebih bodoh dariku.”


Dengan tindakan blak-blakan itu, Anidka dan Saphine menertawakanku. Aku tidak bisa mengatakan apapun karena tmereka mempermalukanku. Maka dari itu, aku memutuskan untuk pergi dari kelas ini karena harus menjaga perasanku.


“Sudahlah! Aku harus pergi dari sini sekarang juga. Lalu, Jangan cari aku!” Aku pergi dari mereka dan segera pulang ke apartemenku. 


Sebelum pergi, aku dicegah oleh Andika karena sebuah alasan. Ia pamit dulu kepada Saphine dan segera menghampiriku dengan langkah yang cepat. 


“Tunggu! Aku mau pulang juga!” Andika mengejarku dengan langkah kaki sepak bola.


Aku tidak peduli dengan itu. Namun, sudahlah! Aku membiarkannya berada di sampingku. Kami pulang menuju apartemen kami dan Saphine meninggalkan kelas setelah membersihkan kelas.


Saat keluar, aku melihat Shiori yang sedang pulang ke apartemennya. Aku ingin memberikannya uang agar aku tidak ditagih lagi olehnya. Soalnya, aku tidak ingin ada tagihan hutang yang akan menghantuiku.


Maka dari itu, aku segera menghampirinya dan memberikan uang dengan nilai mata uang yang besar kepada Shiori.


Shiori melihat itu menjawab, “Simpan saja uangmu dulu. Kamu boleh menyimpannya untuk berjaga-jaga,” dengan tatapan yang suram.


Aku merasakan hal yang semakin aneh pada Shiori. Biasanya Shiori menerima itu dengan senang hati. Tapi, sekarang, tidak saat ini.


“Tapi, aku harus membayar sekarang juga agar kamu tidak menagih, seperti Andika,” sindirku kepada Andika yang selalu mengelak soal hutang.


“Sudah. Aku harus ke ruanganku sekarang juga.” pamit Shiori membukakan pintu dan mengunci pintunya.


Aku terdiam dengan sebuah uang di tanganku. Aku melihat Shiori yang baju lengan panjang dan rok yang panjang untuk menyembunyikan sesuatu dariku. Tak lama kemudian, Andika menghampiriku yang terdiam.


“Eh. Bella. Kamu gak bayar ke Shiori?”


“Ti-Tidak,” jawabku dengan singkat.


“Hore! Gak ada sewa bulanan! Aku bebas sekarang! Aku harus memberitahu Yudha karena Shiori tidak menagih hutang lagi!” Seru Andika dengan wajah yang girang.


“Tidak secepat itu! Kau masih punya hutang dariku sebesar Rp,100.000,00. belum lagi, kau yang menghabiskan uangku sebesar Rp, 600.000,00  Jadi, cepat bayar padaku sekarang juga!” aku mencegah Andika untuk pergi dari sini.


“Eh? Aku gak punya uang itu. Semua dompetku isinya rubel semua tuh,” ungkapnya menunjukkan uang kepadaku.


“Aku tidak peduli! Jika kau tidak membayar, kau akan mendapatkan pukulanku,” ancamku kepada Andika dengan wajah yang menyeramkan.


“Jangan pukulan lagi!” Andika memohon padaku.


Dengan pemandangan apartemen yang cukup tenang. Ada gua gadis mendatangiku. Mereka dengan wajah yang cukup lesu. Mereka menaiki tangan dengan percuma.  Lalu, menghampiriku dan memanggil namaku.

__ADS_1


“Bella,” panggil dua gadis itu menghampiriku secara bersamaan.


“Farah. Wulan,”  sahutku pada mereka.


“Aku ingin membayar pada Shiori.Tapi, dia bilang, ‘Simpan saja uang kalian! Itu lebih penting daripada tagihan,’ begitu,” jelas Farah dengan nada cemas.


“Lalu, aku melihatnya membayar listrik, air dan pelayanan lainnya dengan semua uangnya. Aku merasa kasihan padanya,” lanjut Wulan melihat Shiori tempo hari.


“Aku juga merasakan hal yang sama. Dia tidak peduli dengan tagihan. Ini semakin aneh saja."


“Apa? Shiori gak nagih?! Hore! Aku bisa bebas sekarang!” Seru Yudha datang seketika.


Mendengar teriakan itu, aku, Farah, dan Wulan menatap Yudha dengan sinis. Andika melepaskan diri dan segera menuju ke apartemen miliknya dengan sikap usilnya. Tusukan dari gadis akan dimulai.


“Di saat khawatir, kau malah senang? Dasar tidak berperasaan!” Farah dengan lidah yang pedas.


“Betul itu. Kamu sama seperti Andika. Saat kamu meninggal nanti, orang lain akan senang dengan kematianmu,” lanjut Wulan dengan tatapan yang sadisnya.


“Bolehkah aku memukulmu?” Aku mengepal tangan dan bersiap untuk memukul Yudha.


“Andika. Selamatkan aku!” Jerit Yudha dengan tatapan murungnya.


”Jangan kabur, dasar teman gak ada akhlak!” Lanjut Yudha meneriaki Andika yang sudah kabur ke apartemennya.


Namun, di saat teriakan itu, ada 3 gadis yang bersiap untuk menceramahinya. Tatapan iblis itu siap menyerang Yudha dengan dilah pedasnya bekas makan cabai rawit. Mereka siap untuk memarahi Yudha.


Ceramah pun dimulai. Aku memukulnya terlebih dahulu sebelum Farah dan Wulan menceramahi Yudha. Dengan teguran dan siraman rohani. Yudha sudah tidak bisa melakukan apapun dan menerimanya dengan pasrah. 


Setelah ceramah itu berlangsung lama, akhirnya mereka pergi dengan perasaan gusarnya. Aku hanya terdiam dan segera menatap langit Moskow yang sebentar lagi musim dingin. Aku juga mengabaikan Yudha yang sedang terkapar.


“Sadisnya!” 


“Salah sendiri. Di saat yang lainnya sedang cemas, kamunya yang malah senang,” responku dengan tatapan sinis.


“Kamu gak kembali ke apartemenmu?” Tanya Yudha sambil melirik kanan kiri.


“Nggak. Aku hanya ingin melihat suasana Moskow yang semakin dingin itu,” jawabku sambil memandang langit Moskow.


“Waduh! kamu seksi banget. Soalnya, kamu pakai pakaian pendek di luar ruangan,” sindir Yudha melihat pakaian yang kukenakan.


“Sembarangan! Aku pakai ini karena aku sudah muak dengan pakaian panjang itu.” cocorku kepada Yudha membalikkan badannya dengan perasaan marah.


“Lagipula, aku sudah punya pemanas ruangan di kamarku,” lanjutku kembali tenang.


Dengan jawabanku itu, suasana menjadi sunyi, tidak ada balasan.


“Aku mau kembali ke apartemenku. Aku harus mengerjakan tugasku sekarang juga,” pamit Yudha dan segera meninggalkanku dan menuju ke apartemennya.


Aku hanya merespon iya dan kembali menatap langit. Udara yang dingin itu menyerang tubuh mungilku itu. Aku segera mengosongkan pikiran dengan menatap cukup lama. 


Aku tidak mengerti apa arti semua ini. Tugas matematika yang sulit dikerjakan karena Onii-chan membuat soal itu. Lalu, Shiori semakin aneh dan memulai menutup tubuhnya dengan pakaian panjang.


Self Injury?


Supernatural?


Kata itu membuatku tidak ingin berpikir lagi. Aku menyimpan uangku di kantong celanaku dan berharap masih ada. Lalu, aku segera kembali ke apartemen dan segera berbaring di kamar.


Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa menghindari semua ini. Aku butuh sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Aku tidak boleh membuat Shiori menjadi lebih buruk. 


Aku butuh solusi yang tepat untuk menyelesaikan semua itu.


Aku butuh sesuatu untuk menghilangkan semua itu. Itu adalah solusi.

__ADS_1


Solusi untuk membuat Shiori tidak menderita.


__ADS_2