
Dua hari kemudian, aku terbangun di suatu ruangan yang berwarna putih. Aku membuka mataku dan melihat sesuatu yang aneh. Aku menoleh kiri dan kanan dan melihat tempat yang sama. Aku mengingat Saphine yang sedang memelukku sambil menangis, lalu kesadaranku menghilang dengan kehilangan banyak darah.
Rasanya, aku pernah melihat ruangan ini dimana aku bertemu dengan paman itu pertama kalinya. Dia memberiku nama sambil tersenyum lebar. Aku tidak bisa melupakan hal itu karena itu cukup penting dalam hidupku. Aku juga melihat tempat yang sama. Ini seperti mimpi saja.
Apakah aku bermimpi?
Untuk menjawab kekhawatiranku, aku menoleh ke sekitar lagi dan melihat Saphine yang berpakaian dokter sedang tertidur pulas. Dengan tidurnya yang manis itu, membuat pandanganku menoleh padanya. Aku mengelus kepalanya dengan pelan dan melihatnya kelelahan.
“Flashback, yah!”
Aku melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 08:14. Dengan itu, aku bisa bernafas lega dengan waktu dan mengecek tubuhku. Aku melihat tubuhku sudah diobati oleh seseorang. Namun, pada saat aku menyentuh perban yang di perutku, aku mendengar sebuah panggilan di depanku.
“Anu. Maaf, anda sudah bangun, ya?” Sapa perawat itu.
Aku hanya mengangguk. Aku tidak terlalu mengerti mengapa aku disini. Aku yang sudah di ranjang rumah sakit tidak untuk berbicara untuk sementara karena aku masih tidak tahu apa yang ingin aku lontarkan kepada perawat itu. Perawat itu langsung berbicara setelah anggukan itu.
“Kamu berada di rumah sakit. Dia membawamu ke rumah sakit. Para dokter yang asli segera menindak lanjuti operasi dan segera mengobatimu. Sekarang, kamu sudah berada dalam masa perawatan,” jelas perawat itu dengan panjang lebar.
“Kami tidak bisa apa-apa tanpa bantuan gadis ini. Jika saja dia tidak ada, kau sudah tidak ada disini. Selain itu, ia memutuskan untuk tidak belajar dulu di akademi dan memutuskan untuk menunggu kesadaranmu,” lanjutnya mengenai aktivitas Saphine yang sedang tertidur pulas itu.
Oh. Begitu, rupanya, Saphine membawaku kemari. Dia khawatir padaku. Lalu, dia menungguku sadar selama ini. Aku tidak terlalu tahu dengan hal ini. Setidaknya, aku sudah mengetahui apa yang terjadi.
Sudahlah! Aku tidak terlalu memikirkan apapun lagi. Aku selamat berkat tekad Saphine untuk menjadi dokter.
Tidak ada pilihan lain, aku mengambil apel di nakas dan segera memakannya setelah perawat itu meninggalkan ruanganku. Lalu, aku berbaring sebentar melihat pemandangan kota yang tidak lama kulihat. Inilah yang namanya reuni dengan pemandangan?
Jam 09:00, Saphine terbangun dari tidurnya dan menyapaku. Aku membalas sapaan itu. Setelah itu, Saphine segera mengambil sesuatu di dalam tasnya yang sudah ia pegang sedari tadi. Ia memberikan secarik kertas padaku.
Aku membaca kertas itu dan melihat sesuatu kesamaan yang ada di kertas itu. Aku membacanya dengan seksama dan tanggal donor itu. Tanggal itu menunjukkan tanggal kemarin saat ini dan besok saat aku kehilangan semua darahku. Golongan darahku sama dengan golongan darah Saphine.
“Saphine, kau ...”
“Aku mendonor darahku karena kamu kekurangan darah. Jadi, aku ….” Ucapnya terhenti dengan wajahnya yang memerah.
Wajah Saphine memerah dengan itu. Ia tidak percaya bahwa ia melakukan hal itu karena tidak membiarkanku mati kehabisan darah. Hatinya tergerak hanya karena buku Campbel yang kuberikan padanya, sehingga ia berbuat sampai sejauh ini.
“Aku minta … maaf, Rivandy. Aku menyerahkan tubuh dan darah milik orang lain untukmu. aku bisa membawamu kesini berkat Andika. DIalah yang membawamu kemari. Aku hanya melakukan apapun yang aku bisa,” jawabnya sambil membungkukkan badannya sebagai tanda minta maaf.
Aku menghela nafas melihat Saphine yang pesimis itu. Aku memanggil, “Saphine. terima kasih telah menolongku,” berterima kasih pada Saphine.
“Kamu memang dokter yang baik. Kamu bisa menjadi dokter sungguhan suatu saat nanti,” pujiku dengan wajah bebekku.
“Sungguh? Tapi, aku tidak bisa. Dengan tubuh yang hina ini, ...”
“Lupakan itu! Aku masih bisa hidup karenamu. Jadi, jangan salahkan dirimu!” Pesanku kepada Saphine sambil berbaring santai di ranjang pasien.
Saphine hanya terdiam dengan pesan yang kusampaikan.
“Rivandy. Aku ingin meminta sesuatu padamu,” minta Saphine dengan wajahnya yang cukup murung.
“Kalau kamu sudah sembuh, ajarkan aku biologi! Soalnya, aku ingin uluran tanganmu. Kamu bisa mengerjakan soal biologi dengan sangat baik. Bu Mila memujimu di kelas. Eleva dan Andika membuat respon yang berbeda,” jelas Saphine di suasana kelas.
__ADS_1
Aku menerima dengan senang hati. Aku akan membeli buku Campbel dan segera mengajari Saphine kalau ada waktu luang. Ini cukup melegakan. Aku dan Saphine saling berpandangan dan menahan malu kami karena pandangan di ruangan pasien membuatku mengingat sesuatu yang memalukan.
Kami segera melirik pandangan kami. Saphine tertawa dengan rasa canggung yang kulontarkan. Aku hanya menyelimuti wajahku dengan selimutku. Aku malu dengan tawa itu. Karena itu, dia begitu manis.
Namun, sebuah suara “Ara-ara,” telah terdengar di telingaku. Beberapa detik kemudian, Cherry-neesan menghampiriku yang sedang malu.
“Kalian sedang apa sampai seromantis ini?” Tanya Cherry-neesan.
“Neesan! Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku semakin malu dengan pertanyaan itu.
“Eh?! Padahal aku mengkhawatirkanmu,” keluh Cherry-neesan sambil membawa semangka yang besar untuk menjengukku.
“Anu. Kouchou-sensei (Kepala Sekolah)! Aku permisi dulu. Aku harus menemani dokter yang lainnya,” pamit Saphine bergegas meninggalkanku.
“Saphine, jangan tinggalkan aku! Aku masih membutuhkanmu disini,” Seruku sambil menahan tangisanku.
“Rivandy. Aku membicarakan sesuatu padamu."
“Silahkan!” Aku terima dengan terpaksa.
“Joe Hyeon Asuka, Romano Zerevyaka, Ray Anggarita, dan Parrel Paulia. Mereka berasal dari Kelas II Saintek C. Mereka adalah pelaku dari human trafficking. Mereka sudah menjual gadis sebanyak 645 orang dan terjual sebesar 45%. Aku mendapatkan informasi ini dari Zhukov,” jelas Cherry-neesan sambil melakukan presentasi.
“Zhukov bilang, ‘Kami mendapatkan banyak bukti di alamat yang tertera pada kertas itu. Rivandy menemukan tempat itu dan menemukan banyak lokasi penjualan itu,’ saat berada di hadapanku. Lalu, aku mengirimkan rekanku yang bekerja pada PBB untuk melacak penjualan itu. Dan kau tahu … ”
“Hasilnya akan ditunggu selama 10 hari ke depan. Aku tidak sabar dengan itu. Setelah itu, aku menulis laporan mengenai identitas mereka dan dinyatakan gagal. Banyak transaksi dibatalkan dan korban yang selamat akan diamankan atas nama PBB.”
“Saphine selamat, Zhukov sudah memberikan bukti akurat. Tapi, kamu malah masuk ke rumah sakit."
“Jika bukan karena kamu, Saphine sudah dibawa oleh mereka ke Bandung, Indonesia. Jejak human trafficking akan terus berlangsung dan Saphine resmi dikeluarkan dari akademi dan merambat kepada murid lainnya,” jelas Saphine memujiku dengan perasaan senang.
“Maafkan aku, Neesan!” Aku meminta maaf kepada Cherry-neesan.
“Kau harus dihukum."
Aku merasa tidak enak dengan hukuman ini. Aku selalu terkena hukuman Cherry-neesan karena aku selalu membuat kesalahan yang membuatnya
“Mohon bantuannya, Neesan!”
Cherry-neesan menghukumku di ruang pasien tanpa diketahui siapa pun. Aku menuruti permintaan itu tanpa keluhan sekalipun. Setelah hukuman itu berlangsung lama, Cherry-neesan meninggalkan ruangan dengan cepat.
Saphine yang sudah tiba di ruangan pasien merasa tidak enak melihat Cherry-neesan keluar dari ruang pasien. Ketika ia memasuki ruangan untuk menjengukku, ia terkejut dengan kondisiku yang melemah sambil berbaring di ranjang.
“Rivandy, ada apa denganmu?” Tanya Saphine yang kebingungan dengan aku yang tertidur lemas.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tidur saja,” jawabku yang sedang kelelahan itu.
24 Oktober 2025, jam 15:12, aku dan Saphine diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Aku dan Saphine sedang berjalan menuju pintu keluar agar aku bisa istirahat di rumah. Aku melihat mereka yang sedang menungguku. Mereka adalah temanku.
“Sayangku!” Panggil Sheeran memelukku yang mengenakan pakaian pasien.
“Aku pikir kau akan mati,” lanjutnya tidak mau melepas pelukanku.
__ADS_1
“Tch! Lebay! Begitu saja menangis. Kalau dia memang mati, kau akan menangis sekeras-kerasnya,” ejek Akishima melihat perilaku Sheeran yang berlebihan.
“Apa kau bilang? Aku akan menghajarmu,” tekad Sheeran sambil mengambil senapan dan berniat untuk membunuhnya.
“Coba saja kalau bisa!” Tantang Akishima mendengar gertakan itu dengan kepalan tangannya.
Zhukov menghela nafasnya melihat perkelahian antara Akishima dan Sheeran. Ia bergumam, “Heh. Mereka selalu saja bertengkar."
“Ri-chan!” Panggil Denis dan Hammer sambil memelukku dengan erat.
Saphine hanya tertawa melihat perbuatan Denis dan Hammer. Aurora dan Evelyn memelukku juga. Tapi, mereka mengancamku kalau aku mati, mereka akan merampok kartu kreditku.
Setelah itu kami berjalan untuk pulang bersama. Kami mengobrol sementara sambil menuju ke apartemen kami masing-masing.
“Rivandy. Kau tidak masuk selama dua hari, jadi kau harus memuaskan hasratku lagi. Aku ingin air minum tapi botol yang ada di Klub Sains,” minta Aurora kepadaku.
Aku yang mendengar itu langsung menjauhi dari Aurora dan mendekati Saphine sambil bersembunyi.
“Rivandy, kamu kenapa?” Tanya Saphine yang melihatku ketakutan.
“Kau tidak boleh begitu, Aurora. Kau selalu saja membuat Rivandy ketakutan,” tegur Akishima yang sudah mengetahui ketakutanku.
“Iya, desu. Tapi, kenapa RIvandy ketakutan, desu?” Tanya Evelyn sambil berpikir.
“Dia terkena korban dari Sentinel Drunk,” jawab Zhukov dengan santai.
“Sentinel Drunk?” Saphine memikirkan nama penyakit itu
“Coba kulihat! Sentinel Drunk adalah suatu kejadian dimana keluarga besar Sentinel berjenis kelamin perempuan meminum alkohol secara sengaja maupun tidak sengaja yang membuat mereka mabuk dengan mata cinta yang mengakibatkan orang yang disekitarnya terpaksa berhubungan intim dengan orang yang mabuk itu, begitu,” jelas Saphine mengenai penyakit itu.
“Wah! Kalau begitu, aku akan membayangkan aku lahir dengan nama ‘Sheeran Sentinel’ Lalu aku bertemu dengan Sayangku dan meminum alkohol, agar ia menjadi milikku,” cetus Sheeran membayangkan dirinya adalah keturunan Sentinel.
“Hentikan! Kau akan membunuhku!” Aku membentak Sheeran untuk berhenti.
“Kalau begitu, kamu pergi ke pasar malam dan minum alkohol. Jadi, kamu bisa berhubungan dengan semua orang tanpa terkecuali,” sindir Akishima mengganggu bayangan Sheeran.
“Berisik!” cekal Sheeran.
“Aku mau jadi Sentinel dan bertemu Ri-chan!” Tekad Denis.
“Aku juga!” Lanjut Hammer.
“Kalian juga!” Cocorku ke Denis dan Hammer.
“Kalau begitu, aku harus membedakan air putih dengan alkohol,” cetus Aurora.
“Pilihan yang tepat, Aurora,” puji Zhukov.
“Rivandy. Lebih baik kamu meminjam catatanku saja, desu. Lengkap dan rapi, desu,” saran Evelyn.
“Iya. Terima kasih atas sarannya, Evelyn,” terimaku menghela nafasku.
__ADS_1
Kami pulang ke apartemen masing-masing dan menjalankan aktivitas kami. Aku pulang bersama Aurora dan Akishima dan tinggal bertiga di apartemenku lagi.
Sudahlah! Aku terima itu.