Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Kehidupan Sehari-hari : Rivandy, Aurora, Akishima, Evelyn, Sheeran 1,2


__ADS_3

20 September 2025, jam 12:41, aku berpisah dengan Bella dan Shiori setelah bermain PS 5. Aku yang segera kembali ke apartemenku segera membeli sesuatu di supermarket. Bukan bahan makanan, melainkan membeli buku karena aku tidak terlalu ingin membaca PDF di handphoneku.


Setelah membeli buku, aku segera beranjak menuju ke apartemenku. Namun, ketika aku membuka pintu, aku melihat mereka lagi. Keempat gadis yang sedang menunggu keberadaanku.


Akishima menghampiriku dan berseru, “Kau terlambat!” Meniup terompetnya.


“Kau darimana saja? Kamu selingkuh dari pagi. Terus, apa ini?” Akishima mengintrogasiku dan mengambil buku yang kubeli tadi.


Aku hanya terdiam dengan interogasi itu. Saat aku melirik kepada gadis lain, mereka tidak berbicara sekalipun. Mereka hanya menatapku dengan tajam.


Akishima yang menginterogasi segera membaca buku dengan sekilas. Ia mengeluh, “Yah! Padahal aku ingin komik One Piece. Sudah +100 volume. Buku ini membosankan,” sambil membuang buku yang kubeli.


Aku mengambil dengan cepat sebelum bukuku masuk ke tempat sampah. Aku mengambil dan meneriaki, “Jangan seenaknya membuang bukuku! Aku membelinya dengan harga ₽ 1.200, kau tahu!”


“Eh?! Ini belum seberapa dengan hasrat kami. Jadi, kamu harus membelikanku komik One Piece sebanyak 10 volume,”


“Kenapa kamu tidak membelinya sendiri?” Keluhku dengan permintaan ini.


“Aku juga. Aku ingin mencari buku biologiku. Tolong kabulkan, yah!” Aurora mengeluarkan rayuan untukku sambil memperlihatkan bukunya di ponsel.


“Kenapa tidak beli buku Campbell di Amazon saja?” Pikirku yang sudah tidak ingin menerima permintaan gadis lagi.


“Aku ingin robot beruang, desu,” minta Evelyn dengan mata berbinar-binar.


“Kenapa kamu membuatnya sendiri? Kamu `kan anggota Klub Robotik,” keluhku mengenai permintaan yang berlebihan.


“Aku ingin tidur denganmu, Sayang,” jawab Sheeran sambil menahan sifat mesumnya.


“Aku tidak mau tidur denganmu lagi,” batinku yang tidak tahan dengan permintaan itu.


Setiap kali selalu saja begini. Aku ingin menghemat uangku karena aku selalu menjadi budak oleh keempat gadis itu. Gadis itu mengerikan. Mereka selalu saja meminta seolah-olah mereka majikannya.


Tidak ada pilihan lain. Mungkin aku harus mencari pekerjaan sampingan jika begini terus.


Jam 13:02, Aku keluar dari apartemenku dan segera membeli keperluan mereka. Buku Campbell, Komik One Piece sebanyak 10 volume, membeli boneka robot, dan tidur dengan Sheeran. Aku tidak terlalu ingin tidur. Aku sudah segar bugar sekarang.


Ketika aku kembali dari apartemenku, aku melihat mereka yang sudah mengenakan mahkota ratu dan memerintah seenaknya. Namun, aku tidak ingin melakukan pemberontakan. Aku harus membuat pilihan yang sulit untuk keluar dari situasi ini.


Akishima dengan pakaian kimono permaisuri segera menghampiriku dan meminta, “Mana komik One Piece-nya?” Sambil mengasah tangannya kepadaku.


“Ini. Aku membelinya 10 volume untukmu,” jawabku memberikan komik One Piece kepada Akishima.


“Yatta! Aku sudah menunggu bertahun-tahun dengan Perang Wano di sana."


“Kimono-mu melorot, Akishima,” beberku melihat kimono Akishima melorot.


“Tidak peduli, aku akan membacanya meskipun aku mati,” tekad Akishima membara dan segera membuka buku.


“Wah! Luffy! Aku menunggumu. Apa yang ia lakukan disana?”


“Wah! Onore Kaido! Kau membunuh banyak orang disini. Aku akan menghajarmu dengan satu pukulan."


“Kya! Si Marimo tersesat lagi,”


“Tch! Kenapa si Koki Mesum menyombongkan diri? Dia sudah seperti gadis violet itu."


Aku yang mendengar komentar Akishima saat membaca komik segera memberikan buku kepada Aurora.


“Terima kasih, Rivandy,” ucapnya dengan senyuman yang manis dan polos.


“Itu belum seberapa,”


Aku yang sudah memberi Buku Campbell segera memberikan robot beruang kepada Evelyn sambil berpesan, “Ini untukmu. Jangan sampai rusak!”  Agar merawatnya dengan baik.


“Aku akan menjaganya, desu,” tekad Evelyn dengan semangat.

__ADS_1


Setelah itu, aku memberi sesuatu pada Sheeran sambil berlutut padanya. Aku memberikan setangkai bunga padanya. Aku berakting, “Sheeran! Ini untukmu. Setangkai Bunga Violet,”  seperti seorang pangeran.


Sheeran yang melihatku seorang pangeran sangat senang mendengar itu. Saking senangnya, ia tidak sadar bahwa badannya yang semakin memanas itu membuatnya tidak bisa bernafas, sehingga Sheeran pingsan di ranjangku dan berharap aku melakukan hal mesum kepadanya saat pingsan.


“Tch! Dasar mesum! Segitu saja lemah,” sindir Akishima melihat Sheeran yang pingsan.


“Sepertinya tubuhnya sudah mencapai 38 derajat. Dia harus istirahat dulu,” saran Aurora mengecek suhu tubuh Sheeran dengan stetoskopnya.


“Tidak ada pilihan lain, aku mandi dulu dan membersihkan apartemenku,” ungkapku memberi pesan kepada ketiga gadis.


“Kalian segera keluar dari sini jika tidak ada keperluan,” lanjutku sambil keluar mengambil handukku.


Aku keluar dari apartemen dan mengambil handuk di jemuranku. Ketika aku kembali ke apartemenku, aku melihat tidak ada gadis selain Sheeran yang pingsan di ranjang di hadapanku.


Aku segera menuju ke kamar mandi dan segera membuka pakaianku. Ini kesempatanku. Sekali aku melewatkannya, Sheeran akan menyerangku secara agresif.


Ketika aku sudah mengambil sabun dan sampo, aku segera beranjak ke bathtub untuk mengguyurkan tubuhku. Namun, ada suatu benda yang.secara mendadak muncul di depan mataku.


Aku terkejut dengan kedua gadis di hadapanku  Tubuh mereka yang halus dan lucu itu sudah bermekaran di hadapanku. Aku tidak terlalu terkejut dengan itu. Mereka muncul secara mendadak. Jadi, aku mengira ada gadis agresif yang menyerangku.


“A-Aurora? Evelyn? Apa yang kalian lakukan?”  Aku mengoceh sambil menjauh dari mereka.


“Kamu tidak keberatan, kan?” Aurora merayuku.


“Aku baru bisa mandi di saat begini, desu,” lanjut Evelyn


“Oh begitu, ya? Aku .. tidak keberatan,” jawabku tersipu malu.


Sesaat kemudian, ada suatu aura dan secercah cahaya merah yang ada di belakangku. gadis yang berada di belakangku sambil memelukku adalah Akishima.


“Akishima!” Aku menoleh ke belakang sambil berteriak


“Kamu kenapa, Rivandy?” Tanya Aurora sambil membersihkan tubuhnya.


“Oh, begitu. Hanya perasaanku saja,” gumamku melanjutkan mandiku dengan menyalakan shower.


[*^*]


Jam 18:23, aktivitas bersama keempat gadis kembali dimulai. Sheeran terbangun dan segera membuatkan makanan untukku.Aku yang sedang membaca buku sambil menatap kota Moskow yang sedang menuju malam. Akishima nonton One Piece episode 950 sampai 960. Aurora dan Evelyn sedang bermain handphone dan membuat sesuatu.


Aku yang melihat mereka hanya terdiam. Terkadang aku merasa terganggu melihat ini. Aurora, Akishima, Evelyn, Sheeran, Rin, Bella, Shiori, Kotori, Stephany, Aria,dan Millia. Gadis yang disebutkan di pikiranku selalu lengket di sisiku. Mereka yang berasal dari karakter yang berbeda tidak akan menyadari sesuatu.


Sesuatu yang akan hilang seiring berjalannya waktu.


Sheeran memberikan makanan itu kepadaku dan aku menerimanya. Akishima sedang melihat adegan Kaido dan Big Mom beraliansi di episode 952. Aku ikut menontonnya karena malas membaca buku lagi. Sepertinya aku butuh istirahat dari buku.


Aurora dan Evelyn sedang membuat sesuatu untuk merayuku. Mereka membuat guyonan mereka agar aku terpancing dengan guyonan mereka. Aurora juga mengingatkanku untuk mengikuti Klub Sanitek setiap Senin. Aku mengatur jadwalku agar aku tidak menjadi orang yang berantakan.


Sheeran memelukku dengan cinta. Ia berdekatan denganku sambil melakukan permainan menyentuh tubuhku  Akhirnya, gadis lainnya terpancing dan melakukan permainan itu agar mereka mendapatkan tubuhku yang sixpack itu.


Ini kehidupan Malam Minggu bersama keempat gadis.


[*^*]


Jam 21:34, aku dan Akishima mematikan TV setelah melihat adegan Kozuki Oden meninggalkan negara Wano. Aurora, Evelyn, dan Sheeran berkumpul untuk mendengarkan pengumuman Akishima sebelum tidur. Aku yang sudah berhadapan dengan Akishima siap mendengarkan pengumuman itu.


Dia akan mengumumkan sesuatu yang sangat penting. Sebelum tidur, kami harus bermain terlebih dahulu. Permainan yang akan kami mainkan sama seperti sebelumnya.


ini akan menjadi permainan terburuk.


Permainan Poker lagi. Yang menang bebas memerintah, yang kalah harus mematuhi yang menang.


Aku terpaksa mengikuti permainan ini. Permainan ini akan membunuhku. Aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menang. Hanya sekitar 10% untuk menang.


Habisnya aku payah dalam permainan ini.

__ADS_1


Permainan dimulai. Aku dan lainnya menerima kartu yang diberikan oleh Akishima  Aku melihat kartu dengan seksama. Aurora dan Sheeran berusaha keras untuk menjadi pemenang. Jika mereka menang, mereka akan memerintah kepada yang kalah untuk memuaskan hasrat mereka, terutama aku.


“Yosh! Sekarang buka kartu kalian!!”


Kami mengeluarkan kartu. Lagi-lagi, aku mendapatkan yang jelek. Akishima mendapatkan Royal Flush, Aurora dan Sheeran mendapatkan Straight Flush. Evelyn mendapatkan 4 of a Kind.


Aku kalah lagi. Aku harus memuaskan hasrat Akishima lagi. Aku harus cosplay menjadi Roronoa Zoro atau Vinsmoke Sanji. Aurora dan Evelyn harus menjadi ayam, dan Sheeran menjadi babi.


Permainan kedua, aku mendapatkan kelima kartu dan mencoba mencari kelemahan dalam kartuku. Ini seperti permainan matematika


“Persentase kemenanganku menjadi 20%. Kalau aku mendapatkan Straight Flush, aku akan menang, Lihat saja, Akishima! Aku akan mempermalukanmu,” tekadku sambil menghitung dengan matematika.


Saat mengganti 2 kartu yang jelek, aku mendapatkan peluang yang bagus. Kartu keriting 6, dan keriting 9 ada di genggamanku.


“Keluarkan kartu kalian! Aku ingin melihat kartu kalian!” Pintaku sambil berpose seolah aku menjadi pemenangnya.


Ketika kartuku dikeluarkan, mereka tertawa jahat dan mengeluarkan kartu mereka.. Aku terkejut melihat kartu mereka. Ini tidak mungkin. Tidak ada di matematika. Tidak ada yang ada di permainan semacam itu


“Hah?! Semuanya Royal Flush? Kenapa?” Aku melihat Royal Flush dalam kartu mereka.


Mereka tertawa jahat dengan kemenangan mereka. Mereka menjawab, “Rivandy, kamu sudah kalah. Sekarang, kamu ada dalam genggaman kami. Bersiaplah!” Sambil menyiapkan tali dan cemeti.


“Tidak! Jangan! Kita bermain sekali lagi!” Aku berteriak dengan kekalahanku yang tidak masuk akal.


“Tidak mau! Kamu harus dihukum,” jawab Akishima mendekatiku.


“Jangan! Tidak! Hentikan!”


“Kamu kalah, Rivandy. Kamu harus bertanggung jawab,” jawab Aurora.dengan penuh kejahatan.


“Evelyn!” Teriakku memanggil Evelyn.


“Muehehehe. Kamu milikku, desu.” Tawa Evelyn terngiang di kepalaku.


“Sheeran!” Teriakku memanggil Sheeran.


“Sayangku, aku akan membuatmu penuh cinta dan kasih sayang,” sahut Sheeran sambil memegang dadanya.


“Tunggu! Jangan mendekatiku!” Aku memojokkan diri di ranjang.


“Tidak!!”


Sejak kekalahan itu, aku menjadi tidak terkendali. Aku adalah seorang lelaki yang harus memuaskan hasrat mereka. Aku menjadi boneka yang patuh akan perintah mereka. Aku tidak bisa menolak permintaan mereka.


Karena kekalahanku yang tidak dimaafkan, tidak ada pilihan lain.


Pemintaan yang membanjiriku terus berlanjut hingga pukul 01:01, aku yang sudah kelelahan itu harus tidur bersama mereka. Aku yang mengenakan handuk kimono atas perintah Akishima tidur terlentang di ranjang oleh mereka berempat dengan handuk kimono tanpa pakaian dalam.


JIka orang mesum berada di posisiku, dia akan senang sekali.


Sudahlah, aku tidak bisa melakukan ini lagi.


Keseharian yang melelahkan.


[*^*]


Keesokan harinya, jam 06:00, ada tiga gadis yang mengunjungi apartemenku. Mereka membunyikan bel untuk membangunkanku.


Aku yang sedang tertidur bangun dengan kondisi yang membuatku lelah. Aurora mengacak rambutku, Sheeran memainkan tubuhku, Akishima memelukku dan Evelyn mencium leherku.


Kondisi tubuhku menjadi lelah karena itu. Tapi, aku bernafas lega mereka tidak ada. Aku ingin tahu kemana mereka.


Saat kau menghampiri pintu, aku membuka pintu dan melihat 3 gadis yang sedang berada di pintu apartemenku.


Mereka adalah Stephany, Aria, dan Millia.

__ADS_1


__ADS_2