Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Mimpi Buruk dan Trauma : Kebencian Siswi Akademi 1,2


__ADS_3

Jam 16:45, aku berhadapan langsung dengan Reinhardt. Reinhardt terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Ia hanya menjauh beberapa sentimeter dariku. Aku melangkah kakiku untuk mendekatinya.


Langkah kaki yang kulancarkan mendekati ranjang dan aku sudah bersiap untuk mengepal tanganku untuk menghajarnya. Aku segera masuk ke kawasan ranjang dan mendorong Reinhardt ke lantai kamarnya.


Reinhardt sama sekali tidak melawan dan bergerak sekalipun. Aku hanya berdiri ketika dia tersungkur. Aku bisa melakukan sesuatu yang buruk padanya.


Aku menendang kepalanya. Dia mengeluarkan darah dari hidungnya. Aku tidak peduli. Aku menginjak kepalanya secara bertubi-tubi. Dia tidak bisa melawanku. Dia hanya terdiam dengan keras.


"Hoi! Ada apa, dasar lemah?!" Aku mengolok Reinhardt karena dia sangat lemah di depan wanita.


“Kenapa kau hanya diam saja, Reinhardt?!” Tanyaku menjatuhkan kepalanya ke lantai.


Reinhardt hanya terdiam sambil menahan rasa sakitnya. Aku selalu menghajar kepalanya. Kepalanya terlalu keras. Tidak ada pilihan lain. Aku membangunkannya dan segera melancarkan pukulanku.


“Sudah cukup! Aku sudah muak denganmu. Kau seorang pembunuh lebih baik mati saja!” Aku memukul dadanya.


Dia terjatuh di lantai dan merasakan hentakan yang keras. Ia tidak berteriak sama sekali. Ia seperti seorang remaja yang dibully oleh seorang kawanan. Aku adalah perwakilan dari mereka semua. Aku datang kemari untuk menghajarnya.


Aku menginjak perutnya dan melakukannya berkali-kali. Dia masih tidak berteriak sama sekali. Aku semakin kesal dengan tingkah lakunya seperti itu. Aku masih tidak mengerti kenapa dia sangat lemah dan tidak berdaya sama sekali. Ini lebih muak daripada anak yang menyebalkan seperti Spongebob.


Ini berpeluang besar padaku untuk melampiaskan kemarahanku padanya. Kebencian di perasaanku membuatku ingin menginjak semua martabaknya. Entah kenapa aku melakukan hal yang kejam padanya. Ini bisa membunuh perasaannya.


Kenapa dia masih tidak berteriak agar aku semakin ingin menghajarnya?


Entah kenapa Reinhardt sangat lemah dan tidak berdaya sama sekali. Aku menghajarnya dan menendangnya pada saat ia lemah. Aku masih menendang kepalanya setelah aku memiringkan tubuhnya. Aku masih menendang dadanya dan berharap ia tidak bisa bernafas dan mati dengan sia-sia.


Musim semi Moskow masih mendung. Tidak ada tanda-tanda hujan turun. Banyak mobil dan kendaraan lainnya sedang berlalu lalang. Dengan suasana mendung itu, membuat beberapa pemukiman menyalakan lampu dan mengambil jemuran mereka yang telah kering.


Aku sudah membuat rute pelarianku setelah aku bisa menghajarnya. Aku mempercepat tempo tendanganku. Dia tidak merasakan apapun lagi. Dia merasa hampa saat aku menendang tubuhnya. Aku memperlakukannya seperti seorang budak yang pantas disakiti. Dia tidak pernah bisa melawan.


"Ini semua salahmu! Kalau kau tidak ada, tidak ada yang tersakiti lagi!" Aku menendang Reinhardt seperti sepak bola.


"Kau seharusnya tidak akan lahir di sini! Kau adalah seorang pembunuh dan aku tidak akan memaafkanmu," ocehku tidak terhentikan.


"Kenapa kau tidak menyerangku seperti seorang bangsawan, dasar bodoh?!" Aku menendang kepalanya dan menghancurkan hati dan perasaannya.


Reinhardt hanya terdiam kaku karena itu. Aku tidak akan membuatnya mengerti. Aku menghajar dadanya yang sudah melemah itu. Dia tidak mengeluarkan darah dari dadanya. Ia hanya mengalami pembengkakkan pada dadanya yang rapuh. Aku masih belum puas karena dia masih tidak berteriak kesakitan.


"Kuhabisi kau sekarang juga!"


Aku membuat kesalahan yang sangat fatal. Aku melakukan ini demi mengutarakan perasaan dan kebencianku padanya. Aku sudah melupakan keseharian yang aku lakukan bersamanya. Aku tidak akan memanggilnya Onii-chan lagi. Aku sudah membencinya.


Aku mengabaikan perkataan Kotori sebelum dihukum dengan tidak terhormat. Aku membohongi Shiori dan lari dari kelasku. Aku sendiri yang membuat kesalahan yang cukup fatal. Itu adalah meninggalkan kelas dan mengancam seseorang. Ini sudah cukup bagiku untuk melakukan dosa yang besar.


Aku tidak peduli dengan logika manusia. Aku tidak membutuhkannya. Berhadapan dengan iblis sepertinya. Dia sangat lemah dan tidak berdaya. Ini semakin baik jika aku menghilangkan nyawanya. Aku tidak membiarkannya hidup dalam dunia ini.


Ini seperti kata mutiara dari Lelouch Ramperouge (Lelouch IV Britannia) yang mengatakan bahwa jika kau ingin mengalahkan penjahat, kau harus menjadi seorang penjahat terlebih dahulu untuk mengalahkan mereka. Aku akan menjadi pembunuh jika ingin membunuhnya. Aku bukan membunuh manusia. Aku hanya membunuh iblis itu.


Aku akan menghabisinya agar ia tidak hidup lagi. Aku tidak akan membiarkannya lari begitu saja. Dengan amarah dan kebencianku, aku akan mengeksekusi iblis ini atas perasaanku. Aku tidak mau tahu kenapa aku melakukan hal yang sekejam ini. Seharusnya, aku tidak melakukannya. Tapi, ini sudah terlambat. Aku tidak bisa kembali lagi.


Aku masih belum puas dalam rencanaku. Aku akan membuatnya menjerit kesakitan. Aku akan … membuatnya berteriak sekarang juga.


Aku mengeluarkan Desert Eagle milikku dan mengarahkan tembakan padanya. Aku mengarahkan seranganku pada dadanya yang masih membengkak itu. Aku tidak bisa menghentikan penyiksaan ini. Aku tidak akan berhenti sampai dia menderita. Dia sudah lahir untuk menderita dan aku akan membuatnya lebih menderita lagi.


Aku akan menghabisi dengan peluruku yang ku lancarkan itu. Aku mengeluarkan tembakan, sehingga suara tembakan itu menggelegar di seluruh ruangannya. Aku menembak dadanya dan dadanya mengeluarkan darah yang banyak setelah aku mengisi 7 peluru dalam 35 amunisi.


Apartemennya masih rapi. Namun, kamarnya sudah penuh dengan darah akibat peluru yang bersarang di dadanya. Aku menembaknya berkali-kali agar dia berteriak kesakitan. Aku sudah menembak lehernya dan berharap dia tidak akan hidup lagi. Dia akan dikeluarkan dari akademi karena dia akan mati.


Namun, ….


Sial! Kenapa dia tidak berteriak sekarang juga? Padahal, aku sudah mengisi amunisiku dan mengharapkan dia mati. Dia masih bisa hidup dengan peluru yang bersarang di tubuhnya. Aku tidak mengerti kenapa ia masih hidup ditengah-tengah peluru yang memasuki tubuhnya.


Aku melakukan hal yang sama agar Reinhardt tidak akan bergerak lagi. Aku masih mengeluarkan tembakan secara beruntun. Pistol yang ada di tanganku bergetar karena peluru keluar dari pistolnya. Reinhardt merasakan tembakan yang mengenai tubuhnya. Darahnya keluar dengan lebatnya. Aku masih menghabiskan peluruku untuk menghabisi nyawanya.


Aku menghabiskan semua perasaan benciku padanya. Aku melesatkan pelurunya pada tubuhnya yang mulai rusak. Aku mengisi dan menembaknya dengan cepat agar dia akan sekarat dengan mudah.

__ADS_1


"Mati kau! Mati kau! Mati kau, Reinhardt Iblis!"


Setelah menghabiskan pelurunya, aku segera aku menarik kembali pistolku dan menginjak kaki Reinhardt dengan kasar. Dia tidak bisa berbuat apapun. Dia hanya terdiam dengan sejumlah tembakan dan penderitaan yang ia lakukan.


"Ayo! Bunuh aku! Kenapa kamu masih lemah dan tidak segera menyerangku, Reinhardt?!" Aku memaksa Reinhardt untuk membunuhku.


"Aku tidak ingin melihatmu yang lemah dan seperti anak perempuan! Apa yang kau lakukan?! Berdiri dan lawan aku, dasar bodoh!"


Aku memarahi Reinhardt seperti anak yang lemah dan tidak berdaya. Aku kecanduan dengan tindakan sadis dan menendangnya lebih banyak lagi dan lagi. Aku tidak akan membiarkan seseorang itu masuk dan melihatku menyiksanya.


Setelah aku melampiaskan amarahku pada Reinhardt, aku menghentikan semua itu. Darah dan luka terlukis pada tubuhnya. Dia tidak bisa melakukan apapun lagi. Dia adalah remaja yang sangat malang dan tidak berguna itu.


"Aku membencimu, dasar iblis! Kau tidak boleh mendekati Shiori dan Kotori selamanya!" Aku melarangnya mendekati Shiori dan Kotori.


Aku meninggalkannya dan menahan perasaanku setelah menutup pintu kamarnya. Aku tidak bisa mengucurkan air mataku. Aku ingin sekali pergi dari sini sekarang juga. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus pulang bersama barang belanjaanku yang tertinggal di ruang tamuku.


Setelah membuka pintu dan menutupnya kembali, aku segera kabur dan tidak akan tanggung jawab lagi. Aku tidak melihat CCTV di apartemen ini. Aku segera kabur dan tidak akan memperlihatkan diriku lagi.


Setelah aku pergi, ada seorang gadis yang keluar dari apartemennya. Dia menutup apartemen dan mendengar sebuah pintu yang tertutup dengan redup. Dia segera memasuki apartemen yang sudah ku datangi tadi.


Dia akan memeriksa apa yang telah terjadi pada Rivandy.


[*^*]


Dia memasuki apartemen itu. Dia tidak melihat keanehan yang terjadi pada apartemen itu. Semuanya bersih dan tertutup rapat. Dia tidak melihat keanehan yang terjadi saat itu. Dia akan memeriksa keadaanku karena waktunya sedang luang saat ini.


"Moshi Moshi? Rivandy? Ada apa?" Tanya Akishima segera mengetuk pintuku.


(Moshi Moshi \= Halo, bahasa Jepang yang digunakan untuk menelpon)


Ketukan pintu itu tidak merespons apapun. Dia mengetuknya beberapa kali agar yang di dalam apartemen bisa mendengar ketukan dari Akishima. Namun, masih belum ada respon lagi. Akishima kesal dengan tidak ada respon. Jadi, ia melakukan hal yang sembrono, yaitu membuka pintu dengan serakah.


"Ayolah! Jangan diam saja! Aku datang kesini untuk …."


"Rivandy! Kamu kenapa? Kenapa kamu terluka seperti ini?! Lalu, siapa yang melakukan sejahat ini padamu?!"


Rivandy tidak menjawab apapun. Ia membuka matanya dan melihat Akishima di hadapannya. Ia tidak tahu apakah yang terjadi padanya. Itu sudah cukup padanya untuk menahan penderitaan itu. Tidak ada yang memahami perasaan Rivandy … selain Akishima.


"Rivandy! Tolong jawab aku! Kenapa kamu diam saja?! Apakah aku harus menginap di apartemenmu dan menjagamu?"


Rivandy memeluk Akishima. Dia memeluk seperti sosok yang penting baginya. Dengan itu, Rivandy … mengalirkan air matanya pada dada Akishima. Ia menangis dengan keras karena luka dan penderitaannya selalu menghantuinya.


"Hei! Kenapa kamu menangis?!" Tanya Akishima melihatnya menangis.


"Sakit sekali! Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi! Aku sangat takut. Aku tidak mau merasakannya lagi! Kenapa aku dilahirkan dan hidup menderita begini? Apakah aku tidak diinginkan? Aku adalah orang yang sangat menderita. Aku …. Aku … tidak mau berhadapan dengan mereka lagi."


"Mereka menendangku dan mengharapkan aku mati! Aku tidak bisa melawan mereka. Aku tidak bisa lari lagi. Aku … ingin sekali berpikir bunuh diri. Selain itu, mereka akan mengutukku sebagai iblis."


"Aku tidak mau hidup lagi!" Rivandy menyelesaikan curhatannya.


Dengan tangisan itu, membuat Akishima iba padaku. Ia memelukku dengan penuh luka. Ia juga merasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Ia akan melindungiku sampai akhir hayatnya.


"Sudah! Aku tidak peduli kalau mereka menyakitimu. Aku juga tidak peduli kalau mereka memperlakukanmu dengan buruk. Selama ada aku, kau tidak boleh tersakiti lagi."


"Mungkin mereka akan mengharapkan kamu mati. Mereka bisa melakukan kutukan yang mencekam untukmu. Namun, tidak denganku. Aku tidak ingin membuatmu merasa lebih buruk lagi. Aku ingin seperti seorang ibu hanya untukmu. Kalau boleh, aku akan menjadi istrimu."


"Kalau kamu masih ketakutan, aku akan memelukmu sampai kamu merasa tenang. Kalau mau, aku akan menikahimu dan hidup bahagia bersamamu. Ini sudah cukup bagiku. Hanya saja, ku perlu menunggu beberapa tahun lagi."


"Jangan membohongiku! Kau tidak akan mengerti lagi! Aku memang terlahir untuk menjadi seperti ini! Aku tidak mau mendengar kebohongan itu lagi! Aku akan mati kalau perlu. Sekarang saja aku …." Rivandy masih keras kepala.


Akishima menampar Rivandy. Ia sudah muak dengan omong kosong dan tidak ingin mendengar keluhan lagi. Akishima merasa Rivandy seperti Luffy yang sudah kehilangan Ace ketika perang di Marineford. Dengan sosoknya, Akishima akan menjadi Jinbe untuknya.


"Tenang saja! Aku akan disini untukmu. Jadi, menangislah! Aku sangat senang kalau kamu menjadi sosok yang penting untukku. Kalau tidak keberatan …."


"Aku ingin kamu menikmati pelukan dari tubuhku yang terhina ini. Aku memang seorang yang hina. Namun, setidaknya, … ini akan menolongmu. Menolongmu dari sebuah penderitaan ini."

__ADS_1


"Aku tidak akan … membuatmu menderita lagi. Selamanya."


Dengan Itu, Rivandy mengucurkan air matanya lagi. Ini lebih keras lagi dari sebelumnya. Namun, pelukan itu lebih erat. Akishima sangat menikmati pelukan yang penuh dengan penderitaan itu. Ini seperti seorang kekasih yang sangat serasi.


"Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku! Aku takut. Aku tidak ingin lagi. Aku … mau kau ingin … berada di sampingku. Jangan tinggalkan aku! Aku mohon! Aku akan melakukan apapun hanya untukmu."


"Aku … menyayangimu."


Dengan pelukan itu, momen yang indah itu terulang lagi. Rasa cinta dan kasih sayang membuat sepasang kekasih itu menjadi lebih hangat lagi. Pasangan kekasih ini menjadi lebih baik lagi.


Rivandy dan Akishima saling berpelukan dengan tubuh yang cukup menderita.


[*^*]


Jam 18:10, matahari terbenam terlukis di kota Moskow. Para pekerja kantoran meninggalkan kantor mereka dan pulang ke rumah mereka. Pekerjaan jasa di Moskow menghentikan jasa mereka. Bahkan, ada yang meneruskan pekerjaan mereka karena ada sebuah deadline.


Ini sudah terjadi seperti sebelumnya.


Aku sudah pulang ke apartemenku dan tiba pada saat hampir malam. Aku melupakan semua itu dan berharap tidak melupakannya. Aku ingin sekali menghindar darinya selamanya


Tak lama kemudian, Andika menyapaku dan menghampiriku dengan wajah yang menyenangkan. Namun ini tidak cukup untukku. Aku masih lesu dan melukiskan wajahku dengan murung. Ini sudah cukup. Aku akan pulang dan melupakan semua itu.


"Bella. Kamu terlambat. Kamu ngapain malam malam begini?" Tanya Andika padaku.


"Tidak ada. Aku hanya membawa ini padamu. Aku yakin kamu menyukainya." Aku memberikan sesuatu pada Andika.


"Buset! Inikan yang ku cari. Action Figure F1 dari Hot Wheels! Gimana kamu dapat ini?!" Tanya Andika menerima dan matanya berkaca-kaca.


"Aku dikasih dari kasir. Dia bilang aku dapat diskon yang bagus. Jadi, ini untukmu. Kau boleh mengambilnya," jawabku segera kembali ke apartemen.


"Makasih, Bella. Aku bakal menjaganya dengan baik," terima Andika berterima kasih padaku dengan senyuman.


Dia melontarkan senyuman padaku. Aku hanya terdiam dan tidak membalasnya. Andika hanya bingung apa yang aku lakukan. Aku meninggalkannya dan menuju ke apartemenku. Ini adalah pilihanku. Aku tidak terlalu ingin lagi. Aku sudah muak dengan semua ini.


Jadi, aku harus segera kembali ke apartemenku. Aku ingin sekali mengurung diri karena aku ingin sekali menghilang dari semua ini. Aku adalah anak kecil yang masih belum matang akan pertumbuhan. Aku masih amatiran. Mereka benar. Aku adalah anak kecil.


Ini belum terlambat untuk menyendiri. Namun, ini peluang yang bagus untukku agar aku bisa menahan semuanya. Aku sudah memutuskan untuk menyendiri terlebih dahulu sebelum mereka menyapaku.


Mereka tidak boleh melihatku dalam kondisi seperti ini.


Setelah memasuki apartemenku tanpa menyapa yang lainnya, aku menyimpan semua bahan belanjaanku dan menuju ke kamar mandiku. Aku membuka semua pakaianku dan mandi seperti biasanya. Setelah mengenakan sabun dan shampo, aku mengenakan handuk kimono milikku. Aku tidak mengganti bajuku. Aku membiarkan memakai handuk kimono ini.


Aku melakukan ini agar pertumbuhanku berkembang dengan pesat. Aku ingin sekali menumbuhkan gunungku yang masih seperti daratan. Aku ingin sekali aku menjadi tumbuh dan mereka tidak akan memanggilku anak kecil lagi.


Aku ingin dewasa seperti sebelumnya. Aku sudah muak dengan anak kecil.


Aku hanya memutuskan untuk mengurung diriku dengan sebuah handuk kimono yang berada di tubuhku. Aku hanya berbaring sambil menatap langit-langit apartemen di kamarku. Aku merasa sendirian meskipun ada teman yang di sampingku.


Tidak peduli aku memilikimu berapa teman. Tapi, aku adalah seorang gadis yang sendirian. Aku merasa Reinhardt sangat sakit sekarang. Dia tidak bisa mendekati Shiori dan Kotori untuk selamanya.


Dengan itu, aku tidak akan mendekatinya dan menjalani kehidupanku dengan normal.


Aku harap ... kali ini, jangan ada yang mendekatiku. Aku ingin sekali sendirian di apartemen yang gelap ini. mengunci pintu apartemen agar tidak ada perampokan. Aku tidak menyalakan lampu apartemenku karena merasa malas..Aku kehilangan nafsu makanku. Aku tidak bisa memasak dan makan malam untuk saat ini.


Tinggalkan aku! Jangan ada yang mendekatiku!


[*^*]


Di sebuah perusahaan yang bertempat di Moskow. Ada seorang perusahaan yang sedang beroperasi. Seorang CEO yang datang jauh dari Bandung dengan pesawat dan diantar oleh sopir pribadinya untuk sebuah alasan yang tepat.


Seorang CEO disambut dengan baik oleh karyawan di Moskow. CEO itu masuk ke kantornya dan mengecek sebuah dokumen yang ia ingin lihat. Tidak lupa membalas sambutan dari karyawan dan manajer mengenai perusahaan cabang yang dibangun.


Di ruang kantornya, ia melihat ada sebuah dokumen yang dibaca. Ia membaca dokumen dengan intensif. Ia melihat semua kemampuan dan kelebihan yang digunakan oleh siswi yang berprestasi itu.


"Aku menemukanmu Sekarang, kau tidak bisa lari dariku. Akademi Militer Spyxtria, Kelas I Soshum A, Anivesta Bella!"

__ADS_1


__ADS_2