
1 April 2026 (Ulang Tahun Main Character Re:Zero - Natsuki Subaru), jam 05:01, Rin memegang tubuhku tertidur lelap. Ia sangat menikmati dengan bau haruk tubuhku. Ia tidak menyangka bahwa aku akan terbangun.
Rin tidak sengaja membangunkanku dan tidak membiarkanku lepas dari pelukannya. Aku membuka mataku dan melihat sekitar dengan tatapan yang tidak ketahui. Aku hanya sebuah halangan dan beban oleh para gadis murahan. Aku kehilangan sentuhan tubuh murahan itu.
Aku sudah terbangun dari tidurku. Namun, aku masih ketakutan. Aku tidak punya harapan untuk hidup. Aku ingin mati kalau keadaan dunia semakin memburuk.
"Rin. Aku mohon. Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau sendirian lagi!" Aku memohon pada Rin.
"Eh?! Kenapa?!" Tanya Rin menoleh padaku.
"Karena aku tidak mau kehilanganmu lagi! Aku tidak mau lagi! Aku tidak bisa melupakan apa yang kulakukan! Aku yang membuat mereka …."
Rin memelukku dan membuatku merasakan dada Rin kenyal itu. Aku merasa terhina karena aku adalah remaja yang penuh dengan penderitaan dan kesialan.
Rin menjawab,"Ini bukan salahmu! Kamu hanyalah orang yang tidak bersalah. Aku yakin suatu saat nanti, kamu akan mendapatkan sesuatu yang tidak kamu sangka. Kamu hanya menunggu waktu saja."
Aku mengerti dan merasakan pelukan Rin yang hangat. Aku hanya terdiam dengan pelukan Rin. Seketika aku tertidur kembali. Kesempatan bagus buat Rin untuk meninggalkanku tidur
Rin bangkit dari tempat tidurnya dan segera meninggalkanku. Ia segera mengambil handuk dan mandi. Setelah mandi cukup lama, dia menghampiriku dengan pakaian handuk kimono. Ia memelukku dengan hangat.
Namun, ia tidak menyangka … ada drama yang akan menghampirinya.
Jam 05:45, ada seorang gadis dengan kondisi yang melelahkan. Ia datang untukku yang tertidur pulas karena Rin yang menemaniku tidur.
"Yahoo! Rivandy! Maaf atas keterlambatanku! Aku akan … Eh?!" Akishima menghampiriku dan terkejut dengan apa yang ia lihat.
Ia melihatku dan Rin tidur seranjang. Dengan kejutan Akishima itu, Rin terbangun dan menoleh ke arah Akishima. Ia melihat ada gadis yang sedang marah karena aku telah direbut oleh Janda Perebut seperti Rin.
Ia bertanya,"Chotto! Apa yang kau lakukan, dasar Janda Perebut?!" Dengan tatapan tajamnya.
Akishima menghampiri Rin dan mengancamnya agar menjauh dariku. Rin tidak mengetahui kalau Akishima akan membuat Rin tertekan dan menjadi Janda Perebut.
"Aku tidak percaya kalau kau ada disini untuk merebut Rivandy dariku. Kau juga sudah berhubungan seranjang dengannya. Kalau kau tidak segera menjauh darinya, aku akan …." Akishima menyuruh Rin untuk keluar dari kamarku atau terkena tembakannya.
"Tidak pilihan lain! Aku melihat menangis. Aku tidak bisa menghentikan tangisannya. Jadi, … aku harus menemaninya untuk membuatnya lebih tenang. Kau juga melakukan hal itu kan? Kalau begitu, aku tidak akan keluar sampai Rivandy merasa lebih tenang," jawab Rin mengutarakan perasaannya.
"Hanya ini … yang bisa kulakukan," lanjut Rin tidak sengaja menumpahkan air matanya.
Akishima terkejut Ia tidak mengerti kenapa Rin melakukan sejauh itu. Ia melakukan itu … hanya untukku.
Akishima menurunkan senapannya. Merasa prihatin pada Rin yang berusaha keras untuk tidak membuatku menangis. Aku tidur lelap tidak mengetahui keberadaan Akishima. Akishima bergerak menuju ke jendela besar dan tahan pecah itu. Ia memandang kota Moskow dengan sesaat sambil menunjukkan sesuatu pada Rin.
Rin akan mengetahui keadaan Akishima.
"Kau tahu? Wanita hina seperti kita telah diremehkan. Kita juga menjadi korban dari orang yang tidak bertanggung jawab. Kita … menderita karena para lelaki hanya membutuhkan tubuh kita dan meninggalkan kita dengan kondisi yang buruk rupa itu."
"Tapi, kalau kita menyatukan kekuatan kita, suatu hari … Rivandy akan menjadi lebih baik lagi. Kita akan bersamanya untuk berada disampingnya tanpa memandang tubuh kami yang sudah hina atau tidak. Kita tidak perlu bertarung lagi,"
"Kau pasti Sima Rinko, satu apartemen dengan Gadis Mesum itu, iya kan?" Tanya Akishima
"Iya. Itu namaku. Aku akan menjadi istri Rivandy. Aku tidak akan membiarkanmu untuk merebutnya dariku!"
Ketika Akishima dan Rin berbincang sedikit, ada seorang gadis yang menghampiri mereka. Gadis twintail itu membuka pintu kamarku dan membawakan sesuatu untuk diamalkan bersama. Soalnya, dia melihat yang tidak seharusnya terjadi.
"Rivandy! Aku datang untukmu. Aku membawa ini untuk …." Aurora menoleh padaku dan terhenti ucapannya karena melihat seorang gadis yang tidur bersamaku.
"Hoi! Apa yang kau lakukan disini, dasar perebut?!" Tanya Aurora dengan tatapan yang penuh dengan amarah.
Rin tidak menjawab apapun. Hanya terdiam kaku dengan wajah cukup pucat.
"Kenapa kamu disini?! Kau ingin menggunakan tubuh yang hina itu agar kami bisa menjauhkanku dari Rivandy. Kau pikir dengan rencana itu akan berhasil?!" Tanya Aurora penuh dengan amarah
"Tentu saja tidak! Aku tidak melakukan itu. Aku hanya membuatnya lebih baik. Aku tidak berniat melakukan hal yang keji itu," sanggah Rin membela dirinya.
Dengan keributan itu, aku terbangun dan disuguhkan dengan sebuah pertengkaran
.Aku tidak tahu dengan pertengkaran itu membuatku menjadi ketakutan. Aku tidak tahan lagi. Hanya karena aku … keadaan semakin lebih buruk lagi.
"Menjauhlah darinya atau aku akan menembakmu!" Ancam Aurora mengambil senjatanya.
"Aku tidak akan menjauh darinya kalau dia semakin menderita begini!" Tolak Rin tidak mau bergerak.
"Kalau begitu aku akan …." Aurora
"Hentikan!" Aku berteriak sambil memegang kepalaku.
Aurora dan Rin menghentikan perdebatannya. Akishima hanya terdiam dengan teriakan penuh dengan ketakutan itu.
"Kenapa kalian tidak paham juga?!"
"Kenapa aku terlahir di dunia yang rapuh ini? Apa untungnya aku disini tapi pada akhirnya aku diperalat juga? Aku sudah menjadi alat pemuas hasrat agar kalian puas dengan hubungan ini."
__ADS_1
"Apa kalian ingin menginginkanmu mati? Soalnya, kalau kalian melihatku dalam kondisi yang buruk ini, mereka meninggalkanku, lalu kalian ingin aku mati. Aku sudah tidak diinginkan lagi." Aku menutup tubuhku dengan selimut.
"Bukan itu! Aku tidak menginginkanmu mati. Aku sudah berusaha keras agar kamu menjadi lebih baik lagi," cekal Aurora.
"Aku merelakan waktuku agar kamu …." Ucapan Rin terhenti.
"Jangan berbohong! Aku sudah tidak percaya dengan omongan kalian. Aku sudah tidak tahan lagi!" Aku berteriak sambil menutupi wajahku.
"Karena aku, aku membuat Evelyn meninggalkan Moskow. Aku tidak bisa membujuknya lagi! Aku memang membuat Aurora tersakiti dengan kepergian Evelyn. Aku tidak bisa melakukan apapun lagi.”
"Jadi, jangan …." Aku mulai mengucurkan air mataku.
Air mataku mulai menetes ke selimut. Aurora dan Rin terdiam sejenak dengan perkataanku yang penuh dengan keputusasaan ini. Aku sudah tidak mengerti dengan semua pertengkaran ini.
Ini bisa membuatku terbunuh.
Akishima memelukku dengan erat. Ia membiarkanku mengalirkan air mataku di pangkuannya. Mereka melihat itu terdiam dengan sejenak. Suasana ruangan menjadi hening dengan sebuah keputusasan yang tidak terelakkan.
“Aku meminta kalian untuk keluar dari ruangan ini sekarang juga! Aku mohon pada kalian!” Akishima memohon pada kedua gadis itu.
Aurora dan Rin meninggalkan kamarku dan membiarkan Akishima memelukku. Mereka hanya terdiam dan tidak mengatakan sepatah kata apapun. Ini lebih buruk dari biasanya. Ini cukup hening dan gelap.
Aku hanya bisa dipeluk dengan hangat. Aura bunga Sakura dan membuatku merasa lebih tenang. Aku merasakan dada Akishima yang cukup hangat. Aku merasakan lagi dan lagi. Tidak ada pelukan yang membuatku ingin bunuh diri.
Setelah pelukan itu, Akishima meninggalkanku dan membuat surat izin agar aku tidak masuk akademi dan mengikuti pelajaran. Aku hanya terdiam sambil menjalankan aktivitas seperti biasanya. Aku tidak bisa ke akademi. Jadi, aku akan menetap di apartemen dengan untuk sementara.
Setelah itu, … aku tidak melihat Aurora dan Rin lagi.
[*^*]
Jam 14:24, di sebuah tempat, ada seorang wanita dengan pakaian yang mewah. Dia bertemu dengan seseorang yang bertemu dengannya. Orang itu menyapa dengan seorang wanita yang terhormat. Mereka melakukan pertemuan kepada orang lain.
"Aku memiliki tugas untukmu. Tugas yang cukup penting disini," suruh wanita itu pada orang itu.
"Ini! Lihatlah baik-baik!" Sodor wanita itu pada orang itu
Ia menyodorkan foto itu pada seseorang itu. Orang itu melihat foto itu sesaat dan melihat foto orang yang pernah berhubungan sesuatu. Sesuatu yang cukup penting.
"Tidak bisa. Aku sudah berusaha untuk mengalahkan orang itu. Tapi, dia terlalu berbahaya. Aku tidak bisa berurusan dengan orang itu," tolak orang itu mengenakan topi mata-mata.
"Huh?! Aku memanggilmu kesini untuk memberimu tugas. Kau harusnya patuh denganku!" Gertak wanita itu.
Wanita itu hanya terdiam kaku. Agen itu meninggalkan tempat yang dipertemukan oleh wanita itu. Dia berhenti sejenak sebelum mengatakan sesuatu yang penting pada wanita itu. Dia akan menghadapi orang yang akan membunuhnya.
"Satu lagi, jangan sampai nyawamu melayang sebelum Mech 12 tiba!" Pesan orang itu meninggalkan wanita bangsawan itu
Wanita itu hanya mendengar sambil terdiam seribu bahasa. Dia hanya mendengar sebuah nama kode yang akan melindunginya dari berbagai pembunuhan. Pembunuhan yang akan menimpanya.
"Mech 12?! Boleh juga. Aku akan menghubunginya agar dia segera ke kota yang kotor itu."
"Dia akan segera mematuhi perintahku."
"Mech 12."
[*^*]
2 April 2026, jam 15:00, dua gadis mengunjungi sebuah mansion. Mereka berlari dengan cepat. Mereka sedang diincar karena ada seorang yang ikut campur dalam urusan itu. Namun, orang itu tidak membiarkan pengejar itu lewat, sehingga mereka bisa aman untuk sementara waktu.
Setibanya di mansion, dia membunyikan bel agar orang itu membukakan gerbang mansion pada kedua gadis bangsawan itu. Tak lama kemudian, ada seorang gadis berkulit hitam dan berambut hitam. Tubuhnya seperti Oneesan dan dia cukup pengalaman.
"Halo. Ada apa kalian datang kesini?" Tanya Aura yang menghampiri mereka.
"Biarkan kami masuk! Ada yang mengincar kami!" Jawab Sinta dengan panik.
"Tunggu dulu! Jangan terburu-buru! Aku akan membantu kalian. Tenang saja!" Bujuk Aura sambil membuka gerbang mansion.
"Aku tidak bisa menjelaskannya disini. Terlalu bahaya menetap disini. Jadi, kita bicarakan ini di dalam," usul Diana menyeret Sinta.
"Ayo! Aku antarkan kalian di ruang tamu. Aku akan menyiapkan teh untuk kalian," respon Aura menutup gerbang mansion dan segera pergi ke ruangan mansion.
"Jadi, anggap saja rumah sendiri!" Lanjut Aura diikuti Diana dan Sinta.
Kedua gadis itu mengikuti Aura dan segera menuju ke ruangan yang khusus untuk tamu. Mereka melihat di sekitar memasang wajah yang memukau karena keindahan dari mansion itu. Mereka akan dipandu oleh Aura ke ruang tamu yang elegan.
Setelah tiba, kedua gadis bangsawan duduk di kursi yang empuk. Aura ke dapur dan membuat teh. Setelah itu, ia membawa teh pada kedua gadis itu.
"Ada yang bisa dibantu?!" Tanya Aura menyodorkan teh pada kedua gadis itu.
Diana dan Sinta menerima dan menikmati teh yang ditawarkan. Mereka tidak terburu-buru dalam minum teh. Mereka masih tenang dan membahas sesuatu yang penting. Namun, hanya beberapa saat ia memberikan sesuatu informasi pada Aura.
"Ini gawat! Kami dikejar oleh seorang bawahan bangsawan. Zera dan Nina sudah menahan mereka. Tapi, ini tidak cukup untuk menahan mereka. Jadi, kami segera kabur ke tempat yang aman," jelas Diana dengan cukup gegabah.
__ADS_1
"Lalu, apakah kalian datang kesini untuk mencari perlindungan?” Tanya Aura.
"Iya. Benar. Kami harus menjauh dari pengejar itu. Kami harus melindungi diri dari mereka. Jadi, ….”
“... tolong! Kami akan melakukan apapun.Yang penting, jangan usir kami!” Bujuk Sinta pada Aura sambil membungkukkan badannya.
Aura hanya terdiam dengan permintaan itu. Dengan senyuman di lipstiknya, ia menerima permohonan itu dengan senang hati.
“Aku menerimanya. Aku sudah mengirimkan seseorang untuk membantu Zera. Dia memang anak yang baik dan tulen. Tapi, dia harus berusahalah keras agar mendapatkan sesuatu," jelas Aura menerima Sinta.
"Jadi, aku akan melindungi kalian."
"Benarkah?! Aku sangat berterima kasih padamu. Kamu memang …." Sinta benar-benar berterima kasih pada Aura.
"Tapi, kamu harus membantuku. Kalian akan …." Aura memotong pembicaraan.
"Aku siap membantumu," terima Sinta tanpa pikir panjang
Aura tidak perlu berkata apapun lagi. Diana menerimanya dengan segera. Ini membuat Aura mengerti dengan perasaan mereka berdua. Mereka takkan membiarkan orang lain menyakiti mereka.
"Ayo! Kita harus beres-beres dulu! Baru kita makan bersama Nona," ajak Aura kepada kedua gadis untuk membereskan mansion.
"Baik!" Mereka menerimanya.
Mereka keluar dari bangunan mansion dan merawat bunga yang subur di musim semi. Mereka menyiram tanaman dan memotong rumput yang sudah membesar itu. Mereka tidak keberatan dengan tugas yang seperti itu.
Mereka menikmati aktivitas itu
[*^*]
Jam 16:12, di sebuah apartemen nomor 301, aku hanya terdiam di kamar dengan sebuah memori yang tidak pernah aku lupakan. Aku melihat suatu bayangan dan memori yang pecah beberapa waktu yang lalu.
Aku mengingat sesuatu yang tidak seharusnya aku ingat. Aku hanya melihat sebuah kegagalan yang tidak ku ketahui. Aku tidak mengerti kenapa aku menjalani kehidupan yang penuh dengan kegelapan dan kegagalan. Aku sudah mengecewakan dua wanita yang sangat penting. Ini sudah cukup untuk menghancurkanku.
Konflik dan keputusasaan menghantuiku. Meskipun Akishima berada di sampingku, aku tidak bisa berdiam diri dalam sebuah kesalahan yang tidak akan pernah kumaafkan. Aku membuat kesalahan yang membuat mimpi buruk semakin menggila.
Aku sudah tidak tahan dengan masalah ini. Ini membuatku ingin bunuh diri dalam sebuah kegelapan. Aku tidak peduli apakah Akishima akan mencariku lagi. Aku hanya ingin … menghilang dari sini sekarang juga.
Aku tidak punya pilihan yang lain. Aku ingin melupakan mereka semua. Aku … tidak butuh lagi.
Aku melihat bayangan yang terjadi sebelumnya. Aku melihat Aurora memeluk Evelyn yang tidak bisa tertolong lagi. Aku malah memberikan usulan agar Evelyn meninggalkan Moskow.
Hasilnya, sangat kejam. Aku membuat usulan itu menjadi kenyataan. Aurora sangat sedih dengan kepergian Evelyn. Aku tidak mengerti kenapa aku melakukan ini. Aku hanya melakukan hal yang terbaik.
Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu siapa yang menyebabkan semua ini. Karena sosok itu, membuat Evelyn menjadi seorang robot. Robot dalam kesan yang paling terburuk. Ini yang membuat Evelyn yang mengurung dirinya di kamarku.
Ini semua salahku. Aku membuat keputusan yang amatir ini.
Ini merupakan hal yang tidak bisa dimaafkan. Aku menyakiti Evelyn dan mengurangi jumlah siswi di akademi. Ini bukan berarti aku harus terdiam dan menangisi semua ini. Aku membuat semua ini. Aku tidak mengerti kenapa aku melakukan hal ini. Tubuhku bergerak sendiri.
Ini saatnya … aku memperbaiki semua itu.
Itulah yang kupikirkan.
Aku segera menuju ke dapur untuk mengasah pisau yang kugunakan untuk membunuh. Kemudian, aku mengecek semua makanan yang tersedia untuk kebutuhan militerku. Aku tidak keberatan dengan semua ini.
Setelah menyiapkan semuanya. Aku segera mengenakan jas hitamku sebagai rompi untuk membuat peluru musuh tidak mengenai tubuhku. Aku juga mengenakan sarung tangan milikku. Setelah itu, aku mengecek semua senjata milikku.
Semuanya sudah siap. Peluruku masih penuh. Pistolku juga. Jadi, aku menyimpan senapanku seperti menyimpan pedang di punggung.
Jam 17:00, aku sudah siap melancarkan aksiku. Aku sudah mengenakan semua peralatan militer. Aku membuka pintu dan meninggalkan tempat yang tidak akan kembali lagi. Aku meninggalkan apartemen, dan seorang yang sudah aku anggap itu penting.
Rencananya, aku membunuh bangsawan sialan itu lalu meninggalkan Moskow dan berjalan ke Siberia. Itu tempat yang dingin agar mata-mata tidak bisa mengincarku lagi. Aku tidak membuat kesalahan yang sama lagi.
Aku sudah bertekad untuk memberi pelajaran pada bangsawan sialan itu. Aku tidak boleh membiarkannya hidup. Aku akan membunuh mereka semua yang telah membuatku menderita.
Aku meninggalkan bangunan yang penuh dengan apartemen. Aku berjalan di sore hari dan menyembunyikan identitasku. Aku menyembunyikan diri dari siapapun. Aku tidak boleh memberitahu keberadaanku pada siapapun.
Aku bergerak di bawah bayangan. Mencari informasi yang tidak mereka ketahui. Mereka tidak sadar dengan perbuatanku. Aku tidak peduli mereka masih hidup atau tidak. Aku akan mencari mereka dan membunuhnya.
Aku sudah tahu lokasi rumah mewah itu. Semenjak Hanna mengirimkan sesuatu padaku, aku pergi ke alamat Evelyn. Ini membutuhkan 30 menit untuk berjalan kaki. Bisa saja menempuh selama 1 jam penuh.
Aku berlarian ke sebuah gang yang pernah dikunjungi sebelumnya. Aku mencari Akishima yang menghilang saat itu. Aku sudah kelelahan dan memutuskan untuk pulang ke apartemen.
Aku tidak bisa melupakan mereka semua. Ini terlalu mengerikan jika aku mengingat semua kejadian itu secara berulang. Aku hanyalah seorang pembunuh yang akan menghabisi nyawa bangsawan Mereka sama seperti seorang bangsawan yang memiliki kekuasaan.
Namun, itu tidak berlaku bagiku. Aku sudah muak dengan semua ini. Karena mereka, aku kehilangan Evelyn dan membuatku tidak bisa tidur tenang.
Dengan langkah kakiku, aku akan membawa mereka ke neraka. Aku tidak akan memaafkan mereka. Sudah cukup dengan semua kehidupan tidak adil ini!
Aku akan menghabisimu, Dasar Sialan!
__ADS_1