Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Mimpi Buruk dan Trauma : Ketakutan Siswi Akademi 1,2


__ADS_3

Jam 15:23, Sheeran berpaling dari Aurora dan Akishima. ia sudah tidak bisa bertemu lagi dengan mereka karena Sheeran sudah tidak peduli lagi denganku. Ia menghindari sentuhan itu dan bergerak menjauhi kedua gadis itu.


“Sheeran. Ada apa denganmu?” Tanya Aurora tidak sempat menyentuh Sheeran.


“Hei! Kenapa kamu menghindari dari kami?!” Tanya Akishima memarahi Sheeran.


Sheeran terdiam saja. Ia hanya berjalan keluar dan meninggalkan mereka yang memerlukan bantuan Sheeran.


“Kalian tidak perlu mencariku lagi! Aku sudah tidak bisa bertemu dengannya. Aku sudah tidak cocok dengan monster itu," putus Sheeran dengan egois.


"Hah?! Apa yang bicarakan?! Aku tidak mengerti maksudmu," tanya Akishima mengoceh dengan cerewet.


Sheeran tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya bergerak pulang dan tidak peduli lagi. Dengan sisi gelapnya, membuatnya tidak bisa menoleh ke belakang.


"Hoi! Dasar Janda! Apakah kau membiarkan Rivandy menderita selamanya?! Apakah kau puas dengan itu?!" Tanya Akishima meneriaki Sheeran.


"Aku sudah berusaha keras untuk menghibur Rivandy. Tapi, kami tidak bisa melakukan tanpamu. Aku mohon padamu untuk datang kemari! Kau tidak akan menyesal kalau kamu membantuku," mohon Aurora membungkukkan badan ke Sheeran.


"Ayolah! Kalau kamu tidak datang, Rivandy akan direbut lagi. Dia …." Ucapan Akishima terpotong.


"Berisik! Aku tidak mau mendengar tentangnya Rivandy lagi. Aku sudah muak dengan keberadaannya! Kenapa kalian tidak mengerti juga?!" Tanya Sheeran tidak menoleh ke siapapun.


Mereka berdua terdiam dengan teriakan itu. Mereka hanya berdiri kaku dengan gelombang teriakan yang dibuat oleh Sheeran. Akishima mengangkat bicaranya dan segera menyadarkan gadis yang selalu bertengkar dengannya.


"Memang. Aku takut padanya. Dia sudah membunuh orang dengan sadisnya. Ia bahkan memotong tangan gadis itu dan segera membunuhnya. Ini mengingatkanku pada seseorang yang aku kenal sebelumnya. Aku sering melihat darah pada saat itu."


"Aku bahkan pernah diperkosa oleh teman yang kupercaya. Mereka meninggalkanku dan aku sendirian dengan tubuhku yang hina itu. Jadi, aku tidak bisa percaya seseorang lagi. Aku memang ditakdirkan untuk menjadi gadis yang paling hina."


"Tapi, dia adalah 仲間-ku (Nakama-ku). Aku tidak membiarkannya mati dengan penuh penderitaan. Aku akan membuatnya tenang untuk sementara waktu. Dia sudah sama seperti orang yang ingin aku sayangi. Aku ingin sekali cepat lulus dan melamarnya. Itu bisa membuatnya lebih baik." Akishima mulai mencurahkan perasaannya.


"Jadi, kalau kau tidak membantu, aku tidak segan menghajarmu dan tidak membiarkanmu pergi begitu saja. Kau tidak bisa lari dari tanggung jawabmu," lanjut Akishima seketika berubah menjadi Tateyama Ayano.


"Kau boleh menghinaku sebagai Gadis Murahan, Gadis Janda, atau semacamnya. Tapi, kalau kau menghina 彼氏-ku, aku tidak memaafkanmu." Sosok Akishima menjadi menyeramkan.


Sheeran mendengar curhatan dari Akishima. Aurora hanya menatap Akishima dengan sesaat. Ia menjadi paham karena dia sudah mendapatkan jawaban dari semua permasalahan itu. Jadi, Aurora segera mengutarakan semua itu. Ia segera membujuk Sheeran untuk membantunya.


"Aku juga. Aku sudah muak dengan bangsawan yang aku benci. Dia mempermalukanku dan melucuti pakaianku. Alhasil, aku menjadi depresi karena merasa ketakutan. Aku sudah tidak percaya dengan pangeran di buku dongeng itu. Jadi, aku selalu hidup dalam ketakutan akan perselingkuhan itu." Aurora menceritakan masa lalunya yang kelam itu.


"Namun, karena Rivandy membunuh Richard dan bangsawan sialan itu, aku menjadi tidak khawatir lagi. Aku tidak perlu menghindari darinya. Aku tidak bisa meninggalkannya dengan penuh luka yang ku buat. Karena aku pernah menyakitinya, dia tidak pernah berteriak kesakitan. Ia hanya terdiam dengan penuh luka itu."


"Meskipun ia adalah monster, aku merasa lebih tenang selama ia berada di sisiku. Aku juga tidak keberatan kalau dia mengambil keperawananku. Aku justru senang kalau aku hamil dan menjadi miliknya." Aurora mulai tersenyum sambil menahan air matanya.


"Soalnya, … dia sudah memberikan cincin ini padaku. Aku memakainya agar aku menjadi miliknya. Aku tidak perlu cemas sekarang. Aku tidak ingin mengalami kejadian yang terulang kembali. Dia sudah mengingatkanku pada hal ini sebelumnya. Aku tidak mau Rivandy berakhir seperti Evelyn."


"Aku tidak akan mengulangi kejadian yang sama lagi." Aurora teringat dengan Evelyn yang sudah pergi meninggalkan Moskow.


Dengan curhatan dari Aurora, membuat Sheeran semakin marah. Ia tidak mengerti kenapa mereka selalu memaksanya untuk berurusan denganku. Maka dari itu, ia berbalik badan, mengambil senjatanya, dan mengarahkan kepada kedua gadis itu.


"Apa yang kalian pikirkan?! Kenapa kalian masih saja melindunginya?! Kalian tidak perlu melakukan hal itu lagi!" Sheeran menahan diri dengan menarik pelatuknya.


"Kalian tidak mengerti dengan ketakutan yang disebabkan oleh iblis itu? Aku sudah sadar sebelumnya bahwa dia tidak akan cocok pada siapapun juga. Kenapa kalian masih terus saja curhat seperti anak kecil?!" Tanya Sheeran dengan mata yang semakin pucat.


"Soalnya, aku … tidak mau lagi. Aku sudah … terlanjur menyerahkan semuanya padanya. Aku tidak bisa lagi bersamanya," lanjut Sheeran melakukan tembakan kepada Akishima.


Tembakan peluru itu melesat menuju dahi Akishima. Namun, dengan kekuatan Kenbunshoku no Haki milik Akishima, membuat peluru itu melesat menuju ujung akademi. Akishima dengan tegasnya mengejek Sheeran.


"Apa kau sudah gila? Kau tidak bisa menembakku, dasar Janda Murahan!" Olok Akishima mengejek Sheeran.


"Berhenti memanggilku begitu!" Sheeran melakukan tembakan kepada Akishima.


Aurora hanya terdiam dengan drama itu. Ia tidak tahu kekuatan apa yang dimiliki oleh Akishima, sehingga dia bisa menghindari peluru yang mendekat dengan mudah. Akishima sudah terbiasa dengan tembakan peluru itu. Jadi, dengan kesal, Akishima terpaksa melawan Sheeran.


"Kalau begitu, … aku akan meladenimu!" Akishima segera mengeluarkan snipernya dan mengenakan syal merahnya.


Akishima dan Sheeran melakukan baku tembak. Aurora berpihak pada Akishima, sehingga menjadi pertarungan yang sengit kembali. Mereka berlarian dengan arah yang tidak beraturan sambil menarik pelatuk. Banyak peluru yang melesat di pertarungan itu


Sheeran bersembunyi dan mulai bergerak untuk melakukan bidikan pistolnya. Aurora dengan Koch UMP miliknya. Akishima bergerak dengan cepat sambil membidik Sheeran. Sheeran terpojok. Ia masih melakukan tembakan pada Aurora yang sangat gesit itu.


"Rupanya kamu masih lemah seperti anak bayi. Lebih baik, kau menjadi gadis yang murah dan habiskan hidupmu untuk pria belang itu!" Akishima mendidik perut Sheeran.

__ADS_1


Peluru 300 Winchester Magnum melesat dengan cepat dan mengenai perut Sheeran. Namun, Sheeran tidak terluka sedikitpun. Peluru itu hanya mengenai seragam Sheeran saja. Aurora maju ke depan dan segera menembak kepala Sheeran. Sheeran menghindar dan membalas tembakan peluru 5,7 x 28 mm


"Menyerahlah, Sheeran! Kau tidak akan bisa mengalahkan kami." Aurora memperingatkan Sheeran untuk menyerah.


"Kenapa kalian selalu saja ikut campur?!" Tanya Sheeran mengisi amunisinya.


"Karena kau selalu saja menyebalkan dengan tingkah mesummu itu!” Jawab Akishima mulai mengarahkan senapannya ke Sheeran.


Sheeran semakin marah Ia mengarahkan senjatanya pada Aurora dan Akishima dengan kedua pistolnya. Ia menembak peluru ke arah Akishima. Namun, Akishima mulai melompat dan salto sambil mengeluarkan peluru dari senapannya.


Aurora tidak membiarkan Sheeran menghindar begitu saja. Dia maju ke depan dan menembak perut Sheeran sekali lagi. Sheeran terkejut dengan keberadaan Aurora. Peluru Koch UMP melesat ke perut Sheeran. Ia tidak bisa menghindar lagi.


Jadi, Sheeran terkena tembakan itu dan terhempas ke belakang. Dengan hempasan itu, Akishima tidak menunggu lama lagi. Ia segera mencari posisi yang tepat dan segera melakukan tembakan yang cepat.


“Rasakan ini! Tateyama Ayano : Gomu-Gomu no Rifle!”


Peluru 300 Winchester Magnum melayang ke arah dada Sheeran. Sheeran tidak bisa menghindar lagi. Namun, ia segera mengarahkan pistolnya ke samping dan membidik sesuatu.dari luar.


“Rasakan ini!” Sheeran menarik pelatuknya dan pelurunya keluar dengan cepat.


Peluru yang dilancarkan oleh Sheeran segera melesat dan berbanding terbalik dengan Akishima. Dengan itu, peluru Akishima dan Sheeran segera berseteru dan memantul ke arah yang berlawanan.


Akishima yang mendengar pantulan dari peluru itu melancarkan serangan kembali. Sheeran mulai membalikkan badannya dan mendekatkan diri dengan kakinya. Setelah itu, ia segera melakukan kerusakan pada Aurora.


Aurora segera menghindar dengan cepat. Lalu, mulai maju dan menembak dada Sheeran dengan peluru Koch UMP. Sheeran masih berdiri dan segera menembak dada Aurora. Ia juga akan membuat luka tembakan yang akan terlukis di seragam akademi.


Namun, Aurora lebih lincah daripada Sheeran. Ia bisa menghindari tembakan yang sangat dekat. Ia salto membelakangi Sheeran dan segera melakukan tembakan dengan perhitungan matematika.


Sheeran berbalik badan dan tidak menyadari bahwa tembakan Aurora itu mengenai dadanya. Sheeran merasakan luka yang ada di dadanya. Jadi, Ia kehilangan tenaganya dan menjatuhkan pistol Five Seven dari tangannya menuju lantai.


Akhirnya, Sheeran tersungkur kaku dengan luka kecil di dadanya. Ia tidak bisa berdiri lagi karena tembakan Aurora membuat Sheeran tidak bisa bergerak lagi. Jadi, Akishima bisa tenang dengan tersungkurnya Sheeran.


Sheeran mencoba untuk lari dari mereka berdua. Namun, Akishima menembak di sekitar Sheeran agar Sheeran tidak bisa lari lagi. Aurora mendekati Sheeran dengan tatapan yang menyeramkan bagi sebagian orang.


“Kau takkan bisa mengalahkanku, Sheeran. Kau masih amatir dalam militer,” jelas Aurora berdiri di hadapan Sheeran yang tersungkur.


“Sekarang, aku akan memaksamu sekarang juga,” lanjut Akishima mendekati Sheeran.


“Bukan dia yang menjadi iblis. Aku sudah menjadi monster karena takdir yang memintaku menjadi seorang yang menyeramkan.” Aurora menunjukkan sosok yang menyeramkan sepertiku.


”Lagipula, Rivandy takkan pernah menyakiti siapapun. Ia hanya … membunuh bangsawan yang ia benci saja,” jelas Aurora memanjangkan rambutnya.


Dengan penjelasan Aurora itu, menjadi Sheeran lebih marah lagi. Ia mengambil pistol di lantai dan segera menembak Aurora. Ia sudah melihat celah Aurora yang cukup lebar.


Dengan itu, ini kesempatan yang sempit untuk membalikkan keadaan.


Namun, pada saat itu. Akishima sudah bersiap dan mengarahkan peluru 300 Winchester Magnum ke arah pistol Five Seven. Dengan laju pistol yang cepat itu, membuat pistol Five Seven terpental ke udara dan mengarahkannya ke tembok.


Pistol itu melayang dan mengenai tembok. Dengan pantulan itu, pistol segera bergerak menjauhi Sheeran sedang tersungkur itu. Sheeran segera ketakutan karena ia tidak bisa mengambil pistolnya.


“Kau tidak bisa lolos dariku. Gadis yang lemah sepertimu tidak akan bisa mengalahkanku. Jadi, siapa yang murahan sekarang?” Tanya Akishima memegang senapannya dan berhadapan langsung dengan Sheeran.


Sheeran hanya terdiam sambil menahan kekuatannya. Ia tidak menyangka bahwa dua gadis yang ada di hadapannya memberinya pilihan kepada Sheeran untuk melakukan sesuatu.


“Hanya dua pilihan.Ikuti kami dan kita bersama-sama menyembuhkan Rivandy atau kau pergi dari sini dan jangan pernah dekati Rivandy lagi?” Aurora memberikan keputusan kepada Sheeran.


Sheeran tidak menjawab. Ia hanya terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Aurora itu. Akishima hanya melihat Aurora memberikan pilihan yang cukup untuk masa depan. Ia juga tidak membiarkan Sheeran berbuat seenaknya.


“Jawablah!” Aurora menendang kepada Sheeran sampai terhempas dan mengeluarkan darahnya.


Sheeran terhempas ke udara dan mengeluarkan darah dari wajahnya. Selang beberapa detik kemudian, tubuh Sheeran menyentuh lantai sehingga membuat Aurora maju dan menjadi liar.


“Aku akan membuka semua pakaianmu kalau kamu tidak menjawab!” Aurora segera mendekati Sheeran dan mengacak pakaian Sheeran.


Sheeran masih memberontak. Ia mencoba berteriak dan menahan diri agar pakaiannya tidak terlepas dari tubuh Sheeran. Aurora tidak peduli. Ia menghancurkan martabak Sheeran yang sudah hampir rusak.


Akishima segera menghampiri Aurora yang sedang merobek pakaian Sheeran yang terkelupas. Ia sudah mengerti dengan Aurora yang selalu memaksakan dirinya karena ia ingin membuatku lebih baik.


“Aurora. Sudah cukup!” Cegah Akishima membuat Aurora menghentikan pemberontakan itu.

__ADS_1


“Tinggalkan saja murahan ini! Dia sudah tidak pantas untuk kita ladeni,” lanjutnya menyimpan senapannya di belahan dadanya.


Aurora mendengar semua perintah Akishima. Menjauhi Sheeran yang pakaiannya sudah berantakan dan terlepas sebagian, sehingga tubuh murahan Sheeran terlihat oleh kedua gadis itu.


“Aku anggap itu pilihan yang kedua,” lontar Aurora segera berpaling dari Sheeran.


Mereka menarik kembali senapan mereka dan meninggalkan Sheeran karena Sheeran sudah tidak punya pilihan untuk membantunya. Sheeran hanya terdiam seperti wanita murahan.


“Tunggu!” Cegah Sheeran tidak membiarkan Aurora dan Akishima pergi meninggalkan Sheeran.


“Kenapa? Kenapa? Kenapa kalian melakukan semua ini?” Tanya Sheeran menahan air matanya.


“Untuk apa kalian melakukan ini?!”


“Kalian pikir kalian akan melakukan ini untuk Rivandy?”


“Kalian tidak akan pernah menyembuhkan Rivandy! Orang seperti kalian hanya membuatnya lebih buruk. Lebih buruk daripada iblis sekalipun!”


“Kalian sama saja seperti Rivandy! Kalian menunjukkan aura yang mengerikan itu. Kalian hanya seorang … gadis yang tidak pernah bahagia selamanya.”


Teriakan Sheeran menggelegar sepanjang lorong akademi. Teriakan itu membuat mereka terhenti langkahnya. Mereka memasang wajah gelap dan suram karena mereka sudah tidak peduli dengan Sheeran.


Aurora dan Akishima hanya terdiam dengan teriakan Sheeran. Mereka tidak pernah ragu dalam melakukan sesuatu. Karena … mereka melakukan ini semua untuk aku. Karena Sheeran menolak, tidak ada pilihan lain lagi.


“Kau sudah membuat pilihanmu sendiri. Kau tidak bisa menghalangi kami,” jawab Aurora meninggalkan Sheeran yang tergeletak dengan seragam akademi yang setengah terbuka.


“Aku tidak peduli lagi dengan murahan sepertimu. Lebih baik, jangan dekati Rivandy dan jual saja tubuhmu itu!” Lanjut Akishima segera menghilangkan diri dari lorong akademi.


Sheeran terdiam dengan pakaian yang setengah terbuka. Ia tidak bisa bergerak untuk sementara waktu. Tidak ingin mengalami kejadian seperti ini lagi. Karena aku, … Sheeran menjadi ketakutan.


“ ….” Sheeran menahan tangisannya.


“Apa yang telah kulakukan?” Tanya Sheeran pada dirinya sendiri.


“Kenapa mereka melakukan sejauh ini?”


“Tidak ada pilihan lain.”


“Aku sudah kehilangan harapanku lagi. Aku tidak bisa membuat sesuatu lagi. Sekarang, aku hanyalah gadis yang tidak memiliki harapan lagi.”


“Tidak ada Pangeran lagi. Aku hanya melihat ilusi saja.”


Sekarang, aku adalah … gadis murahan ~ Sheeran Chezka..


Jam 17:23, Sheeran berdiri dan membereskan kekacauan ini. Ia juga tidak memperbaiki seragam akademi yang setengah terbuka itu. Ia memperlihatkan pakaian dalam di tengah seragam yang rusak itu.


Jam 17:29, Sheeran meninggalkan akademi dan pulang ke apartemennya. Ia berjalan dengan penuh depresi karena ia tidak menyangka kehidupannya telah hancur. Ia juga dibayangi ketakutannya karena tidak ada yang bisa ia lakukan.


Ia tidak peduli dengan penduduk Moskow yang pulang ke rumah mereka masing-masing. Ia memandang dengan wajah suram yang tidak akan kembali lagi.


Jam 17:47, Sheeran tiba di apartemennya. Ia membuka pagar dan melihat Bibi Anita yang menyiram bunga di tengah musim semi. Ia menghampiri Sheeran yang penuh berantakan itu.


“Sheeran. Kau terlambat lagi. Apakah kamu mengikuti klubmu sampai larut begini? Lagipula, ada apa denganmu sampai pakaian berantakan begini?” Bibi Anita segera merapikan seragam Sheeran yang berantakan itu.


“Bibi. Aku ke apartemen dulu. Tidak usah mengkhawatirkanku! Aku baik-baik saja,” tolak Sheeran membohongi Bibi Anita.


“Baiklah! Jangan lupa mandi dan bersihkan dirimu! Aku sangat khawatir kamu kenapa-kenapa,” saran Bibi Anita agar Sheeran tidak menjadi gadis murahan.


Sheeran mengangguk dan pergi ke apartemennya. Rin sudah masuk ke apartemennya setelah mengurus dan merawat bunga yang sudah mekar itu. Ia juga sudah beristirahat di apartemen.


Sheeran memasuki apartemennya dan segera menutup kembali pintu apartemen. Ia tidak mandi atau apapun. Ia hanya berbaring dengan seragamnya yang berantakan itu. Melepaskan pakaiannya dan tidak akan mengenakannya lagi. Hanya seragam akademi yang berantakan di lantai kamarnya.


Ia segera mengenakan selimut dan mulai mengucurkan air matanya dengan derasnya. Ia memeluk bantal sebagai pengucuran air matanya. Ia menempatkan bantal di wajahnya, sehingga ia mulai mengucurkan air mata secara sendirian.


"Aku takut. Aku tidak bisa lagi."


"Mereka benar. Karena Rivandy, aku sudah tidak perawan lagi. Aku tidak bisa berada di sampingnya. Aku ingin sekali menjadikan dia sebagai suamiku. Tapi, sudah terlambat. Aku hanya gadis murahan." Sheeran mulai menangis keras karena ia memilih pilihan untuk menjauh dariku.


Setelah menangis keras, ia hanya terdiam di ranjangnya. Ia hanya melihat tubuhnya yang sudah rusak dan berantakan itu. Ia hanya memandang tubuh itu dalam waktu yang lama.

__ADS_1


Ia meraba tubuh itu dan melupakan semuanya. Ia melatih diri untuk menjadi seorang murahan. Ia sudah memutar video porno sebagai materi untuk menjadi gadis murahan. Itu adalah pilihan Sheeran.


Maafkan Aku, Rivandy! Aku ... tidak bisa bertemu lagi denganmu ~ Sheeran Chezka.


__ADS_2