Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Makanan : Seleksi 1,2


__ADS_3

15 November 2025, jam 10:20, semua peserta sudah mengumpulkan hidangan mereka. Mereka menyerahkan masakan yang ditutupi oleh penutup meja yang terbuat dari kaca. Tidak terkecuali peserta dari semua angkatan untuk merebutkan kursi mereka.


Mereka yang sudah mengikuti seleksi duduk di ruang tunggu untuk menunggu hasil komentar yang akan dikirimkan oleh aplikasi Gmail. Kemudian, mereka mengevaluasi hasil mereka agar bisa menjadi lebih baik lagi.


Pada saat itu, aku sedang duduk dan menjernihkan pikiranku. Aku yang sedang terduduk sambil menunggu pengumuman aplikasi Gmail. Aku memutar musik yang sudah diputar di Youtube Music dan segera memainkanya.


Ada seorang peserta yang sedang menghampiriku dan menanyakan sesuatu padaku. Tidak lupa seorang gadis yang sedang mendekatiku sambil membuatku menjeda musik yang kuputar.


“Yo! Rivandy. Kamu masak apa tadi?” Sapa Zhukov mendekatiku.


“Venison Roast. Dengan anggur dan madu sebagai saus. Lalu, aku menggunakan sedikit minyak dan sebuah sayatan lembut pada atasan daging itu,” jawabku membayangkan apa yang kuhidangkan.


“Wah! Kamu memasak yang itu? Aku ingin mencobanya."


“Kau bisa mencicipinya jika kamu mau,” responku mengelus bahunya membuat Saphine tersipu malu.


“Wee, Pangeran! Bagaimana kabamu?” Sapa Elaviana.


“Kalau tidak salah, Elaviana Frimala, kan?” Tebak sambil memikirkan namanya sebelum berkompetisi.


“Iya. Benar sekali. Saya kenal kamu dari awal bertemu,” jawab Elaviana dengan akrab.


“Pangeran. Kamu sangat cerdas. Aku ingin menjadi kekasihmu. Pangeran,” puji Karmila dan mengambil surat nikahnya padaku.


“Pangeran. aku juga,” lanjut Elaviana menyodorkan surat nikahnya padaku.


Dengan terpaksa, aku menerima surat itu. Lalu, Saphine juga menyerahkan surat nikahnya padaku. Zhukov malah tersipu malu dengan aku yang selalu di dekati banyak gadis. Aku membacanya dengan seksama sebelum dipaksa untuk menandatangani surat itu.


Di tengah pembicaraan yang tidak bisa aku mengerti, seorang gadis yang merebut kertas itu dari tanganku dan menyita di tangannya. Bella juga membaca surat itu pada saat Shiori mengambil surat itu.


“Ara-Ara, Kalau kamu mau mendekati Pangeran, hadapi aku dulu!” Tantang Shiori dengan wajah yang mengintimidasi merobek surat nikahnya dan membuang ke tempat sampah.


“Wah! Ini dia. Mengganggu saja  Tolong kembalikan kertasnya! Pangeran mau menulis,” tegur Elaviana memarahi Shiori.


“Iya. Jangan halangi kami, Pelakor!” Lanjut Karmila.


“Heh?! Pelakor?! Kalian sama saja. Kalian tahu, dia adalah milikku. Kami mandi bersama." Shiori mulai terdebat.


“Kau tidak bisa mendapatkan Onii-chan. Dia sudah mengintipku di kamar ganti. Jadi, Onii-chan sudah menjadi milikku. Kalian paham?” Ancam Bella sambil mendekati tubuhku dengan mengelus perutku.


“Hei! Jangan menggoda Pangeran!” Suruh Elaviana untuk berhenti.


“Apa? Kau melarangku? Ya sudah! aku punya ide. Siapa yang menang bisa mendapatkan Rivandy,” cetus Shiori menantang gadis yang ingin melamarku.


“Siapa takut?” Terima Karmila tanpa ada keraguan sekalipun.


“Saya akan kalahkan kau dan mendapatkan Pangeran ” tekad Elaviana dengan api membara.


“Anu. Maaf. Ri-Rivandy membuatku ingin menjadi dokter.” tutur Saphine dengan raut wajahnya yang memerah menggesekkan tubuhnya.


“Bukan kamu saja. Pangeran membuat saya jatuh cinta pandangan pertama,” sanggah Elaviana.


“Iya. Maka dari itu ....” Ucapan Kamila terhenti.


Nona Claveriska menghampiri kerumunan dan berseru, “Hei, Kalian! Pangeranku adalah tunanganku. Jadi, jangan ganggu dia!”


“Wah! Datang lagi, nih. Mau cari gara-gara nih,” seru Elaviana melihat tuan putri yang datang secara mendadak.


“Kalau begitu, tunjukkan diri kalian bahwa kalian pantas!” Adu Nona Claveriska dengan sombong.


Dengan gertakan itu, mereka yang mendengar hasutan itu segera beradu mulut dengan seorang putri. Zhukov dan Saphine hanya menonton pertengkaran itu. Bella hanya mendengarkan perdebatan itu sementara Shiori beradu mulut dengan penampilan seorang MILF-nya.


Pertengkaran pun semakin meluas. Aku lebih baik memutarkan musik dari aplikasi Youtube Music daripada mendengar pertengkaran mereka.. Aku memutarkan lagu barat genre pop dan jazz.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ada seorang siswi yang datang berkumpul untuk membicarakan sesuatu kepada peserta. Dia yang berkomentar pada lomba berlangsung sedang berhadapan langsung dengan peserta dengan gagah.


“Sate sate sate. Kembali lagi dengan saya hari ini. Aku ingin bertanya pada kalian, Bagaimana pendapat kalian mengenai lomba ini?” Tanya Fillia dengan penuh semangat.


“Menegangkan,” komentar peserta nomor 23.


“Biasa saja,” komentar peserta nomor 34 dengan datar.


“Sangat bau,” protes peserta nomor 21 menahan bau busuknya.


“Jantungku berdetak kencang melihat seorang pangeran,” komentar peserta nomor 42 dengan terkagum.


“Aku harap kalian tidak bertengkar kali ini. Kita datang kesini untuk mengakrabkan diri dan mencapai tujuan bersama, bukan saling menjatuhkan satu sama lain. Aku mengharapkan acara ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan.”


“Sate sate sate. Sekarang aku sudah berada disini untuk mengumumkan sesuatu. Pada hari Senin, 17 November 2025, peserta yang akan lolos ke babak penyisihan diwajibkan akan berada di akademi paling lambat jam 07:30. Jika ada yang terlambat, akan langsung didiskualifikasi.”


“Kemudian, kalian akan berkompetisi untuk mendapatkan kursi semifinal. Pada babak semifinal, peserta yang lolos harus menyajikan masakan dengan 2 bahan yang berbeda dan 2 bahan yang sama.”


“Misalnya, peserta semifinal dibagi dua untuk beradu. Pertandingan itu dilaksanakan dengan waktu yang bersamaan. Dua peserta menyajikan sayur dan dua peserta yang lainnya menyajikan coklat. Lalu, para juri harus memilih masakan dengan tema yang berbeda.”


“Pada saat lomba tadi, aku mencium bau yang tidak enak saat lomba berlangsung . Situasi itu adalah suatu kondisi yang tidak sengaja dilakukan. Jadi, kalian harus membiasakan diri untuk menghadapi rintangan itu.”


“Mengenai penilaian memasak ada 3. yaitu, kandungan gizi, bentuk hiasan, dan rasa masakan. Setiap poin pada penilaian itu sama, yaitu 11 poin pada setiap juri. Jadi, total nilai sempurna ada 99 poin.”


“Jika sampai ada kecurangan, kalian akan didiskualifikasi dan tidak diperbolehkan mendaftar tahun depan. Bentuk kecurangan antara lain, yaitu, mengacak bahan makanan pesaing, menyuap para juri, menggunakan bahan instan dan enak, menggunakan alat yang tidak disediakan dari pihak akademi dan lain sebagainya.”


“Ok. Hanya itu yang saya sampaikan. Ada pertanyaan? Meskipun pertanyaan yang aneh, aku tetap menjawabnya,” tuturnya dengan penuh percaya diri.


“Senpai, kenapa tubuhmu sangat besar?” Tanya salah satu siswi dnegan raut wajah yang mesum.


“Itu karena aku sering minum susu setiap hari. Wajar saja, tubuhku menjadi seperti ini,” jawabnya tanpa rasa malu.


“Senpai. Senpai pernah ikut Kompetisi BLUE tidak?” Tanya siswa yang menyimak itu dengan penasaran.


“Saya pernah mengikutinya, namun aku terpaksa mengundurkan diri karena aku terlalu bosan,” jawabnya mengingat pengalamannya.


“Aku belum punya pacar. Jadi, aku harus mencari orang yang setipe denganku,” jawabnya dengan penuh gairah.


“Senpai. Apakah kamu menyukai Pangeran?” Tanya siswi anggota Klub Pangeran yang mengikuti lomba.


“Tentu saja iya. Aku ingin sekali mengikuti Klub Pangeran. Hanya saja, aku haru mengembangkan tanggung jawabku sebaai ketua klub,” jawabnya.


“Apakah yang dilakukan Senpai setelah lulus akademi?” Tanya siswa itu mengangkat tangannya.


“Aku tidak tahu. Semoga saja PBB bisa memberiku petunjuk,” jawabnya mengangkat bahunya.


“Ayo. Ada pertanyaan lagi? Aku akan melayani kalian satu persatu."


“Apakah Senpai punya Telegram?”


“Tentu saja. Aku punya. Kalian bisa mendapatkan nomorku setelah babak seleksi berakhir,” jawabnya sambil memperlihatkan handphone miliknya.


“Senpai. Makanan yang kamu suka apa itu?”


“Hohoho. Tentu saja sate. Apalagi, sate rusa dengan matang,” jawabnya dengan sifat hiperaktifnya.


“Senpai. Kenapa Senpai menyukaiku?”  Tanyaku menyimak sesi tanya jawab.


“Karena ketampananmu, sikapmu, dan tubuh atletismu, tidak heran aku menyukaimu. Tapi, aku tidak akan membuat Perang Cinta semakin berlanjut.” jawabnya dengan tatapan yang menggoda.


Berbagai pertanyaan sudah dilontarkan. Beberapa pertanyaan yang aneh dijawab dengan bijak oleh Fillia-Senpai.


“Senpai. Senjata apa yang digunakan Senpai untuk latihan militer?” Tanya siswa yang berbadan tinggi.

__ADS_1


“Jawabannya, spatula dan penggorengan. Spatulaku bisa memotong material apapun. Lalu, ada penggorengan yang terbuat dari vibranium. Jadi, aku dijuluki sebagai Cook Spartan,” jelasnya.


“Senpai. Apakah kamu masih suci?” Tanya Andela dengan guyonannya.


“Ya iyalah! Aku belum tersentuh oleh siapapun. Aku hanya ingin disentuh oleh Pangeran,” jawab Filia-Senpai tidak tersinggung.


Berbagai pertanyaan yang tiada habisnya. Aku ingin menanyakan sesuatu padanya dengan tema suatu informasi. Tapi, aku selalu direbut oleh peserta yang lain. Siswi yang sedang bertengkar itu segera bertanya padanya mengenai pengalaman Fillia-Senpai pada saat lomba memasak setahun yang lalu.


Filliq-Senpai menjawab, “Ara-Ara  Kalian ingin tahu pengalaman saya? Ceritanya panjang, lho,” sanggah Filia-Senpai


“Sudah! Ceritakan saja!”


“Ok, aku akan cerita hari ini."


“Pada zaman dahulu kala, ada seorang keluarga yang tinggal di gua. Mereka yang ….” Fillia-Senpai memulai ceritanya.


Kami mendengar cerita yang cukup panjang,berharap mendapatkan tips yang Fillia-Senpai alami meskipun ceritanya dari zaman batu. Aku mendengarnya dengan penuh konsentrasi. Begitu dengan peserta yang lainnya.


2 Jam kemudian, cerita Fillia-Senpai sudah berada dalam Zaman Kegelapan (Dark Age). Banyak peserta yang sedang lelah mendengar cerita itu. Mereka memilih untuk tidur dan berharap pengumuman seleksi akan muncul di handphone mereka.


Aku dengan santai mendengar ceritanya sambil merekam suaranya. Aku mengabaikan notifikasi dari handphone-ku dan segera mendengarkan ceritanya yang cukup panjang itu.


Untung aku menyetel kartu memori menjadi 256 Gb. Jadi, dengan ceritanya yang panjang itu, aku bisa mengambil hikmah dari cerita yang Fillia-Senpai beberkan.


“ … Pada saat nenek moyangku pergi ke kastil untuk melayani para Viking yang akan menyerang Inggris, dia melayani prajurit yang akan bertempur melawan prajurit Inggris. Mereka mengajaknya ke kamarnya dan ….” Cerita Filia-Senpai sudah sampai pada tahun 790.


Siapa saja akan tidur dengan cerita panjang ini.  Namun, tidak denganku. Aku tidak ingin melewatkan ceritanya. Dengan cerita dari Fillia-Senpai, menjadi sedikit motivasi untukku


Menurutku, dia orang yang baik dan sangat hiperaktif. Dia bukan orang jahat yang selalu aku takutkan Dia seperti orang yang berada di dekatku. Hanya saja, aku sedikit risih padanya.


[*^*]


Jam 15:10, di ruang tunggu. Filia-Senpai sudah menyelesaikan ceritanya. Sebagian besar peserta yang mendengar cerita itu, tidak bisa menahan kantuknya dan terpaksa tertidur di kursi mereka.


Aku yang sudah menyelesaikan mendengar cerita itu segera mematikan rekamanku. Aku menyimpannya di folder yang khusus dan segera mematikan handphoneku. Sementara itu,  Fillia-Senpai minum air putih sebelum berbicara setelah bercerita sekitar 5 jam.


“Begitu ceritanya. Apakah kalian sudah paham?” Tanya Fillia-Senpai


Tidak ada yang menjawab. Hanya aku dan Bella yang masih terjaga. Aku yang disandari oleh banyak gadis hanya terdiam dan tidak melakukan apapun selain mematikan rekamanku. Bahkan, Bella yang tidak tidur memegang tubuhku dengan erat karena saking lelahnya mendengar cerita itu.


“Whoah! Pangeran Rivandy menang banyak!” Teriak Fillia-Senpai melihatku terjaga dengan  banyak gadis yang tidur di sampingku.


Semuanya pun terbangun, mereka mendengar seruan itu dengan panik dan mencoba untuk menenangkan diri mereka. Setelah itu, mereka menegur Fillia-Senpai yang jahil itu. Suasana yang cukup ricuh.


Namun, pada saat itu, ada sebuah notifikasi yang ada di hadapan semua murid. Semuanya terkejut dengan hasil yang aku raih. Mereka melihat review juri yang mendapatkan respon positif itu.


[Peserta Pertama yang Lolos


 Nama: Rivandy Lex


 Kelas : I Saintek A


 Masakan : Venison Roast


 Rating : A+


 Skor : 90/99]


[Review :Masakan yang sangat menakjubkan. Para juri senang dengan masakanmu. Saking lezatnya, mereka ingin melihatnya sekali lagi. Namun, kamu harus mengatur ketepatan waktu. Jangan terlalu cepat!]


Lalu, mereka segera mengambil ponsel mereka dan mengecek hasil review dari para juri itu. Mereka ingin sekali pulang ke rumah karena sudah lelah. Para penonton sudah pulang ke kediaman mereka tadi siang.


Dengan hasil itu, mereka melihat hasil mereka yang menentukan babak yang akan dilaksanakan lusa pada jam 08:00.

__ADS_1


Apakah mereka lolos atau tidak?


Siapa yang lolos ... selain aku?


__ADS_2