Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Rivandy Lex 1,3


__ADS_3

Aku akan membunuhmu, Reinhardt!"


Gerard segera mengambil pedang miliknya dan menebas lenganku. Aku tidak menjerit setelah dia memotong lenganku. Aku tidak bergerak sedikitpun. Hanya menyisakan luka tusukan di lengan Aku hanya sebuah manusia yang tidak berharga. Banyak darah yang mengalir dengan sebuah penderitaan. Dengan keberadaan bangsawan, membuatku ingin menghancurkannya. Gerard mundur dan memberi peluang penjaganya untuk menghajarku sampai babak belur.


Aku menoleh penjaga memberikan pukulan di depan wajahku bergerak pelan-pelan dan menatapnya dengan serius. Lalu, menghindari pukulan dan berteriak kencang. Dengan tebasan pisau yang melesat, aku memotongnya seperti wortel. Aku melepaskan tebasan dengan keras, sehingga membuat penjaga itu berteriak kencang.


Teriakan itu membuat orang lain ketakutan sambil menutup wajah mereka. Tangan penjaga di depanku dimutilasi dan menjerit kesakitan. Aku menusuk dadanya dengan keras sambil berteriak. Dengan darah yang banyak keluar, membuat penjaga itu mati tersungkur.


"Terkutuklah kau, Anak Haram! Kau akan menyesal ini semua!" Teriak Rosalyn maju dengan langkah gegabah dan menusukku.


Richard dan Gerard membantu untuk memenggal kepalaku. Namun, aku menghindar dengan penuh luka dan segera menahan semua ingatan itu. Aku teringat pada masa lalu yang kelam itu. Dengan panggilan Reinhardt, membuatku ingin menghilang. Tidak ingin kembali lagi.


Sial! Percuma aku disini terus. Tidak ada yang tahu apa yang kurasakan. Dengan identitas yang diungkapkan, aku tidak punya siapapun lagi. Tidak ada yang biisa dilakukan. Aku tidak tahu apa yang terjadi sekarang.


Semua orang ketakutan dengan pembebasan dan pembunuhan penjaga SAD. Para bangsawan itu membujuk orang lain agar berkenan untuk memenggal kepalaku. Namun, sudah terlambat. Mereka sangat takut padaku. Mereka tidak tahu aku akan membunuh mereka dengan sadis.


"Aku akan menghancurkanmu, Reinhardt!"


Dengan teriakan dan tekad itu, Richard maju dengan frontal dan berniat untuk memenggal kepalaku. Ia mengayunkan pedang miliknya dan menargetkan leherku. Namun, aku menahannya dengan amarah dan segera memaksa Richard untuk mundur setelah ayunan pisauku.


“Kau! Diamlah disini! Janganlah memberontak! Biarkan aku membunuhmu, Anak Haram!” Teriak Richard mengarahkan pedangnya kepadaku.


“Aku akan menghajarmu dan memotong kepalamu. Lalu, kepala yang hina itu akan menjadi pajangan kepala rusa!” Rosalyn membuat celah untuk memenggal kepalaku agar mereka bisa memajang kemenangan mereka di perapian.


Namun, aku memotong lengan kiri Rosalyn seperti sayuran. Lengan yang dipotong jatuh ke tanah dan mengeluarkan darah yang deras. Gadis itu berteriak histeris karena tidak melihat lengan kirinya dan tatapanku yang seperti monster.


“Kyaa! Monster!” Jerit Rosalyn melepaskan pedangnya dan mundur dariku.


Aku bergerak dengan mata gelap. Menghampiri gadis yang ketakutan dan menendangnya tanpa ampun. Ia menangis keras karena merasa kesakitan pada alat vitalnya. Setelah itu, aku menendang kepalanya dan melakukan hal yang sama selama beberapa kali.


Gadis itu tidak bisa melawan lagi. Aku tidak peduli dan melanggar peraturan lagi. Tapi, ini kulakukan dengan terpaksa. Aku selalu melanggar semua ini. Sudah beberapa kali aku membencinya dan ingin menghancurkan jiwanya.


Richard dan Gerard semakin ketakutan. Mereka mengingatku saat aksi pembunuhan terjadi. Banyak orang yang tidak melihat adegan seperti itu. Bella memeluk Shiori karena melihat banyak mayat yang berserakan. Ini mengingatkan pada film horor yang mereka tonton.


Aku masih menginjak mereka dengan cepat agar dia tidak akan hidup lagi. Aku sudah muak dengan status bangsawan dan berharap mereka akan mati terbakar. Aku ingin kepala mereka terpotong dengan status hina mereka.


“Kuhancurkan kau, Reinhardt!!!”


Gerard melancarkan serangan dari pedangnya Ia mengarahkan pedang miliknya dan mengayunkan serangan ke arah leherku. Tusukan masuk ke dalam leherku. Dengan itu, dia akan memenggal seperti eksekusi Abad Pertengahan.


“Pergilah ke Jahanam, Reinhardt!”


Tusukan itu masih tidak mempan kepadaku. Masih belum kuat.


Dengan amarah dan kebencian, aku menendang pahanya dan memegang keras bajunya. Aku menghempaskan tubuhnya ke tiang lorong akademi dengan keras, sehingga kepalanya pecah dengan banyak darah.


Aku menoleh pada bangsawan dan menatapnya seperti iblis. Aku mendekati mereka dengan darah dan penderitaan. Aku tidak akan memaafkan mereka karena mengetahui identitasku.


Ini semua salah mereka.


“Diamlah, dasar Bodoh! Bangsawan Hina seperti kalian harus musnah selamanya!” Aku menyerukan penghinaan mereka.


Gerard tidak merespon apapun. Hanya berusaha ingin bergerak. Namun, dengan luka di kepalanya, hanya berbaring sambil memegang senjatanya. Aku menoleh dan menendangnya. Dengan hempasan itu, Gerard sudah tidak tertolong lagi.


“Penjaga! Habisi dia! Jangan sampai dia membunuh lagi!” Richard menggertak ketakutan yang ia alami.


Penjaga yang tersisa langsung mematuhinya dan bersiap menghajarku. Dengan lawan yang cukup banyak, aku memotong kulit mereka. Namun, mereka memukul tubuhku dan membuatku tidak bergerak lagi.


Pertarungan itu membuat siapa saja menjadi ketakutan. Aku mengeluarkan darah dari mulut karena selalu diinjak oleh para pesuruh. Aku tidak bisa bergerak dengan baik. Tulangku menjadi memar karena tendangan itu.


Biarkan saja! Tidak ada yang paham tentang perasaanku.


Aku berteriak dengan kencang dan berusaha melepaskan diri dari tendangan dan injakan para pesuruh itu. Aku membuat para penjaga itu menjauh dariku. Aku tidak ingin membuat mereka menjalankan rencana mereka.


Aku lari menghampiri mereka dan merobek leher mereka satu persatu. Aku berteriak dengan keras agar penjaga itu tidak berdaya. Aku tidak bisa bergerak lebih lama lagi. Namun, dengan mimpi buruk, mengubahku menjadi yang tidak diinginkan.


Penjaga jatuh satu per satu. Aku menjatuhkan mereka karena mereka adalah pesuruh kaum bangsawan. Pesuruh bangsawan mencoba untuk memukulku yang hampir sekarat. Dengan mata yang lincah, aku menghindari dan mengarahkan pisauku ke perutnya. Aku menusuk beberapa kali agar mereka tidak memiliki kesempatan untuk hidup lagi.


Semua orang melihat pertarungan, termasuk Bella dan Shiori, merasa heran dengan adegan pertarungan ini. Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan siswa dan siswi Kelas III selain aku, apalagi membunuh mereka dengan sadis.


Dengan mental lemah dan keberadaanku, Gerard dan Rosalyn tidak akan hidup lagi. Sebenarnya mereka baik-baik saja, tapi mereka kehilangan mental mereka dan mati begitu saja.


Richard melihat mayat berserakan dan darah memenuhi lantai akademi. Tidak ada pilihan lain. Dia menghadapiku dengan amarah dan dendam. Aku sudah membunuh banyak bangsawan karena aku membenci mereka. Dengan itu, Richard menantangku duel.


“Sialan! Kau sudah membunuh mereka semua, Reinhardt!”


“Aku akan menantangmu. Aku menantangmu bertarung hidup mati!”


“Aku tidak akan membiarkanmu hidup lagi!”

__ADS_1


“Kali ini, aku akan memenggal kepalamu sekarang juga!”


“Untuk Ratu Inggris, aku akan membawamu ke neraka!”


Dengan gertakan itu, Richard segera melancarkan teknik serangan kepadaku dengan keras. Aku tidak perlu menghindar. Aku maju ke depan sambil mengayunkan pisauku. Aku melancarkan serangan balasan dengan cepat. Pedang dan pisau saling beradu siapakah yang akan menang.


[*^*]


Pertarungan semakin berlanjut dengan kekalahan seorang bangsawan. Para bangsawan yang tidak bisa bertarung kehilangan nyawa mereka. Dengan mimpi buruk yang kulancarkan, mereka sudah tidak hidup lagi.


Secara mengejutkan, ketiga gadis itu sudah tiba di sebuah kerumunan. Mereka melewati kerumunan itu dan melihat kondisiku yang memburuk.


“Permisi! Aku mau lewat!” Aurora memasuki kerumunan dengan cepat.


“Argh! Ini terlalu banyak! Apakah mereka tidak melihat kita?” Keluh Akishima menerobos kerumunan.


“Aku tidak bisa melihat Sayangku! Jadi, minggirlah!” Sheeran memaksa diri untuk segera melewati kerumunan itu.


Mereka melewati kerumunan dan melihatku sedang bertarung dengan kumpulan bangsawan. Mata mereka tertuju pada seorang remaja dengan pisaunya.


“Hei, semuanya! Aku melihat Rivandy! Dia sedang bertarung melawan seseorang!” Seru Akishima melihat pertarungan itu dengan penglihatannya


“Mana dia?” Tanya Aurora mencoba untuk memperjelas penglihatannya pada pertarungan itu.


“Apakah Sayangku akan bertarung untuk merebutku?” Tanya Sheeran dengan mata cintanya.


“Tentu saja tidak, dasar bodoh!” Akishima menjawab dengan lesu.


“Aku rasa dia berbeda dari sebelumnya. Dia bukan Rivandy. Dia bukan Rivandy yang kita kenal," lanjutnya.


Saat Aurora dan Sheeran melihat pertarungan itu, membuat kejutan yang tidak diharapkan. Mereka sangat heran dengan aku yang sudah berubah. Mereka pikir itu bukan aku. Mereka melihat aku bertarung dengan lawannya hidup dan mati.


“Rivandy. Kamu ….”


[*^*]


Pedang dan pisau saling berayun dan menangkis. Kami mundur beberapa langkah dan mengayunkan pedang dan pisau dengan keras. Aku mempercepat ayunan itu dan segera menusuk perutnya.


"Akan kuhabisi kau sekarang juga!"


Richard berteriak dengan keras. Ia menebasku dan menghabisi dengan tangannya sendiri. Ia lelah dengan penjaga yang tidak berguna yang sudah menjadi mayat.


Richard mengayunkan pedangnya dan pedang itu menebas leherku. Ia berharap aku akan mati dalam beberapa detik. Namun, aku tidak bisa mati. Aku terlalu dini untuk mati terlebih dahulu. Lagipula, masih ingin berniat untuk menghilangkan nyawa bangsawan sialan itu.


"Matilah kau, Reinhardt! Aku akan mengeksekusimu sekarang juga!"


Richard melancarkan serangan terakhir dan berharap aku akan mati. Namun, aku menangkis pedang itu dan membalas serangan dengan kebencian yang sudah ku simpan beberapa tahun yang lalu.


Aku merasa kebencian tidak akan pernah pudar selamanya. Ini hanya disegel beberapa waktu yang lalu. Apa yang aku perbuat? Aku membuat mereka ketakutan dan membunuh mereka dengan darah bercucuran akibat tebasan pisauku yang mengerikan.


"Aku akan menghabisi kalian semua, Bangsawan Sialan!" Teriakku maju ke depan dan menargetkan perutnya.


Richard sudah tahu apa yang ditargetkan dari pisau itu. Dia segera melancarkan teknik pedang dan membuatku tidak bisa menyerang. Alhasil aku ditendang dan mundur beberapa langkah.


"Sialan kau, Reinhardt!"


Kami beradu serangan jarak dekat. Goresan pedang dan pisau menghempaskan tubuhku sampai beberapa langkah dan kami berteriak lebih.kencang. Aku tidak peduli dia masih hidup atau belum. Aku ingin menusuk perutnya dan membunuhnya.


"Aku tidak akan memaafkanmu, dasar bangsawan!" Teriakanku penuh dengan kebencian terhadap bangsawan.


Aku berlarian lalu memukul wajahnya dan menghempaskan beberapa meter panjangnya. Dia menerima luka fraktur di punggung dan mengalami sedikit retak pada rahangnya. Pedang yang ia pegang menjadi tergeletak di lantai.


Orang yang melihatnya tidak akan percaya dengan pukulanku. Pukulanku membuatnya terhempas dan tidak berdaya. Aku tidak bisa berkata apapun. Hanya ingin bertekad untuk membunuhnya. Bangsawan yang lemah harus mati dengan mengenaskan.


Shiori dan Bela heran dengan pukulanku. Bella mencoba untuk menahan air matanya karena ia takut. Shiori menatapnya dengan dingin dan gelap. Mereka tidak percaya aku yang sebenarnya adalah seorang pembenci bangsawan dan pembunuh sadis.


Akishima hanya terdiam kaku. Aurora merasa kasihan padaku dan dia mengingat orang yang mencampakkannya. Sheeran hanya terdiam sambil menahan air matanya karena ketakutan. Mereka bertiga tidak percaya bahwa aku membunuh mereka.


Ia berusaha bangun dari jatuhnya. Namun, tidak bisa. Padahal, pertarungan semakin berlanjut. Ia bangkit agar bisa bertarung lagi. Namun, aku menghampirinya dan segera menginjak perutnya. Orang yang menontonnya menjaga jarak dariku.


"Rasakan ini, dasar lemah!"


Aku menginjak perutnya berkali-kali dan membangunkannya agar bisa menginjak perutnya dengan keras. Ini digunakan untuk membantai orang seperti bangsawan.


"Orang bangsawan sepertimu pantas untuk mati!"


Aku berteriak kencang dan membantingnya. Aku mengambil pisau dan segera menusuknya dengan keras agar dia tidak akan hidup lagi. Tusukan pisau itu masuk ke dalam perutnya.


"Akan kau bunuh kau! Kau yang akan mati!"

__ADS_1


Aku berteriak sambil menusuk perutnya. Darahnya keluar dengan deras dan memenuhi pakaian yang gaya bangsawan. Aku tidak peduli. Aku terus menerus menusuk agar pisau yang kupegang dilumuri dengan darah.


"Kubunuh! Kubunuh!"


"Kubunuh! Kubunuh!"


"Kubunuh! Kubunuh!"


"Kubunuh! Kubunuh!"


Setelah aku menusuknya, aku memegang kerah bajunya dan ke tumpukan mayat para bangsawan dan pesuruh bangsawan. Setelah sampai, aku menghentakkan wajah bangsawan kotor itu ke lantai agar dia tidak tersadarkan diri.


"Mati!"


"Mati!"


"Mati!"


"Mati!"


"Mati!"


Setelah menghempaskan wajahnya ke lantai, kepalanya pecah. Darah keluar dan tidak dapat ditolong lagi. Aku melihat segera menginjakkan dengan keras agar darahnya kembali mengalir deras. Aku menusuk matanya agar ia tidak bisa melihat lagi.


Aku menghancurkan tengkoraknya dan membuatnya menjadi cacat.


"Matilah ke Neraka!"


Aku sudah membunuh orang lagi. Aku melanggar lagi. Tubuhku sudah dilumuri dengan darah. Hanya terdiam dengan ketakutan yang terjadi padaku. Aku sudah tidak akan melihat mereka lagi. Aku sudah membunuh mereka. Jadi, tidak ada yang boleh hidup dengan status bangsawan yang hina itu lagi.


Orang melihatitu sangat ketakutan. Aku yang berlumuran darah itu terasa jijik di depan mata mereka. Mereka sangat takut apa yang kulakukan. Dari situlah, ada sebuah suara dari siswi takut akan darah yang bercucuran.


"Pembunuh!"


"Jangan dekati aku lagi!"


"Pergi sana!"


"Jangan kembali lagi!"


"Aku tidak akan mau melihatmu lagi!"


"Akan kulaporkan kau dengan kepala sekolah!"


"Jangan lihat aku dengan matamu!"


Semua orang yang melihatku membenciku. Aku tidak peduli. Semua mengancamku. Aku tidak peduli. Semua orang ketakutan denganku. Aku tidak peduli. Aku hanya ini meninggalkan tempat ini selamanya. Aku tidak akan kembali lagi karena melanggar semuanya.


Dengan itu, aku pergi dari lorong itu dan meninggalkan pandangan mereka. Aku pergi dengan luka yang menghantuiku. Tidak hanya meninggalkan luka fisik, namun luka pada mental yang jatuh.


Aku akan kembali ke kegelapan dan menjalaninya dengan penuh penderitaan. Aku akan melupakan semua orang. Aku merasa kehidupan akademi sudah hancur. Dengan itu, aku tidak bisa mengikuti akademi lagi selamanya.


Aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi.


Masa laluku akan teringat kembali dan akan ditunjukkan penderitaan yang ku alami. Aku tidak akan melupakan semua ini.


[*^*]


Setelah aku membunuh bangsawan kotor itu, kebencian Bella padaku semakin meningkat. Dia melihat semua kasus pembunuhan dengan mata kepalanya sendiri. Tidak ada yang bisa menghindari dari ini.


"Akan kuhabisi dia sekarang juga!"


"Beraninya dia membohongiku!"


"Shiori! Ayo kita hajar Reinhardt sekarang juga!" Ajak Bella mengambil pistol dari saku roknya.


Shiori pergi dari kerumunan itu. Dia mulai mengabaikan Bella dan tidak akan ikut campur dengan urusan yang sangat kompleks.


"Shiori. Kamu mau pergi kemana?" Tanya Bella dengan amarahnya.


"Mau pulang. Aku sepertinya tidak enak badan," jawab Shiori membohongi Bella.


"Kenapa kami lari, huh?!" Tanya Bella sangat marah.


"Aku diberi pesan oleh Kotori bahwa kalau aku melihat pembunuhan, aku harus pulang dan tidur," jawabnya dengan mata gelapnya.


"Lebih baik aku pulang saja," pamit Shiori berniat untuk pulang.


"Bagaimana dengan pelajarannya?" Tanya Bella diabaikan oleh Shiori.

__ADS_1


"Jawab aku, Shiori!"


Shiori tidak menjawab. Hanya mengingat sesuatu yang cukup mengerikan terjadi padaku. Ia memutuskan untuk pulang dan tidak mempedulikan Bella sama sekali.


__ADS_2