Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Akademi : Sheeran Chezka 1,5


__ADS_3

25 Desember 2025, salju bertaburan di sebuah desa. Anak-anak dan orang tua (60-80 tahun) menjalani aktivitas dengan bernyanyi dan menari. Mereka tidak peduli dengan kematian mereka. Hanya melakukan itu meskipun sebagian besar dari mereka adalah Kristen Ortodoks.


Jam 05:56, aku dan Sheeran tertidur lelap dengan kehangatan. Sheeran sangat bahagia karena ia menjadi istriku. Dia tertidur lelap tanpa mengenakan pakaian apapun. Ia memelukku dengan erat seakan-akan aku tidak akan meninggalkannya.


Aku terbangun dan melihat tubuh Sheeran yang lelah lalu bangkit dari ranjangku. Namun, karena aku terlalu lelah, aku memutuskan untuk tetap di tempat tidur dan melihat salju yang sedang berjatuhan. Pada saat itu, Sheeran memanggilku sambil memeluk tubuhku. 


“Rivandy,” panggil Sheeran.


“Ada apa?” Tanyaku pada Sheeran.


“Lusa nanti, kita pulang. Aku ingin merindukan sesuatu di Moskow. Ini sudah cukup,”  gumam Sheeran masih tertidur di ranjang.


“Hm. Kita akan pulang nantinya. Kita juga akan mengharapkan keadaan mereka. Aku harap mereka akan selamat di sana,” harapku menatap sebuah salju yang turun.


Aku melihat cairanku yang sudah keluar oleh perbuatan Sheeran. Sheeran sudah berusaha keras untuk menghangatkanku. Ini sudah cukup. Aku merasa lega sekarang. Aku berpikir tidak akan melakukan itu lagi bersamanya. Aku terlalu membuatnya rusak.


“Ayo. Mandi! Aku akan menemanimu,” ajak Sheeran sambil menyodorkan tangannya padaku dengan senyumannya.


Aku menerimanya dan segera keluar dari kamar tanpa mengenakan pakaian apapun. Aku harap mertuaku tidak melihat ini. Aku malu dengan mereka. Namun, Sheeran dapat mengatasinya meskipun ia masih perawan.


Di kamar mandi yang tidak layak untuk dilihat, aku dan Sheeran sedang mandi bersama. Kami melakukan aktivitas yang dekat. Kami selalu melakukan hal yang romantis, seperti mencium selama 1 menit, memeluk dengan erat, dan menggosok tubuh satu sama lain. 


Setelah mandi, kami mengenakan handuk lalu diganti dengan pakaian yang hangat sebelum keluar dari gubuk itu. Lalu, aku menuju ke dapur dan segera memasak meskipun ini masih dingin. Tidak ada penghangat ruangan. Jadi, aku harus mengenakan alat yang digunakan itu tadi.


Setelah memasak, aku memberikan hidangan pada mertuaku. Aku juga memberikannya pada Sheeran yang dianggap menjadi istriku. Kami makan dengan romantis dan mereka berdua bersyukur Sheeran sudah menjadi istriku.


[*^*]


Jam 10:00, kami keluar dari gubuk pada 2 jam yang lalu. Kami membantu kepada orang-orang desa. Aku menemani Sheeran yang sedang bermain bersama anak-anak. Sheeran menjalani kehidupan dengan senang hati. Tanpa keraguan sekalipun.


Jam 11:00, aku membantu Sheeran untuk mengurus orang tua yang sudah berumur dan melakukan aktivitas di dalam ruangan karena udara dingin semakin lebat. Kalau keluar, aku akan menggigil dan terkapar di atas salju.


Sheeran juga membuat motivasi kepada anak-anak agar meninggalkan zona kemiskinan. Ia juga membujuk teman sebayanya agar keluar dari desa itu. Dia menjadi orang yang cukup baik sekarang ini. 


Jam 14;00, aktivitasku bersama dengan orang yang lebih tua sudah selesai. Ini sedikit melelahkan untukku yang mengidap penyakit hipotermia itu. Aku segera menidurkan mereka dengan dongeng dan ingin keluar dari sebuah gubuk dan melanjutkan aktivitasku bersama kepala desa.


Ketika ingin keluar dari sana, suhu tubuhku tiba-tiba menurun. Aku merasa pandanganku tiba-tiba kabur. Oleh karena itu, aku kedinginan dan tidak bisa menahan udara dingin itu. Aku baru tahu udara ini begitu kencang. Ini bisa membunuhku dengan cepat. 


Akhirnya, aku terjatuh di hamparan salju dan segera kehilangan kesadaranku.


Maafkan aku, Sheeran! Aku tidak bisa tahan lagi. Aku … akan mati ~ Rivandy Lex.


[*^*]


Jam 19:00, sebuah senter yang digunakan untuk menyalakan sebuah ruangan. Anak-anak dan remaja melihat kondisiku dengan memegang lilin yang diberikan Sheeran. Anak-anak merasa empati pada seseorang yang terkapar di ranjang tanpa ada kesadaran apapun walaupun pertemuan mereka hanya sebentar saja.


Jam 19:12, Sheeran berkumpul kembali kepada anak-anak dan segera menghampiri seseorang yang sedang tidak sadarkan diri itu. Dia dengan kecemasannya segera memelukku dengan erat dan segera melakukan sesuatu agar membangunkanku.

__ADS_1


“Rivandy! Kamu kenapa? Kenapa kamu tidak memberitahuku?” Tanya Sheeran ingin menangis. 


Aku terbangun dengan air mata yang hangat itu. Aku memperjelas pandangan pada mereka dan melihat ada anak-anak dan remaja yang berkumpul dengan kasihannya. Mereka berterima kasih padaku karena aku membantu Sheeran. Aku yang membiarkan Sheeran terluka lagi.


“Sheeran?” Tanyaku pada Sheeran dengan nada pelan.


“Kau bodoh! Kau membiarkan dirimu mati. Kalau kamu mati, aku tidak bisa bertemu dengan Aurora dan lainnya,” lontar Sheeran mencemoohku. 


“Padahal, aku cemas denganmu. Kenapa kamu tidak bilang kepadaku? Jawablah!”  Sheeran memaksakanku untuk bicara.


“Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?” Sheeran mengulang pertanyaannya.


“Kenapa kamu tidak bilang kamu punya penyakit ini?” Sheeran mulai menangis di pangkuanku. 


Sejak saat itu, anak-anak dan remaja bersimpati padaku. Mereka meninggalkan pemberian mereka padaku. Sheeran menangis di pangkuanku dengan keras. Aku hanya terdiam sambil menerima hadiah itu. Meskipun aku tidak mengetahui nama mereka satu persatu. Aku ingin berterima kasih karena mereka sudah memberi perhatian padaku.


Mereka meninggalkan Sheeran dan aku yang sedang berpelukan. Satu per satu anak-anak dan remaja meninggalkan kami sampai akhirnya kami berdua dengan pelukan itu. Kami tertidur setelah Sheeran menangis di pangkuanku.


[*^*]


Jam 05:12, aku terbangun dari tidurku. Aku segera membangkitkan dari ranjang dengan cukup cepat dan berniat untuk meninggalkan untuk melihat kondisi Sheeran. Dia tidak ada di sisiku saat aku terbangun dari tidurku.


Beberapa saat kemudian, Sheeran menghampiriku dengan membawa tas milik kami berdua. Aku ingin sekali bertanya padanya. namun, aku tidak bisa. Sheeran marah kepadaku kemarin. Dia memelukku sambil menangis karena aku kehilangan kesadaranku di desa.


“Rivandy. Ayo pulang sekarang! Aku tidak akan membiarkanmu mati lagi,” tekad Sheeran membawa barangnya dan barangku.


“Kau harus dirawat lagi sebelum penyakitmu lebih parah lagi,” jawab Sheeran dengan suram.


“Ayo! Nanti kita mandi di pemandian air panas,” ajak Sheeran. 


Aku tidak mengganti bajuku. Hanya mengenakan mantelku. Sheeran sudah bersiap dengan jas musim dinginnya. Ketika kami ingin meninggalkan desa, para penduduk desa mengucapkan selamat tinggal pada kami.


Kami membalasnya dengan lambaian tangan dan akting Sheeran yang ingin mengucapkan selamat tinggal. Kami meninggalkan desa dan segera menuju ke Moskow agar aku tidak akan mati lagi. 


[*^*]


Jam 06:00, kami berjalan cukup lambat. Sheeran berada di sampingku agar aku tetap hidup. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Sedikit lengah, maka akan fatal akibatnya. Jika Sheeran meninggalkanku sedikit lagi, aku akan mati. 


Jam 08:00, kami sudah sampai di pemandian air panas. Sheeran memesan kamar mandi untuk suami istri agar aku bisa menghangatkan diri untuk sementara. Dia juga menitipkan barangnya agar barang itu aman dan nyaman. Kami segera ke kamar mandi dan segera melepaskan pakaian kami sebelum menghangatkan diri terlebih dahulu. 


Sheeran seperti biasanya melakukan ciuman padaku. Aku hanya menerimanya.dengan tubuhku yang panas. Padahal, niatnya hanya mandi saja. Entah kenapa aktivitas itu terus berlarut.


"Sheeran. Jangan! Aku mendesah!" Rintihku merasakan sensasi ciuman Sheeran yang memaksa itu.


Sheeran mengabaikanku dan terus menerus menciumku. Dia membuat tubuhku semakin memanas. Dia juga meminum carianku lalu mengeluarkan tubuhku dan memainkan dadaku dengan tangannya. 


Aku tidak mengerti. Dia selalu menghisap cairanku agar suhu tubuhku meningkat. Tapi, ini terlalu berlebihan. Ini seperti pemaksaan. Sheeran memaksakan dirinya agar aku tetap hangat. Aku tidak bisa bernafas lagi. Rasanya ingin keluar. 

__ADS_1


Jam 08:23, kami telah menyelesaikan semua itu. Mandi dengan cairanku yang lengket di mulut Sheeran. Aku mengenakan pakaianku lagi dan menunggu Sheeran yang sedang mengenakan pakaiannya lagi. 


Pada saat kami pergi menuju resepsionis, Sheeran membayar semua itu. Aku terdiam dengan pemandangan itu. Hanya memandang di sekitar adalah pilihan terbaik. Setelah membayar, kami meninggalkan pemandian air panas dan segera menuju ke stasiun bus. 


Setelah tiba di stasiun bus, Sheeran mencari tiket dan segera membelinya. Aku hanya berdiam diri di belakangnya dan segera menghangatkan diri sembari melihat pemandangan bus yang ramai setelah Natal pada 25 Desember 2025. Aku juga melihat penumpang yang ramai karena Tahun Baru 2026 akan segera di mulai. Aku ingin tahu, bagaimana cara mereka bisa bertahan hidup di tengah musim dingin yang ekstrim ini. 


Setelah membeli tiket, Sheeran mengajakku untuk pergi ke bus yang dituju. Kami berjalan tanpa henti sementara Sheeran segera mencari bus untuk bisa dinaiki. Mencari bus yang sesuai dengan tertera pada tiketnya. Aku hanya berjalan di sampingnya dan mengikuti jalannya dan diusahakan agar aku bisa berjalan di tengah musim dingin ini.


Sesampainya di bus yang dituju di tiket Sheeran, Sheeran menggunakan handphone miliknya dan segera melakukan verifikasi kepada bus itu. Setelah verivikasi itu diterima, kami menaiki bus itu. Duduk di kursi yang sudah dipesankan. Aku duduk dekat jendela. Sheeran berada di sampingku. Ia tidak membiarkan diriku ditinggalkan begitu saja. 


Jika ia melakukan itu, ia akan membuatku terbunuh dengan musim dingin yang ekstrim. 


Ini cukup sepi. Tidak ada yang menaiki bus untuk menuju ke stasiun kereta Voronezh. Kereta yang akan akan dituju oleh kami untuk kembali ke Moskow. 


Di perjalanan yang cukup panjang, Sheeran menciumku setiap saat. Dia sama sekali tidak memberiku celah. Dia juga membuatku tidak menggunakan alat penghangat tubuh lainnya. Dia tidak akan percaya dengan itu. Dia sangat overprotektif padaku. 


Aku mengerti perasaan Eleva ada saat itu. Dia sangat tertekan dengan kasih sayang dari gadis mesum itu. Dia juga tidak tahan dengan gadis yang selalu lengket padanya. Maka dari itu, ia melampiaskan kekesalannya kepada pohon akademi yang ia pukul pada saat itu. 


"Sheeran! Sudah cukup! Aku tidak bisa tahan lagi. Aku …." Aku mencoba untuk menghentikan Sheeran.


"Diamlah! Aku akan menghangatkanku. Aku janji tidak akan membiarkanmu mati!" Bentak Sheeran ingin menangis. 


"Tapi, bukan begini caranya. Aku perlu alat penghangat tubuhku. Itu lebih baik." Aku berusaha untuk menyanggah.


"Persetan dengan alat penghangat tubuh! Aku akan menjadikan alat untukmu. Aku tidak mau alat itu membuatmu lebih baik," cekal Sheeran mengutuk alat penghangat tubuh.


"Baiklah." Aku pasrah karena Sheeran memarahiku.


Aku dipaksa untuk membalas ciuman Sheeran itu. Sheeran dengan terpaksa menciumku setiap saat. Padahal, ia tidak menginginkannya dan tidak membiarkanku untuk menggunakan alat penghangat tubuh. Padahal, ini yang terbaik. Namun, karena Sheeran membentakku, aku tidak akan menggunakannya. 


Ia tidak peduli dengan alat penghangat tubuh lagi. Ia juga tidak percaya lagi dengan alat itu. Alat itu membuatku terkapar di hamparan salju. Itu yang membuatku tidak bisa bertahan lama. Itu juga dapat membuat Sheeran menjadi terluka parah. 


Jam 17:12, hari sudah mulai sore. Matahari berniat untuk tenggelamkan dirinya. Padahal, Bumi berputar ke arah yang seharusnya. Namun, karena ini musim dingin, pada waktu itu hari mulai berganti lagi. Para mobil di kota Voronezh cukup ramai. Para penduduk sudah berada di rumah mereka dan menunggu kesempatan untuk Tahun Baru.


Bus yang kami tumpangi akhirnya, sampai di tujuan. Kami sudah sampai ke stasiun bus dan segera memberhentikan laju bisanya. Bis itu langsung memarkirkan ke tempat bis yang lainnya. Sebuah pemberitahuan terdengar di telinga kami. Kami akhirnya sampai ke tempat sesuatu. Tinggal selangkah lagi untuk menuju ke Moskow, yaitu kereta api.


Pada saat itu, Sheeran menciumku dalam waktu lama. Dia juga sudah sampai pada atasnya. Aku hanya terdiam dengan bibir yang cukup rapuh. Suhu tubuhku masih pada suhu normal namun tubuhku masih melemah.


Kami turun dari bus dan mencari kereta agar sampai ke Moskow secepatnya. Sheeran menuju ke karcis kereta dan membayarnya dengan uangnya yang terakhir. Kereta itu akan tiba dan kami akan berangkat pada jam 20:00 malam.


Ini sudah jam 17:30, tidak ada pilihan lain selain menunggu kereta kami untuk tiba. Sebentar lagi, kita akan sampai. Padahal, jarah kota Voronezh dan kota Moskow sekitar 515 km jauhnya. Kami akan mengakhiri perjalanan ini dan aku akan segera menetap di apartemen Sheeran sampai liburan akademi itu selesai.


Kami duduk berduaan sambil menghangatkan diri. Sheeran memutuskan untuk tidur karena ia sudah lelah. Aku hanya berjaga malam agar aku bisa memberitahu Sheeran.


Dan masalah yang sebenarnya akan terjadi dari sekarang.


Masalah yang akan terjadi karena kelalaian yang dilakukan oleh aku.

__ADS_1


__ADS_2