Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Akademi : Dikejar Gadis Agresif 1,2


__ADS_3

Di lorong akademi. Aku yang sedang ditahan oleh Aurora sedang memikirkan untuk bisa lolos dari cengkeraman dari gadis agresif. Aku berpikiran untuk menggunakan teknikku karena darurat. Aku belum memikirkan tempat mana yang cocok untuk melakukan teleportasi dan berpikir untuk mengeluarkanku dari situasi yang cukup menyeramkan.


Aku yang sudah ditahan oleh Aurora berusaha memperjelas kesadaranku. Jika tidak, tenagaku akan dihisap oleh Aurora sampai kering.


Tidak ada pilihan lain. Sebelum Aurora membuka pakaianku, aku segera menutup mata secara reflek dan segera melakukannya tanpa pikir panjang.


"Arctic Warfare : Teleportation!"


Kami berpindah tempat dari koridor dekat taman menuju koridor dekat ruangan kepala sekolah. Aku dan Aurora bertukaran posisi setelah ia tidak menyadari bahwa aku melakukan teleportasi. Aku segera memberikan peluang yang cukup baik agar menghindari serangan Aurora dan segera lari menuju tempat yang tidak diketahui.


Aku memilih untuk tidak menemui Cherry-neesan karena ia sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Tugasnya yang cukup berat tidak jarang memaksanya untuk terus menyelesaikannya sampai larut malam.


Setelah lolos dari Aurora, aku memutuskan untuk lari darinya dan segera lari ke arah tanpa tujuan. Aku mencari seseorang yang dapat diandalkan untuk mengatasi masalah ini. Aku segera mencari seseorang yang masih ada di akademi. Karena jam menunjukkan pukul 16:43, sebagian siswa dan siswi sudah tidak ada akademi.


Aku tidak tahu apakah murid lain yang sedang mengikuti klub masih berada dalam sekolah atau tidak. Hanya Klub Saintek yang jadwalnya hari Senin. Aku tidak tahu klub apa yang memiliki jadwal pada hari Senin selain Klub Saintek.


Sial! Tidak ada harapan.


Aku harus memikirkan rencana untuk menghentikan Aurora yang mengejarku. Kami selalu saling mengejar satu sama lain dan Aurora berlari secepat macan tutul untuk menangkapku dan segera


Sial! Jika saja aku tidak menyuruhnya untuk membereskan alkohol, ini tidak akan terjadi. Aku tidak bisa menyembuhkan dia.


Aku yang terdesak dengan itu segera mencari siswa dan siswi yang bisa aku minta tolong. Setidaknya, Pak Stephan masih berada di akademi. Dia akan membantuku mengatasi Aurora yang akan menggauliku secara paksa.


Aku bertekad untuk menuju ke ruang guru walaupun aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk berlari. Aku tidak boleh berhenti berlari. Ini bukan tentang kecepatan, namun ini tentang stamina untuk berlari. Aku tidak mau menghabiskan seluruh tenagaku untuk lari.


Kalau aku melakukannya, maka aku akan kelelahan dan terjatuh dari lantai,.lalu, Aurora akan melakukan hal nakal padaku dan hidupku akan berakhir karena aku harus menjadi budak Aurora.


Aku tidak bisa menggunakan teknikku lagi. Ini sudah di ambang batas. Aku ketakutan karena Aurora meminum alkohol. Lalu, aku kelelahan karena aku harus berlari untuk bersembunyi darinya.


Apaan ini? Kenapa Aurora tidak mengalami kelelahan sekalipun?


Bagaimana ia mendapatkan banyak tenaganya?


Kalau begini terus, aku tidak bisa bebas darinya.


Tidak ada pilihan lain. Aku harus lari dan menuju ke ruang guru.


Jika, tidak ada Pak Stephan, maka aku akan mengakhiri hidupku bersama Aurora.


Di tengah drama pengejaran itu, aku melihat ada seorang siswi yang berjalan menuju ke arahku. Aku tidak terlalu mengenalnya karena aku belum mengaktifkan teknikku untuk mengidentifikasi siswi yang ada di depanku


Tidak kusangka ada siswi yang masih ada di akademi sesore ini. Dia menggunakan syal merah dan mengenakan dua klip merah di poninya. Dia adalah Akishima Renji.


Akishima melihatku yang sedang berlari. Ia menyapa, “Yahoo! Rivandy. Apa kabar?”


“Kenapa kamu berlari?” Tanya Akishima bingung melihatku berlari.


Aku yang melihat Akishima yang sedang menyapaku. Aku segera menghampirinya dan meminta, “Akishima! Tolong aku! Aku dikejar oleh Gadis Agresif. Dia akan membunuhku."


“Nani?! Kau akan dibunuh olehnya? Dimana Dia? Aku akan menembaknya,” tekadnya bersemangat melihatku memohon kepadanya dan segera menghadapi musuh dengan berani.

__ADS_1


“Di belakangku!” Aku menunjuk ke depan sebagai ancamanku.


“Hah?! Aurora?!” Akishima melihat Aurora sambil mengoceh tidak jelas.


“Jangan bercanda! Ia tidak apa-apa, kok,” cekal Akishima.


“Kau tidak melihatnya lebih dekat?! Tolong lakukan sesuatu!” Aku memohon kepada Akishima dan meyakinkan gadis di depanku agar ia mau menolongku.


“Aku akan melakukan apa yang kamu mau. Jadi, cepat hentikan dia!” Lanjutku sambil memeluk Akishima.


Akishima hanya pasrah dengan itu. Ia menghela nafasnya dan menjawab, “Apa boleh buat. Lagipula, aku sudah menolongku tempo hari. Jadi, aku akan membalasmu, Rivandy,” sambil mengacungkan jempolnya dan berbalik badan untuk mengatasi masalah.


Akishima melihat Aurora yang sedang menuju kemari. Ia segera berdiri tegak di hadapan Aurora dengan mata cintanya. Ia mengingat Aurora seperti gadis yang ia benci. Alhasil, ia tersenyum kecil sambil bergaya seperti Power Ranger.


“Power Ranger : Berubah!”


Akishima melakukan transformasi dan menjadi Power Ranger. Seragam akademinya beserta pakaian dalam aku amankan.


Aku berharap Akishima bisa mengalahkan Aurora yang agresif itu.


Akishima mengeluarkan senapannya dan melakukan tembakan yang cepat menuju Aurora. Aurora menghindar dengan mudah dan segera bergerak ke depan untuk menghajar Akishima. Akishima menghindar dengan loncatan yang tinggi dan melakukan tembakan lagi.


Belum kena. Aurora masih bisa menghindar dengan tenaga yang terkuras banyak.


“Power Ranger : Gomu-Gomu no Sniper!”


Akishima menarik pelatuk sambil menghempaskan dirinya dan pelurunya melesat menuju Aurora. Aurora tak terhentikan. Ia bergerak cepat dan segera mengeluarkan pukulannya menuju ke Akishima. Akishima segera menghindari Aurora dan melakukan tembakan pada saat momen yang tepat.


Pada akhirnya, Akishima terkena serangan dan terhempas ke lantai. Setelah itu, ia tidak tersadarkan diri dan berbaring ke lantai koridor. Aku yang sudah mengetahui Akishima akan kalah segera menghampirinya dan mengembalikan seragam miliknya. Aku yang sudah mengembalikan dengan susah payah


“Maafkan aku, Akishima!” Teriakku meletakkan seragamnya yang rapi itu menuju ke punggungnya agar ia bisa menggunakannya kembali dan pulang. Aku segera lari dari kejaran Aurora lagi, tidak mau membuat Akishima marah karena kesalahanku yang sebelumnya terjadi. Jadi, aku mengembalikannya dulu dan lari dari sini.


Sial! Akishima tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Dia terlalu kuat.


Tunggu. Kenapa aku malah berlari menjauh dari ruang guru?


Apa yang kau lakukan, dasar bodoh?!


Aku malah menggali kuburanku sendiri.


Tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa mencari persembunyianku. Yang hanya bisa kulakukan hanyalah berlari dari Aurora dengan perasaan takut yang semakin memuncak. Aku tidak bisa melakukan apapun.


Jam 17:00, aku berbelok kiri untuk mencari peluang untuk bisa menjauh darinya sebanyak 0,01%. Namun, aku terjatuh karena kakiku sudah tidak mampu berlari lagi, sehingga peluangku untuk lari dari Aurora hanyalah 0%.


Aku tidak bisa bangun lagi. Aurora sudah berada di hadapanku. Ia menahan nafsunya untuk meluapkan perasaannya. Aku berbalik badan sambil berteriak ketakutan.


Aku berteriak, “Jangan mendekat! Aku masih ingin hidup. Aku tidak mau menjadi alat untuk memuaskanmu. Aku hanya manusia tanpa kebebasan. Jadi, jangan hantui aku lagi!” Aku menahan tangisanku karena ketakutan.


“Tidak akan. Aku akan melakukan itu karena aku mencintaimu,” jawabnya dengan perasaan cintanya.


Aku tidak percaya apa yang ia ucapkan. Ia hanya melakukan itu hanya dia cinta denganku? Tidak. Kau bukan Aurora. Kau adalah hantu yang menyeramkan. Menjauhlah dariku!

__ADS_1


Apa hidupku akan berakhir?


Yah … setidaknya hidupku berakhir di tangan Aurora yang mabuk.


Sebelum itu, aku melihat Aurora yang terjatuh di lantai. Aku melihat ada gadis yang mengenakan atribut Klub Disiplin. Ia membawa senjata laser bius untuk membuat Aurora pingsan.


Nina Alpenliebe, anggota Klub Disiplin.


Lalu, ada dua gadis yang di sampingnya menghampiriku Kedua gadis elegan dengan pakaian yang rapi segera menyelesaikan keributan. Mereka menghampiriku dengan penuh senyuman yang anggun. Satunya berasal dari keturunan Sentinel dan satunya gadis berambut hijau teh.


“Jangan khawatir, Rivandy!” Gadis berambut silver menenangkanku.


“Aku datang kesini untuk menyelamatkanmu,” lanjutnya sambil mendekatiku.


“Sinta. Kau tidak boleh mendekatinya. Dia akan semakin menjauhimu,” larang gadis berambut teh hijau.


“Tidak! Jangan mendekatiku! Aku tidak mau mati! Aku ingin lulus akademi 3 tahun lagi!” Aku berteriak menjauhi SInta.


“Lihat itu! Dia menjauh darimu,” ucapnya dalam datar.


“Apa? Tidak mungkin. Aku harus menyembuhkannya dan ….” ucap Sinta dengan raut wajah yang manis.


“Sinta. Diana. Biar aku yang mengurusnya. Kalian urus dia!” Pinta Nina untuk mengurus Aurora.


“Baik, Nina!"


Akhirnya, Nina membawaku ke sel tahanan Klub Disiplin untuk menyelamatkanku. Aurora ditahan di sela yang lain dan akan diinterogasi oleh mereka berdua. Aku merasa sedikit lega dengan Nina menolongku. Namun, aku tidak bisa tenang karena melihat 2 gadis keturunan Sentinel yang akan menakutiku.


Ini lebih menyeramkan daripada hantu zombie, vampir, dan monster manapun.


Aku hanya takut oleh Aurora sendiri.


Setelah sampai di ruang Disiplin, aku dimasukkan ke dalam ruangan tahanan agar aku diamankan. Aku berjalan di pojok ruangan dan termenung ketakutan.


Sementara, Aurora ditahan di ruangan interogasi dan ditanya mengenai kejadian yang menimpaku. Aurora menceritakan kejadian kejadiannya dengan detail dan jelas, sehingga Diana dan Sinta memahami situasi yang membuatku trauma.


“Ok, sebagai hukumannya, Rivandy tidak boleh mengikuti pelajaran selama 3 hari karena ia mengidap trauma,” tegas Diana menatap Aurora dengan tajam.


“Seharusnya kamu tidak boleh minum air putih yang sebenarnya itu alkohol,” tegur Sinta


Aurora meminta maaf. Ia membuat video klarifikasi untukku agar aku bisa menghilangkan trauma yang aku alami. Setelah itu, Aurora diperbolehkan pulang pada jam 18:23. Aku harus menetap di ruangan disiplin dan akan tinggal di ruangan itu selama tiga hari.


Nina akan membuat surat untuk guru yang bersangkutan dan mengizinkan agar aku tidak mengikuti pelajaran. Diana dan Sinta mencoba menyembuhkanku. Percuma saja. Aku hanya terdiam sambil menahan tangisanku. Mereka tidak melihatku mengeluarkan air mata.


Mereka mengira aku duduk termenung dan diam selama semalaman.


Sehari kemudian, Nina mengajak dokter akademi untuk mengecek kondisiku. Aku agak membaik, hanya saja aku belum boleh keluar dari ruangan itu. Aku kembali ke ruangan dan termenung.


Keesokan harinya, Diana menyuapiku dan berusaha menyembuhkanku. Sinta mengikuti Klub Soshum. Jadi, tidak bisa ikut bersama Diana,menghiburku dengan berbagai cara, bisa menyanyi, memainkan lagu klasik, dan sebagainya.


Aku merasa lega Diana menyembuhkanku dari trauma tadi, sehingga timbullah perasaan Diana kepadaku karena dia tertarik padaku yang berwajah Pangeran, sehingga ia berdekatan denganku dan memanjakanku di pangkuannya di ruangan Klub Disiplin.

__ADS_1


Hari yang cukup menyenangkan dengan Diana.


__ADS_2