Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Aurora Sentinel 1,7


__ADS_3

Jam 22:30, sekelompok polisi membuka pintu. Mereka mendapatkan laporan dari Akishima bersembunyi di apartemennya. Mereka menyalakan lampu apartemen itu dan memeriksa kondisi apartemen Aurora.


Setibanya di kamar, mereka melihat barang yang rusak dan barang bukti senjata. Mereka melihat ada sepasang yang tidur bersamaan dan menginvestigasi seorang remaja yang terluka parah dan butuh perawatan khusus karena ada luka yang terdapat di tubuhnya.


Seorang detektif melihat keadaan kamar yang rusak akibat perbuatan Aurora dan mendapatkan laporan dari berbagai polisi Moskow.


“Pak Alan. Kami mendapatkan bukti berupa senjata kapak. Lalu, ada sebuah remaja yang terkapar di ranjang dengan bekas luka yang parah."


“Bawa remaja yang terluka itu ke rumah sakit! Gadis itu harus dibawa ke kantor polisi nanti,” pinta Detektif Alan yang sedang melihat seisi apartemen Aurora.


Merek membawa Aurora ke kantor polisi untuk ditanya keterangan dan membawaku ke rumah sakit. Mereka juga memberikan saksi kepada penjaga apartemen yang baru saja terbangun. 


Saksi itu tidak memiliki informasi yang jelas kepada pihak polisi. Jadi, mereka memutuskan akan menginterogasi Aurora besok. Detektif Alan akan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kejadian lebih lanjut bila aku sudah siluman.


Pihak polisi berterima kasih kepada Akishima. Mereka juga akan berjanji kepada Akishima untuk tidak memenjarakan Aurora. Mereka berlalu dari apartemen dan bertugas di tengah malam itu.


Hari yang cukup melelahkan.


[*^*]


18 Januari 2026, jam 08:08, di rumah sakit, aku terbangun dari tidurku. Merasakan hal yang aneh pada tubuhku. Dahiku diperban oleh dokter. Entah siapa dokter itu. Aku tidak peduli. Aku hanya mendapatkan peluang yang beruntung.


“Aku selamat yah?” Aku berpikir mengenai keadaanku.


Aku meminum susu di nakas dekat ranjangku. Aku meminum dengan penuh konsentrasi, pelan, dan tidak terlalu menikmatinya. Entah apa kandungan dari susu ini. Rasanya cukup asin. Ini susu yang cukup berbeda.


Aku memandang pemandangan yang sama lagi. Setiap kali aku ke rumah sakit. Ini baru 3 kali. Bukan! Empat kali. Memoriku rusak lagi. Aku merasakan luka yang diterima sejak di rumah sakit.


Aku merasakan hal yang sama lagi.


Di tengah suasana sepi, seorang detektif melihat kondisi prima dalam menghadapi tugas yang dijalaninya. Padahal, ini hari Minggu. Aku tidak tahu apakah Kogoro Mouri melakukan hal yang sama kepada Detektif Alan.


“Sudah sadar, yah? Asisten Rivandy?” Sapa detektif datang mendekatiku.


Aku menoleh ke sumber suara itu. Melihat detektif yang ku kenal. Aku membantunya untuk memecahkan sebuah kasus.


“Detektif. Ada yang bisa kubantu?” Tanyaku sedang mengecek tubuhku.


“Aku sudah mendapatkan laporan dari Akishima. Kau menyakiti dirimu hanya untuk melakukan hal yang tidak seharusnya kau lakukan. Tapi, sudahlah! Kau memang suka mencampuri urusan orang lain,” tegur Detektif Alan.


“Sebenarnya, aku melakukan itu untuk menebus kesalahanku. Aku yang membuatnya seperti ini.” Aku menyanggah karena aku melakukan kesalahan.


“Lalu, aku juga memeriksa semua ruangan Aurora. Kami membawanya ke kantor polisi dan menjelaskan sesuatu padanya. Kami memberikan bukti berupa senjata kapak, jepretan orang lain, dan memeriksa semuanya. Aurora juga memberikan penjelasan mengenai sebuah insiden yang ia alami.”


“Jangan khawatir! Aku tidak akan memenjarakannya. Lagipula, dia masih remaja,” lanjutnya lega.


“Setelah diinterogasi, dia pergi ke rumah sakit psikologi dan diberikan obat anti depresan dan segera melakukan terapi yang khusus untuknya. Nama terapi itu adalah terapi kekasih. Dengan terapi itu, dia akan sembuh dalam 2 hari. Dokter psikologi juga memberikan sebuah peringatan. Walaupun ini cukup berhasil. Tapi,  … kau harus hati-hati!”


“Dengan terapi itu, Perang Cinta di Akademi Militer Spyxtria akan meletus  Meskipun Aurora sudah sembuh, ada kemungkinan penyakit psikologinya akan terulang kembali. Kau harus memiliki penjaga gadis minimal 1 atau 2 untuk mengamankanmu.”


“Kenapa?” Tanyaku penasaran.


“Ada sebuah ramalan yang terjadi. Bahwa ada seorang pangeran yang akan membuat para gadis tergila-gila. Dengan itu, para gadis akan berbuat liar dan memperkosa pangeran dengan ganasnya.”


“Ini sudah terjadi sekali sejak Cherry lulus setahun yang lalu. Pangeran dari Kerajaan Thailand sudah tewas karena dia harus memenuhi nafsu birahi dari 50 gadis sekalipun secara bersamaan.”


“Maka dari itu, Thailand, Brunei, Malaysia, dan Spanyol mengundurkan diri dan memulangkan siswa dan siswi yang berada di sini. Setelah itu, mereka harus berpikir ulang untuk membawa pangeran ke akademi ini.”


“Aku juga harus melakukan investigasi mengenai kasus yang lainnya. Mungkin aku akan menyelidikinya saat berada di waktu luang.”


Aku cerita itu mengintimidasi. Tidak tahu mengenai akademi ini. Neesan memperingatkanku agar aku lulus akademi. Aku tidak yakin apakah bisa lulus akademi atau tidak. Aku mendapatkan pesan dari Neesan. Tinggal aku sendiri yang melakukan itu.


“Detektif. Aku ingin memutuskan sesuatu. Sesuatu yang harus ku lakukan.”


“Aku harus ….”


Hembusan angin itu membuat detektif itu terkesan. Dia ingin menjadi anak muda pada saat itu. Ia tersenyum dengan tekad dan ingin mendapatkan remaja yang sepertinya dapat melakukan hal yang bisa dilakukan.


“Kau boleh juga.”


Detektif Alan beranjak dari ranjangnya dan meninggalkanku. Dengan itu, ia merasa puas dengan tekad yang dikeluarkan oleh seorang remaja. Tekad itu akan mengalir terus tanpa batas.


“Aku menunggumu untuk kasus selanjutnya. Aku harap kamu menikmatinya,” pamitnya dengan senyumannya.


“Satu lagi. Aurora mengirimkan susu itu padamu.” pesannya sebelum meninggalkan ruangan itu.


Pesan itu membuatku bingung. Aku penasaran susu apa yang dikirimkan oleh Aurora. Kandungan apa yang ada di sana? Aku berharap mendapatkan jawaban yang benar. 


[*^*]


20 Januari 2020, jam 10:12, aku masih berada di rumah sakit menghabiskan waktuku dengan memutarkan Youtube Music di ponselku. Aku berbaring seperti pasien pada umumnya. mendapatkan saran dari dokter bahwa aku harus istirahat yang cukup.


Sial! Aku meninggalkan pelajaran lagi.


Seorang gadis memasuki ruangan pasien. Dia menyesal sambil menutup pintu dengan pelan dan tenang lalu menghampiriku.


“Rivandy,” panggil seorang gadis.


Aku menoleh pada gadis itu. Melihat gadis yang menyakitiku di kamar yang gelap. Auranya sedikit lebih baik. Butuh sesuatu agar dia merasa lebih baik.


“Aurora. Kamu sudah datang kesini,” sahutku merasa lega dengan Aurora disini.


“Pangeran Rivandy. Aku ingin … mengatakan sesuatu kepadamu.” Wajah Aurora semakin memerah.


“Eh? Kenapa?”


“Aku … minta maaf telah membuat luka di tubuhmu. Habisnya, kamu sudah banyak mengeluarkan darah dan golongan darahmu Rhesus negatif. Jadi, aku harus melakukan sesuatu untuk menyembuhkanmu,” ungkap Aurora membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf.


“Sudahlah! Aku tidak terlalu khawatir dengan itu.” Aku menenangkan Aurora.


“Aku ingin tahu. Susu apa yang kau kirimkan padaku? Rasanya asin sekali,” tanyaku mengalihkan perhatian.


“Rahasia. Aku tidak mau memberitahumu dulu,” jawabnya dengan manja dan centil.


“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Ikuti aku!” Aurora mengajakku ke suatu tempat.


Aku hanya menerimanya dan terpaksa berdiri dengan memegang infus. Kalau saja infus ini bocor, aku akan mati. Aurora mengajakku ke suatu tempat di rumah sakit. Aku hanya mengikutinya dari belakang.


[*^*]

__ADS_1


Setelah sampai di teras rumah sakit, aku dan Aurora menghentikan langkah kami. Aku merasakan sebuah pengakuan dari Aurora yang serius. Aku ingin sekali mendengarnya. Ini hanya untuk Aurora.


“Rivandy. Aku ingin memperlihatkan sesuatu untukmu.” tekad Aurora.


“Apa itu?”


Aurora memperlihatkan sesuatu padaku. Secara tiba-tiba, postur tubuh Aurora berubah. Dari pakaian lengkap menjadi pakaian dalam. Dari pendek menjadi panjang. Dari rambut biru langit menjadi hitam. 


Aku spontan mencoba untuk memperingatkan sesuatu padanya. Aurora dalam Mode Black Night Sky adalah seorang monster penghancur. Kawan atau lawan langsung habis saat itu. Aku sedikit panik dan ingin menghentikan transformasi itu. Namun, terlambat. Tidak ada yang bisa kulakukan.


“Tunggu dulu! Apa yang kau lakukan?”


Aurora tidak menjawab. Hanya memperlihatkan dirinya padaku dalam bentuk monster. Monster ini diciptakan dengan perasaan sedih, kecewa, patah hati, dan benci bercampur menjadi satu. 


Ia berusaha mendekatiku dengan pelan. Aku mencoba mundur. Namun, dia tetap melakukan pendekatan dengan mata menyala. Aku memperhitungkan rute pelarian saat ini.


Namun, dia tersenyum lebar. Dia idak menyerangku. Hanya menawarkanku untuk memeluknya. Karena itu, aku menerimanya dan memeluknya.


Aku memeluk Aurora dengan hangat seperti kejadian sebelumnya. Merasakan kenyamanan Aurora jika ia berada di sampingku. Aku mengeluskan kepala yang manis. Dia menjadi seorang gadis yang berpenampilan monster. Baru kali ini dia merasa nyaman di sisiku.


Dengan pelukan itu, Aurora berubah wujud menjadi Aurora asli. Aku tidak takut lagi dengan monster itu. Kalau soal Aurora minum alkohol, aku masih ketakutan. Aku harus mencegahnya meminum alkohol. 


“Rivandy. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”


“Kenapa?” Tanyaku.


“Tolong … cium aku! Aku ingin sekali dicium oleh pangeran sepertimu. Aku belum pernah dicium oleh pangeran sebelumnya,” mohon Aurora dengan air mata bersarang di matanya.


“Aku merasa nyaman jika berada di sisimu. Aku tidak punya siapapun lagi selain kamu. Hanya kamu yang membuat hatiku memanas.”


“Jangan khawatir! Aku akan merawatmu musim dingin! Aku tidak akan membiarkanmu mati.” lanjut Aurora.


Aku hanya mendengar. Kami selalu merasakan sesuatu yang ndah. Musim dingin Moskow masih terasa di tubuhku. Maka dari itu, dia menawarkan dirinya untuk menciumku.


Licik juga Aurora.


Karena strategi yang licik, ia bisa membuatku melakukan yang tidak bermoral. Dengan suhu yang dingin, aku memeluk Aurora dengan hangat agar bisa menghangatkan diriku. Namun, aku harus menciumnya agar bisa mengembalikan suhu tubuhku yang normal.


“Aurora. Aku ….” Aku belum sempat mengatakan sesuatu dan mencium Aurora karena terpaksa dengan keadaan.


Aku mencium Aurora dengan romantis sebagai pasangan kekasih yang harmonis. Dengan itu, kami ingin sekali menikmati kehangatan di tengah musim dingin. Aku jadi kecanduan karena ciuman Aurora membuatku bergairah.


Kalau Aurora menciumku setelah meminum alkohol, aku pasti menjual tubuhku padanya.


“Aurora. Aku mau tambah lagi. Aku tidak bisa menahan lagi. Di sini dingin.” Aku mengeluh kedinginan.


“Um.” Aurora menerima tawaran dengan senyuman.


Kami melanjutkan ronde 2 dengan saling memegang tubuh kami masing-masing. Aku merasakan rangsangan yang cukup pesat, sehingga tubuh menjadi hangat. Aurora demikian. Dia dengan liarnya mencium leherku dan membuat suasana menjadi panas.


Ketika kami berciuman, seorang gadis lolita yang mengikuti arah kami. Dia merasa iri dengan momen romantis itu. Dengan kesal, ia melakukan aksinya untuk menghentikan kami.


“Hmph!” Evelyn menggembungkan pipinya.


“Kalian sedang apa, desu?!” Teriak Evelyn mengganggu kami bercinta.


“Evelyn?” Tanya kami melihat Evelyn dan menghentikan ciuman kami.


Kami dipojokkan oleh anak kecil. Perasaan kesalnya tidak membiarkan Aurora untuk mendapatkanku.. Aku melakukan ini seperti aku mencium Sheeran. Aku ingin mendapatkan satu istri untuk meluapkan hasratku kepadanya.


Kami menghentikan ciuman dan memperlakukan Evelyn sebagai anak kami. Kami mengharapkan bisa menghasilkan anak yang imut seperti Evelyn. Jadi, kami membayangkan Evelyn seperti anak kami.


“Tenang saja, Evelyn. Ibu dan ayah akan membuatmu bahagia.” Aurora berakting seperti ibu.


“Jangan berkata itu, desu!” Evelyn mutung dengan tingkah Aurora.


“Ayo. Evelyn. Papa. Aku akan mengantarmu ke ruang pasien,” ajak Aurora menggodaku.


“Iya. Mama." Aku menerima godaan itu.


“Sudah kubilang jangan perlakukan aku seperti anak kecil, desu!”


[*^*]


Jam 15:12, aku diperbolehkan pulang. Dokter dan perawat memberikan tablet vitamin dan kalsium agar tulangku bisa kembali normal. Mereka menyarankanku untuk memakan banyak protein dan lemak. 


Setelah keluar dari ruangan pasien dan mendapatkan tablet, aku bertemu dengan Aurora dan Evelyn sedang berantem. Aku melerai pertengkaran mereka dan membuat Aurora dan Evelyn saling memaafkan. Mereka pun menerima itu demi aku.


Sebelum meninggalkan rumah sakit, Aurora memborgolku agar tidak selingkuh lagi. Dia tidak membiarkanku lepas dari cengkramannya. Evelyn hanya pasrah dan kasihan padaku.


Aurora memang menyeramkan.


Setelah keluar dari rumah sakit, kami melihat teman kami yang lainnya. Akishima, Sheeran, Denis, Hammer, Zhukov, dan Saphine menunggu kami di luar. Aku merasakan hal yang sama dengan ini. Setiap kali aku keluar, aku melihat mereka.


“Suamiku!” Panggil Sheeran penuh gairah. 


“Dia sudah milik Aurora. Kamu akan mendapatkan julukan ‘Gadis Perebut,’ lho,” cela Akishima mengejek Sheeran.


“Berisik kamu! Dia memang suamiku,” cela Sheeran mencocor Akishima.


“Akishima dan Sheeran selalu bertengkar,” komentar Saphine melihat pertengkaran mereka. 


“Iya. Mereka selalu begitu,” lanjut Zhukov memegang ponselnya.


“Ri-chan!” Panggil Denis dan Hammer ingin memelukku.


Namun, Aurora tidak membiarkan mereka memelukku. Dengan Aurora yang protektif, mereka mengurungkan niat itu. Saat yang sama, Zhukov menghampiriku.


“Bagaimana? Kamu dimarahi lagi dengan Detektif Alan?” Tanya Zhukov dengan penuh kemungkinan.


“Tidak. Dia senang sekali,” jawabku singkat.


“Aku salah lagi,” lontar Zhukov kalah dengan kemungkinannya.


“Zhukov. Aurora menakutkan,” lontar Denis mendekati Zhukov.


“Dia seperti hantu,” lanjut Hammer.


“Ayo. Kita pulang! Ada yang menunggu kita,” ajak Zhukov segera pulang.

__ADS_1


“Akishima. Sheeran. Aku akan meninggalkan kalian,” lanjutnya berpaling Sheeran dan Akishima.


“Tunggu! Jangan tinggalkan aku!” Akishima segera menyusul Zhukov.


“Suamiku. Aku datang.” Sheeran segera menghampiriku.


Kami pulang bersama-sama. Aktivitas kepulangan kami menjadi hal biasa pada kami. Aurora dan Evelyn sedang menjagaku. Akishima dan Sheeran bertengkar lagi. Denis dan Hammer mengobrol denganku. Saphine dan Zhukov merasa dekat padaku.


“Suamiku. Apakah kamu kedinginan? Aku akan menghangatkanmu di ranjang,” tawar Sheeran sambil merayuku dengan tubuhnya.


“Tidak. Terima kasih! Kalau kamu hamil, aku akan meninggalkanmu,” ejek Akishima membuat suara seperti aku.


“Aku tidak berbicara denganmu!” Cocor Sheeran memarahi Akishima.


“Dia sudah resmi menjadi suamiku,” lanjut Sheeran berkaca-kaca melihatku.


:Hah? Sejak kapan?: Tanya Akishima tidak percaya.


“25 Desember 2025. Dia sudah resmi menjadi suamiku,” jawab Sheeran.


“Aku tidak percaya. Kamu pasti berbohong,” tuduh Akishima.


“Aku tidak mengarang. Kamu yang memaksaku untuk merawatnya."


“Hah?! Aku tidak bisa mengajaknya ke Tokyo. Tokyo itu sangat dingin. Aku juga mencari kotatsu hanya untuknya.” jelas Akishima.


“Suamiku. Apakah kamu percaya pada istrimu?” Tanya Sheeran.


“Tentu saja ….” Aku berhenti berucap karena ancaman Aurora menghantuiku.


“Tidak jadi."


“Aurora. Kamu mencium suamiku?” Tanya Sheeran.


“Iya. Dia adalah pangeranku. Tidak ada yang boleh merebutnya.” jawab Aurora dengan aura menakutkan.


“Menantang, nih.” gumam Sheeran merasa ditantang.


“Aku akan buktikan! Aku akan menjadi istri idaman untuknya,” tekad Sheeran membara.


“Aku tidak yakin mereka akan menang, desu.” Evelyn meragukan Sheeran.


“Ini akan menjadi Perang Cinta.” lanjut Zhukov dengan datar.


“Aku juga menyukai Rivandy,” lanjut Saphine melihat tingkat Sheeran.


“Oh iya. Aurora. Susu yang kamu kirimkan itu apa? Aku ingin sekali melihat kandungannya,” tanyaku.


“Oh itu. Susunya ada di sini,” Aawab Aurora meremas dadanya.


Aku merasa terkejut dengan jawaban Aurora. Ternyata sumber susu yang kuminum berada di dada Aurora.


“Pantas saja rasanya asin.” Aku mengeluh karena susu itu adalah susu dari payudara Aurora.


“Tidak boleh! Papa harus menikmati cairanku. Aku memberikanmu gratis, lho,” rayu Aurora memelukku hangat.


“Eh?” Mereka terkejut apa yang Aurora ucapkan.


Mereka tidak percaya Aurora adalah istriku. Padahal, Sheeran yang mengaku duluan. Namun, percuma saja. Aurora sudah mendapatkan hatiku lebih dahulu.


“Chotto! Rivandy. Kamu menghamili Aurora?” Tanya Akishima terkejut.


“Aku tidak melakukannya! Dia masih perawan!” Aku berusaha mengatakan yang sebenarnya.


“Suamiku. Kenapa kamu selingkuh? Apakah aku belum memuaskanmu?” Tanya Sheeran dengan pikiran kotornya.


“Aku hanya mencium Aurora. Hanya itu!” Aku memberitahu Sheeran agar tidak terjadi salah paham.


“Aku sudah punya buktinya, desu. Lihatlah!” Evelyn memperlihatkan videonya pada mereka.


Evelyn membuka mode Hologram dan memperlihatkan adegan dewasa  Aku dan Aurora bercinta di atas ranjang dan mencapai kepuasan yang nikmat. Kami bercinta sampai ronde 7.


“Rivandy!” Akishima dan Sheeran meneriaki namaku.


“Evelyn hanya mengedit videonya!” Aku menunjuk Evelyn.


“Aku hanya melihat kalian melakukan itu, desu,” sanggah Evelyn tidak peduli.


“Ri-chan! Apakah kamu membenciku?” Denis menggoyangkan tubuhku.


“Ri-chan! Jangan tinggalkan aku!” Hammer menggoyangkan tubuhku.


Aurora tertawa manis. Ia menjawab, “Itulah buktinya. Rivandy sudah menjadi milikku.”


“Oboetero, Aurora! Kau akan membayar semua ini!” Cocor Akishima.


“Aku akan merebutnya secara paksa!” Lanjut Sheeran.


“Tidak kusangka Rivandy bermain perempuan.” Zhukov mulai berpikiran negatif.


“Aku … ingin melakukannya lagi bersama Rivandy. Tubuhnya sangat kekar dan menggodaku,” Saphine mulai terangsang.


“Jangan lakukan itu lagi!” Aku menegur Saphine.


“Saphine memang kecanduan video porno,” lanjut Zhukov.


“Ri-chan menang banyak!” Denis memujiku karena aku menang banyak.


“Iya. Ri-chan memang luar biasa,” sambung Hammer memujiku.


“Rivandy memang mudah didekati banyak gadis,” komentar Zhukov ingin tertawa.


Aku menghela nafasku secara perlahan. Mereka mengomentariku dengan lidah pedas mereka. Para gadis berdebat siapa yang akan menjadi istriku. Padahal, Neesan melarang para gadis untuk menikah. Jika mereka melakukan itu, maka Neesan langsung mencoretnya.


Salju di kota Moskow turun lagi. Kali ini, salju turun dengan lambat. Aku merasakan indahnya salju di Moskow. Namun, aku cemas kalau aku akan melemah karena hipotermia. Suhu tubuhku akan menurun jika aku berlama-lama di sana.


Namun, mereka menjagaku dan tidak membiarkanku terkapar di hamparan salju. Aurora, Sheeran, Akishima dan Evelyn menghangatkan tubuhku dengan ciuman. Saphine memberikan air minum kepadaku. Denis dan Hammer membantuku agar aku hangat. Zhukov menjagaku agar tidak ada yang menculikku. Neesan tidak bisa menculikku, Jadi, aku merasa aman bersamanya.


Evelyn pamit terlebih dahulu karena ada suatu pekerjaan yang harus ia lakukan. Lalu, Sheeran berpisah dengan kami karena ia harus berlatih untuk menjadi istri. Denis dan Hammer berpisah dan bergegas ke tempat tinggal mereka. Zhukov dan Saphine berpisah dengan kami dan segera pulang dengan cepat.

__ADS_1


Tinggal aku, Aurora, dan Akishima. Kami pulang ke arah yang sama dan memasuki ke apartemen kami masing-masing. Aurora dan Akishima memelukku terlebih dahulu sebelum masuk ke apartemen mereka.


Aku mengucapkan selamat tinggal pada mereka dan harus menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Nina Alpenliebe.


__ADS_2