
24 Oktober 2025, jam 14:53, pelajaran militer sudah disampaikan oleh guru bimbingan masing-masing. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada murid, para murid segera meninggalkan kelasnya dan disinilah mulai ada sebuah ajakan.
“Rivandy,” panggil Zhukov menghampiriku pada saat aku meletakkan wajahku di meja. Aurora dan Evelyn tidak ada di kelas.
“Ada apa?” Tanyaku dengan perasaan lemas.
“Kita main League of Legends, yuk!” Ajaknya sambil memperlihatkan alat Virtual Reality-nya.
“Tidak, aku sedang malas. Andika mengajakku bermain Dota 2 dengan Virtual Reality. Hasilnya, aku tidak ingin bermain lagi,” tolakku sambil berpaling dari Zhukov.
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa bermain Dota 2. Jadi, aku kalah dan dia menyalahkanku,” jelasku mengingat kejadian kemarin.
“Sial sekali,” gumamnya menertawakanku.
“Sudahlah, kali ini akan menyenangkan, Ayo!” Zhukov menarik tanganku agar aku tidak kabur.
Kami meninggalkan kelas segera mengajak seseorang lagi. Tidak lupa Zhukov memborgolku agar aku tidak bisa kabur. Aku terpaksa mengikutinya. Lagipula, aku ingin sesekali terbebas dari jeratan para gadis itu. Lalu, kami bertemu dengan Eleva dan mengajaknya bermain League of Legends.
“Hah? Bermain League of Legends?”
“Iya, kau punya waktu luang saat ini. Jadi, kau harus meluangkan waktumu bermain bersama kami,” bujuk Zhukov pada Eleva.
“Tch! Aku terima tawaranmu, Zhukov.” Eleva terpaksa menerima tawaran itu.
“Oi! Jika kau payah bermain LoL, aku akan menghajarmu,” ancam Eleva kepadaku yang sudah diborgol oleh Zhukov.
Setelah itu, kami segera menuju ke sebuah ruangan yang aku pernah kesana Aku melihat ruangan dapur yang bersih lalu kami memasuki ke dalam ruangan itu. Tak lama kemudian, ada dua siswa yang sedang menghampiriku dan Eleva. Aku dan Eleva merasa tidak enak badan dengan kedatangan itu.
“Ri-chan! E-chan!” Denis dan Hammer memanggilku dan segera memelukku kemudian mereka berniat untuk memeluk Eleva.
“Teme! Kalau kau mencoba memelukku, aku akan membunuhmu,” ancam Eleva dengan tatapan intimidasinya membuat Denis dan Hammer tidak akan memeluknya.
“Denis dan Hammer. Kalian sudah menyiapkan peralatan kalian?” Tanya Zhukov melihat sekitar ruangan.
“Iya, dong. Aku meminjam ruangan kepada Filia-SenpaI. Jadi, kalian bisa bermain LoL sepuasnya,” jelas Denis dengan antusias.
“Aku juga menyiapkan tempat duduk untuk kalian untuk bisa tidur dengan VR yang terpasang di mata kalian,” lanjut Hammer.
Kami segera duduk di kursi kami setelah Zhukov mengajak kami untuk duduk. Aku dan Eleva tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Zhukov. Ia mengajak kami yang sedang malas karena aktivitas akademi yang begitu kelelahan. Semoga ini cukup menyenangkan untuk menghabiskan waktu yang cukup luang itu.
“Aku sudah membeli 5 akun kepada kalian. jadi, kalian tidak usah mendaftar lagi,” jelas Zhukov.
“Aku memberikan username dan password kepada kalian untuk memasuki ke beranda dan segera berkumpul di ruangan chat. Setelah berkumpul, kita akan bermain untuk menghancurkan base musuh dengan kemampuan hero yang kita pilih. Kalau base kita hancur, kita kalah,” jelas Zhukov mengenai permainan LoL.
“ini mirip seperti Dota 2,” komentarku mendengar cara main LoL.
“Menarik sekali .Aku akan menghancurkan mereka semua dan menjadi MVP,” tekad Eleva semakin membara.
“Ok. Aku memberikan akun LoL ini kepada kalian. Rivandy menggunakan akun Dark Prince, Denis menggunakan akun Strange Private, Hammer menggunakan akun Tank of Frontier, Eleva menggunakan akun Silver Barbarian, dan aku menggunakan Green Snap,” jelas Zhukov memberikan akun kepada kami semua.
__ADS_1
Setelah itu, kami tertidur di kursi yang sudah disusun rapi oleh Denis dan Hammer. Lalu, kesadaran kami akan dipindahkan oleh server LoL menuju ke dunia paralel. Ini sama seperti permainan catur.namun ini berbeda. Kami bertemu dengan banyak orang yang sedang berkumpul dan segera melangsungkan permainan mereka.
Mereka berkumpul di Komunitas Discord yang mereka buat untuk berkumpul, mengobrol, dan bermain bersama. Sistem Discord dipercaya oleh perusahan game yang sedang populer untuk membuat komunikasi satu pemain dengan pemain yang lainnya. Jadi, tidak heran LoL bekerja sama dengan Discord untuk mengembangkan permainan yang lebih baik lagi.
Zhukov mengajak kami dengan Komunitas Discord yang ia buat untuk mengajak kami untuk segera memulai permainan. Setelah semuanya setuju, kami dibawa menuju ke sesi pemilihan Champion. Lalu, sistem mengucapkan selamat datang dan memunculkan banyak Champion yang tertera di hadapan kami.
“Silahkan pilih Champion kalian!” Pinta Sistem itu memunculkan para Champion.
Setelah itu, Zhukov bertanya, “Kalian pilih Champion apa?” Memilih Champion dengan tingkat kesulitan Moderate.
“Tryndamere. Ini cocok untukku,” jawab Eleva sambil mengubah dirinya menjadi Tryndamere.
“Leona. Dia cantik sekali,” puji Hammer dengan penampilan Leona.
“Braum. Aku ingin mencobanya,” sambung Zhukov berubah menjadi Braum, the Heart of the Freljord.
“Ashe. Aku ingin menjadi Elsa,” lanjut Denis memilih Ashe.
“Ahri,” jawabku berubah menjadi Ahri dengan Skin Academy Ahri.
“Aku memiliki kartu kredit. Jadi, sayang harus dipakai untuk apa,” balasku tanpa pikir panjang.
“Anak kecil mana boleh menggunakan kartu kredit. Hanya orang dewasa saja yang memilikinya,” cocor Eleva di hadapanku.
“Sudah. Kita akan bermain sekarang."
Eleva terdiam dengan itu. Dengan itu, kami terdiam sedikit dan dipindahkan ke suatu tempat bersama lawan kami. Lawan yang kami hadapi itu cukup bijak dalam pemilihan Champion. Sepertinya, aku merasa tidak enak dengan itu.
Setelah sampai di arena. Kami memilih item untuk menunjang dalam permainan ini. Kami berhadapan dengan Sett, Taliyah, Pantheon, Ezreal, dan Yuumi.
Kami segera menuju ke hutan untuk mengambil sesuatu. Namun, tim lawan segera mengambil eksekusi untuk menghadang kami, Alhasil, mereka membuat darah kami berkurang sampai 75%. Kami harus mundur dari serangan combo mereka.
Setelah minion muncul di lane dan bergerak, aku pergi ke Mid Lane, Denis dan Zhukov menuju ke Top Lane, dan Eleva dan Hammer menuju ke Bottom Lane. Kemudian, kami berhadapan dengan musuh untuk membunuh creep.
Namun seiring berjalannya waktu permainan, dengan ability milik Ezreal membuat Eleva dan Denis terpojok. Bahkan, membuat nyawa Eleva melayang.
“Hammer, main yang benar!” Cocor Silver Barbarian yang dibunuh oleh Ezreal.
Hammer tidak menjawab. Ia fokus dengan permainan dan bertahan. Di sisiku, aku berhadapan dengan Pantheon dengan susah payah. Ia mengejekku dengan cara permainan yang cukup jelek. namun, aku tidak peduli. Aku selalu menggunakan Spirit Rush, Ultimate Ahri untuk melarikan diri.
Zhukov dan Denis berhadapan dengan Yuumi sendirian. Mereka menyerang Yuumi dengan teknik Glacial Fissure dan Enchanted Crystal Arrow agar Yuumi tidak bisa bergerak. lalu, mereka menyerangnya dengan teknik Frost Shot dan Concussive Blows. Namun, tidak disangka Taliyah dan Ezreal muncul secara mendadak dan membabat habis lawan dengan baik
__ADS_1
Karena situasi yang mendesak itu, kami harus berhati-hati dalam melakukan farm. Denis selalu menggunakan Hawkshot untuk memperlihatkan vision map untuk kami. Kami mencoba untuk bergerak dengan waspada. Kami pergi ke jungle dan membasmi monster di hutan, sehingga kami mendapatkan exp dan koin.
Namun, karena sedikit kecerobohan, aku di-gank oleh Ezreal, dan Pantheon, sehingga aku mati lagi. Dengan itu, mereka bisa mengincar Champion lawan mereka. Kemudian, mereka mengincar Silver Barbarian dan Green Snap, sehingga mereka mati di tangan mereka lagi..
“Sial! Sebenarnya mereka itu siapa?”
“Hah? Echo Esport?! Pantas saja aku selalu mati,” keluh Silver Barbarian melihat profil tim lawan saat mati.
Game sudah menuju ke akhir Mid Game. Pertahanan kita semakin menyusut, sementara pertahanan mereka sedikit mengalami kehancuran karena kelalaian mereka dan kesempatanku. Aku dan Zhukov mencoba untuk merebut wilayah dengan menghancurkan pertahanan lawan.
Namun, Ezreal, Yuumi, dan Sett segera melakukan antisipasi, sehingga aku dan Zhukov harus kabur. Namun, Yuumi memperlambat langkah kami, sehingga kami dibantai habis oleh serangan gabungan Ezreal dan Sett.
Game berlanjut ke Late Game. Pertarungan semakin tidak menguntungkan kami. Kami selalu bertahan dari serangan mereka dan membalas serangan, jika mereka sedang lengah. Ini seperti permainan tingkat Esports.
Setelah kami mengalahkan mereka dengan kemampuan Charm, Orb of Deception, Volley, Zenith Blade, Spinning Slash, dan Unbreakable, kami segera menghancurkan tower mereka dan Zhukov mulai mengeluarkan perintahnya.
“Semuanya! Habisi Elder Dragon!” Pinta Green Snap untuk mengambil kesempatan.
Kami mematuhi hal itu dan segera menyerang Elder Dragon secara bersamaan. Namun, pada saat darah Elder Dragon mencapai 1%, Pantheon dan Sett muncul secara bersamaan dan membunuh Elder Dragon dan mendapatkan Aspect of the Dragon. Akibatnya, kami harus lari dari lawan dan mati sia-sia.
2 Menit kemudian, kami bangkit kembali dan segera menuju tower kami. Ezreal dan Pantheon segera .aku lari keluar base untuk mencari Yuumi dan membunuhnya. Setelah membunuh Yuumi secara perlahan, aku segera lari ke Lane secara bersembunyi dan segera membantai minion lawan secara cepat.
Setelah itu, aku membiarkan minion timku untuk segera bergerak. Eleva, Zhukov, Denis, dan Hammer segera bertahan dari serangan tim lawan. Mereka berusaha untuk mencari celah. Eleva menggunakan Undying Rage agar ia tidak mati. Denis dan Zhukov menyerang Ezreal dengan Sunlight dan Concussive Blows.
Setelah memojokkan Ezreal, mereka berhadapan dengan Taliyah. Namun, Sett membunuh Eleva dengan kekuatan ultimate dan serangan pasifnya, sehingga ini tidak menguntungkan rekanku.
“Rivandy, kamu dimana?” Tanya Silver Barbarian ingin tahu keberadaanku.
“Iya, aku sedang membutuhkanmu,” lanjut Tank of Frontier.
Aku tidak menjawab. Aku hanya fokus melakukan apa yang kulakukan. Aku fokus menghancurkan benteng dan segera menuju ke inti. Aku menyerang dengan lincah agar aku tidak bisa berdiam diri.
Dengan notifikasi markas di serang, mereka segera melakukan teleportasi. Tapi, timku tidak membiarkan mereka Mereka mencegah lawan mereka untuk melakukan teleportasi. Alhasil, tim Echo merasa terganggu oleh mereka, sehingga aku bisa menghancurkan inti base mereka dengan tenang.
Akhirnya, tim Echo dikalahkan sebelum Yuumi menyerangku dan sesudah inti base tim Echo mencapai 0%. Kami mendapatkan notifikasi {Winner} di hadapan kami.
Aku merasa lega dengan hasil ini. Aku melihat skor yang dihasilkan olehku. Aku melihat banyak data yang terpampang di hadapanku.
[Dark Prince] | [12/4/7] | [134] | [12.303]
“MVP,” lirihku.
Setelah itu, kami segera keluar dari game LoL dan kesadaran kami berpindah ke ruangan Klub Memasak.
Eleva membuka alat VR dan terdiam dengan hasil itu. Ia tidak menyangka apa yang aku lakukan.
“Tch! Aku tidak ingin bermain lagi. Aku pulang,” pamitnya sambil meninggalkan kami.
Kami tidak tahu apa yang Eleva pikirkan. Dengan pikiran yang kosong, kami bergegas pulang ke apartemen kami masing-masing.
Permainan yang cukup melelahkan.
__ADS_1