
24 Desember 2025, jam 20:33, banyak bintang yang bersinar di langit malam itu. Miliaran bintang yang tidak dapat terhitung membuatku terkesima melihat pemandangan itu. Sesekali aku memotret pemandangan dengan handphone milikku yang jarang digunakan. Aku hanya menggunakan itu saat darurat.
Tak lama kemudian, Sheeran keluar dari gubuk miliknya dan mendekati aku sedang memandangi pemandangan langit yang indah itu. Dia dengan cemasnya mendekatiku. Ia menahan tangisan setengah mati. Akhirnya, ia dengan keberaniannya memanggilku dengan sebutan suami.
"Hei. Suamiku," panggil Sheeran padaku yang berada di belakangku.
"Sedang apa kamu disini? Bukankah saatnya untuk tidur?" Tanya Sheeran menahan perasaannya.
"Tidak. Aku hanya bersandar di sini saja. Tidak ada yang lain," jawabku menatap pemandangan langit.
"Kamu bisa mati, lho," tegur Sheeran
"Aku tidak terlalu peduli. Aku tidak punya pilihan lain," balasku masih menatap langit.
Sheeran merasa iba. Hanya memandangku dengan simpatinya. Beberapa saat kemudian. Dia mendekatiku dengan pelan lalu mengangkat kepalaku dan menyimpannya di pahanya. Sheeran dengan menahan tangisannya berniat untuk menceritakan sesuatu.
"Rivandy. Bolehkah aku bercerita? Aku ingin kau mendengarnya. Aku harap kamu mendengarkan ceritaku ini," harap Sheeran berniat untuk menceritakan sesuatu.
"Boleh saja. Aku ingin mendengarnya," balasku tanpa menoleh ke Sheeran.
"Kalau begitu, aku mulai."
"Pada zaman dahulu kala, aku terlahir dengan orang tua yang sudah renta. Aku adalah salah satu anak yang ada dalam keluarga yang berada di garis kemiskinan. Ayah dan Ibu tidak bekerja. Mereka sudah tua dan renta. Sepertinya tidak bisa menjalankan kehidupan mereka. Mereka cukup romantis tapi mereka tidak sadar bahwa mereka sudah tidak bisa lagi. Mereka sakit-sakitan dan … hanya berbaring di kasur yang dingin dan kasar."
"Mereka memberikan segalanya padaku meskipun aku merasa cemas dengan semua pemberian itu. Aku merasa … tidak pantas mendapatkan semua pemberian itu. Pemberian barang yang kuno dan sudah rusak. Padahal, zaman modern akan terus berlangsung. Handphone, laptop, lampu, alat rumah tangga modern, televisi LED, dan teknologi lainnya. Itu tidak akan didapat di tempat ini."
"Aku tidak bisa menerima barang itu. Maka dari itu, aku memberikannya kepada orang tua. Aku selalu menjaga mereka karena aku kasihan pada mereka. Padahal, aku tidak bisa begini terus. Aku adalah manusia punya perasaan. Aku tidak bisa hidup lagi bersama mereka. Aku takut. Tidak ada yang bisa ku lakukan. Aku takut hanya berada disini selamanya.”
"Tidak ada harapan. Tidak ada pasangan yang lebih baik dan … dan …." Sheeran menahan tangisannya saat cerita.
"Sheeran? Kamu kenapa?" Aku menoleh ke Sheeran yang tidak bisa menahan tangisannya.
"Tidak apa. Aku akan lanjutkan ceritanya."
"Semenjak SD, aku dicap sebagai gadis yang miskin. Mereka selalu menertawakanku dan mengejekku karena aku gaptek. Aku berangkat dari jam 3 pagi dan sampai di sekolah pada jam 6. Aku melakukan itu setiap hari agar aku tidak bisa ketinggalan dengan yang lainnya. Aku tidak bisa membeli barang yang ku inginkan karena tidak ada uang."
"Maka dari itu, sepulang sekolah aku pergi bekerja di tempat yang jauh dan memaksakan diri agar bisa merawat tidak hanya orang tuaku, tapi desa. Aku tidak hanya merawat orang tuaku. Kepala desa aku rawat juga. Dia lebih parah daripada orang tuaku. Mereka tidak bisa menjalankan aktivitas mereka. Semua anak kecil di desa ini aku tolong agar tidak ada yang menderita sepertiku. Mereka bahagia sudah cukup."
"Aku merasa tidak ingin melanjutkan hidup lagi. Aku … hanya melakukan apa yang kulakukan. 3 jam perjalanan ke sekolah, 5 jam untuk mengikuti pelajaran, … 4 jam untuk bekerja, dan mendapatkan uang perhari. Semua itu kulakukan setiap hari. Kalau hari weekend, aku bekerja pada hari penuh dan mendapatkan uang untuk desa. Ini yang tidak bisa membuatku tidur. Itu yang membuatku tidak bisa berhenti. Aku selalu melakukan itu demi desa."
"Untuk apa mereka hidup lebih lama? Padahal membebankan saja. Aku tidak bisa hidup hanya untuk membantu orang tua yang sudah renta. Semuanya sudah tidak bisa aku lakukan. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk mengubah ini."
"Aku merasa semua itu percuma. Pertumbuhan desa ini semakin menurun. Ini menyebabkan kematian pada penduduk desa yang terbelakang sepertiku. Tidak ada pengobatan dokter di sini. Semuanya hanya dilakukan secara tradisional."
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan desa ini. Desa ini tidak bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah kota manapun. Bahkan, mereka sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak ada yang lebih baik daripada ini. Aku hanya … kau tahu. Aku hanyalah gadis yang hanya bekerja banting tulang hanya untuk desa, terutama orang tuaku."
__ADS_1
"Suatu hari, aku menemukan sesuatu yang menarik perhatianku. Aku membuka sesuatu dan aku melihat informasi bahwa ada. Aku melihat informasi yang akan mengubah hidupku. Itu adalah … Akademi Militer Spyxtria."
"Aku mendaftar di situ dan mencoba untuk memenuhi syarat agar aku bisa mendapatkan hidup yang lebih baik daripada sebelumnya. Aku berusaha keras agar lulus dan menjadi siswi akademi. Pada saat tes, aku lulus tes akademi di peringkat 262. Pada saat itu, aku menjadi lebih baik. Aku bisa masuk akademi dimana aku bisa mengirimkan uang kepada orang tua yang sudah tua dan tidak ada harapan."
"Tapi, tetap saja. Aku tidak bisa melupakan mereka. Aku meninggalkan desa dan menuju ke Moskow dengan uang yang kukumpulkan. Aku melakukan itu demi kehidupanku yang lebih baik. Namun, aku tidak merasa lebih baik. Aku masih merasa mimpi buruk yang sangat aku tidak bisa bayangkan. Aku malah meninggalkan mereka dan menunggu kematian mereka. Aku jarang tidak bisa tidur hanya karena itu. Aku memang durhaka. Aku tidak punya hati untuk merawat mereka."
"Aku pernah mendengar suatu horoskop dari peramal. Jika aku menemukan Pangeran, kehidupanku akan berubah. Jika ada Pangeran, aku bisa berada disampingnya. Jika aku memiliki Pangeran, kehidupanku dan segalanya akan berubah. Maka dari itu, aku mencari pangeran di taman atau tidak sama sekali. Dan disitulah, aku bertemu denganmu. Aku malu pada diriku sendiri. Aku sangat bersyukur kamu menciumku, sehingga aku tergila-gila padamu."
"Kalau kamu tidak ada, aku akan hidup dengan mimpi buruk. Kalau kau tidak menciumku, aku tidak bisa bertemu denganmu. Kamu akan dekat dengan gadis yang lain. Kau tidak akan mengerti perasaanku. Kau hanya menjadi Pangeran hanya untuk gadis yang kau suka dan itu bukan aku. Kamu berciuman dengannya dan menunggu kelulusan akademi setelah menunggu lama. Setelah lulus, kamu akan menikah dengan gadis lain yang kau suka. Dan kau melupakan aku."
"Aku rela menjadi gadis mesum hanya untukmu. Kalau jadi yang kedua pun tidak apa-apa. Aku hanya ingin menjadi budak untukmu. Aku tidak mau kamu meninggalkanku sendirian. Aku tidak mau kamu berselingkuh dengan gadis lain. Habisnya, kamu adalah … suamiku. Aku akan menjadi istri yang mesum dan akan terus merayumu. Ini dilakukan agar kamu selalu berada di sisiku. Aku tidak mau kamu … akan menghilang dariku."
"Kalau iya, aku akan menjadi gadis yang cabul dan tidak akan menikah. Aku akan menjadi langganan orang-orang. Aku akan menjadi yang bekas. Aku akan melupakan mereka semuanya. Aku tidak akan mengingat lagi. Aku adalah gadis yang cabul, durhaka, dan … sering menyiksa diri."
"Aku harap … kamu mengerti ceritaku. Aku tidak mengharapkan mendapatkan jawaban. Aku hanya ingin kamu mendengarnya. Itu sudah cukup."
Aku mendengar cerita itu. Air matanya membasahi wajahku. Aku tidak terlalu keberatan dengan itu dan aku merasa kasihan padanya dengan cerita itu. Kalau aku tidak ada, dia menjadi gadis yang terpaku dalam kemiskinan. Aku juga tidak mengerti dengan Pemerintahan Rusia. Ini seperti … sebuah cerita mengenaskan. Aku sudah mendengarkan itu dari Neesan sebelumnya. Maka dari itu, … aku akan membawanya keluar.
"Sheeran," panggilku kepada Sheeran yang mengucurkan air matanya.
"Iya," sahut Sheeran menyeka air matanya.
“Aku sudah mendengar ceritamu. Ini cukup mengenaskan. Aku tidak menyadari sikapmu yang mesum itu. Kamu melakukan itu semua hanya untuk itu."
“Kamu bukan gadis yang durhaka. Kau hanya terlalu fokus pada desa itu.”
“Karena kau memperkenalkanku kepada orang tuamu sebagai suamimu. Kalau aku menjadi kamu, aku ingin membuat anak bersama suamiku dan menjalani kehidupan suami istri selama 3 tahun,” jelasku dengan pandanganku.
“Tapi, kalau kamu melakukan itu, ….” Sheeran mencoba untuk mengungkapkan perasaannya.
“Aku hanya bercanda. Tidak usah dipikirkan!” Aku membohongi Sheeran.
“Desa ini … sudah tidak tertolong lagi.” gumamku melihat titik fokus cahaya.
“Kau harus meninggalkan mereka. Tidak ada pilihan lain. Mereka ....”
“Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan mereka. Aku takut mereka akan mengutukku,” balas Sheeran khawatir dengan kondisi desa yang semakin memburuk.
Aku bangun dari sandaran paha dari Sheeran dan segera menyadarkan sesuatu. Aku berbalik badan dan menyentuh badan Sheeran dengan bahunya yang disentuh oleh tanganku. Aku mulai mengatakan sesuatu pada Sheeran tanpa mengeluarkan ceramah yang tidak berguna itu.
“Dengarkan aku, Sheeran! Mereka tidak pernah meminta tolong padamu. Mereka juga tidak pernah menyuruhmu untuk bekerja. Kau selalu membuat hidup mereka lebih lama lagi. Jadi, itu yang membuatmu terbebani.”
“Menurut perhitungan matematika, Dari 70 orang saat ini akan meninggal pada tahun ini akan semakin meningkat. Tahun depan hanya 40 yang bertahan. Aurora atau dokter yang profesional takkan bisa menyembuhkan mereka. Mereka akan terus gugur dalam kehidupan yang cukup keras ini.”
“Bahkan pemerintah takkan bisa memperbaiki desa ini. Tidak akan bisa. Habisnya, jalan ini sangat terpencil. Ini sama seperti desa Dargavs. Hanya ada tulang belulang. Desa ini akan menjadi desa mati.”
__ADS_1
“Orang tuamu tidak akan menyalahkanmu. Kepada desa, dan semua penduduk ini, tidak akan menyalahkanmu. Mereka selalu berterima kasih padamu karena kamu mengirim uang pada mereka. Dengan itu, anak-anak di desa ini akan meninggalkan desa dan meneruskan kehidupannya."
“Ini semua karena kau yang memotivasi mereka untuk keluar dari desa ini. kau yang membuat mereka berusaha untuk keluar dari desa ini dan segera menuju ke kota untuk mendapatkan hidup yang layak,”
“Tidak mungkin! Aku membuat mereka ….” Sheeran terkejut dengan apa yang aku lontarkan.
“Tapi, ini bukan salahmu. Kau tidak hanya keluar dari zona ini. Kau … membuat mereka keluar dari zona kemiskinan.
“Tapi, aku ….” Sheeran mendengarkan penjelasanku.
“Jadi, jangan salahkan dirimu! Mereka akan bahagia di angkasa lepas. Kau hanya meneruskan kehidupanmu ke depan," pamitku.
“Kau sudah berusaha keras. Kau hanya perlu istirahat sedikit saja. Itu lebih baik,” pesanku pergi menuju gubuk.
Sheeran hanya terdiam kaku melihat pesanku. Ia sedikit tersenyum dengan usaha yang keras itu. Ingin sekali menahan perasaan itu. Namun, tidak bisa. Ia hanya terdiam sambil mengucurkan air matanya dengan sesaat.
Tenang saja, Sheeran. Usahamu takkan sia-sia ~ Rivandy Lex.
[*^*]
Jam 22:23, aku berbaring di tempat yang hangat. Aku juga memasang alat penghangat tubuh yang kugunakan untuk menghangatkan tubuh untuk berjaga-jaga. Alat itu diberikan oleh dokter pilihan Neesan. Tak lama kemudian, ada seorang gadis yang memasuki kamarku dan menyembunyikan alat penghangat tubuhku. Kemudian dia mendekatiku, sehingga aku terbangun karena paparan udara dingin yang menyengatku.
"Sheeran? Apa yang kau lakukan? Mana alat penghangat tubuhku?" Tanyaku menahan kedinginan.
Sheeran tersenyum tipis. Ia menjawab, "Aku menyimpannya di tasmu."
"Kenapa kamu menyimpannya? Aku kedinginan," tanyaku langsung menggigil.
"Biarkanlah aku menghangatkan tubuhmu! Aku sangat ahli menghangatkanku tubuh. Apalagi pada suami sepertimu," tawarnya.sambil membuka kancing.
"Eh?" Aku sontak terkejut dengan perilaku Sheeran.
"Jangan khawatir! Karena kamu suamiku. Aku akan menghangatkanku," respon Sheeran mulai mesum.
"Sheeran! Jangan! Aku masih lemah!" Rintihku ingin mendesah.
"Jangan khawatir! Aku masih perawan, kok," cela Sheeran mesumnya tak terkendali.
Terpaksa aku menerima tawaran Sheeran. Aku dihangatkan tubuhku dengan Sheeran. Dia menghangatkan tubuhku dengan cara yang tidak wajar. Bahkan aneh sekalipun. Ini yang membuatku sedikit lebih nyaman dengan layanan Sheeran untuk menghangatkan tubuhku.
Aku selalu menjadi pelanggan yang setia untuk Sheeran. Maka dari itu, aku berteriak keenakan. Menahan air mataku karena tubuhku semakin hangat. Aku tidak terlalu memerlukan benda penghangat tubuh itu lagi. Sheeran saja sudah cukup untuk melampiaskan hasratnya padaku.
Aku tidak peduli dengan penduduk sekitar. Aku hanya fokus bereaksi dan segera mendapatkan layanan Sheeran yang cukup khusus itu. Kami melakukan hal yang istimewa.
Setelah hubungan itu, kami tidur dengan.memeluk satu sama lain. Dia merasa bahagia karena aku memberikan pesan padanya.
__ADS_1
Kami berhubungan pasutri hanya untuk menghangatkan tubuhku malam hari.