Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Saphine Vera 1,6


__ADS_3

Jam 18:01, aku dan Joe sambil menatap dengan tajam. Parrel, Ray, dan Romano menghentikan aktivitas mereka dan segera berpakaian dan menyiapkan senjata mereka untuk melakukan pembunuhan.


“Hoi! Kalau kau ikut campur, aku akan menghabisimu sekarang juga,” ancam Romano sambil mengarahkan pistolnya ke kepalaku.


“Jangan halangi kami! Kau harus segera pergi dari sini!” Marah Ray sambil mengarahkan tembakan ke punggungku.


“Aku akan menghancurkanmu dan memotong kepalamu untuk dikoleksi,” lanjut Parrel dengan senjata bumerangnya.


Aku dihadang oleh mereka berempat. Saphine hanya terdiam kaku melihatku sedang diancam oleh mereka berempat. Ia ingin memperingatkanku untuk pergi dari sini. Tapi, karena tubuhnya tidak bisa bergerak lagi, ia mengurungkan niat itu.


“Aku menolak. Aku akan membuat kalian menyesal,” tolakku dengan tatapan yang tajam.


“Rasakan ini!” Pukulan Joe mendarat di perutku sehingga aku terhempas ke pintu apartemen.


Aku yang sedang terhempas itu segera berdiri dengan tatapan kosong. Lalu, Romano membidik tembakan ke dadaku secara beruntun, agar aku tidak bisa selamat. Aku yang terkena tembakan itu tidak bisa bergerak lebih leluasa. Itu membuat Parrel melakukan lemparan bumerang dan mengenai perutku yang sixpack.


Aku mengeluarkan darah dengan hebat dan membuat mereka semakin mendominasi. Andika terus mengawasiku dari drone. Ia melihatku yang sedang mengeluarkan darah dengan banyak serangan yang mengenai tubuh depanku dengan mudah.


“Rivandy. Jangan mati, dong! Kalau kamu mati, semua cewek bakal nangis, lho,” harap Andika agar aku tidak mati.


Aku yang terpuruk itu tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak bisa menyerang mereka dengan senapan runduk milikku. Mereka menyerangku dengan cepat tanpa membiarkanku bergerak sedikit pun.


Romano dengan Ak-47, Parrel dengan senjata bumerang yang berasal dari Australia, Ray dengan senjata pistol Koch USP, dan Joe dengan pukulannya dari teknik Taekwondo sabuk merah.


Joe segera mendekatiku dengan larinya yang cepat. Ia meloncat dan bersiap melakukan tendangannya untuk membuatku tidak berkutik.


“Rasakan ini!”


“Kibon Junbi Seogi : Twieo Ap Chagi!”


Dengan tendangan itu yang dilancarkan ke perutku, aku mengeluarkan darah dengan banyak, sehingga aku tidak punya peluang untuk menang,.Luka yang berada di perutku membuatku muntah dengan darah.


Saphine yang tidak bisa bergerak itu hanya melihat dengan rasa penasaran. Ia berharap ia menghentikan perkelahian ini.


Andika hanya terdiam melihatku yang penuh darah dari depan pintu. Ia mencoba untuk menyelamatkannya. Namun, Zhukov melarangnya. Ia tidak boleh mencampuri pertarungan Rivandy. Ia hanya menghambatku.


Aku yang sedang terluka itu segera berdiri dengan luka yang banyak. Namun, Joe mencegahku untuk segera mengangkat tubuhku yang tidak bisa bergerak itu.dan melakukan pukul di kepalaku.


“Naranhi Seogi : Eolgol Jirugi!”


Dengan pukulan itu, kepalaku terasa pecah karena pukulan dari murid Taekwondo sabuk merah. Romano menembakku dengan peluru agar kakiku tidak bisa berdiri. Parrel mengarahkan serangannya ke tanganku. Ray melakukan tembakan tepat di otakku. Aku tidak punya kemenangan apapun.

__ADS_1


“Ada kata terakhir, Pahlawan Kesiangan?” Ejek Joe dengan senyuman kesombongannya sebelum melancarkan serangannya.


Aku hanya terdiam dengan bentakan itu. Ray dan Romano membuat tembakan yang cukup keras, sehingga aku tidak memiliki tenaga untuk melawan. Aku mencoba untuk berteriak. Namun,caku menolak itu. Aku hanya menutup mulutku meskipun mereka menyiksaku lebih lanjut.


“Oi! Jawab aku!” Bentak Joe dengan reaksiku yang memancing kemarahannya.


“Jawablah! Dasar неудачник!” jawab Romano sambil menarik pelatuknya untuk membuatku bicara.


Aku hanya terdiam dengan itu. Tembakan itu tidak akan membuatku bicara. Aku tidak mengeluarkan aura ketakutanku ketika Aurora menyerangku dengan mata cintanya.


“Dia tidak menjawab. Kita harus membunuhnya dan lanjut lagi,” usul Ray melihatku terdiam dengan penuh darah.


“Yosh! Aku akan membunuhnya. Rasakan ini!” Tekad Parrel memegang bumerang nya dan segera melemparkannya ke arah leher bagian belakang.


Gerakan bumerang itu membentuk sebuah kurva ke bawah menurut Koordinat Kartesius. Kemudian, bumerang itu melesat melewatiku yang sedang terluka dan segera berbalik ke arah leher bagian belakang untuk mematahkan kepalaku.


Namun, aku dengan reflek menangkap bumerang itu dengan pergelangan tanganku yang mulai terluka dan segera melemparnya dengan keras menuju leher berdarah Afrika itu, sehingga bumerang itu menjadi senjata makan tuan. Bumerang itu tertancap di leher penggunanya dengan keras


Parrel yang terkena leher bagian laring dan faring terkejut dengan gerakan itu. Seharusnya mengarah ke arah leher belakangku, namun, malah bergerak lurus Ini membuat Parrel tewas secara seketika.


Seketika itu, membuat Joe, Ray, dan Romano menjadi panik. Joe secara tidak sengaja melemparku ke pintu apartemen dan membuat tulang punggungku patah. Aku tidak peduli. Aku hanya berfokus untuk membunuh mereka. Aku menatap mereka dengan aura membunuhku.


Aku yang terkena tembakan itu segera bergerak cepat dan mulai mengeluarkan belati milikku. Tembakan yang beruntun itu mengenai perut dan dadaku, sehingga mengeluarkan darah yang sangat banyak. Namun, aku tidak peduli dengan itu. Aku hanya menatap mereka sambil membayangkan kematiannya yang tidak bisa dihindarkan.


“Sial! Kenapa tidak kena?” Umpat Romano dengan panik.


Secara tidak sengaja aku membanting Ak-47 dengan keras dan dengan cepat menusuk perut Romano berkali-kali. Romano berteriak kesakitan. Ia tidak bisa melepaskan diri dan mengambil senjatanya karena dengan tusukan perut yang dalam pembuatannya terbujur kaku di lantai.


Ray dan Joe semakin ketakutan dengan kematian Romano yang tidak bisa dihindarkan lagi. Joe yang sedang pucat itu menyuruh, “Oi! Lakukan sesuatu! Dia akan membunuh kita.”


Ray segera mendengar ketakutan itu. segera mengisi amunisi dan menembakku dengan aura ketakutannya. Pelurunya melesat menuju ke wajahku. Namun, itu tidak dapat menghentikanku. Aku segera menghampiri Ray dan menusuk alat vitalnya dan Ray terpuruk dengan darah di bawah perutnya.


Dengan itu, aku menghampirinya dan melakukan tusukan yang amat dalam, sehingga dapat membuat Ray tergeletak di lantai dan tidak bergerak lagi. Setelah pembunuhan itu, Joe segera lari ke kamar Saphine dan memegang Saphine yang tidak berpakaian dengan erat dan menyanderanya. Aku menghampiri Joe seperti langkah seorang psikopat.


“Jangan bergerak! Kalau tidak, aku akan membunuhnya,” ancam Joe sambil mengarahkan pisau kecilnya ke Saphine.


Saphine hanya terdiam dengan sandera itu. Ia tidak peduli apakah ia masih hidup atau tidak. Ia hanya memikirkan nasib ibunya yang dibawa ke Korea Selatan. Ia juga berpikir tentang temannya yang bersamanya walaupun singkat.


Maafkan aku, Zhukov. Aku akan pergi bersama ibuku sekarang juga ~ Saphine Vera.


Sebelum itu, sebuah pisau melesat dengan cepat dan menusuk mulut Joe dengan sadis. Joe berteriak dengan keras dan melepaskan Saphine. Kemudian, aku bergerak menghampiri Joe yang sedang melepaskan pisau yang tertancap dari mulutnya

__ADS_1


Karena itu, aku menarik pisau itu dan segera menancapkan ke alat vitalnya. Kemudian, aku menancapnya ke matanya, dan akhirnya ia tewas dengan banyak darah di sekujur tubuhnya.


Saphine berdiri terdiam dengan kematian Joe yang telah membuatnya hina. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada kami. Setelah membunuh Joe, aku bergerak menuju ke pintu untuk mengambil sesuatu. Lalu, aku kembali ke tempat Saphine berada dan memberikan buku biologi padanya dengan tanganku yang berlumuran darah.


Saphine yang semakin takut dengan itu. Ia dengan murung bertanya, “Kenapa? Kenapa? Kenapa?”


“Kenapa kamu menyelamatkanku yang hina ini? Kau membunuh mereka hanya karena menyelamatkanku yang sudah hina itu,” tanya Saphine dengan tatapan ingin menangisnya.


Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Aku memberikan buku Campbel itu kepada Saphine. Saphine malah memarahiku dengan ocehannya, sehingga membuatku tidak berbicara apapun.


“Aku tidak butuh bantuanmu. Aku ingin hidup yang ku inginkan. Bermalam dengan orang lain dan membayarku dengan murah. Tadi, hampir saja aku mendapatkan tujuanku. Namun, kau sudah merusak rencanaku,” marahnya dengan air matanya yang mengalir di air matanya.


Aku yang penuh luka di sekujur tubuhku malah menyodorkan buku kepada Saphine. Saphine malah menolak dan segera membuang buku itu ke lantai. Aku hanya terdiam dengan itu. Ia tidak bisa menerima hal itu. Ia lebih memilih menjadi anak malam daripada menjadi dokter yang ia idamkan sejak kecil.


Ia semakin lama semakin marah. Ia mencoba untuk mengusirku tapi, aku memegang tangannya dengan erat dan membuatnya tidak bergerak.


“Lepaskan aku!” Pinta Saphine sambil menangis.


Aku menolak perintah itu. Aku tidak membiarkannya menderita lagi. Aku memegang dengan erat agar ia tidak bisa melakukan apapun. Saphine semakin ketakutan. Ia terpojok dengan aksiku yang selalu menahannya. Ia membulatkan tekadnya untuk melakukan hal yang ia seorang lakukan.


“Sudah! Tidak ada pilihan lain. Aku akan membuatmu enak sekarang juga,” tekad Saphine berniat untuk membuka celanaku.


Aku mencegahnya dengan tanganku memegang pahanya untuk tidak bisa bergerak. Saphine tidak bisa bergerak karena pahanya ditahan olehku. Ia berusaha untuk mendekati tubuhku.


Saphine ingin memuaskanku dengan tubuhnya. Namun, munculnya air mata yang mengalir ke perutku yang sedang berdarah. Beberapa tetes air mata telah membasahi perutku yang dipenuhi dengan peluru.


“Sebenarnya, Aku … tidak mau melakukan ini,” sesalnya sambil menangis.


Ia tidak bisa melakukannya karena ia terlalu takut. Aku tidak membiarkannya untuk merusak tubuhnya dengan cara itu. Aku menatapnya yang sedang melakukan penetrasi. Namun, aku mencegahnya itu terjadi. Baru pertama kali ia diperlakukan baik setelah dihancurkan oleh rasa perasaan yang hina itu.


Ia juga mengingat bahwa aku membunuh para hidung belang itu hanya mengeluarkan dari dunia yang gelap dan semu. ia menyesal dengan tubuhnya yang sudah kecanduan itu.


Akhirnya, ia meneteskan air matanya dengan keras sambil memelukku yang sedang kehilangan banyak lukanya. Ia meluapkan perasaan dan kebohongan sambil meminta maaf kepada teman-teman. Ia tidak bisa memaafkan dirinya yang sudah kecanduan itu. Setelah menangis dengan cukup lama, ia berniat untuk melakukan sesuatu untuk mengobati lukaku.


Maka dari itu, Saphine memutuskan untuk mengobatiku yang terluka. Ia bergerak secara susah payah. Setelah itu, ia mengambil buku Campbel dan membaca sesuatu. Setelah itu, ia segera menuju ke meja belajarnya yang penuh dengan peralatan dokternya.


Setelah mengambil peralatan dokternya, ia melakukan operasinya sendirian. Lalu, ia membalut lukaku dengan perasaan cinta dan kasih sayangnya Tak lama kemudian setelah Saphine berpakaian rapi, Andika datang dan membawaku ke rumah sakit


Aku tidak mengetahui itu, sudah kehilangan kesadaran itu setelah membunuh semua orang.


Diharapkan aku akan bangun suatu saat nanti.

__ADS_1


__ADS_2