
“Kau! Kenapa kamu memiliki bukti seperti ini?!” Hakim itu menghentakkan buku virtual itu.
Cherry melihat Hakim yang memerah. Rencana yang dilakukan Cherry berhasil dengan Hakim yang terprovokasi dengan jebakannya. Dengan kondisi di tangannya, membuat Cherry bisa membuat celah. Para saksi terheran dengan sikap Hakim itu.
“Ara-Ara. Kenapa kamu marah? Apakah kamu memperlihatkan kemarahanmu di depan para saksi?”
"Anda memang keterlaluan! Kenapa Anda memiliki bukti yang banyak itu?! Padahal, aku hanya membeberkan kasus ini saja."
"Oh itu? Itu adalah kumpulan dari kasus kejahatan siswa dan siswi beserta dengan korban yang terkena kasus. Kasus itu dari Angkatan 2020-2025. Sebanyak 202 setiap angkatan terkena kasus kejahatan dan lain sebagainya." Cherry berdiri di tengah hadapan Hakim dengan penjelasanya.
"Saat ini, hanya 93 siswa dan siswi akademi angkatan 2023, 131 siswa dan siswi akademi angkatan 2024, dan 254 siswa dan siswi akademi angkatan 2025 yang masih bertahan. Sisanya sudah terkena kasus kejahatan atau melanggar aturan yang cukup parah."
"Ada 50 siswa dan siswi dikeluarkan dari akademi. Mereka terkena kasus yang sama juga. Apa maksud dari semua ini, Cherry Spyxtria?! Apakah mereka melakukan hal yang buruk kepada … Pangeran Thailand?" Tanya Hakim itu menatap Cherry dengan tajam.
"Iya. Pangeran Thailand dinyatakan meninggal dunia karena harus melayani 50 gadis itu. Pangeran Thailand dinyatakan korban pemerkosaan oleh 50 gadis itu. Alhasil, Pemerintah Thailand mengundurkan diri dan menghentikan kontribusinya. Mereka tidak akan mengirimkan siswa dan siswi mereka ke sini."
"Malangnya, 50 gadis yang memperkosa Pangeran Thailand itu harus meminum pil pahit. Mereka semua mendapat hasil positif dalam pengecekan test pack. Mereka dinyatakan kriminal dan segera dipulangkan ke negara mereka masing-masing dan menerima akibatnya sebagai Gadis Janda di sel."
"Kasus itu cukup parah. Ini sudah setara dengan Human Trafficking kategori jingga. Jadi, kepala sekolah sebelumnya sudah mengantisipasi sebelumnya. Namun, dia sudah digantikan. Tidak ada yang bisa ia lakukan."
Hakim itu tidak mengerti penjelasan Cherry. Ia berhadapan dengan seorang monster politik. Oneesan Ara-Ara itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Cherry tidak akan membiarkan Rivandy dikeluarkan dari akademi karena sudah membunuh bangsawan.
"Dia sudah membunuh bangsawan yang penting di Inggris. Dia melakukan dosa yang cukup besar. Memang kasus yang kau berikan itu padaku membuatku terkejut. Tapi, kasus ini sangat keterlaluan." Hakim itu mengancam Cherry.
"Bahkan siswa dan siswi akademi mengalami terancam dan trauma melihat kejadian yang seperti itu. Kejadian ini memang tidak pantas. Banyak darah dan tubuh yang terpotong memandangi siswa dan siswi akademi. Mereka menjadi takut kepada pembunuh itu."
"Apakah anda ingin membuat siswa dan siswi akademi terancam? Anda bisa saja mempertanggung jawab dari semua ini," tanya Hakim itu dengan tegas.
Cherry hanya terdiam. Dia mendengar semua keluhan itu dan tidak menyadari sebuah ketidaktahuan pada diri hakim itu. Ia sudah mengetahui semuanya. Ia akan memulainya dari awal. Ia akan menyudutkan hakim itu.
"Ara-Ara. Benarkah?! Aku tidak habis pikir apakah mereka semua mengalami trauma. Mereka bukan siswa siswi biasa. Mereka dilatih untuk menjadi lebih kuat. Tidak ada satupun dari mereka yang trauma. Jikalau mereka adalah siswa biasa, mereka sangat ketakutan." Cherry berdebat dengan baik.
"Mereka hanya perlu melatih sedikit pada kelas selanjutnya. Di kelas II, mereka akan dilatih untuk melihat adegan sadis pada pelajaran militer. Mereka harus menghadapi ketakutan yang dihadapi. Jadi, jangan khawatir! Mereka akan sembuh jika datang ke ruang psikologi di rumah sakit. Mereka hanya kelelahan karena tugas akademi yang melelahkan itu."
"Ketika bangsawan atau strata papan atas melakukan kejahatan, mereka tidak dihukum. Justru orang jelata yang terkena imbasnya. Seandainya, aku melakukan kejahatan, akan dihukum di pengadilan dengan bukti dari bangsawan dan presdir. Mereka bisa terbebas dari hukuman apapun dari hakim."
"Mereka biasanya disogok sejumlah uang dan dengan otoritas mereka agar mereka tidak terkena hukuman berat. Orang yang tidak punya apapun hanya bisa berpasrah dan mengucapkan doa sambil menjerit. Akhirnya, mereka dipenjara sesuai dengan undang-undang yang berlaku."
"Apakah itu tidak adil?" Tanya Cherry menjelaskan sesuatu pada hakim.
"Apakah anda meragukan saya sebagai hakim disini?" Tanya Hakim itu merasa terhina.
"Tidak. Aku hanya mengingatkan saja. Masih banyak negara yang mengalami hal yang seperti itu. Termasuk Indonesia. Indonesia adalah negara hukum yang tidak bisa dilaksanakan." Cherry menyanggah pernyataan hakim itu.
“Nenek yang mencuri kayu bakar saja sudah dijatuhi hukuman 1 tahun penjara atau satu didenda Rp. 500.000.000,00. Pencuri sandal Rp.30.000,00 juga dijatuhi hukuman 5 tahun. Lalu, apa yang terjadi para koruptor di sana?”
“Jawabannya, …mereka bebas dari hukuman. Kalau di penjara pun akan terasa seperti apartemen. Karena itu, Indonesia tidak pernah menjadi negara maju,” jelas Cherry berkarakter seperti anak kecil.
"Jika anda mengatakan hal yang tidak-tidak, saya tidak akan segan padamu!” Bentak hakim itu dengan tatapan yang tidak mengenakan.
“Eh?! Aku mengatakan hal yang sebenarnya, kok,” jelas Cherry dengan senyumannya.
"Baiklah. Jadi, apalagi yang ingin anda sampaikan pada saya?” Hakim itu mengalah pada Cherry.
“Sebenarnya, ada banyak. Hanya saya, Yang Mulia tidak akan mengerti bagaimana cara membuat keputusan yang baik dan benar.”
“Aku tidak tahu apakah kamu bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Habisnya, ekspektasi yang Yang Mulia harapkan selalu berbanding terbalik dengan kenyataan. Aku selalu merencanakan semua rencana. Tapi, tidak semuanya berhasil.”
“Apakah dengan menerima sogokan dari bangsawan Inggris, Yang Mulia bisa menyelesaikan semua persidangan ini?” Tanya Cherry membuat mereka terkejut.
Semua terkejut dengan pertanyaan Cherry yang aneh. Bahkan, Diana yang duduk di Kelas VIP keringat dingin apa yang Cherry tuturkan. Para saksi berbisik karena ada hakim yang terdiam dengan pernyataan itu.
Diana terdiam dengan apa yang ia dengar. Sebuah pernyataan dari Cherry mengenai sogokan yang dilontarkan dari Bangsawan Inggris semakin sensitif. Ini membuatnya merasa tertekan.
__ADS_1
“Apa yang kau pikirkan, Kochou-Sensei?!” Gumam Diana menonton pengadilan dari bola matanya.
Sementara itu, hakim terkejut dengan pertanyaan Cherry. Ia tertekan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh kepala sekolah akademi. Alhasil, ia menggertak Cherry dan memaksanya untuk memasuki gertakan dan jebakan yang hakim sudah siapkan.
“Jangan bergurau! Saya tidak mungkin melakukan hal yang seperti itu!” Bantah hakim itu merasa terpancing.
“Eh?! Benarkan? Aku belum bertemu dengan Manshery Elizabeth V. Yang Mulia sepertinya ketahuan. Aku belum paham motif apa yang kalian gunakan. Bahkan, Yang Mulia tidak menyadari akibat dari motif itu," jelas Cherry dengan baik.
“Anda masih belum paham. Anda masih saja seperti anak kecil. Anda tidak punya bukti yang kuat untuk membantah pernyataan ini.” Hakim membuat saksi tidak percaya dengan Cherry.
Di dalam pikirannya, terdapat pikiran yang jahat. Ia tertawa kecil di dalam pikirannya, berencana agar kepercayaan Cherry pada saksi dalam persidangan itu akan berkurang. Ia akan menyudutkan Cherry.
"Saya tidak memberi anda sesuatu untuk disampaikan. Kamu tidak akan bisa lari dariku dan para saksi ini."
“Aku punya bukti yang kuat untuk membuatmu terkejut. Tunggu sebentar!” Cherry berdiri di depan hakim dengan santai.
Ia membuka tablet virtual yang hanya digunakan oleh Cherry sendiri. Tablet itu melebarkan dirinya secara otomatis dan diberi perintah dari Cherry untuk memperlihatkan sebuah video pada hakim, jaksa, dan para saksi yang sedang menonton video kebenaran.
"13 Maret 2026, jam 21:23. Ruangan tersembunyi."
Video itu memperlihatkan persetujuan dan perundingan dari bangsawan dan hakim. Bangsawan itu memberikan sejumlah uang besar pada hakim dengan satu syarat. Dengan satu syarat itu, membuat bangsawan itu menjadi lebih baik.
Orang yang melihatnya sangat terkejut. Bahkan, hakim itu sendiri. Ia tidak sadar bahwa ia dimata-matai oleh VR milik Cherry. Cherry tahu apa yang Rivandy lakukan bersama para gadis itu. Dia juga menganggap bahwa remaja itu berkorban untuk melindungi dirinya.
Video itu adalah salinan dari live VR Moskow yang digunakan oleh Cherry sendiri.
"Apa … yang … anda lakukan?! Kenapa?! Kenapa anda mengetahui perundingan itu?!" Tanya hakim itu sangat terkejut dengan video yang ditonton.
"Itu buktinya. Yang Mulia menerima sogokan dari bangsawan. Aku sudah melihat dengan jelas dan memperlihatkan video itu. Selain itu, aku juga sudah memperlihatkan motif kalian pada publik. Mereka sudah melihat semua ini dan Yang Mulia melakukan hal yang tidak seharusnya hakim lakukan. Bukti dari bangsawan itu cukup jelas. Tapi, itu belum cukup untuk menumbangkanku."
"Itu tidak akan diedit. Tidak mungkin video itu diedit. Ini adalah video kebenaran dari sebuah video yang dari live streaming dari video milikku. Ini juga bisa disimpan dari storage yang sangat besar. Aku bisa menghapusnya jika perlu. Bahkan, perlu waktu lama untuk mengedit sebuah video menjadi manipulatif," papar Cherry dengan membuktikan video itu bukan hasil editan.
"26 November 2024, jam 15:23, koordinat Akademi Militer Spyxtria." Cherry memberikan perintah pada virtual dari tabletnya untuk memperlihatkan video dengan tanggal yang dituju.
"Seandainya, aku menjadi kepala sekolah menindaki tindakannya lebih lanjut dan melaporkannya pada hakim mengenai kasus ini."
"Apakah aku melakukan hal yang sama pada bangsawan itu?"
"Tentu saja tidak! Aku tidak pernah menyogok hakim. Aku hanya memberikan bukti yang kuat kepada hakim dan hakim bisa melakukan hukuman yang lebih berat sampai pengeluaran siswa bangsawan itu dari akademi," jelas Cherry dengan tingkah laku ibu-ibu centil.
"Aku tidak perlu menyewa pengacara. Aku saja sudah setara dengan 20 pengacara yang bekerja sama."
"Jadi, Yang Mulia tidak bisa lari dariku," ancam Cherry dengan tatapan seriusnya.
"Bagaimana menurutmu, anggota Klub Komite Disiplin, siswi Kelas I Soshum A, Diana Ravenrought?" Tanya Cherry pada Diana yang sedang duduk pada kelas VIP.
Diana yang terpanggil segera bangkit dan berjalan menuju tempat itu. Dia sudah merekamnya. Hanya saja butuh beberapa sentuhan untuk mengutarakan ucapannya pada saksi.
"Pada awalnya, aku meragukanmu sebagai kepala sekolah. Bahkan, aku merasa tidak enak pada pertemuan pertama pada Klub Komite Disiplin yang aku ikuti bersama Sinta. Tapi, dengan arahan dari Kochou-Sensei, menjadi Klub Disiplin menjadi Klub yang mendisiplinkan siswa dan siswi akademi."
"Walaupun belum berjalan secara maksimal, Kochou-Sensei menyerahkan sebagian dari kartu kredit untuk menunjang klub yang kami ikuti."
"Aku sudah memberikan hukuman pada Klub Pangeran karena mereka selalu membuat kekacauan. Nina dan Sinta membantu juga. Jadi, petugas disiplin bisa berfokus pada siswa dan siswi yang tidak mematuhi peraturan akademi."
"Kesimpulan yang saya ambil dari sini adalah … dia sudah mengorbankan semua bukti itu. Kochou-Sensei bahkan tidak pernah tidur dalam membuat laporan dari bukti itu. Yang Mulia hanya tidak menyadari dengan kerja keras dari Kochou-Sensei."
"Kasus Evelyn Emily dan Rivandy Lex sudah cukup untuk diselesaikan. Sisanya, aku yang akan berinisiatif untuk menyelesaikannya."
"Jadi, Yang Mulia sudah tidak bisa lagi berkata apapun lagi. Anda sudah tidak bisa melawan kami lagi," tegas Diana menekan hakim itu.
"Kalau perlu, aku akan melaporkannya kepada Presiden Rusia, bukan pada orang lain. Dia akan marah dengan laporan tentangmu. Dia akan memecatmu sebagai hakim dan kamu menjadi pengangguran. Lebih parah lagi, Yang Mulia bisa saja dipenjara. Itu sudah cukup untuk memberantas penyuapan." Cherry menahan tawanya.
Hakim itu merasa kalah karena tidak bisa berhadapan dengan monster seperti Cherry. Ia beranggapan jika berurusan dengan Cherry, akan mengakibatkan masalah yang sangat berat. Ia sudah tidak bisa berkutik lagi.
__ADS_1
"Jadi, apakah bukti yang kalian berikan itu sudah cukup? Saya merasa ada yang kurang," tanya Jaksa itu.
"Tidak juga. Aku ingin membuat bukti dan memberikannya pada kalian. Namun, sepertinya hakim tidak bisa lagi mendengarkan bukti ini. Dia sudah muak dengan bukti yang aku berikan," jawab Cherry dengan aura Oneesan dan MILF.
Itu membuat para saksi menjadi tergila-gila. Diana menghela nafas karena seruan dari para saksi yang memihak pada Cherry.
"Wah! Kepala Sekolah ini sangat diandalkan!" Puji saksi pertama yang mengatakannya.
"Cherry Spyxtria memang hebat!" Lanjut saksi kedua terpesona dengan Cherry.
"Jika, dia bekerja sebagai KPK di Indonesia, para koruptor sudah diberantas dengan mudah,".sambung saksi yang berasal dari Indonesia.
"Dia bisa saja mengidentifikasi siapa yang korupsi atau tidak, sehingga ia bisa mengurangi tikus yang ada di kota Moskow," komentar saksi yang melihat Cherry.
"Itu lebih baik daripada pengacara yang lainnya," lanjut saksi yang melihat persidangan dengan kacamata hitamnya.
"Baiklah. Saya kalah dari anda, Cherry Spyxtria. Sebelum itu, apa yang anda ingin lakukan pada saat yang mendatang?" Tanya Hakim itu kembali menjadi segar dengan beberapa saat kemudian.
"Eh?! Bukankah sudah jelas? Saya akan menghukumnya. Itu sudah cukup. Aku juga akan membuatnya patuh pada akademi. Diana akan membantu. Ini sudah cukup untuk menghadapi siswa sepertinya."
"Bukankah itu berlebihan?" Tanya Hakim itu.
"Maksud saya, anda mengalami kejadian yang anda hadapi. Anda akan mengambil resiko yang sangat berat."
"Jika anda melakukan ini, anda harus berhadapan dengan mata-mata dari seluruh dunia. Apakah anda sanggup menghadapi mereka semua?" Tanya Hakim itu mengenai mata mata.
"Saya sudah melihatnya. Dengan kasus itu membuat agen intelijen pergi ke Moskow untuk mengambil seseorang untuk mendapatkan siswa itu dan mempergunakannya secara sewenang-wenang."
"MI6, BIN, BND, KBG, CIA, MSS, dan anggota mata mata yang lainnya."
Cherry terbiasa mendengar nama itu. Dia sudah mengetahui bahwa ada ysng datang untuk melakukan tujuan sesuatu. Dengan itu, dia akan meladeninya.
"Sepertinya, aku sanggup. Aku sudah berhadapan dengan mereka beberapa kali. Aku ragu kalau ada yang melakukan pengkhianatan pada sebuah persetujuan," jawab Cherry.
"Jadi, Yang Mulia tidak perlu melakukan keputusan. Aku tidak perlu menjalani hukuman yang anda berikan. Aku akan melakukannya dengan kemauanku sendiri," saran Cherry pada hakim itu.
Hakim mengerti dengan apa yang Cherry pikirkan. Ia sudah melihat potensi dari Cherry, sehingga Cherry dipercaya oleh Presiden Rusia.
"Lalu, bagaimana menurutmu, Diana Ravenrought?" Tanya hakim itu kembali menoleh padanya.
"Aku akan melindunginya. Aku tidak akan membiarkan dia menderita lagi karena selalu mendapatkan luka yang selalu menghantuinya."
Hakim merasa paham pada Diana. Tekad Diana menjadi tak terelakkan. Diana tidak bisa lari lagi. Ia harus bertanggung jawab atas apa yang diucapkan. Pada saat yang sama, Cherry mengeluarkan sebuah surat dan berpesan pada jaksa untuk memberikannya hakim untuk dikirimkan ke bangsawan itu.
"Oh iya, Yang Mulia. Kalau anda bertemu dengan bangsawan itu, berikan surat ini padanya! Dia akan terkejut dengan isi surat ini. Surat ini sudah ku tulis pada pertemuan PBB di Afrika. Itu melelahkan. Jadi, tolong yah!" Pesan Cherry dengan tatapan yang manis dari Oneesan.
"Setelah aku pergi, titipkan surat ini! Yang Mulia tidak perlu apakah menitipkan ini atau tidak! Terserah anda. Aku tidak akan melakukan tindakan lebih lanjut lagi. Aku sudah lelah dengan kesibukan ini. Aku ingin tidur," lanjut Cherry segera pergi dari persidangan itu.
Para saksi terdiam dengan perlakuan Cherry. Cherry meninggalkan peradangan itu karena itu sudah lelah. Diana melihat Cherry meninggalkan pengadilan kembali duduk dan mengerjakan sesuatu yang ia lakukan. Hakim menghentikan langkah itu dengan sebuah pertanyaan.
"Apa yang anda lakukan pada mata-mata itu jika anda berhadapan dengannya? Anda tidak bisa melakukan itu dengan seenaknya," tanya hakim itu mencegah Cherry pergi.
Cherry menoleh pada hakim. Dengan senyuman yang terlukis dari wajahnya, membuat hakim menjadi pasrah. Dengan gaya Oneesan Ara Ara yang ditambahkan dengan MILF, membuat sosok Cherry menjadi wanita yang mengerikan.
"Jangan Khawatir! Aku akan menghadapi mereka semua. Aku akan memastikan mereka tidak akan mengganggu akademi lagi," jawab Cherry dengan senyumannya yang tajam dari Oneesan Ara-Ara.
Sebelum Cherry pergi meninggalkan persidangan itu, ada seseorang yang muncul di akhir sidang itu Dia menghentikan Cherry untuk pergi.
"Tunggu sebentar, Cherry Spyxtria!"
"Aku belum selesai denganmu."
Suasana persidangan menjadi heboh. Seorang remaja berdiri di samping hakim dan jaksa. Ia menatap Cherry dengan tajam. Ini membuat para saksi semakin kebingungan dengan keberadaan remaja itu.
__ADS_1
"Ada yang bisa dibantu, Zhukov Rekovic?"