
6 Oktober 2025, jam 10:12, aku dan Aurora sedang menuju ke kantin sambil memelukku agar aku tidak bisa lari. Aku hanya terpaksa menerimanya karena ini takdirku.
Tiba-tiba, Akishima datang menuju ke arahku dan segera menciumku. Ciuman itu membuatku kecanduan. Aurora dan Evelyn sangat terkejut dengan itu. Aurora membentak, "Tunggu! Akishima! Apa yang kau lakukan?"
Evelyn melanjutkan, "Kau akan menyesalinya, desu," sambil menggembungkan pipinya.
"Habisnya ini seperti rasa coklat. Aku tidak bisa tahan dengan itu," jawab Akishima turun dari tubuhku.
"Akishima benar. Ini rasanya seperti coklat. Aku kecanduan dengan ini," jawabku menahan hasratku untuk menciumnya.
"Eh?!" Aurora dan Evelyn terkejut.
"Kalau begitu, aku tidak akan membiarkanmu dicium seperti coklat," tekad Aurora semakin membara.
"Aku akan memberimu coklat dan akan menciummu di Hari Valentine, desu," lanjut Evelyn ingin memberikan coklat kepadaku.
Aku mengajak, "Ayo ke kantin! Aku lapar, nih," sambil berjalan menuju ke kantin.
"Ayo!" Mereka setuju secara bersamaan.
Setelah tiba di kantin, kami memesan makanan yang akan disantap. Aurora seperti biasanya menyantap Beef Steak ukuran mini. Evelyn memesan puding. Aku dan Akishima memesan takoyaki biar bisa dimakan sekarang.
Setelah makan di kantin, aku bergegas menuju ke perpustakaan untuk meminjam buku lagi. Aurora dan Evelyn masih makan di kantin. Akishima melakukan pertarungan dengan Sheeran di taman. Perdebatan mereka mencapai batasnya.
[*^*]
Jam 15:01, pelajaran militer berakhir. Semua siswa dan siswi diperbolehkan pulang, kecuali anggota Klub Sains/Saintek.
Klub Sains adalah klub yang memiliki visi untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan menerapkan kehidupan sehari-hari. Selain itu, klub ini bertujuan agar kami bisa bersaing di bidang Sains level Internasional. Klub ini berjumlah 20 orang termasuk Aurora. Klub ini mencakup matematika, biologi, fisika, dan kimia.
Aku diseret Aurora menuju ke Klub Saintek yang berada dekat dengan Kelas III Saintek A, yang berjumlah 11 orang.
Setelah sampai di ruangan Klub kami disambut baik oleh anggota Klub karena Aurora berhasil mengajak anggota baru. Ketika mereka memperkenalkannya Saintek padaku, aku menunjukkan kemampuan Sains yang ku miliki.
Aku harap tidak ada Klub Pangeran yang masuk Klub Saintek.
Setelah itu, Ketua Klub memujiku dengan kata yang indah. Begitu juga dengan Aurora.
"Ini akan berpeluang untuk memajukan Klub Saintek!" Seru anggota Klub Saintek mengenakan jas putih.
"Kamu bisa menjadi dokter atau fisikawan. NASA akan merekrutmu di usia muda," puji siswi anggota Klub Saintek.
Aktivitas Klub Saintek mulai berlanjut. Mereka akan membahas soal sains tingkat internasional dan mencoba eksperimen 20 menit. Setelah itu, mereka akan dinilai berdasarkan kesuksesan.
Hasilnya, aku dan Aurora mendapatkan nilai S. Mereka bertepuk tangan dengan meriah dengan keberhasilan kami meskipun anggotanya terbilang sedikit karena belum ada yang minat dengan klub itu.
Kami hanya menerima nilai itu dan berusaha sekeras mungkin agar tidak mengecewakan Klub Saintek.
Jam 16:19, aktivitas Klub berakhir karen mereka harus bersiap untuk pulang. Sebelum pulang, mereka harus membereskan peralatan mereka dan segera mengembalikan beberapa alat mereka ke ruang guru
Aku dan Aurora mengumpulkan beberapa alkohol untuk disimpan di lemari agar bisa bertahan lama. Sebelum itu, ketua klub menghampiriku sambil berpesan, "Rivandy. Aurora. Jangan lupa bereskan alkohol, ya! Ini akan dihabiskan ekperimen minggu depan."
"Baiklah," jawab kami secara bersamaan.
__ADS_1
Aku menutup alkohol agar udara tidak masuk. Aurora membantuku sambil tersenyum. Setelah membereskan peralatan, aku melupakan sesuatu yang penting. Aku harus mengambil kunci yang diberikan oleh ketua untuk mengunci lemari dan mengembalikan ke ruang guru.
"Aurora. Aku mengambil kunci dulu. Pastikan kamu merapikan semuanya," pesanku kepada Aurora untuk mengambil kunci.
"Baiklah." Aurora menerimanya.
Pada saat Aurora merapikan alkoholnya, ia menyimpan Alkohol dengan benar, sehingga tidak ada yang ketinggalan.
"Hausnya. Aku mau minum air putih agar aku semakin cantik," gumam Aurora sambil mencari air putih.
Setelah mencari air putih yang disimpan di meja, ia melihat ada cairan yang sama dengan air putih. Tatapannya tertuju pada botol yang ada di atas meja.
Ia membuka botol itu dan segera meminumnya tanpa menyadari akan menimpanya. Tak lama kemudian, ia melepaskan botol itu, sehingga botol itu pecah dilantai dan tubuh Aurora semakin memanas.
"Aku tidak tahan lagi," desahnya sambil menahan rangsangan tubuhnya.
[*^*]
Aku segera keluar dari ruangan Aurora dan segera mengambil kunci. Kemudian, mendengar suatu getaran yang masuk di telingaku. Aku dengan pelan menghampiri ruangan yang terdengar pecahan kaca.
Tidak ada pilihan lain. Aku dengan perlahan membuka pintu dan segera menghampiri Aurora yang tubuhnya semakin memerah. Aku bertanya, "Aurora. Ada apa? Apakah kau tidak sengaja memecahkan sesuatu?" Sambil menghampirinya.
Sebelum itu, aku menyelidiki barang apa yang Aurora pecahkan. Aku melihat pecahan kaca yang tidak jauh dari Aurora berdiri. Aku langsung mengambil pecahan kaca itu dan melihat isi dari pecahan kaca itu.
"Alkohol?"
Dasar Aurora. Dia memecahkan botolnya. Mungkin aku harus membersihkannya sekarang juga.
Aku mengambil beberapa pecahan kaca untuk membuangnya di tempat sampah warna merah. Sebelum itu,aku melihat Aurora yang memerah. Tubuhnya yang semakin panas dan segera menghangatkannya. Matanya berubah menjadi mata cinta, sehingga ia berubah.
"Aurora. Kau terlalu dekat. Aku merasa tidak nyaman di dekatmu," omelku melihat Aurora semakin mendekat.
Setelah omelan itu, Aurora mendorongku ke lantai dan aku terjatuh di lantai. Lalu, Aurora mendekatiku dan meraba tubuhku.
"Apa yang kau lakukan, Aurora?" Aku membentak Aurora yang semakin memanas.
"Ah. Pangeranku. Tubuhmu sangat kekar. Aku tidak membiarkanmu perjaka hari ini," desahnya sambil membuka kancing bajuku.
"Aurora. Jangan lakukan itu! Menjauhkan dariku! Kau membuatku terangsang," keluhku sambil menahan rangsangan.
Aurora tidak mendengarkanku. Ia mendaratkan lidahnya ke leherku. Alhasil, aku merasa tidak nyaman disini.
"Aurora. Jangan! Aku tidak bisa bergerak!" Keluhku tidak bisa bergerak karena Aurora memegang alat vitalku dan memainkannya dengan tangannya.
Aku tidak menyadari bahwa mimpi buruk akan menyerangku.
"Tidak! Jangan! Hentikan! Aurora!"
Aku menahan desahanku karena aku merasa tidak nyaman pada tubuhku. Dengan reflek, aku melakukan sesuatu untuk menjauhinya.
"Berhenti!" Aku mendorong Aurora ke kanan dan segera lari menjauhinya.
Tak lama kemudian, Aurora segera bangkit dari jatuhnya dan segera mengejarku dengan perasaan cintanya. Aku segera keluar dari ruangan klub sambil bersembunyi dari Aurora.
__ADS_1
"Sial! Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia mengejarku?" Pikirku sambil ketakutan.
Aku dikejar Aurora di koridor sambil mengeluarkan tembakan pistolku. Namun, tidak kena. Aku berusaha membelokkan badan sambil menembak Aurora. Aurora bisa menghindari tembakan itu dengan mudah.
"Kenapa tidak kena?" Aku panik dan segera melakukan tembakan dengan Pistol Desert Eagle Arctic.
Aurora bisa menghindarinya dengan mudah. Ia mengejarku dengan cepat. Bahkan, melebihi kecepatan lariku.
Ini pertama kali aku merasakan seperti dikejar hantu.
Aku yang sedang dikejar itu segera menuju koridor untuk meminta bantuan.
Setidaknya Denis dan Hammer bisa membantuku.
Aku mencari mereka di kelas. Namun, tempatnya sudah kosong. Aku segera mencari Saphine dan Sheeran untuk menjauhkanku dari Aurora. Percuma saja. Mereka sudah pulang.
Tidak ada pilihan lain aku segera mencari Klub Pangeran agar mereka bisa menghentikan Aurora. Beberapa dari mereka melihatku sambil berseru, "Hei! Lihat! Ada Pangeran Rivandy!" Membuat siswi yang lain segera mengejarku.
Benar saja. Mereka mengejarku. Aku memanfaatkan momen ini untuk bisa menghentikan Aurora. Namun, keresahanku tak kunjung hilang. Aku segera menoleh sebentar dan terkejut dengan hasilnya.
Aurora mengalahkan mereka dengan mudah. Dengan teknik kelincahannya, ia bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Kecepatan Aurora semakin besar. Aku harus memperceoat kecepatan lariku agar cairanku tidak diambil oleh Aurora dengan cepat.
Sial! Kenapa mereka tidak bisa diandalkan?
Aku harus melakukan sesuatu.
Aku memutuskan untuk bersembunyi di tempat yang tidak ia ketahui. Aku mencoba mencoba untuk mencari tempat persembunyian dari berbagai ruangan. Namun, aku belum menemukan ruangan yang sesuai. Karena itu, aku memutuskan untuk bersembunyi di taman. Aku tidak bisa masuk ke dalam ruangan Klub Memasak karena kemungkinan besar mereka menguncinya.
Semakin lama, semakin cepat lari Aurora. Aku yang mencoba menggunakan teknik "Arctic Warfare : Stealth" untuk menghilang dari pandangan Aurora. Namun, aku tidak bisa melakukannya karena Aurora akan melacakku lebih mudah.
Aku memutuskan untuk loncat dari tangga setelah tiba di tangga dan melanjutkan lariku. Aurora melakukan hal yang sama, sehingga aku melakukan hal yang sia-sia. Aku merasa dia akan semakin mendekatiku.
Aku mencoba untuk melemparkan bom asap di koridor agar aku bisa lolos dari kejaran Aurora. Nun, Aurora masih bisa melihatku. Penglihatannya lebih baik dari manusia biasanya. Ia melihatku yang sedang bersembunyi di samping koridor.
Akibatnya, dia menangkapku yang sedang menunduk. Aku tidak bisa berbuat apapun. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Tanganku dan kakiku ditahan oleh Aurora. Aurora yang nafsu birahinya semakin memuncak segera melancarkan aksinya, yakni melepaskan keperawanannya secara paksa.
Aku berteriak ,"Tidak! Jangan, Aurora! Jangan lakukan itu padaku!"
"Aku akan melakukan sesuatu untukmu. Aku akan menuruti apa yang kau minta. Jadi, tolong jangan lakukan itu padaku!" Aku mengungkapnya dengan panik.
"Aku tidak bisa berlari lagi. Kau terlalu cepat. Penglihatanmu cukup tajam. Karena itu, aku tidak bisa mengalahkanmu. Kau terlalu lincah. Jangan sakiti aku! Aku masih ingin hidup," lanjutku sambil memohon kepada Aurora sambil ketakutan.
Aurora terdiam dengan mata cintanya. Ia menggerakkan kepalanya sambil mencium aroma tubuhku yang masih harum. Ia mencium leherku sambil menjilat leherku.
Aku berteriak kesakitan karena leherku dijilat oleh sekarang gadis. Aku mencari cara untuk melepaskan pelukan Aurora yang agresif itu.
Percuma saja. Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku harus melakukan agar aku bisa lolos dari serangan birahi dari Aurora.
Kalau tidak, aku akan diperkosa dan akan kecanduan dengan gadis agresif.
Akhirnya, aku menemukan ide. Aku punya teknik agar aku bisa keluar dari situasi yang cukup mendesak ini. Kesadaranku sudah diambang batas. Aku mencoba.berpikir dan menemukan ide yang terbesit di pikiranku.
Aku akan menggunakan "Arctic Warfare : Teleportation" agar aku bisa menghindari cengkraman Aurora yang terus meraba tubuhku yang membuatku terangsang.
__ADS_1
Kesempatannya hanya satu. Jika aku berhasil, aku akan kabur dan lari sejauh mungkin. Jika aku gagal, maka aku akan berteriak kesakitan karena tubuhku menyatu dengan Aurora yang agresif.
Ini pilihan terakhir dan aku harus melakukannya dengan penuh resiko.