
16 Januari 2026, jam 15:40, Aurora melihatku berciuman dengan wanita lain. Dia tidak berpikiran bahwa aku akan menjadi alat untuk membuat para gadis kecanduan. Bahkan, aku tidak bisa menahan haus nafsuku saat ini. Kurasa llebih cocok jika aku dibayar oleh seorang wanita untuk meluapkan hasratnya dengan harga murah. Ini rasanya coklat. Aku tidak bisa berhenti memakannya.
Ini membuatnya sakit hati. Ia merasa aku lebih pantas menjadi Pangeran Hina. Padahal, bukan aku yang memulainya. Aku mencoba mengatakan yang sebenarnya. Namun, aku semakin ingin mencium Shiori lebih lanjut. Aku hanya berniat untuk mengambil buku novel yang ku beli dari Amazon. Aku belum selesai membacanya.
Dengan kata lain, Aurora sudah tidak percaya padaku.
Aurora pergi tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Shiori merasakan kemenangan dalam hatinya. Ia sudah menyingkirkan satu pesaing untuk keluar dari.arena Cinta Heksagonal. Masih ada 5 kubu lagi yang harus ia kalahkan. Kalau sudah lulus akademi, Shiori sudah siap memiliki anak untuk membuat keluarga yang lebih bahagia daripada sebelumnya.
Aku ingin mengatakan bahwa ini salah paham.Tidak bermaksud mengatakan hal yang seperti itu. Aku ingin mengambil buku novelku dari belahan dada Shiori. Kalau aku menyentuhnya, maka Shiori semakin menjadi-jadi. Ia menjadi lebih mesum jika aku memegang dadanya. Entah kenapa Harem itu semakin lama semakin mudah untuk menyalurkan hasratnya ke setiap gadis.
Itulah yang membuat Aurora marah padaku.
Aku bergumam ingin berteriak, "Aurora! Tunggu! Aku tidak bisa tahan lagi! Tolong aku! Aku tidak berniat untuk mencium gadis lain!"
Percuma. Aurora tidak mendengarkanku. Ia pergi dengan sebuah kekecewaan yang sangat besar. Ia berjalan meninggalkanku, sehingga aku tidak bisa berteriak kesakitan lagi. Shiori semakin liar. Ia menjatuhkanku dan bersiap untuk menciumku kembali.
Itu terus berlangsung sampai beberapa saat kemudian.
Aurora yang meninggalkanku tidak mengatakan sepatah kata apapun. Ia hanya berjalan di tengah suasana yang cukup memburuk. Ia mendekati taman akademi dan segera bersandar di pohon sambil menahan tangisannya. Ia berteriak di sela tangisannya yang mendalam itu.
"Rivandy bodoh! Aku membencimu!" Aurora berteriak yang membuatku merasa bersalah dengan kondisi Aurora.
Aurora merasa putus asa karena aku sudah milik Shiori. Shiori telah menjadi pacarku. Bahkan, Aurora juga kesal karena Sheeran mengaku menjadi istriku. Oleh karena itu, ia bertekad untuk membenci seorang yang murahan itu.
Dengan sebuah tangisan kekecewaan itu, ia tidak menyadari sebuah perubahan yang akan menjadi seorang monster. Tinggi badannya menjadi tinggi, pakaian akademi berubah menjadi sebuah cosplay Black Rock Shooter. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia sudah berubah untuk sementara waktu.
Dia sebenarnya bukan manusia, namun ia adalah seorang monster yang sangat kuat dan tidak ada perasaan.
Itu adalah Black Night Sky. Kutukan Aurora.
[*^*]
Jam 15:50, aku sudah terbujur kaku dengan juluran lidah di hadapan Shiori. Shiori yang sudah puas dengan permainan dewasa itu semakin cinta padaku. Ia membuka pakaian akademinya dan mengembalikan buku novelku. Ia juga mengenakan pakaian miliknya kembali.
“Terima kasih, Sayang!” Shiori berterima kasih padaku dengan tubuhnya semakin mesum.
“Ini bukumu. Aku juga memberikan uang ₽ 500 padamu,” sodor Shiori melemparkan uang dan buku novel padaku yang sedang terkapar kaku.
Shiori berjalan meninggalkan kelasku. Dia membiarkan aku terbujur kaku dengan tenaga yang semakin melemah. Entah berapa ronde ciuman Shiori menjadi memanas sekarang. Aku juga tidak dapat mengontrol itu dan selalu mengalir begitu saja.
Tak lama kemudian, ada seorang gadis yang sedang berpatroli akademi sebelum pulang . Mereka harus memulangkan para siswa dan siswi yang tidak pulang akademi. Dia melihatku yang sedang terbujur kaku dan tidak bisa berdiri lagi karena ronde yang sangat candu itu.
“Ara-Ara. Kamu kenapa?” Tanya gadis dari Klub Disiplin.
“Sayang. Sepertinya kamu tidak sehat. Apakah Aurora meminum alkohol lagi?” Tanyanya dengan kasihan.
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya kehilangan kesadaranku setelah Shiori meninggalkanku. Gadis itu mengidentifikasi penyebab terkaparnya aku di akademi. Ia melihat uang yang tergeletak di atas tubuhku dan mengambilnya dengan penuh teka-teki.
“Uang?! Gumam gadis itu mengambil uang yang berada di tubuhku.
Gadis itu merasa tidak nyaman dengan kondisiku yang parah itu. Ia juga melihat bekas ciuman yang ada di leherku dan ekspresi wajahku yang memerah karena kecanduan sesuatu. Sesuatu yang membuat hati Aurora terkikis.
Aku mencoba untuk memberi kode kepada gadis itu bahwa yang lebih sakit itu adalah Aurora, bukan aku. Aku sering diperlakukan seperti ini oleh Neesan. Itu bukan masalah bagiku. Namun, karena aku tidak mampu, aku membuat perasaan Aurora kecewa. Entah kenapa aku menjadi alat untuk memuaskan nafsu birahi kepada para gadis.
Namun, gadis itu malah berpikiran melenceng. Ia tidak bisa menalar dengan baik. Ia perlu berlatih lebih keras lagi untuk meningkatkan penalaran umumnya. Ini bisa digunakan untuk menghadapi UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) tahun 2026. Bella mengatakan bahwa UTBK tahun 2026 lebih sulit lagi. Untung saja melanjutkan pendidikan di akademi. Setelah lulus, akan direkrut oleh anggota PBB untuk menjalankan misi.
__ADS_1
Tapi itu sama saja. Gadis itu belum cukup profesional.
“Rivandy. Kamu …”
Ketika mencoba menebak apa yang terjadi denganku, ia mendengar panggilan dari temannya yang sangat akrab dengannya. Gadis yang menghampiri Diana segera mendekatinya dengan lugunya. Dia adalah Sinta Sentinel.
“Diana. Ada apa?” Tanya Sinta menghampiri Diana yang sedang berpikiran sesuatu.
“Sinta. Sepertinya dia dibayar. Lihat! Dia adalah korban pemerkosaan. Dia diancam oleh seorang gadis untuk meluapkan hasratnya lalu membayarnya dengan sejumlah uang."
"Eh?! Rivandy diperkosa?" Tanya Sinta mendekati tubuhku.
Aku hanya ingin menjawab dan mencekal pernyataan itu. Tapi, tidak bisa. Tubuhku cukup lemah karena terlalu kepanasan. Padahal aku baik-baik saja sampai Shiori menyerang dengan ciuman dan cinta.
"Kalau begitu, aku akan tanyakan padanya apa yang Aurora lakukan padanya," oceh Sinta dengan membawa tandu yang ia buat untuk membawaku ke Klub Disiplin.
"Baiklah, kita akan membawanya ke ruangan kita. Lalu, aku akan menyuruhnya untuk menandatangani surat nikah ini," lanjut Diana dengan blak-blakkan.
Akhirnya, Sinta dan Diana membawaku ke ruangan mereka dengan tandu yang Sinta buat. Sinta ingin sekali menanyakan apa yang Aurora lakukan padaku. Ia akan menghukum Aurora karena memperkosaku. Aku hanya melihat langit-langit akademi yang akan menjadi gelap karena ini sudah jam 16:30. Aku tidak tahu keberadaan buku novel yang ku baca.
Aku ingin tahu kelanjutan cerita dari Noctis Lucis Caelum (Crown Prince of Lucis) dan Lunafreya Nox Fleuret. Itu menarik karena ketularan dari Akishima.
Mereka menyita buku dan mempermainkanku setelah ini. Diana dengan niat jahatnya akan membuat rencana agar aku bisa berada dalam di sisinya. Aku tidak terlalu menyadari betapa rapuhnya diriku dan ingin sekali bangun dan bergerak. Namun, aku sudah berada di tangan Sinta dan Diana. Tidak ada pilihan lain.
Aku berniat untuk bangun dari kasurku. Namun, tidak bisa bergerak. Diana dan Sinta membawaku ke tempat yang sangat tidak disangka lagi. Aku mencoba untuk mencari Aurora. Percuma saja. Aku tidak bisa mengejarnya. Aku … merasa bersalah padanya.
Tidak! Buku Final Fantasy-ku! Jangan ke Oneesan lagi! Aku sudah muak dengannya! Neesan saja sudah cukup!
Setelah sampai di ruangan, aku memasuki ke ruangan itu dan mengobatiku. Mereka ingin merawatku dengan cinta dan kasih sayang. Sinta membawakan sesuatu untukku. Sedangkan, Diana menidurkanku di pahanya. Ia melakukan itu untuk suaminya.
Ayolah! Jangan lagi! Aku tidak mau menjadi alat!
Tak lama kemudian, Sinta membawa sesuatu padaku. Ia membawa kotak P3K miliknya yang dibeli di apotek elit. Ia mengecek tubuhku yang tidak bisa bergerak itu. Setelah itu, mereka mengistirahatkan dan menunggu kesembuhanku.
Jam 17:23, kondisi tubuhku sedang lebih baik. Bukan berarti, aku bisa bergerak dengan bebasnya. Aku tidak tahu dimana tasku. Entah kenapa, malah menjadi lebih buruk. Tugas yang sudah diselesaikan olehku. Aku menyimpan sesuatu di tasku. Tapi, jika tidak ada di tasku, maka aku tidak bisa mengumpulkannya.
Aku lari dari ruangan itu. Aku harus mencari Diana terlebih dahulu untuk mengambil buku novelku. Aku tidak bisa pergi tanpa dia. Aku tidak bisa menemukannya Kalau aku ketahuan, aku akan ditangkap oleh kedua gadis dan diperlakukan secara bersamaan.
Maka dari itu, aku bersembunyi dari kedua gadis itu dan segera bergerak perlahan. Aku mencari keberadaan mereka dan segera mencari barangku untuk keluar dari sini. Jika Diana dan Sinta menangkapku, mereka akan menjadi istriku dan aku merasa kasihan pada Zera.
Aku akan menggunakan kekuatan “Arctic Warfare : Camouflage” agar mereka tidak mengetahui dimana aku. Ini peluang terakhir untuk keluar dari sini.
{*^*}
Sebuah pertarungan dimulai di suatu tempat. Ada dua gadis yang saling mengeluarkan peluru dengan senapan mereka. Seorang gadis melakukan tembakan dengan penuh amarah. Dia ingin gadis yang ia lawan itu mati. Ia tidak percaya pada siapapun lagi. Ia menggunakan senjata Koch UMP miliknya untuk membunuh lawannya.
“Kubunuh kau!” Sebuah teriakan di tengah pertarungan.
“Kau pikir kau bisa membunuhku, Aurora?” Tanya Shiori masih memegang senapan miliknya.
“Aku akan menghajarmu!” Aurora bergerak cepat dan menggunakan kapak miliknya untuk menghancurkan Shiori.
“Percuma saja. Aku menang. Rivandy akan menjadi istriku,” desah Shiori merasakan kemenangan.
“Siapa yang peduli dengan orang yang busuk sepertinya." Aurora semakin membenciku.
__ADS_1
“Jangan menghina Rivandy, dasar monster!” Shiori menjadi marah ketika Aurora menghinaku.
Shiori dan Aurora membalas tembakan mereka. Terkadang Aurora mengayunkan kapaknya untuk menghancurkan tubuh Shiori. Shiori dengan mudahnya menghindari ayunan kapak dan membalasnya dengan sebuah pukulan yang mendarat di dada Aurora.
Aurora terkena serangan itu melancarkan tembakan sebanyak dua kali. Shiori mundur dari Aurora dan bersiap untuk membidik Aurora. Namun, Aurora maju ke depan dan mengayunkan kapaknya ke kepala Shiori. Shiori menghindari kapak itu dan memegang tangan Aurora dan membuatnya memar.
Aurora dengan tangan memar itu berniat untuk membunuh Shiori dengan tekadnya. Shiori dengan Taekwondo Sabuk Hijau melumpuhkan Aurora dan membuat lawannya tidak bisa bergerak lagi.
"Ada apa? Kamu sepertinya berubah," tanya Shiori dengan ejekannya.
Aurora hanya menggertak. Ia mencoba untuk keluar dari situasi yang buruk itu. Namun, Shiori dengan mudahnya memukul Aurora dengan keras. Hanya luka memar yang terdapat dalam tubuh Aurora
"Rasakan ini!" Shiori melakukan pukulan keras ke dada Aurora.
Aurora terus menjerit kesakitan. Shiori memukul Aurora mengangkat tubuh Aurora dan membantingnya dengan keras ke lantai.
"Kenapa kau tidak berubah menjadi monster dan lawan aku?!" Shiori menginjak Aurora dengan kakinya.
Shiori menjadi liar karena ketidakmampuan Aurora dalam menjalankan hubungan. Aurora semakin menjerit dengan keras. Ini membuat Shiori merasa sinis dan semakin ingin merundung Aurora. Setelah perundungan itu, Shiori menyimpan senjata miliknya dan melakukan ancaman.
"Tch! Kalau kau bertemu Rivandy lagi, aku akan menghajarmu," ancam Shiori dengan tatapan sinisnya.
Shiori meninggalkan Aurora dengan kesal. Aurora dengan luka yang memar itu ingin sekali menghajar Shiori. Namun, dengan tubuhnya yang melewati batas, itu membuatnya ingin melampiaskannya di apartemennya. Maka dari itu, di bergerak dengan pincang dan meninggalkan ruangan itu. Ruangan aula akademi.
[*^*]
Jam 17:46, di ruang tengah, aku yang menggunakan teknik milikku menemukan Diana yang sedang membaca buku. Aku juga melihat buku novelku yang disimpan di belahan dada. Maka dari itu, aku menggunakan "Arctic Warfare : Stealth" dan mengambil buku novelku dengan cepat tanpa membuat guncangan di bagian dada Diana.
Diana tidak tahu buku novelnya sudah tidak ada. Ia merasa dadanya ditiup angin. Untuk mencegah buku novel melayang, aku menggunakan teknik “Arctic Warfare : Camouflage” untuk membuat diriku dan buku novelku menjadi bunglon.
Setelah kabur dari Diana dan Sinta, aku menggunakan “Arctic Warfare : Translucent” untuk menembus pintu ruangan. Setelah sudah berada di luar, aku pulang ke apartemenku agar tidak menjadi sasaran para gadis mesum lagi. Aku mulai khawatir dengan kondisi Aurora.
Aku menjadi lebih paham dengan perasaan Eleva pada saat itu. Dia tidak tahan dengan gadis mesum. Tapi, tidak ada gadis mesum selalu berada di sampingnya. Dia punya waktu sendiri.
Pada saat aku berada di lorong akademi, aku merasa terlambat pulang. Akishima akan memarahiku karena aku pulang terlambat.
Sebelum itu, aku melihat Aurora dengan kondisi berantakan. Entah bagaimana cara Aurora menjadi kondisi seperti itu. Aku tidak memahaminya. Ini tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Aku … ingin sekali menjelaskan sesuatu padanya mengenai perselingkuhan itu.
Dengan tenagaku yang tersisa, aku mengungkapkan semua kejadian yang sebenarnya terjadi. Aku ingin Aurora paham dengan apa yang ku sampaikan.
Aku mencoba untuk mendekatinya. Namun, Aurora tidak merasakan respon apapun. Mulutku ingin bergerak dengan jelas. Karena kesalahpahaman ini, mengingatkan kejadian Aurora pada masa lalu.
Masa lalu yang tidak bisa diungkapkan secara sembarangan orang. Hanya orang terpercaya yang mengungkapkan itu.
“Aurora? Kenapa kamu ….”
" ... tidak pulang?"
"Kamu tidak apa-apa?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Sesuatu yang penting."
"Ini lebih penting dariku."
__ADS_1