Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Shiori von Zuckerberg 1,5


__ADS_3

27 November 2025, jam 05:02, kota Moskow berubah langit dari malam menuju siang. Fajar telah menyingsing. Udara masih dingin dan salju belum turun. Masih ada awan yang menghias langit Moskow.


Di sebuah apartemen nomor 123, terlihat sebuah kamar yang cukup sunyi dan hening. Ada seorang gadis yang tertidur dengan selimut dan ruang pemanas dinyalakan dari malam agar tidak kedinginan. Di sana, ada lampu yang menerangi apartemen.


Aku terbangun dari tidurku dan segera beranjak dari ranjangku agar bisa ke kamar mandi. Setelah itu, aku menggunakan handuk kimono seperti biasanya. Setelah itu, aku mengenakan seragam akademiku dan segera memasak dengan cepat.


Hidup sendiri itu sedikit sepi dan sunyi. Tidak ada yang bisa diakukan untuk meramaikan ruanganku itu kecuali aku mengajak mereka.


Setelah menyiapkan sarapan, aku segera memakan makanan dan menghabiskan makanan masakan yang setara dengan hidangan Onii-chan, hidangan Shokugeki di acara Lomba Memasak.


Entah kenapa aku memanggil Onii-chan bukan Rivandy. Sepertinya, sikap Tsundere membuatku seperti ini. Salah sendiri dia menggombalku dan … sudahlah! Aku tidak ingin memikirkannya lagi


Aku segera mengecek tasku agar tidak ketinggalan dan mencoba untuk keluar terlebih dahulu agar aku bisa keluar dari kelas secepat mungkin.


Pada saat keluar, aku menyapa mereka seperti biasanya dan melupakan Shiori. Dia tidak keluar dari ruangannya setelah itu dan aku tidak ingin mengetahuinya. Aku akan menjauhinya sekarang juga.


Kami berjalan meninggalkan apartemen dan segera menuju ke akademi dengan jalan kaki. Aku sudah melarang mereka untuk naik taksi walaupun murah. Ini akan menjadi kebiasaan orang Indonesia yang malas berjalan kaki.


"Bella. Kamu gak ajak Shiori?" Tanya Andika dengan polos.


"Tidak! Aku tidak mau mendengar tentangnya lagi," jawabku sambil menahan nafasku.


"Aku ingin sekali menjenguknya. Tapi, dia tidak ada respon sedikitpun. Aku juga kasihan padanya." Farah empati dengan Shiori.


"Dia ingin menjauhi kita. Inilah yang ia dapatkan sekarang," lanjutku sambil menghela nafasku.


"Oh. Iya. Yudha. Kita nanti main game Dota 2 yuk! Battle Pass Winter sudah dekat nih!" Ajak Andika sambil mengeluarkan uangnya.


"Ayok! Aku pake VR biar mantap nih," terima Yudha dengan entengnya.


"Sudah kuduga kalian tidak membayar sewa apartemen. Kalian menggunakan itu untuk bermain game," komentarku mendengar percakapan Andika dan Yudha.


"Eh? Padahal, kami sudah dibayar oleh tetangga kami. Dia akan membayar kami semua," jelas Andika dengan bukti yang kuat.


"Hmph! Dasar Orang Indonesia! Mengambil kesempatan dalam kesempitan," sindirku kepada seluruh Orang Indonesia.


[*^*]


Setelah sampai di akademi, kami segera memisahkan diri dan bergegas ke kelas kami masing-masing. Aku segera menuju ke Kelas I Soshum A tanpa Shiori yang ada bersamaku. Aku tidak peduli dengannya. Lebih baik ia mati saja.


Aku bertemu dengan Sinta Sentinel dan Diana Ravenrought. Kami mengerjakan tugas Matematika yang menyulitkan ini sebelum bel akademi.


Lain kali, aku yang membuat soal ini dan menyuruh Onii-chan untuk mengerjakannya.


Setelah mengerjakan soal yang tidak bisa dikerjakan itu, kami duduk di bangku kelas kami masing-masing dan guru akademik akan mengajar materi kepada siswa dan siswi.


Kami menjalankan aktivitas kami yang cukup biasa ini. Tidak ada Shiori. Semuanya sepi walaupun aku berteman dengan Sinta dan Diana. Mereka selalu membahas Onii-chan di sela-sela perbincangan itu.


Aku harap kehidupan ini terus berjalan meskipun tidak menyukainya.


[*^*]


Jam 12:00, pelajaran akademi telah selesai dan aku segera pergi ke kantin untuk membeli Rendang dan Ketoprak sendirian.


Ketika berjalan di koridor, aku bertemu dengan seorang gadis yang menghampiriku dengan serius. Dia berjalan dengan langkah kaki yang cukup mengancam dan mengintimidasi. Aku langsung mengenalnya. Dia adalah Kotori.


"Kotori. Lama tidak berjumpa. Aku …." Salahku tapi diabaikan oleh Kotori.


"Ikuti aku, Bella. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadamu,* pintanya dengan tatapan sinis.


"Iya. Tapi, jangan lama-lama! Aku harus makan juga,* pintaku menerima perintah Kotori.


Dengan terpaksa aku mengikuti Kotori yang sedang berjalan di depanku. Aku tidak mengerti apa yang Kotori katakan padaku. Semoga saja bukan soal Shiori.

__ADS_1


Aku juga melihat Onii-chan yang sedang dikelilingi oleh banyak gadis. Iyuk! Itu membuatku muak dengannya. Aku harap dia keluar dari akademi karena menghamili semuq gadis di akademi ini.


Sesampainya di tempat lorong yang bagus untuk berbicara, Kotori menghentikan langkahnya dan segera berbalik badan padaku. Ia mendekatiku dengan pelan dan emosi yang kuat. Ia memandangku dengan lama dan mau mengatakan sesuatu.


Tiba-tiba, dia menamparku dengan keras, sehingga aku terjatuh Aku yang ditampar itu sadar dengan perilaku Kotori tersebut dan memarahinya.


"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh?" Bentyaku pada Kotori yang menamparku.


"Seharusnya, aku yang mengatakan itu, Loser!" Kotori memberikan sinyal huruf L kepadaku sebagai penghinaan.


"Kenapa kau menamparku? Aku tidak mau berurusan dengan Shiori selamanya," ungkapku dengan perasaan yang cukup meluap.


"Bukan itu masalahnya," lontar Kotori dengan santai dan setengah melirikku.


"Jadi, apa yang menjadi masalahnya?" Tanyaku kembali.


"Kau tidak mendengar kata nasihatku. Kau malah membuatnya semakin memburuk. Kau memang orang yang tidak mendengar nasihatku. Kau memang labil," jawab Kotori menusukku dengan kata yang keras.


"Lihat apa yang kau lakukan! Kau membiarkan Valhalla merasuki dan membuatmu memarahi Shiori. Aku sudah melihat Pertengkaran kalian tadi sore," lanjut Kotori dengan kemarahannya yang meluap itu.


"Valhalla? Kau jangan mengkhayal! Aku tidak percaya dengan hal yang berbau supernatural!" Marahku kepada Kotori yang selalu berhalusinasi.


"Aku sudah berusaha untuk tidak membiarkan sendirian. Tapi, dia memang menyuruhku untuk menjauh darinya, Aku sudah muak dengannya. Dan kau …." Aku melontarkan balik.


"Sudah cukup ocehanmu! Aku tidak ingin bertengkar denganmu! Aku ingin menyelesaikan masalah ini sekarang juga!" Serang Kotori dengan ocehannya.


"Dengarkan aku, Bella! Kau jangan membiarkan dirimu dikuasai oleh perasaan dan amarahmu. Kau bisa melakukan hal yang sama kepada Andika dan lainnya."


"Valhalla yang membuat emosimu semakin meningkat dan membuat Shiori semakin menderita. Kamu masih labil dan membuatmu menjadi penyendiri sepertinya," jelas Kotori dengan serius.


"Valhalla? Aku tidak mengerti lagi denganmu. Kau aneh sekali"


"Aku akan memanggil Rivandy kalau kau masih belum berubah. Dia akan mengobatimu sekarang juga,* ancam Kotori menyalakan ponselnya.


"Untuk apa?" Tanya Kotori.


"Untuk …."


"Untuk …."


Entah kenapa aku tidak bisa berbicara lagi. Aku tidak ingin seperti ini. Aku terlalu berlebihan. Aku membuat Shiori terluka dan menyebabkan menyendiri.


Aku hanyalah anak-anak. Orang dewasa akan selalu memerintah anak kecil. Aku hanyalah anak kecil yang harus mematuhi perkataan lebih tua. Itu bohong. Itu adalah hal yang paling sesat bagiku.


Aku …


Aku …


Apa yang telah kulakukan?


Aku malah membuat situasi semakin memburuk,membuat Shiori menderita dan memancing emosi Kotori. Aku hanya membuat hubungan kami menjadi buruk.


Akhirnya, … aku mengeluarkan air mataku dengan keras.


Sebuah penyesalan yang tidak dapat diutak-atik lagi. Aku tidak bisa menahannya lagi lebih lama. Aku membiarkan tangisan ini dikeluarkan dengan keras.


Kotori menghampiriku dan memelukku. Ia menjawab, "Sudah! Tidak usah tahan menangis. Anak kecil seperti kita bisa menangis saat kita menginginkannya,"


"Kotori! Aku menyesal! Seharusnya, aku membicarakan dengannya baik-baik. Aku membuatnya tidak masuk akademi lalu tidak keluar apartemen."


"Aku tidak mengerti kenapa Valhalla, supernatural, dan Self-Injury membuatku muak. Aku tidak ingin kehidupanku yang sepi dan sunyi ini."


"Aku egois seperti anak kecil. Mau menang sendiri dan selalu berpikiran dangkal meski aku memiliki IQ 168 seperti Onii-chan."

__ADS_1


"Apa yang harus kulakukan?" Tanyaku sambil menangis dengan keras.


Kotori yang tadinya marah sekarang menjadi keibuan. Ia sudah mendengar curahan hati dari perasaanku. Yah ...dia memakluminya karena dia anak kecil.


"Kau harus menyelamatkan Shiori terlebih dahulu. Lalu, kau bisa menemaninya untuk sementara waktu. Soal Valhalla, serahkan padaku! Aku akan mengusirnya dari sisi Shiori," usul Bela dengan nada pelan dan perhatian.


Aku hanya mengangguk dan ingin menangis lebih banyak lagi. Seragam milik Kotori menjadi basah karena tangisanku yang sangat banyak ini.


Setelah suasana mengharukan itu, air mataku berhenti mengalir. Meski begitu, aku masih ingin memeluk Kotori. Suhu tubuhnya yang hangat membuatku ingin memeluknya karena ini mau musim dingin.


Kotori melepaskan pelukannya dan segera melakukan keputusan untukku. Ia percaya bahwa aku bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki semua ini. Dia mirip sekali dengan sosok yang pernah ku tinggali sebelumnya.


"Apakah kamu sudah mengerti dengan aku katakan? Lalu, apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Kotori dengan serius.


Aku hanya terdiam oleh pertanyaan itu. Aku tidak membiarkan waktu ini menunggu lama. Aku segera memutuskan sesuatu sebelum bel akademi berbunyi lagi.


Aku memutuskan, "Aku … akan menyelamatkan Shiori. Aku tidak akan gagal lagi. Aku harus menggunakan cara yang benar untuk membuat kehidupannya lebih baik lagi. Aku tidak akan menjadi anak kecil lagi," dengan tekad yang bulat.


Kotori sangat senang mendengarnya. Aku merasa seperti saat itu. Shiori sedang menyiksa diri saat ini. Jadi, aku akan pulang sekolah dan akan menanyakan semua itu pada Shiori. Aku akan menjadi orang yang lebih kuat dengan tubuh anak kecil.


"Kotori. Apakah kamu tahu masa lalu Shiori? Kamu bisa menggunakan supernaturalmu. Aku menyerahkan semua berbau supernatural padamu. Aku mau …."


Bel akademi telah berbunyi keras. Aku yang ingin makan di kantin hanya teridam, tidak membayangkan akan hal yang seperti ini. Sepertinya, aku terlambat lagi.


"Huh?" Aku bingung dengan bel akademi.


"Maafkan aku, Bella! Aku akan mentraktirku lain kali," sesalnya sambil membungkukkan badannya.


"Sudahlah! Aku ingin ke kelas sekarang juga. Aku akan makan dulu sebelum menyelamatkan.Shiori," pamitku meninggalkan Kotori yang sedang meminum jus kemasan.


"Aku akan menunggumu," pamit Kotori menghabiskan minumannya dan segera kembali ke kelas.


[*^*]


Jam 07:01, Shiori sarapan terlebih dahulu sebelum menyiksa dirinya. Ia tidak ingin mengikuti pelajaran terlebih dahulu, sudah tidak punya harapan lagi. Teman baiknya, Bella sudah membencinya dan tidak ingin mendengar tentangnya.


Setelah sarapan dengan paku, ia segera kembali menuju ke ruangan penyiksaan itu. Ia menanggalkan semua pakaian dan segera menyiksa dirinya dengan Valhalla yang akan mengutuknya.


[Kau melakukannya lagi! Tubuhmu yang hina ini harusnya menghilang sekarang juga! Aku sudah muak dengan tindakanmu. Kau adalah seorang beban ~ Valhalla]


Shiori menangis keras dengan tusukan dan luka yang mengalir di tubuhnya.


Ia menyetel waktunya menjadi 5 jam lamanya. Paku diri itu menusuk dadanya, dan alat kelaminnya. Ia berharap menjadi mandul dan tidak bisa menikah lagi karena ia akan mati dengan banyak darah.


Kemudian, Shiori juga berteriak kesakitan karena banyak paku yang menusuk organ dalamnya. Ia juga berharap bahwa paku itu menusuk jantungnya agar darah yang ia keluarkan semakin mengalir deras.


Valhalla terus menerus membunuh perasaan Shiori dan membuat Shiori kehilangan harapannya. Ia membuat perkataan yang digunakan untuk mengutuk seseorang yang membuat Shiori semakin ketakutan.


Setelah itu, Shiori terdiam dengan berbagai macam tusukan yang berada di dalam tubuhnya itu. ia sudah tidak kuat lagi. Ia sudah tidak kuat untuk berterima lagi. Valhalla pun menghilang dan akan merasuki Shiori dan membawanya ke neraka.


Jam 12:02, Shiori keluar dari Iron Maiden dan tersungkur di lantai. Lalu, dia mengeluarkan darah dari dalam tubuhnya dan segera membasahi lantai. Ia berharap dengan kematian dan dibawa Valhalla ke neraka. Itulah isi kontrak Valhalla jika Shiori meninggal, ia akan membawanya ke neraka untuk disiksa lagi.


Ia mengingat bahwa tindakannya sudah keterlaluan. Ia menjadi orang yang tidak berguna dan percuma. Dengan keputusasaan itu, ia menjadi orang yang menderita.


Shiori mengingat semua teman yang ada di akademi. Terutama Bella. Ia juga mengingat seorang remaja yang berada di samping. Dia salah Pangeran Akademi, Rivandy Lex. Ia sangat senang bertemu dengannya walaupun sesaat.


Ia juga meminta maaf kepada orang yang memungutnya dan membawa ke sini. Dengan kematiannya, ia berharap ada yang mengurus apartemen ini, apalagi Bella. Dia bisa mengatur itu semuanya.


Ia ingin mengucapkan selamat tinggal sebelum meninggalkan dunia yang telah rusak ini. Ia juga menatap langit-langit ruangan penyiksaan sebelum meninggalkan dunia ini. Ia menunggu nyawanya yang akan diangkat sebentar lagi.


Detik demi Detik. Menit demi menit dan jam demi jam. semua darah mengalir ke lantai dan membuat Shiori takkan bisa bergerak untuk sementara waktu.


Selamat tinggal. Aku akan mati. Jangan salahkan dirimu! ~ Shiori von Zuckerberg.

__ADS_1


[Shiori akan mati 6 jam dari sekarang]


__ADS_2