
25 September 2025, jam 15:25, aku sudah berhadapan dengan Akishima yang hanya mengenakan pakaian minimnya. Aku segera mendekatinya, namun ia menjauh dariku.
“Apa yang kau lakukan, dasar bodoh?! Kau ingin membunuhku, kan?!” Tanya Akishima dengan tubuhnya dipenuhi kegelapan.
“Akishima, apa yang terjadi?!” Tanyaku sambil mendekati Akishima.
“Jangan mendekat! Aku memintamu untuk mundur!” Akishima menyuruhku mundur.
Aku menuruti tanpa pikir panjang. Aku menjauh dari Akishima.Ia masih belum bergerak menjauhi bayangannya. Ia sedang ketakutan dan idak mau menunjukkan dirinya
“Lebih baik pergi dari sini! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi,” usir Akishima berpaling dariku.
Aku yang mendengar usiran itu hanya terdiam dengan sesuatu.
Aku pasti melakukan kesalahan mengenai dirinya yang cukup fatal itu. Dia hanya terdiam dan menangis tersedu-sedu. Aku mencoba untuk menghampirinya. Namun, ia lari dariku di tengah bayangan gang yang gelap dan sepi itu.
Aku tidak bisa melakukan apapun dengan larinya Akishima. Aku hanya berdiri mematung dan tidak dapat mengejarnya lagi. Aku memikirkan sesaat sebelum Akishima menamparku dan setiap kata yang dilontarkan olehku, sehingga menyinggung Akishima.
Sesaat aku berpikir, gadis violet sedang menghampiriku sambil berlari untuk memelukku. Ia memanggil, “Sayang!” Aku yang dipeluk dari belakang oleh Sheeran tidak membalas apapun. Aku hanya terpaku dengan pikiran yang rumit.
Sheeran yang semakin cinta padaku menaiki tubuhku dan mencium leherku dengan romantis. Aku berhenti berpikir karena ada yang mencium leherku. itu adalah Sheeran.
Aku yang melihat Sheeran itu segera memanggil, “Sheeran! Kenapa kamu disini?”
Sheeran mendengar pertanyaanku menjawab, “Sayang, aku di sini untukmu,” sambil mengeluskan tubuhku seakan-akan ia ingin menciumku.
“Sheeran! Jangan! Aku akan mendesah nih," larangku sambil menolak rayuan dari Sheeran.
“Eh?! Kenapa? Soalnya, aku tidak bisa tahan, nih,” sanggah Sheeran sambil menahan tubuhnya yang semakin memanas.
"Ada apa, Sayang? Kamu sepertinya banyak pikiran," tanya Sheeran mengenai kondisiku.
"Tidak. Aku melihat Akishima yang ...." ucapku yang berhadapan dengan Sheeran.
"Tenang saja! Dia akan baik-baik saja, kok," potong Sheeran merayuku dengan mata cintanya mengajakku pergi dari gang itu.
“Sayang. Kita ke hotel, yuk!” Ajak Sheeran sambil menggandeng tanganku dengan ***********.
"Aku sudah menahan hasratku selama 13 tahun nih." Sheeran memegang roknya dengan erat.
"Oh, atau kita akan ke apartemenmu biar aku bisa main berjam-jam denganmu," sambungnya dengan tingkahnya yang genit itu.
Aku hanya terdiam dengan ajakan itu. Ia menyeretku ke apartemenku agar ia bisa meluapkan hasratnya kepadaku.
Namun, setibanya di apartemenku, Aurora sudah berada di depan apartemenku. Aku yang cukup mencemaskan Aurora membiarkannya masuk dan mengabaikan Sheeran yang hatinya sedang memanas.
Jam 18:23, aku terpaksa mandi bersama Sheeran dan Aurora karena permintaan mereka yang sangat egois. Aku hanya terpaksa melakukan hal itu.
Sheeran mencoba untuk melakukan hal genitnya padaku. Aurora pun demikian. Aku hanya terdiam dengan tingkah laku mereka berdua. Mereka mendekatiku sambil mengelus kepalaku dan bahuku dengan sabun agar aku tidak perlu melakukan hal yang merepotkan.
Kebetulan Evelyn dan Akishima tidak ada. Aku agak khawatir dengan kondisinya yang cukup buruk itu.
Sejam kemudian setelah itu, Aurora dan Sheeran menonton TV sambil membaca buku romantis. Aku membaca buku pelajaran sambil mencari referensi untuk meningkatkan kemampuanku dalam bidang akademi militer.
Aku harap Bibi Anita tidak keberatan dengan Sheeran yang menginap di apartemenku.
Jika aku dan Sheeran berduaan di apartemen, maka Sheeran akan melancarkan serangannya untuk menghisap cairanku.
Setelah jam menunjukkan pukul 21:53, kami tidur agak terpisah. Aurora tertidur di sebelah kananku. Kemudian, Sheeran tidur di samping kananku sambil memeluk. Ia hanya pura-pura tidur agar ia bisa melakukan hal mesum padaku. Aku hanya pasrah dan berharap Aurora bisa menjagamu dari Sheeran.
Suasana yang cukup sepi di apartemenku.
[*^*]
26 September 2025, jam 09:45, guru matematika, Bu Minerva menghampiri kelas militer yang hampir selesai. Kelas itu berisikan Akishima, Zhukov, dan Takeda. Takeda telah mengikuti pelajaran kemarin setelah konflik merebut tubuhku pada 3 hari yang lalu.
Akishima menjalankan aktivitas seperti biasanya. Ia berteman dengan sekelas tanpa mengetahui tentang kabarku. Ia selalu mengelak ketika Zhukov membahasku. Zhukov hanya terdiam melihat Akishima yang selalu mengelak.
Beberapa saat kemudian, Bu Minerva masuk ke kelas dan mengumumkan, "Mohon maaf aku mengganggu pelajaran kalian. saya di sini untuk memanggil seorang murid yang cukup bermasalah. Aku memanggil Akishima Renji untuk segera menuju ke ruanganku segera," sambil menatap semua murid yang sedang melatih untuk melakukan tembakan.
Akishima membereskan senapan miliknya dan segera menghampiri Bu Minerva. Bu Minerva yang sudah melihat Akishima yang berada di hadapannya segera pamit, “Hanya itu saja yang saya sampaikan. Maaf mengganggu kelas kalian,” sambil mengajak Akishima untuk berjalan menuju ke ruangannya.
__ADS_1
Setelah sampai di ruangannya, Akishima duduk di hadapan Bu Minerva. Ia duduk dengan cukup rapi dan menatap Akishima dengan tatapan yang cukup mengintimidasi, sehingga Akishima tidak menyadari hal yang akan menimpanya.
“Ada apa, Bu?” Tanya Akishima dengan cukup polos.
Bu Minerva segera mengeluarkan sebuah kertasnya yang cukup kuno bagi manusia spesies milenial pada tahun 2025. Ia memperlihatkan kertas yang penuh coretan dan ditandai dengan tanda yang salah. Kemudian, di kertasnya terpampang nilai nol di samping data identitas.
“Kya! Ulangan matematika! Aku tidak menyadarinya!” Teriak Akishima saat melihat kertas itu yang tidak lain adalah kertas ulangan.
“Kau sudah tahu apa ini, Nona?” Tanya Bu Minerva mengintimidasi Akishima.
“Aku tidak tahu jawabannya. Soalnya, mengerjakan matematika itu sangat menyusahkan. Aku tidak bisa melakukannya. Lagipula, apa untungnya aku bisa mengerjakan matematika?” Jelas Akishima dengan panjang lebar.
“Akishima! Ulangan matematika ini untukmu agar kamu bisa menghadapi masa depan yang kejam,” tegur Bu Minerva memarahi Akishima yang cukup kekanak-kanakan itu.
Akishima tertawa kecil mendapatkan teguran itu. Ia mencela, “Bu Guru ini. Aku tidak terlalu minat dengan matematika.”
“Masa depan?” Hati Nurani Akishima yang gelap mulai menghantuinya.
“Lalu, aku hanya meminjam catatan dari teman sekelas dan menyimpannya di folder handphone-ku,” lanjutnya meremehkan pernyataan Bu Minerva.
“Yang benar saja!” Hati Nurani Akishima yang gelap menghantuinya lagi.
“Baiklah, jika kau berkata begitu, kau harus meminta pengajaran dari Rivandy dari Kelas I Saintek A. Dia akan mengajarimu menjadi lebih baik lagi,” desak Bu Minerva dengan ocehan Akishima.
“Apa? Tidak mau!” Tolak Akishima dengan mentah.
“Hah?! Aku tidak perlu mendengar tentangnya.” Hati Nurani Akishima yang gelap berdesis mendengar namaku.
“Aku tidak ingin mendengar tentangnya,” ungkapnya dengan membulatkan perkataannya.
Bu Minerva yang sedang mendengar ungkapan itu hanya menahan nafas saat menghadapi Akishima. Ia mengalah dan mulai memutuskan, “Baiklah! Aku memintamu agar nilai matematikamu naik dengan cara apapun.”
“Lalu, aku memintamu untuk tidak melakukan kecurangan agar nilaimu meningkat,” tambahnya agar Akishima tidak melakukan kecurangan.
“Jangan khawatir! Aku tidak melakukan kecurangan apapun,” tekadnya dengan bulat.
“Aku tidak mau melihat matematika lagi.” Hati Nurani Akishima yang gelap mulai ketakutan.
Bu Minerva hanya bingung dengan tingkah laku Akishima yang tidak khawatir. Ia selalu riang setiap saat bertemu walaupun itu cukup mengganggu pikiran Bu Minerva. Bu Minerva segera membalikkan kursi miliknya ke belakang dan segera melihat Zhukov yang memasuki ruangan dengan instingnya.
“Kamu khawatir dengan kondisi Akishima?” Sapa Zhukov yang memasuki ruangan.
“Ada apa, Zhukov?” Tanya Bu Minerva berpaling dari Zhukov dan memandang cuaca cukup cerah.
“Tolong jawablah pertanyaanku, Minerva Archeria!” Desak Zhukov dengan tatapan yang cukup sayu sambil bersandar di tembok dekat pintu.
Bu Minerva tertekan dengan sebutan nama itu. Ia menjawab, “Dia selalu menghindari dari bimbingan yang lain. Nilainya agak mengkhawatirkan. Jika tidak segera diatasi, ia terancam dikeluarkan dari akademi,” menjelaskan tentang sistem akademi.
“Apakah hanya itu yang membuatnya dikeluarkan?” Tanya Zhukov.
Bu Minerva menyanggah, “Hmph! Itu hanya sebagian kecil dari sebuah alasan untuk dikeluarkan.”
“Lalu, aku masih bingung dengan sistem akademi yang diprakarsai oleh PBB. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Cherry saat ini," imbuhnya sambil melihat pemandangan langit biru.
“Ayolah! Jangan seperti itu! Aku akan segera mengatasinya."
“Benarkah?” Tanya Bu Minerva dengan cukup meragukan.
“Aku akan membujuk Rivandy untuk menyelesaikan masalah ini,” usulnya sambil menenangkan Bu Minerva.
“Dari semua murid yang ada di sini, hanya Rivandy yang tahu alasan dari sistem ini.” Zhukov membeberkan buktinya.
“Lakukan sesukamu, Zhukov! Aku hanya berpikiran agar semua siswa angkatan ini lulus dengan persentase yang lebih dari sebelumnya.” Bu Minerva menyerah berdebat dengan Zhukov.
“Aku tidak terlalu mengingat trauma yang kulalui saat ini,” sesalnya sambil menutup kepalanya dengan tangannya.
“Iya. Aku memahami apa yang kau rasakan.” Zhukov menyadari apa yang Bu Minerva rasakan.
“Pergilah … Sebelum aku mengusirmu lebih jauh!” Usir Bu Minerva yang sedang tidak enak badan.
Zhukov hanya menerima ucapan itu dan segera membuka pintu untuk meninggalkan ruangan Bu Minerva.
__ADS_1
Bu Minerva hanya terdiam dengan perasaannya yang terlarut dalam waktu lama. Ia menatap cuaca cerah sambil melihat prediksi cuaca akan berubah.
[*^*]
Jam 12:10, aku dan ketiga gadis segera makan siang bersama di kantin akademi. Aku duduk di samping Sheeran karena ia selalu berdekatan denganku. Aurora dan Evelyn duduk bersebelahan dengan akrab. Kami memakan makanan kami yang dipesan masing-masing.
“Rivandy, Akishima dimana, desu?” Tanya Evelyn menyadari keberadaan Akishima.
“Aku tidak tahu. Aku bertemu di gang kemarin dan …,” ucapanku terpotong dengan lontaran Sheeran yang begitu cepat.
“Dia hanya membutuhkan waktunya sendiri. Jadi, jangan khawatir!” Sheeran membohongi Evelyn dan Aurora.
“Iya. Aku paham, kok. Aku juga membutuhkan waktu sendiri agar aku bisa mengatur perasaanku,” jawab Aurora sambil memakan Beef Steak ukuran mini.
“Kurasa tidak. Kau selalu mengunjungi apartemenku,” desisku.
“Oh iya. Aku baru ingat, desu. Aku …,” ucap Evelyn terhenti karena Aurora berbicara terlebih dahulu.
“Kau harus ikut Klub Sains/Saintek mulai hari Senin.” Aurora mengingatkanku untuk ikut Klub Saintek.
“Terima kasih karena kau mengingatkanku,” rintihku dengan murung.
“Sayang, kau tidak apa-apa?” Sheeran cemas dengan keadaanku.
“Aku akan menyuapimu dengan setulus hatiku,” ucapnya sambil menyodorkan sendok padaku.
“Tidak usah! Rasanya aku harus pergi sekarang.. Aku sudah menghabiskan makananku,” pamitku sambil membawa piring ke kantin.
“Rivandy! Jangan pergi! Aku belum menghabiskan makananku!” Jerit Aurora melihatku pergi dengan gerakan sembunyi.
Aku menggunakan teknik “Arctic Warfare : Hide” agar aku bisa bebas dari ancaman Aurora. Evelyn dan Sheeran hanya berfokus untuk menghabiskan makanannya.
Aku harap kau bisa lolos dari cengkramannya.
Setelah memberikan piring kotor ke ibu kantin dan keluar dari kantin, aku berjalan menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Namun, aku tidak sengaja menabrak seseorang yang ku kenal.
Aku terjatuh di lantai koridor bersamaan dengan Zhukov. Aku bangkit dari jatuhku dan segera membantu Zhukov untuk berdiri.
“Maafkan aku, Zhukov! Aku menabrakmu.” Aku meminta maaf kepada Zhukov.
Zhukov dengan santai mencela, “Tidak usah minta maaf! Aku selalu memaafkanmu.”
“Kebetulan sekali. Aku ingin membicarakan sesuatu padamu,” tambahnya.
Aku bingung apa yang dilontarkan oleh Zhukov. Aku bertanya, ”Sesuatu? Apa itu?”
Zhukov menjawab, “Ini soal Akishima,” mulai serius.
“Akishima?” Aku semakin tidak mengerti dengan jawaban Zhukov.
“Kenapa?” Lanjutku sambil berpikir.
“Apakah kau melakukan sesuatu yang buruk padanya?” Tanya Zhukov lagi.
“Yang buruk?” Aku mendesah sambil berpikir.
“Kau bisa memikirkan yang lain.” jawab Zhukov.
“Tapi, dengarkan aku, Rivandy! Kau harus membantu Akishima agar ia bisa mengerjakan matematika. Jika tidak, ia akan dikeluarkan beberapa bulan lagi." Zhukov berkata dengan nada serius mengenai teman sekelasnya.
“Dikeluarkan?” Aku mendengar kata itu dari Cherry-neesan sebelum aku ke kelas.
“Iya. Ini sebagian kecil dari sebuah alasan,” imbuh Zhukov.
“Kita harus bertindak sebelum …,” ucapan Zhukov terpotong oleh sebuah panggilan.
“Zhukov!” Panggil dari seseorang yang menuju kepadanya.
“Aku mencarimu, lho. Kamu dari mana …,” ucap seorang gadis itu.
Aku dan Zhukov terkejut seorang gadis di hadapan kami.
__ADS_1
“Akishima?”