Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Perang Cinta : Pertarungan Sengit 1,6


__ADS_3

Aurora merasa hidup kembali membuat Nina dan Rin tidak percaya dengan sebuah kebangkitan. Mereka membuat situasi yang semakin kacau karena Aurora sudah membuat sebuah rencana untuk menghabisi mereka semua. Nina dan Rin merasa pertarungan ini sia-sia karena Aurora tidak bisa dijinakkan. Dia terlalu kuat untuk dikalahkan. Ia seperti seorang monster dengan sayap kupu-kupu membuat mimpi buruk bagi semua penghuni alam semesta.


Dengan keputusasaan mereka, membuat Aurora membalas serangannya pada mereka berdua. Mereka merasakan kecepatan Aurora sama seperti kecepatan peluru sniper yang melesat. Dia menendang Rin dan Nina lalu menghempas ke udara. Mereka terhempas begitu jatuh, sehingga membuat mereka tidak berdaya.


Nina dan Rin bangun dari tidurnya. Bersiap untuk menghadapi monster seperti Aurora. Namun, sebelum mengerahkan senapan mereka, Aurora sudah di depan mereka dan menembak perut mereka secara bersamaan. Mereka terkejut karena tidak menyadari bahwa tembakan Aurora di bagian perut mereka.


Mereka menjerit kesakitan dan tersungkur dengan sadis. Mereka tidak sadar akan dihabisi oleh seorang gadis berada dalam bahaya. Mereka tidak tahu bahwa Aurora akan bertarung sampai titik darah penghabisan.


"Kenapa? Kenapa dia masih hidup juga? Padahal, dengan teknik pamungkasku, seharusnya dia sudah tidak ada," pikir Nina terpojok.


Rin menahan serangan Aurora meskipun kecil kemungkinan ia selamat. Benar saja. Aurora tidak bisa dihentikan dengan mudah. Dia menembak Rin lagi dan menendangnya ke belakang. Nina merasa cukup frustasi karena lawan mereka terlalu kuat. Tidak ada harapan yang bisa membuat Nina menghentikan semua ini. Ia butuh sesuatu yang cukup untuk menghentikan Aurora.


Namun, di tengah keputusasaan itu, ia terpikirkan sesuatu yang sederhana. Ia memikirkan sambil melihat sekitar sambil membiarkan dirinya terjatuh dan diserang Aurora begitu saja. Ia tidak ingin tahu apakah Aurora akan berhenti. Sepertinya, ada seseorang yang akan menghentikannya.


Akhirnya, Nina memutuskan sesuatu di luar nalar manusia. Di tengah pertempuran, ia masih bisa berpikir. Saat terjatuh dari pertempuran, ia berpikir. Ia berpikir dari tadi dan mengerti dengan kondisi itu. Yang membuatnya mengerti adalah sebuah rencana. Rencana Cadangan. Dengan sisa tenaga yang terakhir, Nina bangun dengan tubuhnya yang rusak akibat pertempuran yang berlarut dan sengit. Ia menoleh Rin dan berseru sambil ditembak Aurora


"Rin. Bisakah kamu mengalihkan perhatian padanya selama sepuluh menit?" Tanya Nina berteriak pada Rin.


"Ok. Aku akan bertahan 10 menit. Lalu, aku akan menahan Aurora selamat 10 menit dengan kekuatan Wolverhampton milikku. Setelah itu, aku tidak bisa menahannya lagi," jawab Rin kembali bertarung dengan Aurora sampai akhir.


"Aku mengerti. 10 menit. Aku serahkan semua ini padamu." Nina maju dan menghampiriku.


"Kau harus membangunkannya sebelum terlambat," pesan Rin mulai bertarung kembali dengan Aurora.


Rin meladeni Aurora. Bangkit kembali dari kejatuhan dan mulai mengerahkan kekuatan yang terakhir untuk menahan serangan Aurora yang kelewat berbahaya.


"Aku akan bertarung denganmu sampai titik darah penghabisan. Kau akan kutahan selama mungkin yang ku bisa. Jadi, aku akan menantangmu, Aurora." Rin bertekad untuk menahan Aurora selama sepuluh menit.


"Wolverhampton : Orc of Azog!"


Rin mengubah dirinya menjadi seorang werewolf yang bersedia untuk menyerang. Aurora tidak peduli dengan perubahan Rin dan memulai serangan yang cukup keras untuk membuat pertarungan yang semakin sengit. Aurora melihat werewolf menghindar dan segera mencari cara untuk mencari celah untuk menghancurkan pertahanan Rin.


"Ini membutuhkan selama sepuluh menit. Jika sudah lewat, aku akan lemas dan tidak bisa bertarung lagi. Aku akan mengandalkanmu, Nina Alpenliebe," gumam Rin menyerang Aurora dengan cakarnya meskipun Aurora menghindar dengan mudah.


[*^*]


Sementara itu, Nina berada kondisi melelahkan. Ia segera membangunkan ku dan tidak membuatku menyadarkan ku dengan sebuah aroma penciuman yang tajam. Ia mengeluarkan sebuah bau bunga yang menyengat penciumanku dari belahan dadanya, lalu ia membujukku agar aku terbangun. Nina berhasil membangunkan ku. Sekarang, ia mencari cara untuk membuka borgol yang sudah dipasang di tiang suatu toko di mal yang tutup.


"Nina?" Panggilku terbangun dan membuka mataku kemudian.


Nina sibuk melakukan sesuatu. Ia sibuk dan mata yang fokus dengan sebuah kunci di borgol.


Aku tidak tahu sejak kapan aku diborgol. Terakhir kali, aku diperkosa Filia-Senpai saat itu. Aku ingin sekali menjadi Filia-Senpai dan memenuhi hasrat birahinya.


Ternyata, aku diberi kesempatan untuk hidup.


"Nina. Ada apa? Biarkan aku disini! Aku tidak bisa di harapkan," tanyaku pada Nina

__ADS_1


"Itu tidak benar! Aku membutuhkan bantuanmu padamu sekarang juga." Nina membantah keputusasaan di sisiku dan segera menolongku.


"Eh? Oh begitu ya?" Aku memahami perasaan Nina yang ingin membantuku.


Aku tidak mengerti dengan situasi saat ini. Aku tidak tahu bahwa Aurora semakin lama semakin liar. Begitu juga dengan Rin. Dia memang cukup kuat dan menjadi werewolf. Aku melihat pertarungan yang tidak biasanya membuat Nina menjelaskan sesuatu padaku mengenai kondisi pertempuran kali ini.


"Oh. Begitu. Kalau begitu, aku akan membantumu. Nina," tekadku memutuskan untuk membantu Nina.


"Ok. Aku punya rencana yang bagus untukmu. Dengarkan aku!" Nina membisikkan sesuatu padaku.


Aku langsung paham apa yang dimaksudkan oleh Nina meskipun musim dingin masih menyerangku. Aku tidak habis pikir bagaimana cara untuk menghentikan Aurora yang telah menjadi monster. Aku semakin paham dengan situasi sekarang karena Nina memberikan informasi yang singkat padaku.


Ini membuatku ingin membantu Nina.


Pertarungan Aurora dan Rin semakin berlanjut. Werewolf yang menebas monster segera melancarkan serangannya untuk menghabisi monster yang lincah dan membuat kerusakan. Namun, Aurora selalu menghindar dan membuat kerusakan yang cukup fatal. Ini membuat lawan cukup tidak berkutik di hadapan Aurora.


Aurora dengan mudahnya menggeliat di tubuh werewolf dan menembaknya. Rin tidak bisa melancarkan cakarnya pada Aurora. Aurora semakin lama semakin susah seolah-olah dia memiliki kekuatan yang tidak terbatas. Dia tidak bisa membuat lawannya peluang untuk mengalahkannya karena dia akan menghabisi mereka semua


"Seharusnya 10 menit. Kenapa baru 4 menit aku tidak tahan lagi?" Gumam Rin yang merasa kekuatannya semakin melemah.


Rin tidak percaya karena ia melihat ada sebuah titik yang membuatnya tidak bisa berdiri lagi. Ia merasakan kekuatannya sudah berada di ambang batas. Karena itu, Rin semakin terhenti dan selalu ditembak bagian belakang. Ia tidak bisa bertarung lebih lama lagi.


Hanya mengistirahatkan tubuhnya saja tanpa ada gangguan. Yang terbaiknya, adalah … sekarang.


Namun, pada saat keputusasaan itu menghantuinya, "Rin!" Seru seseorang yang memanggil Rin.


Rin merasa terharu karena panggilan itu. Panggilan itu membuatnya ingin hidup lebih lama lagi. Tidak peduli apakah ia mati atau belum. Yang jelas, ia belum menyerah. Karena tubuhnya tidak bisa menopang lagi, ia tersungkur kaku. Aku dan Nina merasa Rin sudah berusaha keras. Nina menghampiri Rin dan segera memberikan elusan yang hangat sambil tersenyum lebar.


Aku berpinta, "Nina. Rawatlah! Aku akan menghadapinya tanpa sengaja."


Nina langsung mengerti karena aku tidak mengarahkan senapanku pada wanita. Nina juga memanfaatkanku untuk membuatku terkena getah itu. Aku tidak ingin dikerjai oleh Nina lagi. Aku tidak butuh senjata untuk mengalahkan Aurora. Itu adalah hati.


Aurora yang semakin liar berhadapan denganku. Dia tidak tahu apakah aku berpihak padanya atau bukan. Yang pasti ia akan menghajarku dan menghancurkanku sebagaimana aku hampir dibunuh di apartemen Aurora dengan kapak.


"Aurora. Dengarkan aku! Jangan sakiti orang lain hanya karena aku! Habisnya, banyak korban yang berjatuhan hanya karena ingin cairanku. Aku senang kamu melindungiku. Tapi, aku tidak ingin ada yang terluka hanya karena aku. Kamu boleh membiarkan ruang pada gadis yang lain. Tapi, aku hanya ingin kamu … untuk … berhenti sekarang juga."


"Habisnya, aku ingin ...kau tahu karena cinta membuat peperangan yang cukup besar dan menimbulkan korban. Aku tidak mengerti apakah cara ini untuk menaklukkanku begitu saja. Itu … membuatku ilfil dan merasa tidak nyaman. Aku merasa kasihan pada kerusakan yang timbul."


"Kalau kamu ingin menciumku. Cium saja! Aku … ingin melakukan itu untuk … bertahan di musim dingin. Tapi, kalau Neesan menerima itu, maka … kita bisa hidup bersama. Kalau misalnya aku … menyatakan perasaan padamu dan aku menerimamu, tentu saja kamu bahagia. Tapi, tolong pikirkan orang lain yang sedang berjuang untuk mendapatkanku! Aku seperti murahan saja."


"Kalau punya Harem bukan berarti bisa menjadi seorang yang … beruntung. Aku merasa Harem itu seperti … murahan bagiku. Aku … tidak tahu apakah aku menerima semua gadis itu. Padahal, aku tidak tahu … kenapa kau.begitu ingin berada di sampingku. Aku tahu itu! Aku … ingin menjual tubuhku kalau mereka menginginkan tubuhku."


"Tapi, kamu jangan marah! Soalnya, aku sudah menjadi bekas. Bukan perjaka lagi. Neesan … telah membuatku ingin melakukannya lagi. Dengan masakan Neesan, itu sudah membuatku mendesah. Aku ingin sekali … kamu … memberikan ruang pada yang lainnya. Soalnya, kamu membenci Harem, kan?"


"Tidak usah ditanyakan lagi! Aku sudah tahu sebenarnya terjadi padamu! Aku … ingin kau tahu. Kalau lulus akademi, aku akan memilih … siapa yang pantas. Aku harap … yang kalah jangan menangis, yang menang jangan sombong. Ini hanyalah permainan saja."


"Bukan berarti aku ceramah padamu. Aku hanya … curhat saja, kamu tahu."

__ADS_1


"Jadi, peluk aku sesukamu dan lakukan sesukamu! Aku tidak akan memberontak, kok,"


Aurora langsung mengerti apa yang ku utarakan. Dia sangat tersentuh dan tersenyum kecil karena apa yang ku ucapkan. Dengan keputusan yang bulat, ia mengambil botol alkohol dan meminumnya dengan satu botol penuh. Aku merasakan hal yang menakutkan pada dirinya. Dengan mata cinta di hadapanku, membuatku ingin lari ketakutan.


"Gawat. Kalau begitu, tolong!"


Aku ingin berteriak sambil menangis. Tapi, tidak bisa. Mimpi buruk dan trauma melarang hal itu. Aku tidak bisa lari lagi karena Aurora dalam Mode Black Night Sky lebih cepat daripada biasanya. itu membuat nyawaku dalam bahaya.


Nina yang merawat Rin tertawa karena ia melihat apa yang membuatku ketakutan. Ia sudah mengetahui apa yang membuatku ketakutan setengah mati. Itu bukan hantu dan monster, itu adalah … Aurora itu sendiri.


"Nina. Tolong aku! Aku mau diperkosa," jeritku sambil berlari.


"Wah! Ada Pangeran yang meminta tolong padaku! Tolong tidak ya?" Canda Nina dengan


"Lebih baik aku tolong saja," putus Nian berniat ingin mengerjaiku.


"Dengan timing yang tepat, arah tembakan yang sesuai, dan kemampuan tembakku akan menyelamatkanmu dari Aurora. Aku akan melakukan tembakan dan …." Nina segera membidik dan berniat untuk meleset.


" … Ups! Melesat! Hanya sekali kesempatan." Nina tertawa kecil dan merekamku dengan profesional di dalam bahunya.


"Bodoh! Jangan mengerjaiku, Kono Yarou! Nyawaku dalam bahaya, kau tahu!" Aku mencocor Nina yang sengaja melesetkan tembakan.


"Aku tidak sengaja, kok. Dia memang terlalu cepat," bantah Nina menahan tawanya.


Tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa kabur lagi. Aku terjatuh. Dengan terjatuhnya aku, membuat Aurora membuat peluang yang cukup baik. Ia mengambilku dan segera membawa ke tempat sepi. Aku yang hanya mengenakan pakaian dari Klub PMR hanya pasrah dengan Aurora.


Dia membawaku dan berniat mengambil cairanku. Ini seperti reaksi dari sebuah film horor. Aurora sangat menakutkan. Apakah aku salah bicara atau apa? Yang benar saja! Apakah aku memang soal sejak awal? Kalau begitu, … tidak ada pilihan lain.


"Tolong aku! Aku masih ingin hidup lagi! Aurora ingin memperkosaku!" Aku berteriak ketakutan karena Aurora akan memperkosaku.


Jangan perkosa lagi! Aku tidak tahan.


Dengan itu, semuanya telah berakhir. Nina membawa semua korban itu ke rumah sakit. ia membiarkanku tidur bersama Aurora yang memelukku sambil meminum cairanku. Aku tidak bisa melupakan kejadian itu karena Aurora membuat cairanku keluar. Dia tidak bisa direm. Karena itu, aku memilih menerima itu dan merasakan guncangan yang hebat.


Ini lebih baik daripadanya sebelumnya.


Rasanya, Aurora lebih baik daripada gadis sebelumnya walaupun dia monster.


Dengan ini, berakhirlah Perang Cinta. Semua korban Perang Cinta akan dirawat. Klub Militer akan bertanggung jawab mengenai kehancuran yang cukup parah. Itu juga membuat masyarakat menjadi ketakutan. Maka dari itu, mereka dihukum dan di skorsing selama 4 hari. Klub Pangeran menghilang tanpa jejak dan Ketua Klub malah tersesat.


Padahal, ia berniat mencariku. Terlambat. Aurora sudah menang. Ia akan mencari cara untuk mendapatkanku. Tapi, butuh beberapa langkah lagi agar mendapatkan tujuan itu.


Rencana yang membuat efek pada hubungan lainnya.


Dia akan berniat untuk melakukan rencana yang tersembunyi.


[Hasil Perang Cinta.

__ADS_1


Aurora Sentinel menang


Alasan : Dia meminum Alkohol dan membuat Rivandy kenikmatan meskipun Aurora masih perawan]


__ADS_2