
Di sebuah mal di Moskow, sekelompok anggota Klub Pangeran yang siap dengan senapan dan perisai. Para gadis Klub Pangeran sudah siap dalam posisi dan melakukan target agar tidak melukaiku. Mereka sudah menghitung matematika mengenai militer. Terorganisir dan tersusun rapi. Tinggal menunggu waktu untuk melakukan tembakan di tengah mal yang ramai akan musim dingin.
Kotori dan Shiori mencari cara agar bisa keluar dari sini. Mencari celah agar bisa kabur. Tidak ada tempat persembunyian karena semua lorong mall sudah diblokade oleh anggota Klub Pangeran. Jadi, mereka harus menunggu kesempatan untuk bisa lari.
Mendengarkan pengumuman dari Aria, membuat Kotori harus berhenti sejenak. Shiori berhenti mengejar Kotori dan Bella bersembunyi dibalik tembok untuk mengecek keadaan. Mereka harus membuat rencana untuk pergi dari sini.
"Serahkan Rivandy padaku! Aku punya rencana," usul Shiori merebutku dari genggaman Kotori.
"Kau pikir rencanamu akan berhasil?" Tanya Kotori tidak yakin.
"Tentu saja. Aku akan membuatnya kesal. Aku ingin ia menjadi yang berkas," tekad Shiori dengan bujukan mendekati Kotori.
Kotori terpaksa mendengar perasaan Shiori dan menyerahkan padaku di pelukannya. Aku tidak sadar ada dua gunung yang melengket di kepalaku. Aku berada di genggaman Shiori. Jika Shiori memperkosaku, serum yang Aurora berikan padaku tidak akan bekerja dengan baik.
Shiori bergerak menuju ke anggota Klub Pangeranyangg bersiaga untuk menyerang. Ketiga gadis memegang perisai terkesan karena Shiori sudah mendengar pengumuman itu dan menyerah tanpa syarat. Kotori dan Bella hanya terdiam di belakang dan berharap Shiori tidak melakukan yang aneh.
"Baik. Aku akan menyerahkan Pangeran Rivandy kepada kalian," pasrah Shiori kepada sekumpulan gadis.
"Anak pintar. Aku pikir kalian akan menolak peringatanku," puji Aria mendengar penyerahan itu
"Sebelum itu, aku akan melakukan sesuatu untuknya. Kalian akan mendapatkannya setelah aku melakukan sesuatu padanya," cegah Shiori memegangku dan memelukku seperti seorang kakak.
"Aku harap kamu tidak melakukan hal mesum di depan kami," harap Millia masih memegang senapan.
Shiori langsung menidurkan ku di lantai dan mulai melepaskan pakaiannya. Dia segera melancarkan aksi mesumnya di hadapan anggota Klub Pangeran yang bersiaga. Shiori memulai memelukku dan meremas dadaku.
Menciumiku dan membuka pakaianku, lalu melakukan penetrasi yang cepat, sehingga aku menjadi mendesah dengan keras. Aku tidak bisa memberontak. Hanya bisa berteriak kencang. Bella senang dengan aku yang lemah dan tidak berdaya. Kotori berharap rencana Shiori berjalan lancar.
Stephany, Aria, dan Millia merasa jijik kalau Shiori yang memperkosanya. Mereka tidak sadar Shiori melakukan itu semua demi kepuasan hasratnya. Dengan itu, mereka menjadi geram dan memberi perintah untuk menyerang.
"Tembak dia! Si Janda itu ingin memperkosa Pangeran di hadapan kita!" Aria sangat panik karena melihat adegan panas itu.
"Kita habisi dia! Dia sudah melakukan ini sejak awal," sambung Stephany memulai menembak Shiori.
"Aku akan membuangnya setelah dia hamil," lanjut Millia meramal masa depan Shiori.
Mereka pun menembak Shiori yang sedang menikmati tubuhku. Shiori tidak peduli dengan tembakan itu. Asalkan pernah berhubungan badan denganku membuatnya sangat bahagia. Berbagai peluru melesat menuju tubuh Shiori yang tidak mengenakan kevlar. Mereka menembak Shiori terus agar bisa melakukan apapun padaku. Menyelamatkanku dari jangkauan gadis mesum.
Namun, itu hanya tipuan anak kecil yang dapat mengecoh gadis remaja. Mereka tidak menyadari bahwa Shiori di depan mereka telah hilang. Shiori yang di depan mereka adalah self-duplication. Dengan kata lain, Shiori yang di depan mereka itu palsu. Anggota Klub Pangeran merasa marah karena sudah tertipu dengan trik yang digunakan oleh Shiori.
"Tembak dia! Jangan sampai lolos!" salah satu anggota Klub Pangeran melihat Shiori, Bella, dan, Kotori yang berserak pelan menuju pintu keluar mal.
Dengan pemberitahuan itu, mereka segera melakukan tembakan yang masiv dan membuat ketiga gadis yang membawaku segera berlari ke perlindungan di belakang tembok. Mereka bersembunyi di belakang tembok dan memikirkan cara untuk keluar dari sini.
Shiori dan Bella bersembunyi di toko baju yang mereka beli tadi. Kotori bersembunyi di dekat eskalator yang bertujuan untuk menaikkan pejalan kaki dari suatu lantai ke lantai lainnya. Kotori tidak bisa menyerang karena jumlah mereka cukup banyak dan tidak bisa dihentikan sendiri.
Mereka bersembunyi mengganti amunisi sebelum melakukan tembakan. Pelayan toko hanya terdiam kaku dengan toko hancur. Penghuni toko itu bersembunyi dari tembakan yang melesat ke toko.
“Bella. Bawa Rivandy keluar dari sini! Aku akan menahan mereka,” minta Shiori membidik lawan dengan senapannya.
“Tidak mau! Aku tidak akan membantumu untuk membawa Onii-chan,” tolak Bella mentah-mentah untuk harga dirinya.
“Kau boleh menyiksanya nanti. Sekarang, larilah!” Shiori menyerahkanku yang pandangan kabur karena diperkosa oleh Kotori kepada Bella.
Bella menerima itu walaupun terpaksa. Dia membopongku keluar dari toko baju. Shiori memberikan pengalihan perhatian pada anggota Klub Pangeran itu. Mereka tidak membiarkan Bella ditangkap dengan mudah.
“Nona. Tolong amankan baju yang kamu jual! Aku akan menahan mereka,” pinta Shiori pada penjaga toko itu.
“Baik,” terima penjaga toko itu mengamankan bajunya dari anggota Klub Pangeran.
Penjaga toko itu membereskan tokonya dan tutup lebih awal karena toko itu sudah menjadi medan perang. Shiori keluar dari toko dan segera menembak lawan satu persatu. Loncat dari lantai atas dan segar melakukan perlawanan yang kuat.
__ADS_1
Shiori akan mengkhianati Kotori dan segera menikmati tubuhku setelah pertarungan itu berakhir.
[*^*]
Pertarungan Aurora dan Diana masih berlanjut di depan cafe. Mereka tidak memperdulikan orang yang menikmati Sabtu pada musim dingin. Mereka melakukan pertarungan di tengah kerumunan dan tidak merusak orang sekitar. Mereka melakukan pertarungan di atas bangunan kembali lagi ke cafe.
Tak lama kemudian, ada seorang gadis yang mencampuri urusan duet. Memegang pedang miliknya dan segera menyerang Aurora yang lincah. Aurora menghindar dengan mudah dan menendang Sinta jatuh kebawah.
Sinta terhempas ke bawah segera menghampiri Diana untuk memberikan dukungan. Menaiki bangunan dengan mudah dan segera memberikan tebasan ke Aurora. Aurora menghindari dengan loncatan dan salto. Diana kewalahan karena lawannya adalah seorang monster, bukan manusia.
“Diana. Aku akan membantumu,” tekad Sinta segera membantu Diana dan mencoba untuk naik ke atas.
“Jangan ikut campur! Dia cukup berbahaya bagimu,” larang Diana yang mengarahkan pedangnya ke Aurora.
“Eh? Padahal kalau kita bekerja sama, kita akan menang,” cela Sinta mendukung Diana.
“Tidak peduli kerjasama atau tidak. Dia tidak kenal kawan dan lawan. Kita harus mengalahkannya dengan kekuatan penuh,” jelas Diana mengenai kekuatan Aurora mode Langit Malam Hitam.
“Aku akan memberimu tenaga. Missionary : Purification!”
Dengan kekuatan penyembuh dari Sinta, membuat tenaga Diana menjadi stabil. Diana menerima penyembuhan Sinta dengan baik. Dengan itu, Diana sudah siap untuk menghadapi Aurora.
Diana dan Sinta melanjutkan pertarungan. Sinta menggunakan teknik "Missionary :Frey Strike" untuk memberikan kerusakan pada Aurora dan menggunakan "Missionary : Purification" untuk menyembuhkan dan memberikan tenaga kepada Diana.
Ketika pertarungan akan dilanjutkan, tiba-tiba ada sebuah peluru yang membuat ledakan di atas bangunan. Ledakan itu membuat jarak yang jauh antara Sinta, Diana, dan Aurora. Aurora terjatuh dari ketinggian dan segera mendarat di tangga apartemen.
Diana dan SInta melihat ada seorang gadis yang ikut campur dalam pertarungan itu. Dia dengan kekuatan Saintek akan membuat kekacauan di atas bangunan Moskow. Tidak ada yang melihat pertarungan itu. Itu akan menjadi lebih sepi.
“Ara-Ara. Kalian sedang apa? Bertarung? Kalau begitu, aku ikut juga, yah!” Sapa Furumi menghampiri Diana dan Sinta dengan gaya seperti kakak perempuan.
“Furumi. Punyamu rata seperti papan cuci,” komentar Zaza memfokuskan penglihatannya di dada Furumi.
“Furumi. Zaza. Apa yang kalian lakukan?” Tanya Sinta menyimpan pedang di pinggangnya.
“Sinta. Diana. Lama tidak jumpa. ” sapa Zaza menarik kembali pisau yang ia pegang
“Sinta-chan! Diana-chan! Maafkan aku! Aku tidak sengaja melukai kalian,” sesal Furumi meminta maaf pada Diana karena ia menyerang Diana.
“Ara-Ara. Tidak apa-apa.” respon Diana memaafkan Furumi.
“Tapi, Kita harus kalahkan monster itu.” lanjut Diana mulai serius.
“Aurora cukup tangguh untuk dikalahkan. Lebih baik, kita pergi dari sini dan menangkap Rivandy. Lalu, aku dan Sinta akan meminum alkohol biar menjadi film horor terbaik,” usul Zaza menghentikan pertempuran.
“Iya. Sedari awal Aurora menghentikanku agar bisa diberi jarak. Ini membuang waktu saja,” keluh Diana.
“Kalau begitu, kita cari dia!” Sinta mengajak semua gadis untuk mencariku.
Mereka turun dari atas bangunan dan menyamar dengan baik agar tidak ketahuan oleh Aurora. Mereka mencari keberadaanku di tempat dengan luas 2.511 km kuadrat. Diana membuat sebuah hipotesis yang masuk akal untuk mencari jejakku.
Mereka akan menemukannya tak lama kemudian.
[*^*]
Jam 09:12, pertarungan di mal terus berlangsung. Shiori menghentikan mereka agar mereka tidak bisa mengikuti jejak Bella dan menangkapnya. Kotori meloncat dari beberapa lantai dan bergabung ke Shiori. Kotori sudah mulai paham dengan hilangnya Bella dan mulai bertarung bersama.
Tak lama kemudian, ada sebuah robot, 2 tank, dan batalyon yang siap untuk menyerang. Tank dan Robot itu bergabung untuk mengacaukan mal yang mengalami kerusakan. Tidak ada yang datang ke mal karena mal sudah menjadi medan tempur.
“Halo. Aku Rima. Apa kabar? Apakah kalian baik-baik saja?” Sapa Rima pada kamera.
“Aku suka naik Tank. Apakah kamu suka naik Tank T-90?" Tanya Rima kepada kamera.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Hebat!”
“Aku mau bertanya pada kalian.”
“Apakah kalian melihat ada musuh?”
“Dimana? Aku tidak melihatnya,”
Sebuah kursor yang mengklik ke arah lawan yang sedang bertempur. Rima mengetahui musuh yang diklik oleh kursor misterius Rima menoleh ke belakang dan melihat ada sebuah pertarungan yang cukup keras.
“Itu dia! Ada di sana! Oh iya. Ada roket di ranselku,” jawabnya menunjukkan ranselnya pada kamera.
“Maukah kamu membuka ranselku?”
“Hore! Aku senang mendengarnya,” jawabnya kepada kamera.
“Katakan Ransel!”
“Katakan lebih keras!”
“Lebih keras!”
Dengan kata “Ransel” yang keras dari penonton, membuat roket keluar dengan sendirinya. Rima senang dengan roket yang ada di tangannya. Dia juga berterima kasih pada penonton yang membantunya walaupun videonya akan di upload di Vlog YouTube.
“Hore! Aku sudah dapatkan roket. Saatnya mencari Pangeran Sehun,” tekad Rima sudah siap untuk mencariku.
“Rima. Aku akan turun. Kamu kendalikan tank ini,” pinta Lisa menghentikan tank dan segera bersiap untuk keluar dari tank.
“Eh?! Padahal, aku sudah siap turun,” keluh Rima
“Tidak akan lama. Aku akan kembali,” pamit Lisa keluar dari Tank.
Rima merasa kesal dengan turunnya Lisa. Ia juga tidak punya SIM untuk mengendarai tank. Ia takut akan ditilang oleh polisi karena tidak punya SIM untuk mengendarai tank.
“Ya sudahlah! Aku akan mengendarai tank saja walaupun aku tidak punya SIM.” gumam Rima menggunakan tank walaupun ia tidak belajar mengendarai tank di Klub Militer.
Ia mengendarai tank maju, mundur, maju, mundur, maju, mundur, maju, dan mundur. Entah apa yang ia kendarai tank itu. Sepertinya, ia tidak menonton Anime Girls Und Panzer, sehingga menjadi pengendara tank yang buruk.
Diharapkan mal itu tidak akan hancur karena ulah Rima dalam mengendarai tank.
[*^*]
Kotori dan Shiori sedang melakukan pertempuran besar-besaran. Mereka melihat sebuah robot yang melancarkan misil ke tempat mal. Mereka menghindari kerusakan yang ditimbulkan dari tank itu.
Serangan sebuah tank itu membuat anggota Klub Pangeran, terutama Aria, Millia, dan Stephany turun tangan dalam serangan itu. Mereka membalas serangan dengan misil. Robot yang dikendalikan oleh Hanna menghadang serangan itu dan mulai menyerang gadis yang memegang perisai.
Pertempuran semakin berlanjut dengan kerugian mal yang semakin membesar. Shiori dan Kotori bersembunyi dan segera mencari celah untuk menghancurkan tank itu. Pada saat mereka ingin menghabisi tank itu, Lisa datang dan melakukan tambakan kepada kedua gadis itu.
Mereka saling berhadapan satu sama lain. Timbullah niat Lisa untuk balas dendam dan membuat pertarungan di mal semakin menarik.
Sementara itu, Akishima dan Sheeran sedang terperangkap dan dipaksa menonton video porno berlabelkan Ara-Ara. Karena unsur Ara-Ara itu melekat pada mereka, mereka melepaskan ikatan itu dengan mudah dan segera berdiri tegak.
“Ara Ara. Waktunya balas dendam,” sahut Akishima dengan mata cinta dan kasih sayang.
“Aku tidak akan memaafkanmu. Aku akan membuka bajumu dan menjadikanmu budak,” lanjut Sheeran semakin liar karena sudah berubah menjadi Oneesan.
“Setelah itu, kita akan menghargai tubuhnya dengan harga yang murah."
"Benar. Kita akan menyiksanya."
__ADS_1