
17 Agustus 2025, jam 19:27, ada seorang gadis berkulit pucat dengan rambut ungu tua sepanjang paha yang diikat dengan sanggul tinggi dengan poni tergantung di atas alisnya, dua helai rambut membingkai wajahnya di kedua sisi dan mata ungu misterius dan elegan yang sedang berjalan di tengah keramaian Kota Moskow.
Dia mencari apartemen di tengah bangunan Moskow yang kokoh dengan penduduk yang sudah pulang ke kediaman mereka. Dia mengenakan baju lengan panjang dan pakaian jeans serta membawa tas miliknya dengan handphone di genggamannya untuk mencari alamat.
Sima Rinko (司马 倫子), gadis yang kesepian dan beberapa luka di dalam tubuhnya. Sebuah luka yang ia tutupi untuk menjaga diri dari kejahatan yang akan menimpanya.
Jam 20:21, ia menemukan apartemen yang cukup murah yang bisa ditinggali olehnya. Ia segera memasuki ruangan pengurus apartemen untuk menempati ruangan apartemen yang tersisa.
Pengurus apartemen yang tidak ramah itu malah mengusir, “Aku tidak mau menerima gadis yang hina sepertimu. Jadi, pergilah!”
Rin yang mendengar bentakan itu segera pergi dari hadapan pengurus apartemen itu. Ia segera berjalan tanpa tujuan sambil mencari apartemen yang masih terbuka. Namun, semuanya menolaknya. Karena itu, dia tinggal di gang untuk sementara dan tertidur lelap di tengah udara yang dingin, sepi, dan gelap.
[*^*]
Keesokan harinya, jam 07:01, gadis itu terbangun dari gang dengan pakaian yang tidak beraturan. Dompetnya kosong diambil oleh seseorang, Handphone tidak diambil karena handphone itu merupakan keluaran tahun 2017, Rin mengerakkan tangannya untuk membenarkan pakaian sambil menahan air matanya.
“Aku diperkosa lagi."
Rin segera mencari ATM untuk mengeluarkan uangnya karena uangnya dicuri oleh seseorang. Ia memiliki kartu yang sudah terpasang di aplikasi handphone miliknya. Ia berjalan meninggalkan gang sambil berjalan cepat agar tidak ada yang mengincarnya.
Sesampainya di ATM, ia memasuki ruangan yang dingin dan sejuk, lalu ia memasukkan kartu ATM yang ada di handphone miliknya untuk melakukan transaksi. Kemudian, ia mengutak-atik monitor ATM. Dia menemukan tombol saldo dan segera menekan. Dan terlihatlah saldo yang di hadapannya.
[Saldo Anda : ¥ 6000 / ₽ 69.143,89]
[Apakah Anda Ingin melakukan penarikan?]
{Ya} <<
{Tidak}
Setelah itu, dia melakukan penarikan sebesar ₽ 50.000, sehingga tersisa ₽ 19.143,89. Uang kertas sebesar ₽ 50.000 keluar dari mesin ATM. Ia mengambilnya dan memasukkannya ke dalam dompet.
Ia keluar dari ruangan ATM dan meninggalkannya sebelum ada orang lain yang memasuki ATM itu.
[*^*]
Di tengah mencari apartemen, ia melangkah di trotoar yang sepi. Tanpa seorang pun yang berjalan Tiba-tiba, ia ditarik seseorang menuju ke gang sepi dan penuh sampah. Lalu, ia didorong ke tembok, sehingga ia menjerit kesakitan di bagian punggungnya. Ada sekelompok preman yang berbadan kekar berjalan mendekatinya.
“Hei! Nona,” panggil anggota preman yang berambut punk.
“Serahkan uangmu kepada kami, atau kami akan memaksamu untuk merebutnya!” Ancam anggota preman yang berbadan kekar itu dengan menyodorkan pisaunya kepada Rin.
“Tidak! Jangan sakiti aku! Aku tidak bersalah.” Rin memohon sambil menahan tangisannya.
“Tidak mau?” Murka preman yang memegang alat pemukul baseball.
“Begini saja, kamu jual tubuhmu pada kami dan memberikan uang kepada kami. Lalu, kami akan membebaskanmu.” tawar preman yang bertubuh kurus itu yang menghampirinya
“Itu terlalu berlebihan,” jawab Rin mendengar perjanjian itu.
“Dasar pembangkang!” Serang preman yang berambut punk itu perut Rin sampai terjatuh.
Rin terjatuh ke lantai dengan pukulan yang dilancarkan ke perutnya. Mereka bergerombol sambil memaksanya untuk membuka pakaiannya. Rin ingin sekali menjerit kesakitan. Namun, karena ketidakmampuannya, ia tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Sebelum kejadian itu, ada seorang yang sekelompok dengan mereka berlari terbirit-birit sambil menahan luka tusuk di perutnya.
“Ada apa?” Tanya cemas dengan kondisi seseorang yang terluka itu.
“Oi! Jawablah!” Lanjutnya.
“La-rilah! Ada se-orang ib-lis yang … akan mem-bunuh kalian,” jawab preman yang terluka di perutnya sambil mengeluarkan darah.
“Hah?! Iblis?!” Kejut seorang preman yang berambut punk di hadapan orang yang terluka itu.
“Tch! Dasar tidak becus!” Preman itu memukul preman yang sedang terluka di kepalanya.
“Oi! Cepat laksanakan perintah kalian dan segera … ” ucapan preman itu terpotong karena ada sebuah pisau dapur yang melesat tepat sasaran
“Hem. Ini lebih cepat daripada yang kuduga,” ucap remaja yang melemparkan pisau dapurnya menuju ke preman itu.
“Aku sudah mendengarkan kebohongan berita itu berkali-kali,” lirihnya.
“Dasar bocah tengik! Siapa kau?” Seru preman yang menggunakan pemukul baseballnya.
“Beraninya kau mengurus urusan kami!” Lanjutnya dengan perasaan marah di hadapan remaja itu.
Dia hanya terdiam dengan gertakan itu. Lagipula, dia tidak pernah menunjukkan rasa takutnya kepada preman itu. Dia bertubuh tinggi dan berambut hitam alami bergerak sambil mengambil pisau dapur di genggamannya.
“Tidak mau jawab, yah! Rasakan ini!” Preman yang ada di hadapannya segera melancarkan serangan pemukul baseball menuju kepala remaja itu.
Remaja itu reflek sambil mengarahkan pisau dapur itu menuju atasan celana dan menusuk alat vital di dalam atasan celana itu dengan keras akibat pisau itu terlalu tajam sampai mampu merobek apa saja yang di hadapannya.
Preman yang ingin memukul remaja itu terkejut apa yang ia rasakan. Ia merasakan rasa sakit yang tersebar di sekujur tubuhnya. Ia terjatuh dan tidak akan bangkit lagi.
Preman yang terkena tusukan itu mengeluarkan darah dari lehernya hingga preman itu tersungkur da mati tak lama kemudian. Preman yang menyerang remaja itu secara bersamaan segera menghampiri preman yang tergeletak di gang.
Sudah 1 preman yang ia bunuh. Masih ada 2 preman lagi yang ia harus hadapi. Preman berbadan kekar dan berambut punk itu terkejut dengan tusukan itu. ini bukan tusukan biasa. Ini tusukan seperti seorang pembunuh.
“Jangan sombong kau, bocah tengik!” Seru preman berbadan kekar itu dengan aura ketakutannya.
“Aku akan membunuhmu!” Lanjutnya.
Namun, pisau itu melesat dengan cepat menuju ke matanya. Preman berbadan kekar itu berteriak histeris dengan congkelan itu. Preman yang berambut Punk tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Remaja itu memperdalam tusukan itu sampai terkena organ dalam, sehingga preman yang tertusuk gugur seketika.
Preman berambut punk mundur sambil merangkak untuk menghindari tatapan remaja yang sadis itu.
"Ampuni aku! Aku masih ingin hidup,“ jerit preman itu di hadapan remaja itu.
Remaja itu hanya terdiam sambil mengambil pisau dapur dan mengarahkannya kepada preman itu. Preman itu mencoba untuk menghentikan remaja itu. Tapi, percuma saja. Remaja itu tidak bisa mendengar jeritan itu. Ia seolah-olah menjadi sebuah senjata untuk meletuskan Perang Dunia 3.
“Tidak! Tidak! Jangan!”
Dengan tusukan itu, preman yang ketakutan dengan tatapan iblisnya itu sudah terbujur kaku. Remaja itu sedang membersihkan pisaunya yang penuh darah itu. Ia terkejut Ia tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang sedang terduduk dengan ¾ terbuka dengan tatapan yang kosong.
[*^*]
__ADS_1
Aku yang sudah membunuh.preman itu segera membersihkan pisau itu dengan sapu tangan itu. Aku kesini hanya untuk membunuh preman yang melarikan diri, namun ini tidak akan terjadi sebelumnya. Dia malah berlari menuju ke teman mereka dan membuatku ingin membunuh mereka.
Rasanya, ini terlalu berlebihan untuk seorang pembunuh sepertiku ~ Rivandy Lex.
“Tch! Semoga saja tidak ada yang melihat ini,” pikirku.
Pada saat ingin meninggalkan mayat yang berserakan itu. Tatapanku tertuju pada pada seorang yang terkapar di tembok dengan tatapan kosong.
Aku melihat gadis yang menjadi korban pemerkosaan. Cairan yang bertebaran di pakaiannya. Lalu, tubuhnya sudah tidak bergerak seolah-olah ia sudah \disalurkan hasratnya.
Aku mendekatinya sambil melihat isi dompet dan handphone miliknya. Setelah mengecek barang itu, aku mengecek kondisi tubuh yang berbau cumi-cumi itu dengan melepaskan pakaiannya.
Aku tidak seperti seorang bajingan jelek yang seenaknya melakukan penetrasi kepada gadis yang sedang pingsan itu. Aku memutuskan untuk membawanya kepadaku . Aku tidak terlalu ingin melapor ke polisi setempat. Mereka akan menuduhku sebagai pelaku dan menyeretku ke penjara.
“Sima Rinko?”
“Dia sepertinya terluka. Sebaiknya, aku ke sana sekarang juga,”
Aku bertubuh tinggi dan berambut hitam natural itu menggendong gadis yang hanya mengenakan pakaian dalam warna biru kehitaman itu menuju ke apartemenku.
[*^*]
Jam 14:03, suasana Kota Moskow masih panas mengingat musim panas Kota Moskow masih berlanjut. Sekolah yang masih kosong karena jadwal sekolah masih libur. Banyak anak sekolah yang menghabiskan liburan mereka setelah mereka melewati masa mereka yang melelahkan itu.
Rin terbangun di sebuah ranjang yang tersusun rapi itu. Apartemen dengan fasilitas yang baik itu. Ia melihat dirinya yang mengenakan kaosnya tanpa pakaian dalam. Ia berpikiran negatif bahwa ia akan menjadi korban
“Apakah aku diperkosa lagi?”
Ia segera beranjak dari ranjangnya. Namun, ada seorang remaja yang sedang menyajikan makanan yang hangat itu. Ia adalah Rivandy.
“Kau sudah bangun, Rin?” Tanyaku sambil meletakkan masakannya kepada Rin.
Rin menoleh kepada sumber suara itu. Ia melihatku dengan tatapan kosongnya. Ia mulai takut karena ia akan menjadi korban hasrat lelaki belang itu.
“E … Jangan apa-apakan aku! Biarkan aku pergi!” Rin memegang selimutnya dengan erat.
“Jangan khawatir! Aku tidak melakukan itu,” elakku menenangkan Rin.
“Tidak! Jangan!” Rin menjerit karena pikiran negatif menyerangnya.
“ini. Ini untukmu,” tawarku kepada Rin memberikan makanan itu kepadanya.
“Ini .. untukku?”
“Iya. Makanlah! Kamu bisa menggunakan pakaianku untuk sementara. Aku mencuci pakaianmu,” ujarku sambil mendekati Rin.
Rin hanya terdiam dengan itu. Ia mencoba untuk menghindariku. Namun, percuma saja.
“Apa yang kau inginkan? Kau ingin menyalurkan hasrat mu kepadaku, ‘kan?” Rin menoleh denganku sambil menahan tangisannya.
“Tidak. Aku tidak terlalu membutuhkan itu. Aku hanya ingin kau baik-baik saja,” jawabku menatapnya datar.
Rin yang mendengar itu menahan tangisannya karena ada yang pertama kali orang yang berbuat baik kepadanya. Sepanjang hidupnya ia dikelilingi oleh orang jahat yang selalu mengeksploitasinya. Rin bersyukur dalam hatinya karena ada orang yang berbuat baik kepadanya yang hina itu.
__ADS_1
Terima kasih karena menyelamatkanku, Rivandy.