Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Kehidupan Sehari-Hari : Zera, Nina, Sinta, Diana.


__ADS_3

19 September 2025, jam 07:00 musim gugur di Kota Moskow. Cuaca yang cukup ekstrim telah melanda di hati itu. Zera dan Nina mengenakan syal dan seragam mereka  Diana dan Sinta mengenakan mantel mereka menuju ke akademi. Mereka berjalan dalam trotoar untuk menuju ke akademi.


“Zera, aku akan membuatmu mantel jika kamu tidak tahan dengan cuaca ini,” tawar Diana sambil memegang jarum dan kain.


“Tidak, terima kasih.” Zera menolak tawaran itu.


“Tidak boleh, Zera! Kamu harus mengenakan mantel ini,” larang Sinta membuka mantelnya dan mengenakannya ke Zera. Zera hanya terpaksa mengenakan mantel karena Sinta tidak mau khawatir dengannya.


“Sinta. Bagaimana denganmu?” Tanya Diana cemas dengan kebaikan Sinta.


“Kalau Zera kedinginan, aku harus kedinginan,” jawab Sinta dengan penuh kebaikan.


“Kenapa tidak naik taksi?” Tanya Zera melihat Diana dan Sinta yang seperti seorang putri bangsawan.


“Karena jalan kaki lebih baik daripada naik taksi. Tidak ada biaya dan tetap sehat,” jawab Nina yang ada di samping Zera.


“Benar. Aku tidak terlalu ingin naik taksi. Masih banyak orang diluar sana yang membutuhkan taksi,” jawab Sinta dengan penuh kebalikan.


“Kebaikanmu sangat dihormati, Sinta,” puji Diana mendengar kebaikan dari Sinta.


“Terima kasih,” ucap Sinta dengan senyuman manisnya.


Zera hanya terdiam dengan pembicaraan itu. Ia hanya menatap jalan ke depan dengan mengenakan mantel yang diberikan dari Sinta.


Hidup yang melelahkan dengan ketiga gadis yang baik kepadaku ~ Zera Lelousiana.


[*^*]


Setelah tiba di akademi, Zera mengembalikan mantel ke Sinta dan mengucapkan terima kasih. Lalu, ia meninggalkan mereka untuk kembali ke kelasnya. Diana dan Sinta segera menuju ke Kelas I Soshum A. Nina segera berjalan ke ruang guru untuk mengumpulkan tugasnya bersamaan dengan Rivandy, Aurora, dan Evelyn.


Pelajaran dimulai jam 08:00. Guru yang mengajar hari ini adalah guru matematika. Zera yang tidak terlalu memperhatikan materi yang disampaikan. Ia hanya mengantuk dan kehilangan fokus karena ia bersama Nina semalaman.


Lalu, ia membiarkan Nina berada di samping sambil tertidur, sehingga ia tidak bisa menutup matanya walaupun Nina berusaha keras untuk menidurkannya.


Zera yang tidak bisa fokus itu segera meletakkan kepala di mejanya sambil memandang keluar jendela. Lalu, secara perlahan, ia memejamkan matanya dan ia tertidur pulas. Guru yang sedang mengajar persamaan melihat siswa yang tertidur.


Ia segera menghampiri Zera sambil memanggilnya secara perlahan. Namun, Zera tidak terbangun juga. Guru itu berusaha keras, mulai dari memukul meja hingga berbisik di telinganya. Namun, Zera


“Zera!” Panggil guru itu dengan suara keras.


Zera terbangun secara tiba-tiba. Ia mengira bahwa ia akan terancam. Benar saja. Ia sudah berhadapan dengan guru matematika.


“Kau tertidur lagi, Nak!” Guru itu sudah berada di hadapannya membuat tertawa kecil seisi kelas.


“ … ” Zera tidak berkata apapun. Dia hanya memandang guru matematika dengan mata sayu.


“Setelah pelajaran, ikut aku ke ruang guru!” Pesan guru itu langsung mengkondisikan suasana kelasnya.


Zera hanya terdiam dengan tawaan seisi kelas itu. Ia hanya memperhatikan kondisi Kota Moskow yang mendung itu.


Setelah pelajaran matematika selesai, Zera ikut dengan guru matematika menuju keruangan guru. Dia tidak bisa diajak oleh Nina dan gadis Kelas I Soshum A. Guru itu mengobrol dengannya secara privasi.


Setelah sampai di ruang guru, Pak Stephan, guru bimbingan militer Kelas I Saintek A. melihat guru matematika dan menyapa “Hai! Bu MInerva. Apa kabar?” Sambil melambaikan tangannya.


“Baik. Tapi, aku sedang mengurus murid pemalas ini,” balas Bu Minerva sambil memasuki ruangannya.


“Ok, selamat bersenang-senang! Aku ingin ke kantin sekarang juga,”  pamit Pak Stephan segera.menuju ke kantin.


Setelah membalas sapaan itu, Bu Minerva mempersilahkan Zera untuk masuk. Zera masuk dan duduk di hadapan Bu Minerva.


Guru yang berkacamata dan berambut pirang seperti Cherry-neesan. Hanya saja ia tidak membuat rambutnya sampai di bahu. Usianya mencapai 26 tahun dengan baju yang sedikit terbuka. Ia duduk dengan posisi seperti seorang bos di perusahaan, Bu Minerva. Guru matematika yang mengajari Kelas I Saintek dan Kelas I Soshum.


Ia pun duduk di hadapan Zera dan memulai pembicaraan.


“Selamat pagi,” sapa Bu Minerva dengan posisi duduk rapi.


“Pagi,” jawab Zera singkat.


“Apakah kamu tahu untuk apa kamu datang kesini?” Tanya Bu Minerva.

__ADS_1


“Tidak,” jawabnya sambil memandangnya dengan sayu.


“Kamu tidak memperhatikan apa yang aku ajarkan padamu. Setiap pelajaran, kamu memandang ke jendela dan tidur seenaknya. Tidak hanya itu, guru kelas lain juga mengeluh tentang itu, kecuali Pak Stephan,” jelas Bu Minerva pada perbuatan Zera yang sering mengabaikan pelajaran.


“Kamu memang mengumpulkan tugas. Hanya saja, sepertinya kamu dibantu oleh temanmu, yaitu Nina Alpenliebe. Kelas I Saintek A, Aku sudah membedakan tugasmu dan Nina. Hasilnya, sama saja.”


“Contohilah Rivandy! Dia selalu memperhatikan pelajaran dan mengumpulkan tugas dengan baik, sehingga dia selalu mendapatkan Nilai S dalam pelajaran matematika,” tegur Bu Minerva membedakan Zera dan Rivandy.


Zera tidak terlalu peduli dengan omelan itu. Ia hanya melihat di belakang Bu Minerva. Ia tertunduk lesu dengan mata yang lelah itu. Namun, kesunyian di dalam hatinya pun pecah dengan sebuah teriakan.


“Zera!”


“Apakah kau mendengarkanku?” Tanya Bu Minerva dengan tegas.


“Iya,” jawabnya singkat.


“Apa yang aku katakan padamu?” Tanay Bu Minerva dengan tatapan yang tajam.


“Tidak ada,” jawabnya lagi.


“Hah?! Tidak ada?!” Teriak Bu Minerva karena Zera tidak mendengarkan Bu Minerva.


“Aku sudah capek mengoceh selama 20 menit. Itu sudah menguras suaraku, kau tahu!"


“Sekarang, aku memerintahkanmu untuk ...,” pinta Bu Minerva terhenti dengan sebuah ketukan.


Ketukan itu membuat sebuah teguran terhenti seperti waktu terhenti. Ada seorang gadis berambut perak panjang yang memasuki sambil membawa sesuatu ketika ia memasuki ruangan Bu Minerva. Ia adalah Sinta Sentinel.


“Permisi, aku ingin memberikan flashdisk untukmu. Ini tugas dari semua kelas,” ujar Sinta sambil menghampiri Bu Minerva.


“Oh, benarkah? Coba lihat dulu!” Titah Bu Minerva membuat Sinta mendekatinya.


Saat itu, Sinta menghampiri Zera yang sedang terduduk diam sambil melihat Sinta. Ia selalu melihat Zera saat ia mengumpulkan tugasnya.


“Zera! Kamu dihukum lagi?” Omel Sinta saat ia menoleh Zera.


Zera mengangguk dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh SInta itu. Zera memanggil Sinta dengan suara yang pelan. Sinta yang sedang memberikan kepada Bu Minerva menyahut Zera sambil mendekatinya.


“Eh?! Maafkan aku, Zera! Apakah payudaraku menyentuhmu?” Sinta menjauh dan meminta maaf dengan polos.


“Tidak juga,” jawabnya dengan lesu.


“Kamu tidak boleh lesu, Zera! Kamu membuat Bu Minerva marah, tahu!” Tegur Sinta sambil menggoyangkan tubuh Zera.


Zera yang digoyangkan oleh Sinta mulai melirik, “Kenapa Sinta?”


“Kamu tidak bisa begini terus. Kalau begitu, aku akan membuka bajuku sekarang juga,” tekad SInta ingin melepaskan kancing bajunya.


“Hentikan!” Zera mencegah Sinta untuk membuka pakaiannya.


“Tidak sampai kamu berubah menjadi lebih baik,” cekal Sinta melepaskan Zera,


“Jangan lakukan itu!” Larang Zera untuk memeluk Sinta dengan erat agar SInta tidak bisa membuka bajunya.


“Zera! Jangan disitu!”


“Ehem! Zera!  Lepaskan Sinta! Kamu merundung gadis yang tidak bersalah itu, hah?” Bu Minerva membentak Zera yang dikira akan merundung Sinta.


“Bukan itu, Bu! Ini salahku. Seharusnya aku harus lebih perhatian kepadanya. Dia punya suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan,” sesal Sinta sambil berlutut pada Bu Minerva.


“Memang ada apa dengannya?”


“Begini, Bu. Sebenarnya, Zera itu ….” Penjelasan Sinta terhenti oleh pelukan Zera yang tajam..


“Tunggu! Hentikan Zera!” Jerit Sinta tubuhnya dipeluk terus.


“Aku bisa terangsang jika kamu menyentuhku terus,” lanjutnya sambil menahan malu dan mendesah cukup keras.


“Cukup, Zera!” Bu Minerva tidak tahan dengan desahan Sinta

__ADS_1


“Kamu dan Sinta boleh keluar dari sini. Dan terakhir, jangan sampai tugasmu dibantu oleh Nina lagi,” pesan terakhir dari Bu Minerva.


“Itu saja, aku mau keluar dulu,” pamitnya sambil keluar dari ruangannya.


Sinta yang dipeluk oleh Zera merasa lega karena Zera melepas pelukannya. Pelukan Zera dapat membuat Sinta terangsang. Jika dibiarkan selama 20 menit, Sinta akan menjadi gadis dengan libido tingkat maksimal. Zera langsung berpaling dari Sinta dan segera menjauh darinya.


“Aku keluar,” pamitnya sambil meninggalkan ruangan.


“Heh?! Tunggu aku, Zera! Jangan tinggalkan aku!” Sinta mengejar Zera sambil menahan libidonya.


Ruangan menjadi kosong dengan cuaca Kota Moskow yang semakin memburuk.


[*^*]


Jam 12:49, Zera dan ketiga siswa lainnya sudah menyelesaikan tugasnya untuk membersihkan kamar mandi. Eleva terus mengoceh karena Rivandy tidak sengaja menembaknya. Aku dan Spinx membiarkannya pergi karena dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik.


Mereka kembali ke kelas masing-masing setelah Eleva mengamuk dan merusak fasilitas sekolah. Sebelum Zera kembali ke kelas, Eleva memanggil Zera dan berkata, “Oi! Zera! Ikuti aku! Kamu ingin bolos kan?”


Zera menjawab, “Iya,” sambil mengangguk dengan pelan.


“Yosh! Kita ke arena dan bermain Fortress. Kau harus mendukungku,” ajax Eleva menyeret Zera ke arena pertarungan.


Zera hanya menerima perkataan Eleva.


Setelah bermain sampai jam pelajaran berakhir,  Eleva dan Zera keluar dari permainan dengan hasil yang memuaskan.


“Permainan yang bagus, Zera! Lain kali kita akan main lagi, Ok?” Tanya Eleva memberi isyarat kepada Zera.


‘Hm.“ Zera mengangguk menerima tanda “Ok” dari Eleva.


Mereka segera bergegas menuju kelas mereka mengambil tas mereka dan segera pulang bersama.


Namun, saat Zera kembali ke kelas, Ia melihat suasana kelas yang kosong. Ia  memandang seorang gadis yang menunggu keberadaannya. Ia melihat Nina yang sedang menunggu di depan kelas.


“Zera, kamu kemana saja?”.Tanya Sinta dengan nada cemasnya.


“Aku bolos,” jawabnya singkat.


“Apa?! Bolos?!” Seru Nina mendengar respon dari Zera.


“Ikut denganku!” Nina membawa tas Zera dan memegang tangan Zera keluar dari kelas.


Zera terpaksa dipegang oleh Nina untuk pulang ke gerbang akademi. Nina yang sedang cemas itu tidak akan membeberkan hal itu kepada yang lain karena itu hanya menyakiti  Zera.


Maafkan aku, Zera. Aku membiarkanmu bolos lagi ~ Nina Alpenliebe


[*^*]


Jam 15:34, Sinta dan Diana bertemu dengan Zera dan Nina di gerbang akademi. Sinta mendekati Zera dengan penuh penyesalan.


“Zera, maafkan aku! Aku melanggar janjimu,” sesalnya sambil memeluk Zera.


“Kalau kamu tidak akan memaafkanmu, aku akan menjual tubuhku kepada orang lain karena aku menghina janjimu,” tekad Sinta menjadi gadis jalanan karena melanggar perjanjiannya.


“Sinta, jangan berlebihan! Kamu tidak perlu melakukan hal itu,” cegah Diana agar Sinta tidak menjadi gadis jalanan.


“Tapi, karena aku adalah orang munafik, jadi …,”


“Tidak perlu,” cekal Zera dengan penyesalan Sinta.


“Lakukan sesukamu!” Lanjutnya sambil berjalan pulang.


“Tidak bisa! Aku tidak ingin Zera membenciku,” sesal Sinta mengejar Zera.


“Sinta, kamu tidak usah begitu! Zera tidak membiarkanmu menjual tubuhmu,” sanggah Nina dengan tingkah laku Zera.


“Zera! Terima kasih.” Tangisan Sinta pecah dengan kebaikan Zera.


Zera hanya memeluk Sinta yang sedang menangis. Diana dan Nina terharu dengan pelukan itu. Diana bergumam, “Zera memang hebat. Ia menerima gadis yang terlalu baik. Meskipun dia payah dalam segala hal, ia tetap melindungi orang yang disayanginya,”

__ADS_1


“Kamu sudah cukup berubah Zera,” lanjut Nina..


Setelah itu, mereka kembali pulang ke apartemen mereka dan menjalankan aktivitas mereka.


__ADS_2