
Pertarungan di gang akan terjadi. Geng itu melakukan tembakan beruntun padaku. Aku mempertahankan diriku dengan sebuah perisai milik Hammer.
“Tch! Serang dia!” Umpat seorang geng itu dan segera melakukan tembakan padaku.
Aku memegang perisai Hammer untuk menangkis tembakan itu. Adakalanya tembakan itu mengenai tubuhku. Aku menanyakan alasan mengejar Hammer sambil menahan luka yang diterima.
"Jangan halangi kami! Dia mengotori bajuku dan membuatku marah!" Marah salah satu geng itu melakukan tembakan secara jitu menuju kepalaku.
Aku tidak peduli dengan alasan remeh itu. Hanya dibersihkan sudah beres. Aku menawarkan kepada mereka untuk membereskan masalah ini tanpa tembakan. Percuma saja. Pertarungan sudah dimulai. Aku tidak bisa melakukan apapun, hanya menunggu kesempatan untuk menyerang.
Tidak ada yang namanya sebuah perundingan. Mereka hanya menyelesaikan dengan sebuah pertarungan. Karena alasan itu, aku akan membuat mereka untuk bersedia menembakku dengan peluru mereka.
Tembakan itu melesat dengan garis lurus yang akan melesat ke lengan kananku. Aku tidak terlalu mengetahui berapa peluru menurut perhitungan fisika.
Aku merasakan hal yang tidak enak menghampiriku. Tembakan Ak-47 mengenai tubuhku yang kelelahan itu. Aku merasakan kesakitan sampai aku ingin berteriak keraa. Saking sakitnya, aku tidak bisa bergerak sedikit pun.
Ini sama seperti sebelumnya. Aku ditembak senapan sniper oleh Akishima, aku diserang oleh keempat pelaku itu, lalu aku terkena tembakan 2000 Mach, selanjutnya adalah bekerja nonstop dan ditembak Ak-46 meski sudah dilindungi oleh perisai. Ini belum efektif.
Aku tidak bisa melindungi diri dengan perisai yang tidak bisa digunakan dengan baik. Aku hanya bisa menggunakan sniper dan pistol Desert Eagle. Aku terdiam dengan berbagai macam tembakan yang telah mengenaiku.
Para geng itu sedang tertawa dengan kemenangan yang sementara. Ia menjawab, "Kau tidak akan menang kali ini, Nak! Itulah penyebab kau menghalangi jalan kami."
"Kau akan mati disini," lanjut geng yang lainnya.
Aku hanya cuek dengan ancaman yang mereka lontarkan padaku. Aku tidak terlalu mendengar ocehan mereka yang sombong dan terkesan merendahkan. Aku hanya mendengar Hammer yang sedang termenung di samping tempat sampah.
Aku melancarkan serangan yang melesat pada mereka. Mereka menghindari dengan mudah, menembakku lagi dan membuatku tidak bisa memegang perisai lagi.
Benar saja, aku terlempar dan melepaskan perisai itu. Aku tidak berpikir apapun dengan ini. Terkena tertembak lagi oleh peluru mereka dan mengalami luka yang serius.
Para geng itu semakin senang. Mereka melakukan tembakan eksekusi untuk mengakhiri hidupku. Namun, tembakan itu malah melesat menuju jantungku. Meskipun begitu, aku tidak mengalami kematian. Jika orang lain di posiisku, akan mati seketika.
Setelah tembakan itu, aku membulatkan tekad untuk membunuh mereka. Entah kenapa aku ingin membunuh mereka. Karena kesombongan dan kekuasaan, kekuatan misteriku aktif seketika, tidak bisa dihindarkan.
Aku masih berdiri dan segera mengambil pisau mematikan milikku dan menatap mereka dengan tajam. Aku melihat ada seorang remaja yang sedang suram dan tidak mau berdiri lagi.
Sudahlah! Aku akan mengakhiri semua ini.
Geng yang menyombongkan diri itu melihatku dengan mengalami keanehan. Mereka tidak tahu kalau aku akan membunuh mereka walaupun aku terpaksa melakukannya.
Maafkan aku, Neesan! Aku tidak sengaja melakukan ini lagi.
Aku bergerak dengan cepat dan melesat menuju ke target untuk menebas mereka dengan sadis. Aku tidak peduli dengan tubuhku yang tidak tertidur semalaman ditambah dengan luka yang banyak itu.
Mereka melihatku yang menyerang segera berseru, "Serang dia! Jangan biarkan dia lolos!*
Mereka mematuhi perintah ketua itu dan menarik pelatuk Ak-47 yang keras padaku. Aku tidak peduli secepat peluru itu melaju menangkisnya dengan pisau milikku. Aku tidak peduli dengan pelaku di depan mataku.
Aku menebasnya dengan cepat dan memandang geng itu di bagian bawah dan menusuk dengan cepat di kaki mereka. Mereka terkejut dengan kecepatan dan teknik itu. Tidak disangka mereka akan mengalami hal yang paling buruk pada momen itu. Awalnya, mereka akan membunuhku. Namun, tidak kali ini.
__ADS_1
Aku menusuk kaki mereka dengan berlumuran darah dan timbullah ketakutan dan mimpi buruk mereka. Aku menjatuhkan mereka dan menyingkirkan senjata yang ada di hadapanku. Namun, teman geng itu masih menyerangku. Aku sama sekali tidak cemas dengan itu. Aku selalu ingin membantai mereka
Aku mendekati salah satu geng itu dan segera melakukan target padaku. Aku menghindari tembakan itu membuat teman mereka terbunuh dengan senjata makan tuan mereka. Setelah itu, aku segera menusuk lehernya dengan kuat.
Mereka semakin ketakutan, gertakan yang mereka pancarkan demi membunuhku. Namun, gerakan zombie faster tidak memungkinkan mereka untuk lolos dariku
Aku menghabisi mereka satu demi satu. Mataku merasakan kehebatan dan kesombongan mereka yang luntur seketika. Aku menusuk jantung mereka dan akhirnya, mereka mati mengenaskan dengan banyak darah.
Gang ini sepi. Tidak ada kemungkinan orang lain akan melihatku. Kalau ada, hanya 0,001% saja.
Aku membuat peluang untuk melakukan pembunuhan yang cukup sadis. Aku selalu tidak membiarkan mereka lolos. Aku akan membuat mereka membayarnya. Geng itu tidak bisa bertahan hidup lagi.
Aku mendekati mereka yang tidak bisa berjalan dan menusuk tubuh mereka dengan sadis. Kemudian, aku menusuk leher mereka dan suara teriakan menjadi histeris. Teriakan itu semakin ingin membunuhnua dan membunuhnya. Aku tidak peduli lagi dengan keluarga mereka. Aku hanya menusuk mereka dan darah keluar dengan deras.
Geng yang selamat mencoba melarikan diri dengan ketakutan. Namun, aku mencegahnya lolos. Aku menginjak kakinya dengan keras dan melemparkan pisau menuju ke badan mereka dan terjadilah teriakan histeris. Setelah itu, aku mengambil dan menusuk paha lalu membuatnya tidak bisa bergerak lagi. Ia mencoba mengambil senapannya. Namun, aku melempar pisau lagi ke tangannya.
Teriakan itu terjadi lagi. Tak lama kemudian. aku memotong lehernya agar tidak bisa hidup dan berada dalam arwah kejahatan itu. Setelah itu, aku memastikan mereka tidak kabur. Aku sudah melakukan pembunuh kepada mereka.
Setelah berlumuran darah, aku mengambil senapan dan perisai milik Hammer dan mendekatinya. Hammer menoleh padaku dan melihatku dengan darah yang banyak itu.
Aku mengambil handphone dan dompet milik Hammer. Aku memberikan senjata dan perisai padanya, meletakkan semua barangnya jika Hammer tidak mau mengambilnya.
Hammer yang melihat barang yang kelupaan itu merasa depresi karena melihat barang miliknya itu berserakan di lantai. Aku segera mengajaknya pulang. Namun, ia menggeleng kepalanya.
"Ri-chan?"
"Harusnya aku yang berususan pada geng itu. Aku ingin sekali menghilang dari dunia ini."
"Kenapa kau selalu ikut campur, hah?"
"Kau selalu merampas semuanya. Orang itu sangat menyayangimu dan melupakanku. Kau adalah orang yang rajin dan pekerja keras."
"Semua orang lebih memilih orang yang rajin dan memarahi orang pemalas. Aku merasa iri padamu. Aku kehilangan semua yang kucintai. Karena itu, aku tidak mau kehilanganmya karena itu."
"Semua orang lebih memilih untuk menjadi orang rajin dan menaikkan derajatnya. Yang malas akan diturunkan begitu saja."
Hammer mengoceh mengenai isi hatinya. Aku hanya mendengarkan curahan hati itu. Aku tidak mengeluarkan sepatah kata apapun dan memilih untuk mendengarkan Hammer sampai akhir. Setelah itu, aku mulai menjawab dan mencela semua ocehannya.
"Tidak, Hammer Kau bukan pemalas. Kau adalah …." Ucapanku terhenti karena aku meraa kehilangan kesadaranku.
Hammer melebarkan matanya melihat aku terkapar di atas tanah. Ia melihatku terkapar bukan karena semua luka itu. Itu karena aku terlalu bekerja keras.
"Ri-chan?" Hammer terus memanggilku.
Ia bergerak dengan pelan sambil menahan rasa laparnya dan merasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Ia melihatku seperti ibunya yang terkapar di lantai.
"Ri-chan? … Ri-chan? ,,, Ri-chan? Mama?!"
Dengan pemandangan itu, ia tidak bisa menahan air matanya karena ia ketakutan. Ia meluapkan perasaan yang sedih akibat kehilangan sesuatu yang penting. Ia terus memanggil namaku berulang kali. Namun, aku merasa tenang dengan darah yang mengalir seolah ingin meninggalkan dunia.
__ADS_1
"Ri-chan! Aku takut! Aku tidak bisa berbuat apapun lagi. Aku hanya orang gagal dan pemalas!* Ungkapnya sambil mengucurkan air mata kepadaku.
"Ri-chan! Aku tidak mau kehilangan lagi. Aku sudah tidak bisa lagi melihat ibuku. Dia sudah tidak ada."
"Ri-chan. Apa yang harus kulakukan?" Tanyanya sambil memelukku.
Hammer terus menangis dengan aku yang tidak sadarkan diri. Ia merasa seperti kehilangan seseorang yang dicintainya itu.
Setelah tangisan yang membanjiri dirinya, dia terdiam sejenak untuk melakukan sesuatu. Ia tidak ingin membawaku ke rumah sakit. Namun, ia tidak bisa berjalan lebih jauh lagi. Ia tidak mau membebankanku dengan mmbawaku ke rumah sakit. Harganya pasti lebih mahal.
Tidak ada pilihan lain. ia harus kembali menuju apartemen miliknya. Ia cemas dimarahi oleh wanita itu. Namun, tidak ada pilihan lain. Ia harus melakukannya.
Ia mengambil perisai dan senjata miliknya, lalu menyimpannya di belakang dan mengambil ponsel dan dompet yang berjatuhan.
Kemudian, ia menggendongku dan meninggalkan gang dan bergerak menuju apartemen miliknya dan berjalan menahan laparnya dan dengan wajah suramnya.
[*^*]
Jam 10;05, ia sudah sampai di apartemen miliknya. Ia membunyikan bel agar wanita itu segera membuka pintunya. Ia melirik kepadaku dengan sejenak.
Tak lama kemudian, Wanita itu membuka pintunya dan terkejut Hammer datang kemari sambil membawaku yang dipenuhi dengan darah itu.
"Hammer," panggil wanita itu menghampirinya.
"Bu Ennie. Tolong rawat Ri-chan! Dia melakukan ini semua untukku. Aku menyesal sekarang. Aku melakukan hal yang membuat Ri-chan seperti ini."
"Kalau dia mati, untuk apa aku hidup? Aku akan melalukan apa aaa untukmu. Membersihkan apartemen dan menyiram tanaman. Lalu, aku segera memasak dan tidak memakan makanan instan lagi. Kemudian, …."
"Sudah, Hammer! Aku tidak mau mendengar ocehanmu lagi! Aku sudah mengerti perasaanmu itu. Tidak ada yang bisa aku kerjakan hari ini. Dia sudah menyelesaikan ini semua. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini," ungkap Bibi Ennie menyesal pada Hammer.
"Maafkan aku telah memarahimu. Aku melakukan kesalahan yang fatal dan sudah melihat foto di kamarmu. Aku juga melihat semua catatan di kamarmu dan aku tidak menyadarinya. Akulah yang membuatnya seperti ini. "
Suasana menadi hening. Hammer dan Bu Ennie tidak berbicara karena ada sebuah penyesalan yang ada dibenak mereka. Mereka meratapi kausalitas yang kemarin terjadi. Meski begitu, muncullah gagasan mereka untuk masa depan nantinya.
Dengan tekad yang bulat, Bu Ennie memeriksa kondisi dan segera berlirik, "Luka ini disebakan oleh overworked. Bekerja terlalu keras. Aku akan mengambil sesuatu. Kamu baringkan dia di kamarmu!" Meninggalkan Hammer dan bwrgeras untuk menuju ke sebuah rak yang berada dalam kamarnya itu.
Hammer segera menuju ke kamarnya dan segera membaringkanku dan membuka ventilasi udara dingin agar aku bisa bertahan hidup lebih lama lagi.
Bu Ennie dan Hammer merawatku dan mencoba menyembuhkanku. Dengan usaha yang keras dan tekad yang bulat, aku terselamatkan. Hammer dan Bu Ennie bersyukur atas kemenangan mereka atas penyakit overworked yang diderita padaku.
Setelah itu, mereka memutuskan untuk istirahat dan Hammer memasak sebelum makan sebanyak 3 porsi mangkuk. Setelah itu, ia mendekatkan diri pada Bu Ennie dan segera berbincang sedikit mengenai kejadian yang kemarin terjadi.
Jam 17:23, mereka menjadi harmonis lagi. Oleh karena itu, mereka merawatku seperti seorang pasien di rumah sakit dan meluangkan waktu mereka untuk berdua.
Jam 22:30, aku tidur seranjang dengan Bu Ennie dan merasakan hal yang aneh terjadi padaku. Semoga saja dia melakukan hal yang macam-macam padaku.
Keesokan harinya, aku dan Hammer izin tidak masuk akademi dan menetap di apartemen milik Hammer. Bu Ennie bangun lebih awal dan segera kembali aktivitasnya. Hammer membantu dengan senang hati. Mereka lebih menikmati pekerjaan itu daripada sebelumnya yang kermarin mereka lalui.
Akhirnya Hammer menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1