
7 April 2026, jam 06:00, sebuah apartemen yang gelap. Barang yang tidak banyak digunakan. Simbol agama Kristen Protestan tertempel di dinding yang kokoh hanya untuk hiasan. Sulit diungkapkan.
Aku sudah menyadarkan diri dan melakukan kegiatan seperti biasanya. Setelah mengambil tasku, aku langsung meninggalkan apartemen dengan kondisi gelap, tanpa ada perubahan sekalipun.
Rasanya, aku seperti siswi yang sedang pergi menuju kantor.
Setelah menutup pintu, udara segar menghampiriku. Aku mengabaikannya dan pergi meninggalkan tanpa sambutan hangat sekalipun. Aku tidak terlalu memikirkan nasib Andika dan lainnya.
Shiori sudah berangkat lebih dulu. Tidak mungkin aku mengecek keberadaaan Shiori melalui Iron Maiden yang sudah tidak digunakan lagi.
Sudahlah! Aku lebih ingin berjalan saja.
{*^*}
Setelah sampai di akademi pada jam 07:34, langkah kakiku setara dengan siswa dan siswi yang penuh dengan misteri. Tidak ada perubahan sekalipun. Ini sama seperti anak SD yang tersesat di SMP.
Tak lama kemudian, aku sampai di kelas tanpa sapaan seperti orang lain. Aku masuk kelas dan menyembunyikan diriku yang lebih buruk. Tempat duduk sudah diisi dan tas sudah berada di tempat.
Sedikit lagi, kelas militer akan dimulai. Namun, ketika aku ingin merenungkan kehidupan yang menyedihkan itu, ....
"Bella."
Panggilan itu pasti Shiori. Dia sudah berada di dekatku. Tidak ada yang tahu kenapa aku mengalami hal buruk seperti ini.
"Bella. Kamu kenapa? Sepertinya kamu tidak baik-baik saja." Shiori cemas dengan keadaanku.
Aku menjawab,"Tinggalkan aku sendiri!"
Shiori hanya terdiam sesaat. Aku belum mengeluarkan sepatah kata apapun. Mataku yang penuh dengan mimpi buruk dan ketakutan. Rasanya, tidak ingin hidup lagi.
Shiori meninggalkanku sebelum bel berbunyi. Ia memberikan kesempatan untuk menyendiri. Sinta dan Diana sudah tiba di kelas sambil menggosip tentang seseorang.
Pelajaran dimulai setelah guru militer masuk ke Kelas I Soshum A. Suasana menjadi normal. Banyak catatan dan rangkuman yang harus diingat.
{*^*}
Bel istirahat telah tiba. Aku meninggalkan Shiori untuk sementara agar Shiori tidak ngin mendekatiku. Tidak kubiarkan dia mencemaskanku dan menghampiriku.
Aku sudah tahu tempat tujuanku. Untuk merenungkan semua yang terjadi belakangan ini. Tidak ada yang boleh tahu masalah apa yang harus ku hadapi kali ini. aku ingin menghadapinya sendiri.
Jam 10:06, di taman akademi, aku terduduk di kursi kayu dengan lamunanku. Masa laluku teringat dengan jelas. Ketakutan, kecemasan, dan keputusasaan telah mendatangiku jauh hari.
Aku hanya mendapatkan kesialan yang tidak dapat dijelaskan. Rasanya percuma. Kristen Protestan tidak akan menolongku disaat seperti ini.
Kalau ketahuan, Andy akan melecehkanku dan menjualku di tempat protitusi. Setelah menghancurkan harga diriku, aku dibuang di jalanan dan tidak ada yang bisa kulakukan.
Di tengah lamunan itu, Shiori dengan mendadak sudah berada di depan mataku.
"Bella. Kamu kenapa? Apakah kamu biak-baik saja? Kalau tidka, tolong ceritakan padaku. Nanti, Kotori akan membantumu."
Aku muak dengan rasa kasihan seperti itu. Dia seolah-olah adalah seorang yang menemaniku. Api kebencianku mulai muncul dan berniat untukmencelakainya tanpa memikirkan akibatnya.
Dengan refleks, aku menampar Shiori sampai terjatuh. Shiori terjatuh dan merasakan tamparan yang keras melukis di wajahnya. Dia sedikit terkejut karena perubahan sikapku.
"Shiori bodoh! Aku membencimu!" Bentakku menyakiti Shiori.
Aku meninggalkan Shiori setelah mengeluarkan bentakan tajam. Shiori hanya terdiam dengan sesaat sambil merasakan tamparan keras itu.
Musim semi yang indah dengan taman yang terasa suram.
__ADS_1
{*^*}
Di dalam pelajaran militer, aku dan Shiori tidak berbicara sekalipun. Kami tidak terlalu berpandangan karena kejadian di taman.
Mereka menjadi heran kenapa kami menjadi seperti itu. Mereka lebih memilih fokus untuk belajar militer untuk menyelesaikan pendidikan mereka.
[*^*]
Pelajaran terakhir sudah berakhir. Bel berbunyi menandakan pulang. Semua siswa dan siswi memilih pulang atau mengikuti klub yang mereka ikuti.
Aku mengemas semua barangku dan pergi sebelum Shiori melakukan hal yang nekat dan merepotkan. Langkah kaki dengan niat pergi ke kantor perusahaan itu dengan paksaan Andy.
Shiori hanya terdiam dengan memegang pipi bekas tamparan yang keras. Ia belum mengeluarkan air matanya. Masih belum seberapa dengan Iron Maiden yang ia gunakan untuk menyiksa diri.
Dengan itu, Shiori meninggalkan kelas dengan membawa tas yang ia genggam untuk menghentikanku agar ia bisa berbicara padaku dengan baik.
Di lorong sebelum menuju ke gerbang, aku sudah berada di sana. Butuh beeratus langkah lagi untuk meninggalkan akademi ini.
Namun, Shiori berlari dengan cepat dan nafas yang terengah-engah. Dia tidak membiarkanku untuk menjauhi darinya.
"Tunggu aku, Bella!"
Aku menjadi murka. Langkah kakiku terhenti begitu Shiori mencegahku pergi. Kenapa dia selalu saja menggangguku?
"Bella. Kumohon! Jangan pergi dulu! Kita bisa mengobrol secara baik-baik. Kalau perlu, aku akan mengajak Kotori dan Rivandy untuk menyelesaikan masalahmu."
"Aku tidak peduli dengan Gigolo Sialan itu! Dia pasti sudah menangis di kamar ketika aku memukulnya. Kenapa kamu menjadi pelacur untuk gigolo itu?"
Shiori terkejut dengan hinaan itu. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Tekanan yang kuberikan sudah mengubahnya menjadi patung.
"Bella. Kamu ...."
Aku semakin murka. Shiori semakin keras kepala dan menyudutkanku agar aku menceritakan semua padanya. Tidak ada yang bisa diceritakan. Ini akan membawaku ke pelecehan seksual.
"Kau selalu memperdulikanku. Kenapa kamu selalu peduli denganku disaat begini? Padahal, aku tidak butuh bantuanmu. Karena sikap keibuanmu yang menyebalkan, kau meletakkanku ke dalam jurang neraka ini!"
Shiori terdiam kembali. Ia selalu mendengar bentakan yang kukeluarkan. Shiori sudah kebanyakan mendapatkan ucapan yang tidak menggenakkan. Tapi, semenjak aku menyelamatkannya dan mencegahnya untuk bunuh diri, dia menjadi melekat padaku.
"Aku tidak butuh bantuanmu! aku akan menghadapi masalahku sendiri!"
Aku meninggalkan Shiori dan tidak ingin melihatnya lagi lalu lari kalau itu yang kuperlukan. Maish banyak yang harus kukerjakan di kantor perusahaan brengsek itu.
Shiori mengubah wajahnya. Kepalanya terngiang dengan ungkapan yang menghina harga dirinya. Ia berpikiran untuk memasuki Iron Maiden lagi dan mengobati lukanya.
Namun, aku melarangnya menggunakan Iron Maiden dan benda itu sudah menjadi langganan bagi karat.
"Bella. Jangan pergi! Aku ingin menyelamatkanmu."
[*^*]
8 April 2026, jam 10:01, pelajaran militer sudah selesai. Murid akademi mendapatkan istirahat setelah pelajaran yang lumayan sulit itu.
Aku meninggalkan Shiori dan tidak berhadapan dengannya lagi. Shiori masih belum berbicara sekalipun. Ia masih mengingat bekas luka yang dilakukan untuk menyakiti dirinya sendiri.
Tidak ada pembicaraan yang bisa dilakukan oleh Andika begitu sampai di kelas. Ia menjadi pergi karena rasa canggung menyerang Andika.
Shiori menjadi murung. Ia memikirkan setiap perkataanku yang sarkas itu. Tidak ada perubahan yang jelas. Tadinya, Shiori diselamatkan oleh Bella. Namun, Shiori tidak bisa menyelamatkan Bella.
Jadi, ia memikirkan sesuatu agar aku tidak murung lagi.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seorang gadis memunculkan dirinya dengan cepat. Gadis itu menghampiri Shiori.
"Shiori!"
Shiori sedikit terkejut. Guncangan hatinya disebabkan oleh pangilan itu. Shiori berpaling ke sumber panggilan itu dan menyapa dengan keadaan murung.
"Ternyata kamu, Kotori."
"Kita perlu bicara di taman. Sekarang!"
Tidak ada pilihan lain. Shiori dibawa ke taman oleh Kotori yang cukup serius. Merkea berjalan menuju ke taman untuk membicarakan sesuatu mengenaiku.
Setelah sampai di taman, Shiori dan Kotori sudah smapai di taman dengan cahaya dan bayangan yang menghiasi taman. Mereka duduk di pohon yang rindang akibat pukulan tinju yang diakibatkan oleh seseorang.
"Kamu kenapa?" Tanya Kotori melihat Shiori murung.
"Kotori. Bella sedang tidak baik-baik saja. Dia menamparku dengan tangan kirinya."
"Begitu yah! Aku tidak melihatnya. Dia selalu menghindar dari kerumunan orang. Selain itu, dia tidak ada di apartemen sejak pulang sekolah. Tidak ada yang beres dengannya."
Shiori semakin cemas. Ia takut Bella akan mendapatkan masalah dan malapetaka. Semakin lama menunggu semakin buruk nasib Bella.
"Bagaimana ini? Aku tidak ingin Bella menanggung bebannya sendiir. Setidaknya, aku ingin membantunya."
Kotori memikirkan sesuatu untuk memecahkan masalah ini. Ia membutuhkan seseorang untuk menyelamatkan Bella dari mimpi buruk yang mengerikan.
"Shiori. Besok atau lusa, ajak Rivandy! Aku akan mencegah Bella untuk melakukan hal yang membuatnya tertekan."
Wajah Shiori menjadi gelap. Ia terdiam selama beberapa berselang. Gertakan hatinya memaksa untuk menolak suruhan itu.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau! Aku tidak mau sampai aku ingin tahu sebabnya. Aku ingin tahu kenapa Bella menjadi seperti ini. Tidak adil kalau aku belum mendengar alasan Bella menjauhiku."
Kotori menghela nafasnya. Rasanya rumit sekali jjika Shiori sudah seperti ini. Keputusan yang berbaik bagi Kotori adalah mengalah pada Shiori.
"Baiklah! Aku mengalah."
"Sebenarnya, aku belum tahu kenapa Bella berubah. "
"Semenjak Rivandy membunuh Nona Mansherry, psikologinya kembali seperti semula. Sebelum itu, Rivandy melakukan kekacauan yang menyebabkan Bella berubah. Tidak ada alasan yang jelas kenapa Bella membenci Rivandy"
"Setelah menyakiti Rivandy, masalah psikologi Bella menjadi lebh parah. Rasanya tidak adil kalau Bella mendapatkan beban seperti itu."
"Umurnya baru 9 tahun sudah menanggung beban seperti orang dewasa. Seandainya aku seperti Bella, aku tidak tahan dan ingin lari dari masalah itu."
"Harusnya, ia harus sekolah SD di Indonesia. Tapi, ia malah melanjutkan sekolah militer di Rusia."
Shiori mendengar penjelasan Kotori tanpa terlewatkan sekalipun. Karena Shiori sudah tertolong olehku, ia ingin membalas dengan menolongku kembali.
"Sebenarnya, aku belum tahu siapa yang memaksa Bella. Sebaiknya, kau ajak Rivandy! Aku sudah berbicara pada Aurora untuk meminjam Rivandy untuk sementara."
Shiori menerima perintah Kotori tanpa pikir panjang. Ia ingin menyelesaikan masalah Bella secepat mungkin.
"Aku pergi dulu. Aku bolos dulu untuk sementara."
Kotori meninggalkan Shiori untuk mencari keberadaanku dan alasan dari semua itu. Shiori melambaikan tangannya pada Kotori sebelum kembali ke kelasnya.
Kotori meninggalkan akademi dan menunggu beberapa saat. Ia mencari beberapa informasi dengan mengandalkan kekuatan supernatural.
Bella. Takkan kubiarkan kau menjadi seperti ini.
__ADS_1