Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi: Anivesta Bella : Aksi Partner


__ADS_3

[*^*]


Anivesta Bella Point of View


[*^*]


Jam 15:20, terjadi kekacauan yang terjadi di Cabang PT Putra Jaya. Timbul sebuah tembakan dan ledakan yang terjadi di sekitar bangunan


Ada sekelompok remaja yang memegang senjata untuk menerobos ke dalam perusahaan itu dan berniat untuk menyelamatkan Bella.


Mereka sedang bersembunyi dari sebuah tembakan yang melesat di udara dan merusak beberapa furniture.


Mereka menggunakan semak-semak sebagai alat pelindung mereka sambil menganalisis lawan yang menyerang.


"Andika. Aku sudah meledakkan semuanya." Yudha sudah menelan bom itu meledak.


"Yosh! Kita serbu mereka semua! Gue pergi dulu!" Terlihat seorang remaja yabg berambut merah semangat.


"Andika. Hati-hati! Ada 10 BIN di tempat itu." Shiori membeberkan informasi sambil memegang senapan Perang Dunia 2.


"Gak usah khawatir! Gue yang atasi." Andika menunjukkan dirinya sambil menggunakan pedang Davion Dota 2.


"Shiori. Kami akan menghadapi 2 mata-mata itu. Sepertinya dia cukup tangguh." Wulan kemenag senapan sambil mengisi ulang pelurunya.


"Silahkan. Tapi, jaga diri kalian!" Terima Shiori matanya membidik ke beberapa lawan.


Kedua gadis itu pergi. Mereka memegang senapan mereka dan bersiap untuk memberi perhatian pada musuh.


Tinggal 2 orang yang tersisa. Yudha dan Shiori. Yudha bernafas terlebih dahulu sebelum memulai inisiatif pada lawan yang siap memegang senjata.


"Sekarang apa?" Tanya Yudha.


"Lawan Pagar Besi dan Pagar Kayu!"


"Baik! Tapi, kalau kamu berteriak, aku akan datang." Yudha memberikan senyuman sombong seakan-akan meremehkan seorang gadis


"Aku bukan anak kecil lagi. Dan jangan lupa bayar kos yah!" Shiori mengingatkan agar membayar sewa apartemen.


"Kabur! Aku gak mau bayar kos!"


Yudha memberikan ejekan dan berusaha untuk lari dari Shiori. Tidak peduli peluru yang bergerak cepat di udara. Ia sudah terlatih dengan Call of Duty Virtual Reality.


"Dasar orang Indonesia! Disuruh bayar utang malah lari."


Shiori kembali fokus dengan lawan yang ia hadapi. Lawan yang menggunakan senapan pistol dan sebatang rokok yang digenggam di mulut.


"Aku akan menyelamatkanmu, Bella!"


[*^*]


Sementara itu, Andy duduk santai dengan komputer miliknya. Berkas yang sudah tersusun rapi, sehingga ia lebih semangat bekerja.


Tak lama kemudian, ada seorang mata-mata memasukinya ruangan CEO itu. Andy sedikit terdiam dan menunda pekerjaannya untuk sementara.


"Lapor, Pak! Perusahaan kita sedang diserang oleh sekelompok remaja yang menggunakan senjata. Orang di luar sana menjadi kewalahan."


"Begitu yah! Kita tidak boleh meremehkan mereka begitu saja. Lawan mereka dengan seluruh kemampuan kalian! Kita harus kalahkan mereka semua."


"Siap, Pak!"


Mata-mata itu meninggalkan ruangan CEO itu dan berniat untuk menaklukkan sekelompok remaja itu.


Ia melirik ke bawah dengan tatapan yang menjijikkan. Terlihat aku yang sedang memainkan pedang hitam itu. Harga diriku menjadi hancur lebur.


"Hoi! Cepatlah layani aku!"


Lidahku menyentuh pedang hitam meskipun aku membencinya. Banyak cairan yang menetes di wajahku. Selain itu, aku dipaksa untuk minum cairan yang menjijikkan itu.


Namun, entah kenapa aku selalu menghisap semua itu. Ingin sekali menghindari orang brengsek itu dan pergi dari sini.


Rupanya dia menggunakan parfum perangsang agar aku kecanduan. Dengan beberapa dorongan, cairan pun keluar. Semua cairan yang melengket di pedang hitam itu dihisap oleh mulutku.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Andy menaikkan celananya dan menyuruhku untuk mengikuti jalannya. Sebuah kalung hewan peliharaan terikat di leherku. Dia memegang tali dan menarik tali itu agar aku mengikutinya.


"Aku punya pekerjaan untukmu. Ikut aku!"


Aku terpaksa mengikutimya. Gerakan kaki dan tanganku seperti budak. Pakaianku diminimalisir agar aku terlihat murahan. Rencana jahat Andy berjalan seiring dengan waktu.


Kami keluar ke ruangan itu dan Andy akan melakukan rencana agar teror itu tidak menjadi mimpi buruknya.


[*^*]


Baku tembak di lingkungan perusahaan sedang berlangsung. Shiori berhadapan dengan 2 mata-mata dengan senjata lengkap. Ini mungkin sulit baginya.


Andika bertemu dengan seorang mata-mata yang cukup tangguh. Dengan postur tubuh yang kekar, menyulut api membara di sisi Andika.


Sarung tinju yang terbuat dari kulit landak dan langkah kaki yang merusak aspal jalan masuk perusahaan.


"Yosh! Aku akan bersiap sekarang juga!"


"Maju sini, anak muda!"


Sementara itu, Farah dan Wulan masih bersembunyi dari mata-mata tersebut. Lawan mereka cukup berat karena mereka diserang dari berbagai arah.


Mereka membuka ponsel mereka dan membuka Zoom versi hologram. Shiori terpanggil dan membalas jawaban seperti seorang pemimpin.


[Zoom]


Farah : Shiori. Mereka terlalu kuat. Kita tidak bisa mengalahkan BIN x Kopaska.


Wulan : Mereka bisa mengetahui keberadaan kami. Jadi, kami harus menembak mereka satu per satu meskipun meleset.


Shiori : Pertahankan diri kalian! Aku sudah menghubungi Kotori dan dia akan kemari.


Wulan : Apakah Pangeran akan datang?


Farah : Pengen jadi Putri untuk Pangeran di Sinetron.


Shiori : Iya. Kalian akan kedatangan Pangeran. Tapi, kalian fokus pada musuh kalian!


Api membara mereka muncul lagi.


"Yosh! Demi Pangeran Tercinta kita akan hajar mereka!" Farah memegang senapan dan mulai berani dengan gagah seperti TNI.


"Nikahi aku, Pangeran! Selangkanganku anget!" Lanjut Wulan menjadi mesum gara-gara Pangeran.


Sementara itu, Yudha mendapatkan luka yang cukup parah. Mata-mata yang di depannya merupakan eksekutor dari CEO Putra Jaya, Pagar Besi, dan Pagar Kayu.


"Sial! Mereka terlalu kuat! Darimana mereka mendapatkan kekuatan sekuat itu?" Tanya Yudha pada dirinya sendiri dengan luka di bagian perutnya.


Ia masih saja berdiri tanpa ada pergerakan yang berarti baginya. Kedua mata-mata itu dengan tenang, sudah menangani Yudha dengan baik.


"Anak muda ini harus mati!" Seru Pagar Besi.


"Aku sudah memberikan racun pada anak muda ini. Jadi, dia tidak bisa berbuat banyak lagi," ujar Pagar Kayu.


"Kita harus habisi dia sebelum hal ini terjadi."


"Oo! Anak muda! Ada kata terakhirmu?" Tanya Pagar Kayu.


Yudha menjawab,"Tidak ada. Aku tidak akan kalah dengan orang seperti kalian!"


"Aku anggap itu yang terakhir!"


Pagar Kayu menekan pelatuk pistol revolver itu dan mengarah ke dada Yudha. Suara berisik pistol itu menggelegar ke lingkungan perusahaan.


Yudha tidak takut dengan peluru yang menghampirinya. Setidaknya, ini yang bisa ia lakukan.


Beruntung. Peluru itu terhenti. Pagar Kayu hanya menganga. Keanehan dari supernatural menyelamatkan Yudha dari ancaman Malaikat Martin.


Tak lama kemudian, ada yang aneh dari semua ini. Sebuah nyawa yang tercabut dengan cepat. Seolah-olah Malaikat Martin dibalik semua itu.


"Pagar Besi, ada apa?" Ia menoleh Pagar Besi dengan mimpi buruknya.

__ADS_1


Kepala Pagar Besi sudah terlepas dari tubuhnya. Pagar Kayu merasakan horor ketika ia menonton Jailangkung. Tak sempat ia menghindar, sebuah pisau menusuk leher korban dengan cepat dan mengeluarkan darah.


Timbullah teriakan kencang dengan sebuah pisau yang mendarat di leher Pagar Kayu. Seorang pembunuh menekan mata-mata agar nyawanya dicabut oleh Malaikat Martin dengan cepat.


Ini sudah cukup untuk menjadi sosok mimpi buruk yang kuat.


Setelah Pagar Kayu tergeletak di lantai, terlihat seorang remaja dengan tubuh tinggi dan menatap mayat dengan tanpa bersalah.


"Wah! Pangeran sedang kerasukan Malaikat Martin," komentar Yudha menyamakan Rivandy dengan Malaikat Martin.


"Yudha! Jangan sok pahlawan kamu! Mending kamu bantu Farah dan Wulan sana!" Saran Kotori memandang Yudha sok pahlawan.


"Baik!" Yudha segera pergi untuk membantu Farah dan Wulan.


"Kotori. Kita ke sana sekarang juga!"


"Aku selalu berada di sampingmu."


Mereka berdua memasuki perusahaan itu untuk menyelamatkan seseorang. Mereka harus menghadapi banyak rintangan yang cukup keras untuk menyelamatkan seseorang.


[*^*]


Andy sudah mengumpulkan penjaga keamanan dengan ketat. Ia memegang tali yang terikat di leherku di ruang tengah agar menarik perhatian musuh. Kalau melawan, ia akan melecehkanku dan membuatku menjadi budaknya.


Seseorang pengintai menghadap ke CEO itu dengan nafas yang berat. Ia memberikan laporan agar Andy bisa memikirkan rencana cadangannya.


"Bagaimana laporannya?" Tanya Andy pada pengintai itu.


"Mereka akan datang kesini. Mereka sudah membunuh pihak keamanan. Semua karyawan terpaksa pulang ke rumah mereka sejam lebih awal."


"Nice. Kita tunggu saja orang itu datang kesini."


"Semuanya! Bersiap diri kalian! Lawan kita adalah seorang pembunuh yang kejam dan beringas. Jadi, kalian harus mengorbankan nyawa kalian untuk menghabisi orang itu!" Perintah Andy pada bawahannya.


"Siap, Pak!"


Andy menoleh kepadaku dan memberi ancaman padaku jika aku tidak mengikuti perintahnya.


Perintah itu adalah menjadi budak Andy dengan memberikan kehormatan ku dan melecehkanku setiap hari jika Rivandy melawan.


"Kau! Turuti permintaanku kalau kamu ingin bertahan hidup! Kalau tidak, aku akan membawamu ke Bandung besok!"


Aku hanya terdiam karena tidak ingin membantahnya.


Sementara itu, Kotori dan Rivandy sedang menggunakan kekuatan mereka ke penjaga keamanan itu.


Mereka bukan tandingan mereka karena Rivandy memotong leher mereka dengan cepat tanpa peduli dengan nyawanya. Mereka tidak sempat menarik pelatuknya karena Kotori mencegah mereka untuk menembak Rivandy.


Satu persatu mayat telah berguguran seperti daun di musim gugur. Rivandy masih berdiri dengan tegak. Kotori sudah mengumpulkan mana supernatural agar bisa digunakan untuk membantu Rivandy.


"Ayo! Kita ke ruang tengah! Ada Bella disana bersama Andy."


Mereka bergerak tanpa pembicaraan sekali pun. Rivandy hanya menuruti perintah Kotori agar aku diselamatkan.


Setelah sampai di ruang tengah, terdapat penjagaan yang ketat bersama dengan CEO yang memegang tali budaknya.


Mereka berdua hanya terdiam sambil menahan emosi mereka agar tidak mendapatkan rute yang buruk.


"Kau! Apa yang kau lakukan dengan Bella?" Tanya Kotori.


"Datang juga kalian! Aku senang sekali."


"Menyerahlah! Kalau tidak, aku akan perbudak anak ini menjadi lebih mahir!"


"Kau tidak bisa seenaknya melakukan itu pada Bella! Aku tidak memaafkanmu!"


Amarah Kotori sedikit memuncak karena adanya perbudakan yang mengingat kejadian yang ia alami.


Namun, Rivandy menenangkan Kotori. Ia mencegah Kotori menoleh padanya dan memberikan suatu perkataan yang meyakinkan Kotori. Tekad yang serius akan berhasil.


"Kotori! Aku akan membunuh orang sialan ini! Tetaplah disini! Aku akan menuruti permintaanmu meskipun aku akan mati."

__ADS_1


"Hati-hati, Rivandy! Jangan sampai kau lengah!"


__ADS_2